Selasa, 20 Oktober 2020

Ayah Ada Ayah Tiada

Ayah hebat dan ayah juara bukanlah ayah yang bisa komunikasi dengan dunia luar terlebih dahulu, tapi ayah yang bisa berkomunikasi dengan dirinya terlebih dahulu, dia bisa berdamai dengan dirinya.

Tema ketiga belas dalam serial ayah hebat kali ini mengangkat topik Ayah Ada Ayah Tiada. Diambil dari buku ayah ada ayah tiada yang disunting Ayah Irwan Rinaldi. Puisi di buku ini ditulis sepenuhnya oleh anak-anak yang mengkisahkan suara hati anak-anak. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari kisah ini.

 

Ayah Kemana ?

Kantukku telah tiba  |  Ayah dan bunda ada dimana  |  Aku ingin kita bertatap muka  |  Kenapa setiap hari begini saja  |  Kantukku telah tiba  |  Aku kembali bertanya  |  Kenapa aku dibiarkan tidur sendiri saja  |  Padahal Aku ingin berbagi cerita  |  Kantukku telah tiba  |  Tempat tidur yang sepi tanpa cinta  |  Selimut yang dingin tanpa kata-kata  |  Bantal dan guling tak bisa bicara  |  Ayah Bunda entah kemana

Waktu menjelang tidur memang menjadi momen yang luar biasa dalam teori fathering. Beberapa ahli fathering ada yang mengatakan ada 2 momen dalam hidup anakmu sesibuk apapun kamu jangan sia-siakan momen ini, momen pertama adalah momen ketika anak baru bangun tidur, momen kedua adalah momen menjelang tidur. Bahkan saking pentingnya, dua waktu tersebut sebaiknya tidaklah teralu sering didelegasikan kepada pihak lain, terutama anak-anak usia dini. Ketika anak mau tidur, sebaiknya ayah memeriksa tingkah laku apa saja yang dilakukan anak-anaknya seharian. Biasanya anak-anak akan melaporkan dua jenis saja: tingkah laku yang paling buruk dan yang paling baik. Kalau buruk maka ayah membenarkannya, kalau baik maka kuatkanlah hingga tertanam pada pikiran anak-anak.

 

Tetap Sendiri

Aku lihat bulan di sela jendela  |  Aku lihat bulan begitu indahnya  |  Aku bayangkan andai bulan adalah ayahku  |  Aku khayalkan andai bulan adalah bundaku  |  Pastilah aku tidak sendiri jelang tidur ini  |  Pastilah kami terus berbagi  |  Pastilah kami saling memeluk mesra  |  Pastilah kami saling mencium penuh cinta   |  Tapi aku tetap sendiri saja   |  Tak bisa bicara tak dapat bercerita  |  Tak bisa mengungkapkan suka  |  Tak bisa juga menangis karena duka

Ada banyak hal yang mau diceritakan atau ditanyakan anak-anak menjelang tidurnya. Tentang dunia seharian yang dia lalui atau tentang banyak peristiwa yang sebenarnya adalah mata pelajaran sekolah kehidupan sesungguhnya. Semuanya itu membutuhkan ayah atau ibu yang dapat menggiring mereka pada sebuah kesimpulan yang akan mereka bawa ke dalam tidur dalam. Hanya ayah atau ibu yang bisa melakukannya. Bukan orang lain!

 

Aku Bermimpi

Negeri yang indah alangkah luar biasa  |  Awan-awan bersusun dimana-mana  |  Semua penduduk tersenyum ceria  |  Kami saling tegur sapa  |  Tak peduli tua dan muda  |  Aku berlari ke sebuah “PERPUSTAKAAN”  |  Seorang ibu berwajah manis sambutku penuh persahabatan  |  Aku dibawa berkeliling mencari buku-buku yang jutaan  |  Sejuta anak-anak yang asyik membaca sambil tiduran  |  Aku berlari ke sebuah “TAMAN BERMAIN”  |  Aku lihat para ayah dan anak asyik bermain  |  Berguling melompat berteriak tawa bersama  |  Aku lihat para ayah dan anak saling bercanda  |  Saling mendorong tercebur ke kolam bunga  |  Entah jam berapa  |  Aku lalu terbangun dan terjaga  |  Aku duduk melihat sekeliling  |  Tapi semuanya hening  |  Aku terus bertanya-tanya  |  Apakah aku memang pernah merasa bahagia  |   Apakah aku memang pernah bermain bersama  |  Sampai tercebur segala  |  Ah, ternyata aku hanya bermimpi saja

Anak-anak membutuhkan dua hal penting dari ayahnya. Peran dan tokoh. Psikologis dan fisik. Kehadiran ayah bersama mereka di rumah atau di luar rumah haruslah duaduanya. Tak boleh hanya hadir fisik tapi psikologis tidak. Atau sebaliknya. Saking anakanak menginginkan itu dalam hidupnya , maka tak heranlah akan kebawa-bawa dalam mimpi-mimpi mereka.

 

Ayah Ternyata Masih Bangun

Aku rasa perut bawahku semakin penuh  |  Ingin buang air kecil sendiri tanpa mengeluh  |  Ketika menuju kamar mandi  |  Aku harus lewat ruang tengah yang ternyata nyala televisi  |  Aku terkejut melihat ayah  |  Sedang asyik menonton pertandingan bola yang meriah  |  Di tempat tidur aku terus termenung  |  Duduk diam sambil merenung  |  Kenapa ayah senang menonton bola  |  Kenapa ayah tak menemaniku jelang tidur walau hanya semenit saja

Ada berbagai tipe ayah. Ada ayah dengan tipe dokter sok tahu yang sukanya menganalisa dan menentukan jenis penyakit tanpa mengetahui lebih dahulu sebabsebab sakit itu sendiri. Ada tipe ayah penjaga kuburan, sukanya menawarkan doa saja tanpa peduli apakah doa-doa atau nasehat-nasehat tersebut bermakna bagi anakanaknya. Nah, tipe yang paling berbahaya untuk perkembangan anak-anak kita adalah ayah bertipe calo. Ayah ini amat gemar memberikan nasehat atau arahan kebaikan tapi beliau sendiri tidak mau melakukannya.

 

Kenapa Harus Begini?

Subuh datang juga  |  Kita diminta siap-siap untuk bangun segera  |  Karena saatnya belajar menghormati Tuhan Yang Kuasa  |  Karena saatnya belajar untuk tidak tidur selamanya  |  Subuh datang juga  |  Tapi kami anak-anak susah membuka mata  |  Seperti ada lem saja Kuat merekat maunya merem saja  |  Subuh datang juga  |  Tapi kenapa kami dibangunkan secara paksa  |  Badan digoncang-goncang  |  Tangan dan kaki diregang-regang  |  Subuh datang juga  |  Tapi kenapa tak ada sapa mesra  |  Tapi kenapa tak ada peluk orang tua  |  Semua tergesa-gesa  |  Bagi ibu lebih penting dapur  |  Bagi ayah lebih penting segera ke kantor  |  Ih, kenapa harus begini?

Kadangkala kita memaksakan ‘ukuran sepatu’ kita kepada anak-anak. Padahal untuk mengajarkan sesuatu kepada anak tidak bisa dilakukan dengan paksaan, anak butuh rangkulan, kata-kata lembut, dan  atau kesepakatan yang baik. Kata beberapa ahli fathering, urusan pagi hari disepakati malam hari dengan tutur kata dan cara yang lembut.

 

Tenang Ayah, Aku Pasti Bangun

Aku heran apa ayah tidak pernah kecil dulunya  |  Tak pernah merasa beratnya bangun pagi  |  Aku heran apa ayah langsung besar saja  |  Tak pernah merasa sakit kepala kalau bangun pagi  |  Tenang ayah, aku pasti bangun  |  Tapi izinkan aku duduk dulu  |  Tenang ayah, aku pasti bangun  |  Tapi izinkan aku bernafas dulu

Persoalan bangun pagi adalah persoalan sederhana tapi kadang berakhir dengan menyakitkan bagi anak-anak. Sering bangun pagi yang harusnya ceria menjadi ajang cercaan, makian, tudingan bahkan pukulan, cubitan dan yang lebih parah dari itu. Jadi bagaimana sebaiknya cara bangun pagi agar anak-anak kita tetap ceria? Pertama, bangunkanlah anak-anak kita selalu tak lepas dari kalimat-kalimat baik. Alangkah lebih baik kalau dengan menyebut nama-nama Allah dan rasulNya. Kedua, cara membangunkan anak-anak sebaiknya disepakati terlebih dahulu dengan anak-anak sebelum mereka tidur. Hindarilah membangunkan anak-anak dengan sekehendak hati ayah saja.

 

Makanan Jadi Pahit

Setiap sarapan selalu tegang   |  Aku tunduk tak berani memandang  |  Ayah mengawasi dengan garang  |  Tak boleh itu tak boleh ini  |  Makan harus seperti Nabi  |  Diam pandangan hanya pada nasi  |  Setiap sarapan makanan selalu pahit  |  Seolah kerongkongan jadi sempit  |  Masuk nasi sedikit-sedikit  |  Setiap menelan selalu sakit  |  Aku ingat cerita teman  |  Sarapan di rumahnya penuh ceria  |  Ayahnya menemani sambil guyonan  |  Makanan terasa manis semua

Sering para ayah tidak tahu seperti apa komunikasi yang dipakai ketika bersama anakanak di pagi hari. Kesibukan dan dikejar-kejar waktu membuat para ayah menjadikan kebersamaan dengan anak-anak di pagi hari berlangsung seperti bursa efek. Semua bicara semua bergerak tapi tidak saling nyambung. Wahai para ayah, pertemuan singkat kita dengan anak-anak sebaiknya tidak ‘disambi” dengan kegiatan lain seperti terima telepon atau sejenisnya. Hindarilah membuat komunikasi yang menyudutkan, mencerca, menjebak dan lainnya.

 

Peluk Aku, Ayah

Aku siap berangkat sekolah  |  Pakai seragam alangkah gagah  |  Aku berdiri di depan pintu  |  Pastilah ayah yang kutunggu  |  Pasti ayah senang melihatku  |  Anaknya yang hebat   |  Tapi air mata keluar dari mataku  |  Ayah hanya tersenyum kaku  |  Tidak memelukku  |  Apalagi menciumku  |  Aku siap berangkat sekolah  |  Jalan kaki tapi terasa goyah  |  Semangat terus melemah  |  Melihat cara-cara ayah

Anak ingin memberikan yang terbaik kepada laki-laki dewasa yang Allah amanahkan menjadi ayahnya. Kepada seorang laki-laki dewasa yang ingin dia taati dan kagumi. Anak-anak ingin berpamitan kepada ayahnya. Anak-anak ingin mencium tangan ayahnya secara khusu’ karena anak-anak tahu persis bahwa mereka akan berpisah dengan ayahnya berjam-jam lamanya. Namun sayangnya, prosesi perpisahan pagi hari bagi para sebagian ayah bukanlah momen penting. Ketika bersalaman atau pamitan, kadang sang ayah hanya sekedar memberikan tangan saja tapi tak memberikan pandangan mata. Kadang para ayah sambil memainkan telpon genggam dan sejenisnya. Sehingga anak-anak mendapatkan ayahnya ada secara fisik tapi tidak ada secara psikologis.

 

Pemulung Dan Anaknya

Seorang ayah pemulung  |  Seorang anak pemulung  |  Aku lihat sedang bercanda  |  Aku lihat sedang tertawa  |  Seorang ayah pemulung   |  Seorang anak pemulung  |  Kejar-kejaran lompat-lompatan  |  Guling-gulingan tonjok-tonjokan  |  Aku malas ke sekolah  |  Aku ingin melihat ini saja  |  Aku malas ke sekolah  |  Aku mau jadi anak pemulung saja

Peran dan tokoh keayahan di luar rumah dan luar sekolah bagi anak-anak sekarang juga menjadi barang langka. Orang-orang dewasa serta fasilitas umum biasanya tidak banyak berpihak kepada anak-anak kita. Namun pastilah keadaan atau momen yang masih berkesan bagi anak-anak kita. Momen tersebut tidak akan bermakna andai ayah tidak melakukan sharing dengan anak-anak. Bisa dilakukan ketika pulang kerja, makan malam, kerjakan PR bersama atau jelang tidur.

 

Jangan Tanya PR Terus

Aku heran ama orang dewasa  |  Terutama ayah dan bunda  |  Kenapa setiap aku pulang  |  Bertanya PR dan PR saja  |  Hanya Bi Imah yang tersenyum dan bercanda  |  Tak pernah tanya PR segala  |  Disiapkannya makan siang enak rasanya  |  Lalu ditemaninya sambil berteka teki pula  |  Setelah baju kuganti dengan segera  |  Bertemu ayah di dekat meja  |  Kembali bertanya kapan PR dikerjakan  |  Kembali memaksa PR harus dikerjakan  |  Ketika duduk di ruang tamu  |  Istirahat sebentar mendengar lagu  |  Datang bunda berseru-seru  |  Kapan kerjakan PRnya kok dengar lagu melulu  |  Aku heran ama orang dewasa  |  Terutama ayah dan bunda

Ketika anak pulang sekolah jangan tanyakan dahulu urusan leher keatas, tanyakan urusan leher kebawah atau sentuh hatinya. Misalnya ayah bisa tanyakan bagaimana abang, bahagia tidak hari ini disekolah dan lainnya.

 

Andai Imam Bonjol Tahu Ini bagian terberat menjadi anak

Selesai makan malam harus bikin PR pula  |  Maunya kita bisa tidur enak  |  Tapi orang dewasa mengawasi seperti srigala  |  Aku pegang buku Ayah duduk di depanku  |  Buku sejarah tentang pahlawan  |  Manusia hebat suka berkorban  |  Ayah tersenyum penuh bangga   |  Lihat aku mulai membaca  |  Buku sejarah aku buka  |  Tepat tentang Imam Bonjol pahlawan luar biasa  |  Imam Bonjol pahlawan kita  |  Baju dan sorbannya mirip Aa Gym rupanya  |  Bedanya Imam Bonjol senang berperang  |  Aa Gym senang berdendang  |  Aku tebak, Imam Bonjol pastilah bijaksana  |  Suka mendengar curhat anak-anak juga  |  Sambil berbisik aku berkata “Wahai Imam aku sedang berduka”  |  Kulihat ayah semakin bangga  |  Kulihat Imam senyum bibirnya  |  Dia mengangguk mau bicara “Tapi berbisik saja biar ayahmu tak marah,” katanya  |  “Kenapa kau berduka?” tanyanya  |  Belajar malam alangkah beratnya  |  Perut kenyang mata mengantuk  |  Kepala berat pengen menggaruk  |  Imam tertawa mendengarnya  |  Dia pusing tak tahu bilang apa  |  “Ha... haa kita berbeda,” katanya  |  “Waktu kecil aku tak ada PR segala”  |  Ayah tampaknya mulai curiga  |  Aku bicara seperti orang gila  |  “Eh, kamu belajar apa becanda?”  |  “Nanti besar mau jadi apa?”  |  Aku heran semakin heran  |  Kenapa kita belajar tidak boleh sambil becanda  |  Apakah becanda tidak akan jadi siapa-siapa  |  Sedangkan Imam saja suka becanda rupanya

Obsesi entah jenis apa yang diidap oleh sebagian orangtua, terutama ayah, sehingga membuat hidup anaknya hampir sebagian besar adalah stimulan akademis. Sehingga tiada hari tanpa belajar akademis. Termasuklah setelah makan malam. Lebih hebatnya lagi adalah anak-anak harus belajar dengan sekian banyak peraturan yang dikeluarkan secara sepihak oleh orang tua.

 

Terus terang kisah yang ditulis anak-anak diatas membuat saya tertampar sebagai seorang ayah yang masih jauh dari sempurna dan masih belajar. Semoga kita bisa menjadi ayah yang benar-benar hadir dalam kehidupan anak kita dan semoga kita bisa menjadi Ayah Hebat bagi anak kita dan usia psikologis anak kita lebih dewasa dibanding usia biologis anak kita.


Tidak ada komentar: