Senin, 07 November 2022

Syair yang Membuat Imam Ahmad rahimahullah Menangis

 


Dikisahkan, murid beliau, Abu Hamid al-Khulqani mendatangi Imam Ahmad dan bertanya kepada beliau, “Wahai Imam, bagaimana menurut anda mengenai sya’ir ini?“ Beliau menjawab, “Sya’ir apakah ini?” kemudian Abu Hamid membaca sya’ir berikut:

إذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أَ مَا استَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي

Jika Rabb-ku berkata kepadaku, “Apakah engkau tidak malu bermaksiat kepada-Ku?”

وَتُخفِي الذَنبَ عَن خَلقِي وَ بِالعِصيَانِ تَأتِينِي

Engkau menutupi dosamu dari makhluk-Ku tapi dengan kemaksiatan engkau mendatangi-Ku

فَكَيفَ أُجِيبُ يَا وَيْحِيِ وَ مَن ذَا سَوفَ يَحمِينِي؟

Maka bagaimana aku akan menjawabnya? Aduhai, celakalah aku dan siapa yang mampu melindungiku?

أُسَلِّي النَفْسَ بِالآمَالِ مِن حِينٍ إِلَى حِينِي

Aku terus menghibur jiwaku dengan angan-angan dari waktu ke waktu

وَ أَنْسَى مَا وَرَاءَ المَوْتِ مَاذَا بَعْدُ تَكْفِينِي

Dan aku lalai terhadap apa yang akan datang setelah kematian dan apa yang akan datang setelah aku dikafani

كَأَنِّي قَدْ ضّمِنتُ العَيشَ لَيسَ المَوْتُ يَأْتِينِي

Seolah-olah aku akan hidup selamanya dan kematian tidak akan menghampiriku

وَ جَائَتْ سَكرَةُ الموتِ الشَدِيدَةُ مَن سَيَحْمِينِي

Dan ketika sakaratul maut yang sangat berat datang menghampiriku, siapakah yang mampu melindungiku?

نَظَرْتُ إِلَى الوُجُوْهِ أَ لَيْـسَ مِنهُمْ مَنْ سَيَفْدِينِـــي

Aku melihat wajah-wajah manusia, tidakkah ada di antara mereka yang akan menebusku?

سَأُسْأَلُ مَا الذِي قَدَّمْتُ فِي دُنيَايَ يُنْجِينِي

Aku akan ditanya tentang apa yang telah aku persiapkan untuk dapat menyelamatkanku (di hari pembalasan)

فَكَيْفَ إِجَابَتِي مِنْ بَعدُ مَا فَرُّطْتُ فِي دِينِي

Maka bagaimanakah aku dapat menjawabnya setelah aku melupakan agamaku

وَ يَا وَيْحِي أَ لَــــمْ أَسْمَعُ كَلَامَ اللهِ يَدْعُوْنِي

Aduhai sungguh celakalah aku, tidakkah aku mendengar firman Allah yang menyeruku?

أَ لَــــمْ أَسْمَعْ لِما قَد جَاءَ فِي قَافٍ وَ ياسِين

Tidakkah aku mendengar apa yang datang kepadaku (dalam surat) Qaaf dan Yasin itu?

أَ لَـــمْ أَسْمَعْ بِيَوْمِ الحَشْرِ يَوْمَ الجَمْعِ وَ الدِّينِي

Tidakkah aku mendengar tentang hari kebangkitan, hari dikumpulkannya (manusia), dan hari pembalasan?

أَ لَـــمْ أَسْمَعْ مُنَادِي المَوْتِ يَدْعُوْنِي يُنَادِينِي

Tidakkah aku mendengar panggilan kematian yang selalu menyeruku, memanggilku?

فَيَا رَبَّــــاه عَبدٌ تَــائِبٌ مَنْ ذَا سَيَؤْوِينِي

Maka wahai Rabb-ku, akulah hambamu yang ingin bertaubat, siapakah yang dapat melindungiku?

سِوَى رَبٍّ غَفُوْرٍ وَاسِعٍ لِلحَقِّ يَهْدِيْنِي

Melainkan Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Luas Karunianya, Dialah yang memberikan hidayah kepadaku

أَتَيْتُ إِلَيْكَ فَارْحَمْنِي وَثَقِّـــلْ فِي مَوَازِينِي

Aku datang kepada-Mu, maka rahmatilah diriku dan beratkanlah timbangan (kebaikanku)

وَخَفِّف فِي جَزَائِي أَنتَ أَرْجَـى مَنْ يُجَازِيْنِي

Ringankanlah hukumanku, sesungguhnya hanya Engkaulah yang kuharapkan pahalanya untukku

Imam Ahmad terus melihat bait-bait sya’ir tersebut dan mengulang-ulangnya kemudian beliau menangis tersedu-sedu. Salah seorang muridnya mengatakan bahwa beliau hampir pingsan karena begitu banyaknya menangis.

[dari Kitab Manaqib Al-Imam Ahmad hal. 205 oleh Al-Imam Ibnul Jauzy]


Selasa, 25 Oktober 2022

Jangan Terpaku Dengan Masalah

Jangan Terpaku Dengan Masalah

Ust Mufy Hanif Thalib

Sabtu, 15 Oktober 2022

Masjid Nurul Iman Blok M Square

Orang yang ingin hidup Bahagia harus beriman kepada Allah dan imannya diikat dengan amal yang sholeh.  Percuma kalau kita berekspektasi hidup Bahagia tapi kita tidak beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika seseorang ingin Bahagia hidupnya, dia harus menyibukkan dirinya dengan ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan menyibukkan dirinya dengan amalan-amalan yang bermanfaat. Jika seseorang ingin hidup Bahagia, dia harus perhatikan dan perhitungkan apa yang dia kerjakan, apakah bermanfaat atau tidak. Orang ingin hidup Bahagia harus perbanyak dzikir kepada Allah. Mustahil orang yang ingin berbahagia tapi tidak berdzikir, jikapun Bahagia maka bahagianya semu. Langkah mulia agar hidup kita Bahagia adalah berdzikir kepada Allah dan mengingat Allah.

يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ

Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah (Az Zumar ayat 53)

Mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala untungnya sangat banyak. Terkadang kita dikurung oleh pikiran kita sendiri, karena hati dan jiwa kita berpikir yang jelek terus, padahal rezeki Allah luar biasa.

Jika ingin berbahagia, kita diperintahkan untuk tahadduts bil ni’mah, kalau Allah kasih nikmat kepada kita, kita kasih lihat nikmat tersebut. Jangan ketika Allah kasih nikmat, tapi kita malah merasa kurang terus.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. (Adh Dhuha ayat 11)

Orang yang ingin bahagia agar ia berusaha Qonaah (merasa cukup dengan nikmat Allah). Dari ’Abdullah bin ’Amr bin Al ’Ash, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ

”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Orang yang ingin Bahagia harus optimis, bukankah Allah telah menjamin rezeki kita. Sebagaimana hadits, "Aku bersama prasangka hambaku dan Aku akan selalu bersamanya. Selama dia mengingat-Ku maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dengan begitu banyaknya, maka Aku akan mengingatnya lebih banyak darinya. Dan apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Dan apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari" (Riwayat Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Tirmidzi).

Orang yang Bahagia adalah orang yang sabar. Kita disuruh bersabar, meskipun kita sedang berada ditempat yang tidak enak, karena dimana kita hidup disitu akan ada ujian. Allah Ta’ala berfirman,

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Kalau kita melihat sahabat ketika hijrah, mereka tidak pernah menoleh kebelakang. Mus’ab Bin Umair, adalah seorang yang kaya, bajunya bagus, parfumnya banyak, tidak pernah lapar, dimana Rasulullah tahu beliau diberikan makanan terbaik oleh Ibunya. Akan tetapi ketika beliau hijrah harus hidup dengan pakaian yang compang camping, kulitnya kering dan bersisik. Sedangkan kita, seringkali maunya dibayar di dunia semua.

Jika ingin berbahagia maka kuatkanlah hati kita. Kuatkan hati dalam menuntut ilmu dan duduk dengan oleh orang-orang yang sholeh agar hati kita semakin tenang. Kita juga harus husnudzan kepada Allah . Subhanahu Wa Ta’ala, karena saat seseorang yakin dan berprasangka baik kepada Allah, pasti ia akan bertawakal kepada Allah dan Bahagia akan menghampiri.

Jika orang ingin hidup Bahagia, dia harus bersikap adil dalam bermuamalah dengan manusia. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-sa'di saat membahas poin ini langsung menyebut hadits, "Janganlah seorang Mukmin itu membenci seorang Mukminah! Sebab, jika ia tidak senang satu perangai wanita itu, tentunya ia menyukai perangai lainnya." Arti sempit hadits ini petunjuk muamalah terhadap istrinya dan arti luasnya adalah terhadap mukmin yang lain. Kalau ada akhlak yang kita benci darinya, kita harus melihat lagi akhlak lain yang baik dari dirinya. Kita harus bersikap adil karena kita juga memiliki keburukan. Semua orang pasti memiliki kekurangan dan aib. Jika kelak engkau mendapati yang kurang baik dari orang lain, engkau bisa membandingkan antara kewajiban kita dalam menyambung tali silaturahmi dan tali kasih sayang dengan kebencian. Mana yang ingin didahulukan? Ingat, kita disuruh berbuat baik dan adil kepada orang lain.

Hadits diatas juga membantu kita dalam mengurangi, keluh kesah,dan gundah gulana dalam hidup kita. Kita juga wajib memberikan hak kepada siapapun sesuai haknya, meskipun kita tidak diberikan hak secara adil, terutama kepada pasangan kita. Karena kita juga diperintahkan untuk berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik kepada kita. Rasulullah memerintahkan kita untuk bersikap inshaf (ditengah-tengah) dan adil kepada orang lain, terutama kepada istri kita. Tidak boleh seorang laki-laki untuk bermudah-mudah mengatakan cerai kepada istrinya., karena Wanita itu tidak ada yang lurus, kalau dipaksakan lurus maka akan patah. Berlapang-lapang dada lah.

Dan kapan terjadi ada muamalah yang buruk diantara dua manusia, maka nasihat itu wajib bagi manusia. Karena kita juga diwajibkan saling menasihati. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menasehati sesama muslim berarti adalah menunjuki berbagai maslahat untuk mereka yaitu dalam urusan dunia dan akhirat mereka, tidak menyakiti mereka, mengajarkan perkara yang mereka tidak tahu, menolong mereka dengan perkataan dan perbuatan, menutupi aib mereka, menghilangkan mereka dari bahaya dan memberikan mereka manfaat serta melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.” (Syarh Shahih Muslim, 2: 35). Hasan Al Bashri berkata, “Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 224).

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 49).

Hal ini semua agar kamu laki-laki tenang hidup dengannya. Dan Allah jadikan kamu mawadah warrahmah, saling mencintai satu dengan yang lain dan saling merahmati satu dengan yang lain. Jika kita diminta Allah untuk berbuat baik, maka kerjakanlah, karena didalam itu semua ada kenyamanan didalam diri kita.

Keributan yang disebabkan karena tidak berbuat adil akan membuat kehidupan seseorang menjadi sengsara. Makanya kita diperintahkan untuk berbuat adil agar hidup kita Bahagia.

Kita dimotivasi agar tidak selalu berkubangan ditempat-tempat keruh, berkesedihan dan tempat-tempat yang kita tidak suka. Setan akan terus berusaha agar kita larut dalam hal-hal yang tidak baik. Saat orang selalu menempatkan dirinya dalam tempat yang suram dan sedih maka ia akan kehilangan akal sehatnya. Maka dari itu tidak sepatutnya manusia mengahabiskan hidupnya dalam keluh kesah gundah gulana dan terus terusan berada didalam kubangan kesedihan. Hidup ini hanya sebentar. Jangan kita terus-terusan mengikuti bisikan syaitan. Boleh bersedih, akan tetapi sedihlah secukupnya. Orang yang berbahagia adalah orang-orang yang tidak ikut bisikan syaitan. Karena dalam bisikan syaitan selalu ada kesedihan dan was-was.

 

Pertanyaan:

Apakah boleh seorang istri bucin kepada suaminya?

Jawaban:

Tidak masalah, karena ia ingin dicintai dari orang yang memang pantas untuk mencintainya.

 

Pertanyaan:

Bagaimana sikap orang tua jika ada anak meminta cerai dengan pasangannya?

Jawaban:

Lihat dulu apakah penyebabnya sudah pantas atau belum. Jika memang sebab-sebabnya sudah pantas, maka tidak papa dipisahkan. Akan tetapi jika hanya sebab-sebab kecil saja, maka nasehatilah anak dan luruskanlah masalahnya dengan adil.

Jumat, 14 Oktober 2022

Dear Heart


Dear Heart..

Rasulullah once said, there is a piece of flesh in the body if it becomes good the whole body becomes good but if it gets spoilt the whole body gets spoilt and that is the heart...

Thank you for being good flesh in the human body..


Dear Heart..

You are the chief..

You are the leader..

If you are good, then other things will be good too..


Dear Heart..

Even though I don't deserve to say this..

My message to you, stay good, clear, and clean from various stains caused by disobedience and sin...

May Allah who turns hearts always keep you in Deen and keep your light..

So that you can still lead the mind and behavior of your body..

And you also give light to life..


Keep being good... 

Dear heart..

Rabu, 05 Oktober 2022

Mendidik Anak Laki-Laki Remaja (Usia Diatas 15 Tahun)

Sebelumnya saya pernah membuat resume tentang mendidik anak laki-laki usia dini (0-7) tahun dalam dua tulisan, tulisan pertama Mendidik Anak Laki-Laki Usia Dini (0-7 Tahun) dan tulisan kedua Mendidik Anak Laki-Laki Usia 0 – 7 Tahun. Lalu tulisan mendidik anak usia praremaja (7 – 15 Tahun). Sekarang kita akan masuk ke usia selanjutnya.

Usia Remaja Bukan Pemakluman atas DOSA

Perlu kita pahami bahwa, seringkali ada istilah familiar yang ada di masyarakat tentang kenakalan-kenakalan yang dilakukan remaja sebagai sebuah pemakluman..  dan itu dianggap sebagai hal yang lumrah.. namanya juga remaja.. padahal hal ini adalah sesuatu yang sejatinya wajib kita luruskan.. karena awal dari pemakluman ini bisa jadi atas terminologi yang muncul dikalangan kita atas jurnal ilmiah yang dikeluarkan oleh Stanley Hall tahun 1912, yang memberikan definisi baru kepada usia belasan tahun, yang disebut adolescent tapi belum cukup, karena badannya besar akan tetapi kelakuannya masih seperti anak-anak, yang pada akhirnya memunculkan terminologi teenager. Stanley Hall membuat sebuah riset dengan sample 10 ribu anak-anak di eropa dan amerika, atas perilaku-perilaku yang mereka alami. Dari 10 ribu riset ini, mereka biasa membangkang, melawan, ngeyel, bahkan melakukan keonaran. Atas dasar itulah diterbitkan sebuah jurnal ilmiah yang seolah-olah menjadi pembenaran atas perilaku usia remaja (teenager). Yang sebenarnya disebabkan oleh pola asuh yang salah di dunia barat.

Paradigma الشباب VS المراهق

Jurnal ilmiyah inilah yang diadopsi oleh semua psikolog diseluruh dunia, termasuk psikolog di Arab, yang sampai membuat sebuah definisi baru bagi anak-anak di usia tersebut yang disebut Murohiq (المراهق) pada tahun 1920 , yang secara Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai remaja. Murohiq berasal dari kata dasar rohaqo yang terdapat dalam surat Jin ayat 5, وَّاَنَّا ظَنَنَّآ اَنْ لَّنْ تَقُوْلَ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۙ, Sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin itu tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.”. Jadi kata rohaqo yang berarti dosa menjadi sebuah nilai yang menjadi pembenaran bagi remaja berbuat salah dan dosa. Ini suatu yang salah! Padahal remaja sendiri dalam Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai orang yang bersikap dewasa. Pemakluman akan dosa ini bahaya, karena kalau sesungguhnya ajal menjemput anak kita, anak kita tetaplah harus mempertanggung jawabkan perbuatannya karena sudah baligh, tidak ada pemakluman akan usia remaja.

Padahal kalau merujuk ke masyarakat islam terdahulu, tidak ada remaja yang seperti definisi teenager atau murohiq. Hal ini sangat perlu diluruskan. Oleh karena itu salah satu pakar Pendidikan asal Arab Saudi yang bernama Dr Kholid Ahmad Syantut membuat sebuah termonologi yang diambil dari dalil Qur’an dan Sunnah yang menyatakan dari pada menyebut mereka sebagai murohiq, lebih baik menyebut mereka sebagai Asy Syabab (الشباب). Dimana Asy Syabab maknanya sama yaitu remaja atau pemuda, tapi Asy Syabab itu memiliki akar kata Syuba yang berarti jilatan api yang membakar. Disebut الشباب agar mampu memanfaatkan potensi (القوة) demi kemaslahatan. Karena anak muda itu seperti jilatan api yang memiliki potensi. Dimana potensi ini tergantung bagaimana memanfaatkannya, kalau dimanfaatkan baik maka akan menjadi baik, itulah yang dilakukan Rasulullah, menjadikan Sebagian pendukungnya anak-anak muda. Kita tahu Abdullah bin Abas yang menjadi ulama yang membantah khawariz di udia 14 tahun, Ali bin Abi Thalib yang di usia 10 tahun sudah menjadi tameng Rasulullah, Usamah Bin Zaid yang menjadi panglima perang di usia 17 tahun.

Akan tetapi kalau potensi ini diambil oleh orang yang rusak maka remaja ini bisa ikut rusak juga. Maka jangan heran kalau akhir kerusakan menjadi kreatif karena memanfaatkan potensi remaja. Inilah salah satu tugas dari pendidik adalah harus mampu memandang potensi seorang remaja. Potensi yang dimiliki Remaja atau pemuda menurut pandangan ulama diantaranya adalah Potensi Akal (العقلية قوة), Potensi Semangat (الحماسة قوة), dan Potensi Fisik (الجسمية قوة). Diantaranya dengan sibukkan remaja dalam kegiatan dakwah atau kegiatan positif lainnya, rebut golden moment nya dan jangan ditunda-tunda.

Profil Awal Pemuda Islam

Dalam Islam ada sebuah profil yang menjadi indikasi bahwa seorang anak muda sudah masuk kedalam fase kematangan, dan fase kematangan itu memberikan sebuah jawaban atas tanggung jawab mereka. Indikasinya adalah ketika sudah Amanah dalam mengelola harta.

فَاِنْ اٰنَسْتُمْ مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوْٓا اِلَيْهِمْ اَمْوَالَهُمْ

Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya…(An Nisa : 6).

Jadi kalau sudah bisa Amanah dalam mengelola uang, maka ia sudah bisa diberikan tanggung jawab dalam mengelola harta. Sudah bisa diberikan hak untuk memiliki gadget, jangan berikan hak memiliki gadget sebelum anak siap. Kalau anak belum siap, jangan berikan ia hak milik, tapi berikanlah ia hak guna. Ketika anak sudah bisa mengelola harta, maka anak sudah masuk ke fase awal kematangannya, yang ujungnya nanti adalah kemampuan dalam memberikan nafkah. Untuk mengetahui anak sudah Amanah latihannya menurut para ulama diantaranya adalah laki-laki ditandai dengan keberanian untuk safar sendirian. Kalau perempuan ditandai mampu mengelola rumah ayahnya, seperti cuci baju, piring dan bersih-bersih rumah ketika ayah bundanya sedang tidak ada di rumah.

Tantangan Awal Remaja

Aktifnya hormon seksual (baligh) yang menurut Ibnu Taimiyah menjadikan remaja (anak yang sudah baligh) sebagai target utama setan, selain ketika hamba Allah mengalami sakaratul maut. Dimana ujian beratnya adalah syahwat terhadap wanita (Ali Imran ayat 14). Seorang laki-laki yang terkena jerat fitnah Wanita maka akan ada 2 yang terjadi, sebagaimana Tafsir Al Qurthubi, yaitu Memutuskan silaturrahim dengan siapapun yang menolak hubungan dia dengan Wanita tersebut dan Mengumpulkan harta banyak tanpa peduli halal dan haram.

Menyibukkan REMAJA dalam segudang aktivitas

Remaja wajib untuk sibuk, dimulai dengan melatih anak memiliki daily rundown. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok..... (Al Hasyr : 18).

الوقت كالسيف فإن قطعته وإال قطعك، ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإال شغلتك بالباطل

Imam Syafi’i berkata, “Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.” (Al Jawaabul Kaafi karya Ibnul Qoyyim Al Jauziyah)

3 Program Utama Remaja

Yang dilakukan untuk memaksimalkan potensi remaja, seperti yang bisa kita pelajari dari proses kenabian Rasulullah di masa remaja, yang pertama adalah Magang (mulai belajar aktifitas laki-laki dewasa bisa adhoc ataupun organisasi). Rasulullah pernah magang adhoc di perang fijar, dengan memunguti anak panah yang jatuh dan tidak ikut berperang langsung. Di magang itu anak akan terlibat, menyaksikan dan mengobservasi secara langsung (knowing, feeling, acting). Selain itu ketika remaja, Rasulullah juga aktif di suatu organisasi yang Bernama hilful fudhul, sebuah organisasi yang bertujuan menjaga ketertiban dan keadilan dalam perdagangan, yang menjadi urat nadi kehidupan penduduk Mekah. Di hilful fudhul Rasullah memang hanya seorang partisipan, akan tetapi Rasulullah sudah menunjukkan kelaki-lakiannya yang matang ketika membebaskan Wanita yang diculik oleh Bani Najaj, sebagaimana dikisahkan Ibnu Hisyam dalam kitabnya. Jangan sampai anak kita di usia ini hanyalah sibuk nge prank dan stand up comedy menertawakan nasib bangsa tanpa ada tindakan nyata.

Yang kedua adalah Mentor (personal maupun komunal). Mentor terbaik di usia ini adalah ayah atau pihak ketiga yang bisa membuat anak kita menjadi lebih matang. Seperti Muhammad Al Fatih yang dimentori oleh Syekh Aaq Syamsuddin dan Syekh Ahmad bin Ismail Al Kuroni, Umar bin Abdul Aziz yang dimentori Imam Shalih bin Kaisan, Abdullah bin Umar yang dimentori ayah kandungnya langsung yaitu Umar Bin Khattab, Abdullah bin Abas yang dimentori Rasulullah. Kalau di pesantren mentornya adalah kumpulan Asatidz yang bergantian memberikan stimulan ke anak laki-laki kita.

Dan yang ketiga adalah Monitoring dengan bagaimana kita melihat hal-hal yang dapat merusak anak laki-laki remaja kita, diantaranya yaitu kebiasaan jam biologis, bahasa, dan pertemanan. Perhatikan jam biologis anak, apakah terbiasa bangun pagi atau bangun siang, karena keberkahan adanya dipagi hari dan bukan siang hari. Sebagaimana doa Rasulullah, اللهم بارك لأمتي في بكورها , “Ya Allah, berilah keberkahan bagi umatku di pagi harinya.“ Perbanyak Bahasa-bahasa baik dikepala anak kita dengan jalan mencintai buku, mendatangi kajian, diskusi dengan orang-orang sholeh dan yang memiliki bahasa baik. Dalam hal pertemanan, Rasulullah mengatakan, المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل, “Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Dalam Riwayat lain juga dijelaskan, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628). Kalau kita melihat ada gejala-gejala temannya buruk, maka 2 solusinya. Yang pertama, potong kompas pertemanannya dan tawarkan pertemanan baru yang sama asyiknya, sehingga anak kita terjaga dengan kita bantu dengan pertemanan baru yang terjaga keimanannya. Yang kedua, kalau memang sulit untuk kita cut off, kita masuk kedalam pertemanan tersebut, minimal untuk menjadi pagar dalam mencegah kerusakan. Dengan mengundang teman-temannya main ke rumah misalnya.

Saatnya BERAKSI!

Ada 20 juta anak-anak di Indonesia yang berusia diatas 15 tahun, yang dalam beberapa tahun lagi akan menentukan bagaimana nasib bangsa ini. Di usia ini anak sudah memiliki sifat kelaki-lakian dan sudah bisa beraksi, peran keayahan semakin dibutuhkan. Yang harus dipahami, benarkah remaja atau pemuda merupakan era perusak? Mari kita lihat fakta-fakta yang ada. Pertama, usia ini adalah usia potensi mendapatkan titik paling melekat kepada Allah. Hal ini dapat kita lihat dibanyak siroh, dimana anak muda banyak yang menjadi pengikut Rasulullah. Kedua, di usia ini ternyata remaja sudah memiliki kesadaran yang kuat dan tinggi akan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keindahan. Ketiga, nilai individu dan sosial mulai terintegrasi utuh dalam kepribadian. Keempat, perilaku sudah mengakar kuat dan cenderung bersifat tetap. Kelima, konsep diri yang menguat.

Contoh Pemuda Hebat Dari Sahabat Berdasarkan Usianya

Usia 15 tahun. Abdullah bin Umar ikut dalam jihad pertamanya di Perang Uhud setelah sebelumnya di Perang Badar ditolak karena masih berusia 14 tahun dan Imam Syafi’i menjadi mufti.

Usia 16 tahun. Zaid bin Tsabit ikut jihad pertama kali di Perang Khandak setelah ditolak pada Perang Badar karena usianya baru 12 tahun.

Usia 17 tahun. Bukhari mendalami hadits dari para gurunya dan Abu Hamid al-Isfirayini menjadi Mufti.

Usia 18 Tahun. Usamah bin Zaid menjadi panglima perang melawan salah satu pasukan Romawi dan menang dan Bukhari mulai menulis.

Usia 22 tahun. Zaid bin Tsabit memimpin tim pengumpulan mushaf al-Qur’an dan Sultan Muhammad al-Fatih menjadi sultan Turki Utsmani.

Usia 23 tahun. Umar bin Abdul Aziz menjadi gubernur Madinah.

Anakmu Buka Milikmu Lagi

Cek kaca spion dan fokus kaca depan, maksudnya lihat lagi perkembangan anak laki-laki kita, apa yang menjadi kekurangannya saat ini, untuk kemudian kita bantu anak kita memperbaiki dan melengkapinya untuk persiapan menghadapi kehidupan nyata di masa yang akan datang. Buka akses ayah bunda agar anak ayah bunda bisa dengan mudah menghubungi ayah bunda. Persiapkan dalam menghadapi tantangan baru, Real Stage Real Life, sadarlah kita kalau anak-anak kita sudah akan memasuki fase yang baru. Bantu anak kita dalam proses mentoring, mulailah dari mentoring spiritual atau agama agar anak kita bisa lebih mulus dalam menjalani real stage and real life, misalnya melalui halaqah atau yang lainnya.

Anak Laki-Laki dan Lingkungan : Clique & Crowd

Setidak-tidaknya anak laki-laki akan masuk, atau kita yang akan masuk,atau orang lain yang akan menyiapkan anak laki-laki pada proses transisi. Ada dua yang dihadapi anak kita pada proses transisinya, yaitu Clique dan Crowd. Clique: anak cenderung membentuk pertemanan yang ditandai adanya hubungan yang akrab, loyalitas, dan saling berbagi. Bentuk hubungannya lebih timbal balik, lebih seimbang, kegiatan Bersama dan lebih stabil. Clique ini cenderung lebih mudah kita pantau sebagai orang tua. Diantara contoh Clique adalah main games bareng, ngaji Bersama, main bola bersama.

Crowds: kelompok sosial heterogen yang lebih besar yang terbentuk bukan karena interaksi pribadi, melainkan akibat adanya persepsi terhadap reputasi, citra, atau identitas. Diantara contoh crowd adalah lingkungan tempat tinggal, latar belakang etnis, status sosial di kalangan teman sebaya, kemampuan, minat, atau gaya hidup.

Yang Harus Kita Lakukan

Lepas! Kendali tetap ditangan Ayah. Kendali yang paling bagus adalah membangun kekaguman dan respect anak ayah ke ayah. Jangan kita melepas anak kita, tapi kita membangun ketakutan, misalnya ayahnya selalu bilang.. hati-hati.. awas lho.. dan sejenisnya.

Simulasikan dengan ayah tetap memberikan contoh dan guidance, untuk kemudian kita lepas anak kita melakukannya. Role Being (Hands On Mind On).

Perjalanan Menuju Laki-Laki Dewasa

13/14 Tahun Fase RESTRUKTURISASI 2. Periksa proses download kelaki-lakian anak kita.  Tambah yang kurang. Kemudian mulai kenalkan mentor. Mentor yang ayah dan bunda betul-betul tau keberagamaan mentor tersebut. Mentor boleh lebih dari 1 orang.

14/16 Tahun Fase MENTORING. Jembatan menuju dewasa. Dibawah pengawasan ayah. Bukan sekedar guru

17/20 Tahun Fase Magang. Lingkungannya akan lebih heterogen. Tanpa mentor. Ayah bunda tetap diawasi

Persiapkan semuanya dengan baik, karena siap atau tidak siap fase ini pasti akan datang. Tinggal apakah kita mau memulai mempersiapkan kelaki-lakian anak kita atau dimulai orang lain. Satu hal yang perlu diingat, perkembangan anak laki-laki tidak bisa menunggu!

Segara ATUR POSISI, Ayah Dimana, Ibu Dimana, Orang Ketiga (Mentor) dimana. Ayah bunda juga harus kompak, mulai dari pemahaman hingga pola asuh. Anak boleh keluar, akan tetapi roadmap standar harus tetap dijadikan acuan, dimana roadmap untuk laki-laki mengacu ke keluarga Ibrahim yang ujungnya Ismail dan perempuan mengacu ke keluarga Imron yang ujungnya Mariam. Diskusikan selalu dan infokan ke mentor dan tempat magang anak kita tentang roadmap yang kita inginkan.

Intention, Attention, Connection. Koneksi anak kita terhadap anak laki-laki kita sangat tergantung pada niat dan perhatian. Untuk itu ayah bunda perlu untuk menjaga kembali niat dan jangan kurangi perhatian kepada anak.

Dalam mendidik anak laki-laki kita perlu diingat kalau kita butuh orang lain, kita perlu membangun sinergi besar, pastikan rumah sebagai home bukan shelter, lakukan dan kuatkan terus observasi, evaluasi, dan rekomendasi.

Semoga kita bisa menjadi ayah hebat dan ibu tangguh yang mampu mendidik anak-anak laki-laki kita dengan pendidikan terbaik sesuai fitrahnya dan menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang juara dengan akhlak yang baik.

*Sumber : Webinar Ayah Irwan Rinaldi dan Ustadz Bendri Jaisyurrahman

Mendidik Anak Laki Laki Usia Pra Remaja (7 – 15 Tahun)

Dalam mendidik anak ada kaidah penting yang menjadi dasar dalam memahami Pendidikan dalam kelaki-lakian, setiap amal itu ada masanya dan setiap masa ada amalannya. Sebuah kaidah penting dari ahli Pendidikan yang mengandung makna, jangan memberi stimulan yang tidak sesuai dengan umurnya.

Sebelumnya saya pernah membuat resume tentang mendidik anak laki-laki usia dini (0-7) tahun dalam dua tulisan, tulisan pertama Mendidik Anak Laki-Laki Usia Dini (0-7 Tahun) dan tulisan kedua Mendidik Anak Laki-Laki Usia 0 – 7 Tahun. Sekarang kita akan masuk ke usia selanjutnya.

Usia Pra REMAJA adalah masa transisi dari tamyiz menuju baligh. Masa Tamyiz adalah masa dimana anak sudah mengenal aturan dan adab. Indikatornya kata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam diantaranya adalah (اِذاعرف يمينه على شماله) sudah bisa membedakan kanan dan kiri. Artinya akalnya sudah mulai aktif dan sudah memahami hukum konsekuensi, anak sudah memahami kalau memegang api itu panas, maka jangan memegang api. Di usia Tamyiz, kita sudah bisa mengucapkan kalimat jangan kepada anak. Kalimat jangan dalam Al Qur’an bukanlah kalimat yang haram untuk diucapkan, akan tetapi hanya bagaimana waktu yang tepat untuk mengucapkannya. Memang sebelum usia tamyiz, kalimat jangan ini bisa menjadi blunder, karena anak belum mengenal hukum sebab akibat. Sedangkan di usia Tamyiz sudah boleh mengucapkan kalimat jangan, akan tetapi harus disertai juga dengan solusi, sesuai panduan Rasulullah. Misalnya, ketika kita bilang jangan lari-lari, maka bisa dibarengi dengan cukup berjalan. Atau contoh lain, jangan coret-coret dinding, cukup coret-coret kertas yang Bunda sajikan. Seperti contoh yang diberikan Rasulullah ketika mengingatkan sahabat cilik Rafi Ahmad Al Ghifari karena terlalu sering mengambil kurma milik tetangganya, sehingga Rasulullah berkata, nak jangan kamu lempari kurma itu, kalau mau makanlah yang sudah jatuh ke tanah. Ada larangan dan ada solusi.

Di usia 7 – 15 tahun ini anak-anak juga mengalami fase Baligh. Usia dimana anak mendapatkan taklif atau beban. Statusnya sama di hadapan Allah. Bertanggung jawab atas tindakannya. Indikatornya adalah mimpi basah atau menstruasi. Ada juga ulama yg menyebutkan ketika mulai tumbuh bulu di kemaluan.

Fase Tamyiz menuju Persiapan Baligh kita memahami kalau anak-anak sudah memliki daya pikir yang ditandai dengan pertanyaan-pertanyaan yang kadang-kadang membuat kita terheran-heran atau membantah setiap yang kita ucapkan. Dan ini mengindikasikan kalau anak kita sudah memiliki daya pikir yang sudah mampu diberikan stimulan. Untuk itu orang tua perlu sering mengajak dialog dan diskusi, seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim terhadap Nabi Ismail, ketika mendapatkan perintah Allah. Jangan terlalu banyak memberikan instruksi, kedepankanlah dialog dan diskusi agar anak tidak mengalami gejala ALAY (anak melayang / anak-anak yang mengalami thinking shock). Salah satu indikasi anak laki-laki mengalami gejala alay adalah ketika anak ditanya dan jawabannya lebih sering TERSERAH. Ketika anak laki-laki tidak bisa mengambil keputusan, maka ia rentan menjadi follower. Di masa ini Ayah haruslah mengambil peran.

Kalau kita perhatikan, bagaimana baginda Nabi mendapatkan stimulan di usia ini dimana keayahan yang menjadi inti usia ini diambil langsung oleh Abu Tholib, sebagai salah satu role model kelaki-lakian. Dan kelaki-lakian yang dilakukan Rasulullah di usia 8 – 15 tahun adalah dengan melakukan safar pertama dan Belajar BERDAGANG. Bukan Buka LAPAK tapi ekspedisi barang, dagang sekaligus travelling. Hikmah yang didapatkan dari ekspedisi dagang ini diantaranya adalah belajar mandiri dan punya daya jelajah. Ekspedisi dagang ini merupakan rahasia kesuksesan suku quraisy yang dikenal suka travelling (Al Quraisy : 1). Orang tua jangan MENGURUNG anak lelaki di dalam rumah, buatlah program TRAVELLING disertai latihan bisnis (entrepreneur skill).

Tahap usia 7 – 15 tahun adalah tahap krisis dan kritis agar laki-laki mampu menjadi laki-laki seutuhnya, inilah saatnya anak belajar jadi laki-laki, eranya raising boys. Inilah saatnya melakukan simulasi kelaki-lakian dari apa yang sudah diamunisikan di usia sebelumnya, simulasi mengenai feeling kelaki-lakian.

Yang harus KITA PAHAMI dan kita lakukan diantaranya adalah kita harus memahami tahap tumbuh kembang laki-laki diusia pra remaja, Ayah perlu mengambil peran dalam membangun pondasi anak agar tumbuh sifat kelaki-lakian. Untuk seorang Ibu yang single parent dapat meminta anggota keluarganya untuk membantu membangun pondasi pada anak. Diantara cara membangun pondasi tersebut adalah dengan mengembangkan keterampilan, menanamkan akhlak, dan mengajarkan kelaki-lakian.

Ketika di usia 6 – 7 tahun, hidupkanlah tombol kelaki-lakiannya, karena keberaniannya sudah mulai muncul. Mulai lakukan estafet pengasuhan dan Ibu ke Ayah. Download tombol kelaki-lakian sebanyak-banyaknya dengan prinsip I see I remember, I do I understand… I hear I forget. Ayah jangan banyak ceramah, yang penting proses download itu adalah anak melihat dan anak diajarkan.

Anak-anak usia pra remaja, mereka butuh ayah dan ayah juga butuh mereka. Ayah harus berperan aktif di usia ini, jangan sampai ayah ada tapi seakan tidak ada, karena ayah tidak muncul, memberi contoh, dan membantu anak mendownload kelaki-lakian anak.

Ayah juara yang dibutuhkan anak di usia ini adalah ayah yang LCM (Loving, Coaching, dan Modelling). Ayah yang loving adalah ayah yang mencintai dirinya, orang tuanya, istrinya, anaknya, dan keluarga. Ayah yang coaching adalah ayah yang mengambil peran sebagai coach untuk anak-anaknya, ayah mengambil peran ibunya di usia pra remaja. Ayah modelling adalah ayah yang memberi contoh ketegasan dan ketegaran sesuai dengan perkembangan anak.

Akibat dari ayah ada ayah tiada di usia ini adalah menimbulkan FATHERLESSNESS, anak yang kehilangan sosok ayah, sehingga mengakibatkan anak mengalami FATHER HUNGER. Ayah harus demonstratif ke anak di usia pra remaja.

Kenali pahami diri ayah dengan melaki-lakikan diri ayah secara fisik dan secara psikologis didepan anak. Beri contoh fisik dan psikologis kelaki-lakian kepada anak laki-laki, mulai dari cara berdiri, cara berjalan, cara berbicara, cara menyelesaikan masalah, dan sebagainya. Ibu membantu ayah dalam menutupi hutang pengasuhan terhadap anak. Bayar hutang pengasuhan ke anak.

Periksa sekolah dan lingkungannya. Periksa guru laki-lakinya. Diantara guru laki-laki yang perlu diperiksa adalah guru agama, guru kesenian, guru olahraga, dan kepala sekolah. Agar sekolah menjadi sekolah yang mengasuh dan bukan sekolah yang membunuh. Contoh dalam mengecek guru olahraga, pastikan guru olahraga tersebut dalam mengajarkan olahraga memiliki target utama menjadikan anak itu laki-laki dan bukan menjadikan anak atlet professional, karena dalam olahraga banyak sekali momen kelaki-lakian. Misalnya ketika anak sedang berlatih tendangan penalti dan gagal berkali-kali, fokus guru utama olahraga bukan memberikan contoh cara  sikap menendang yang baik, fokus utamanya adalah dengan memberikan semangat dahulu, dengan mengatakan, “Nak laki-laki harus memiliki semangat dan pantang menyerah, bapak yakin kamu bisa melakukannya”, baru membenarkan cara menendang yang baik.

Pada usia pra remaja hormon kelaki-lakian sudah melonjak naik, tugas kita adalah memanfaatkan dan mengarahkan; latih kecerdasan emosi anak, seperti kecerdasan empati, kontrol diri dan suara hati, bisa melalui bersafar atau melatih fisik anak; Ayah dan Bunda bisa membuat roadmap dan rundown dengan anak laki-laki Ayah Bunda untuk mengarahkan hormon kelaki-lakian dengan membuat daily activity; saat mengenalkan aturan dan struktur. Anak laki-laki perlu tau siapa komandannya, apa aturannya, dan siapa yang akan membimbing dia.

Dalam hal perkembangan Bahasa, anak sudah mampu mendefinisikan dan mendiskusikan kata-kata yang abstrak; Menggunakan istilah-istilah untuk menjelaskan hubungan yang logis dan rumit; Lebih terampil dalam kemampuan untuk menyesuaikan cara bicara dengan tingkat pengetahuan dan sudut pandang orang lain;  Menggunakan dialog sosial khas anak (kepo, keleess dst).

Dalam hal perkembangan membaca, anak sudah bisa membaca untuk menambah pengetahuan dan untuk menikmati bacaannya. Anak mampu membaca secara kritis, melihat dan memahami berbagai sudut pandang, menelaah fakta dan konsep secara lebih mendalam dari sebelumnya. Membaca sebagai proses kontruksi dan rekontruksi pemahaman sesuai dengan kebutuhan dan tujuan, mengintegrasikan pengetahuan yang sudah dimiliki dengan pengetahuan yang diperoleh dari bacaan dan menciptakan pemahaman baru.

Dalam hal pemahaman menulis. Anak sudah mampu mengintegrasikan hubungan yang kompleks antara berbicara dan menulis dan belajar mengembangkan gaya pribadinya dalam menulis. Belajar mengadaptasikan gaya penulisan sesuai dengan kebutuhan.

Dalam hal perkembangan sosial. Usia pra remaja adalah usia dimana anak berusaha mencari identitas diri. Tugas utama anak adalah untuk menjadi orang dewasa yang unik, dengan identitas diri (sense of self) yang jelas dan peran yang berharga di masyarakat. Identitas diri yang jelas dicapai ketika anak menyelesaikan 3 isu utama : Pilihan pekerjaan; Adopsi nilai-nilai yang akan memandunya dalam hidup; Identitas seksual yang memuaskan. Perkembangan sosial dan pertemanannya juga luar biasa berkembang. Anak usia ini perkembangan empatinya sudah sangat luar biasa, inilah saatnya menanamkan rasa empati sebanyak-banyaknya kepada anak.

Dalam hal perkembangan fisik. Anak sudah mengalami perubahan hormon (800%), pertumbuhan pesat pada tulang dan otot, perubahan bentuk tubuh, akan tetapi proporsi tubuh belum seimbang, sehingga cenderung kikuk dan kurang koordinasi.

Dalam hal perkembangan kognitif. Anak sudah memiliki kapasitas untuk berpikir secara abstrak; memahami waktu historis; dapat memahami makna yang mendalam dalam literatur; dapat membayangkan kemungkinan, membuat dan menguji hipotesa (perkiraan). Anak sudah memiliki akumulasi pengetahuan dan keahlian dalam bidang tertentu dan sudah mengembangkan kemampuan untuk berpikir tentang proses berpikirnya sendiri.

Anak juga terus menerus mencari kesempatan untuk mencoba kemampuan-kemampuan penalaran mereka, sehingga mereka suka berargumentasi. Dapat menemukan banyak alternatif perilaku pada saat yang bersamaan, namun kurang memilki strategi untuk menentukan pilhan dan sering kebingungan mengambil keputusan untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Cenderung untuk terpaku dengan apa yang mereka pikirkan dan rasakan sendiri, sehingga sering berpikir orang lain juga berpikir tentang hal yang sama dengan mereka, yaitu orang lain berpikir tentang diri mereka (egosentris). Merasa diri mereka spesial dan pengalaman mereka unik, sehingga apa yang berlaku di dunia umum tidak berlaku bagi mereka.

Usia 7 sampai 15 tahun adalah usia PENCARIAN DIRI. Usia ini memerlukan periode untuk mencari komitmen yang dapat dijalaninya dengan setia dan tulus. Kesetiaan, keyakinan, atau rasa memiliki pada sosok yang dicintai atau pada teman. Namun demikian, sedikit kebingungan tentang identitas diri adalah hal yang normal.

Di usia pra remaja konflik dengan orangtua cenderung lebih banyak muncul, terkait dengan kebutuhan anak untuk mengembangkan identitas personal dengan menemukan otonomi dan menerima perbedaan. Konflik yang disebabkan kebutuhan yang saling bertentangan, dimana: 1) anak merasakan kebutuhan untuk mandiri, namun juga masih merasakan ketergantungan pada orangtua. 2) Orangtua ingin anaknya mandiri, namun masih sulit melepas anaknya.

Hubungan dengan saudara kandung cenderung menjauh pada masa anak. Kebutuhan psikologis anak lebih banyak diperolehnya dari teman-teman sebaya sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama temannya. Anak juga memiliki kebutuhan lebih besar akan kemandirian dan privasi. Ketika keduanya berada dimasa anak, kualitas hubungan kakak-adik berubah. Secara bertahap, kekuatan pengaruh antara kakak dan adik menjadi lebih seimbang. Kakak mungkin akan merasa terganggu dengan sikap adiknya yang semakin berani mengungkapkan pendapatnya. Adik mungkin masih cenderung mengagumi kakaknya dan berusaha tampil dewasa dengan mengikuti tindakannya.

Teman sebaya adalah sumber dukungan emosi dan juga sumber tekanan bagi anak. Sumber kasih sayang, simpati, pemahaman, dan bimbingan moral. Lingkungan tempat anak melakukan eksperimen. Situasi yang dibutuhkan agar dapat mencapai kemandirian dari orangtua. Lingkungan tempat anak latihan membangun hubungan yang dekat (intimacy). Kekuatan pengaruh teman sebaya paling besar terasa di masa awal anak, dibandingkan di akhir masa anak.

Yang harus KITA LAKUKAN pada saat anak usia pra remaja adalah HEAR ME, HUG ME, TRUST ME.

Hear me adalah ayah dan bunda pinjamin kuping, maksudnya dengar dan simak perkataan dan perbuatan anak. Selain itu ayah bunda juga perlu pinjamin hati, maksudnya ayah bunda harus sepenuh hati dalam menghebatkan anak laki-laki, jangan sambil nyambi, Ayah harus meluangkan waktu yang definitif untuk anak. Dalam pinjamin kuping ada dua skill yang Ayah harus latih. Yang pertama, latihlah skill berbicara agar anak mau mendengar. Yang kedua, latihlah skill mendengar agar anak mau berbicara, diantaranya dengan tehnik 5-1 atau 10-2, maksudnya 5 kali anak berbicara 1 ayah merespon atau 10 kali anak berbicara 2 Ayah merespon dengan kalimat Ayah. Latihlah sejak anak usia 8 tahun, karena ketika anak memasuki usia 12 – 15 tahun, terkadang anak tidak membutuhkan solusi, tetapi anak hanya ingin Ayah Bunda menjadi bagian dari dirinya dengan menyimak ceritanya.

Dalam pinjamin hati, Ayah Bunda coba membayangkan bagaimana Ayah Bunda ketika seumuran anak laki-laki Ayah Bunda. Misalnya ketika anak sedang tumbuh jerawat yang besar dan Ayah Bunda sedang menerima tamu, Ayah Bunda juga perlu melihat kondisi anak, jangan menyuruh anak untuk kedepan menemui tamu, karena bukannya dia tidak mau, tapi dia sedang bermasalah dengan jerawatnya. Ayah juga perlu fokus ketika berhadapan dengan anak laki-laki Ayah. Pahami prinsip  NOT WHAT BUT HOW, karena anak tidak melihat pada hasil, akan tetapi pada bagaimana Ayahnya mencontohkan dia. Prinsip yang berikutnya adalah HERE AND NOW, maksudnya kalau anak laki-laki ayah mau curhat, prinsipnya adalah sekarang dan saat ini, ayah jangan menunda.

Hug Me, maksudnya kehangatan. Ayah perlu menunjukkan cinta, jangan kurangi meskipun terbatas. Mungkin anak ayah sudah susah untuk dipeluk, akan tetapi ayah jangan kurangi sikap ayah dalam menunjukkan cinta. Ayah bisa menunjukkan diantaranya dengan kata-kata, kalau anak laki-laki Ayah ini adalah anak yang spesial bagi Ayah. Manfaatkan golden moment, misalnya ketika anak berhasil melakukan sesuatu, segera sampaikan apresiasi ke anak, dan jangan ditunda. Ketika anak melakukan kesalahan, Ayah juga bisa memberikan ARAHAN kepada anak dengan cara yang baik. Dan terakhir, ayah juga perlu memberikan keteladanan pada anak laki-laki ayah.

Trust Me, kepercayaan. Sekarang adalah saatnya ayah mendampingi anak-anak dalam menghadapi dunia. Damping anak laki-laki ayah dalam bersimulasi. Simulasi yang paling penting adalah simulasi laki-laki tiada henti yang dilakukan secara konsisten. Ayah manfaatkan semua momen untuk mensimulasikan kelaki-lakiannya. Caranya dengan DBL (Dialog, Bimbing bukan instruksi, Libatkan bukan paksa). Seperti dalam surat As Saffat ayat 102, Ayah kalau mensimulasikan anak laki-laki Ayah maka berdialoglah dulu, jangan mendadak. Jangan sering memberikan instruksi ke anak, tapi coba bimbing anak, misalnya dengan pertanyaan kecil, misalnya menurut kamu bagusnya bagaimana? Kenapa harus membimbing bukan instruksi? Di anak usia 8 – 15 tahun harus melatih skill Berpikir, Menganalisa, dan Memutuskan. Karena di usia diatas 15 tahun, anak laki-laki harus sudah memiliki skill ini. Dalam memberikan kepercayaan anak, ayah juga perlu melibatkan anak laki-laki ayah dan jangan memaksa melalui dialog dengan anak.

Seperti apa ayah untuk anak 7 sampai 15 tahun? Ayah haruslah S-D-E-T. Ayah harus S - SEDIAKAN WAKTU, bukan waktu sisa, tapi ayah harus benar-benar menyediakan waktu. D – DEMONSTRATIF, kalau ayah ingin mencontohkan sesuatu maka contohkan dengan benar, kalau ayah ingin mencintai atau mengapresiasi anak ayah maka cintai dengan benar dan sepenuh hati, tunjukkan!. E – ENJOY, ayah harus berusaha enjoy dan ekstra sabar terhadap anak ayah. T - TURUN TANGAN, tidak hanya ikutan ketika anak berprestasi akan tetapi juga ketika anak sedang drop. Dalam melakukan peran ayah juga bisa mengedepankan KOMUNIKASI, NEGOSIASI, dan KONSEKUENSI.. bukan hukuman. Karena hukuman tidak banyak hubungannya dengan perkembangan anak, akan tetapi dengan konsekuensi kita bisa mendewasakan anak-anak.

Ada tiga ruang yang penting dalam mendidik anak. Ruang E, ruang A, dan ruang K. RUANG E - RUANG EKSPEKTASI, ruangan yang ideal. Tapi sebagai orang tua, kita juga harus menyiapkan dua ruang lagi agar kita tidak kecewa dan frustasi. Yaitu RUANG A - RUANG ADAPTASI  dan K - RUANG KOMPROMI. Kalau ada kesalahan, kalau ada yang tidak sesuai ekspektasi kita, kita tidak perlu frustasi. Karena kalau kita frustasi pengaruhnya akan langsung ke anak-anak kita. Kalau ayahnya sudah bete maka ayah akan susah memberikan aura Bahagia ke anak laki-laki ayah. Jadi punya ekspektasi tinggi itu memang bagus banget, akan tetapi kita juga menyiapkan juga ruang adaptasi dan kompromi agar kita tidak kecewa.

Semoga kita bisa menjadi ayah hebat dan ibu tangguh yang mampu mendidik anak-anak laki-laki kita dengan pendidikan terbaik sesuai fitrahnya dan menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang juara dengan akhlak yang baik.

Selasa, 04 Oktober 2022

Tak Ada yang Salah

Masjid Nurul Bahri

Ahad, 2 Oktober 2022

Ustadz Subhan Bawazier

 

Semoga kita selalu mendekatkan ketakwaan kepada Allah, karena hidup ini bukanlah untuk memperbanyak komplain kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena tidak ada yang salah pada ketetapan Allah. Bahkan Allah mengatakan dalam firmannya:

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran. (Q.S Al Qomar:49)

Orang yang tahu itu adalah orang yang mengenal Allah dengan cara yang benar, bagaimana orang bisa mengenal Allah dengan cara yang benar? Tentu dia harus memiliki sifat Qanaah, sifat yang betul-betul mendatangkan kemuliaan bagi orang yang memilikinya. Orang yang tahu hidup ini bukan untuk komplain akan tetapi untuk bersyukur dan bersabar. Seorang ulama berkata, Qonaah adalah merasa cukup walaupun hal-hal yang sedikit dari yang dibutuhkan, dia akan merasa kalau hidup itu indah dan nikmat, karena dia tahu Allah telah menjamin rezeki makhluknya. Kalau betul caranya pasti akhirnya baik, tapi kalau cukupnya menurut ukuran manusia, ujungnya tidak akan ada yang tahu akhirnya akan seperti apa.

Di surat An Nisa ayat 32, Allah berfirman:

 وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Perempuan kalau mau menjaga sholat yang 5 waktu dan rumah lebih baik bagi wanita, menjaga puasa Ramadhan, dia jaga auratnya, dan dia patuhi suaminya, maka Wanita tersebut bisa masuk ke surga dari pintu manapun yang dia mau.

Wanita boleh bekerja kalau diizinkan suaminya. Bahkan kalau suaminya tidak berkecukupan, zakat Wanita tersebut boleh untuk suaminya. Mengenai bagian waris Wanita yang setengah dari laki-laki tidak perlu dijadikan polemik, karena dalam harta laki-laki itu ada hak orang tuanya, istrinya, anaknya, dan hak banyak orang. Wanita tidak perlu mengetahui gaji suaminya. Dan di Islam tidak ada harta gono gini.

Kalau kita ingin berserah diri kepada Allah, maka akhirnya akan baik. Allah berfirman dalam surat An Nisa ayat 115:

وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا ࣖ

Siapa yang menentang Rasul (Nabi Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dalam kesesatannya dan akan Kami masukkan ke dalam (neraka) Jahanam. Itu seburuk-buruk tempat kembali.

Jangan sampai kita seperti Qorun dengan berkata kalau yang saya punya semua ini karena kepandaian saya. Atau kalau saya tidak pintar saya tidak akan tinggal di komplek ini. Jangankan harta, ilmu saja bisa diambil oleh Allah dengan diantaranya mewafatkan ulama. Jadi tidak perlu sombong dengan kehidupan kita. Utsman bin Affan berkata, Allah titipkan dunia kepada manusia bukan untuk berfoya-foya, akan tetapi untuk menaklukkan akhirat. Salman Al Farisi pernah menangis sebelum beliau meninggal, sehingga membuat sahabat bertanya, ”Apakah yang kau tangisi, bukankah kau pernah bersama Rasul?” Salman kemudian menjawab, aku bukan komplain dengan yang Allah berikan kepadaku, akan tetapi aku ingat pesan Rasul, manfaatkanlah yang kamu miliki sebatas kecil untuk dunia, perbanyaklah untuk akhirat,”. Sehingga ketika beliau wafat, sahabat mendapatkan kalau Salman hanya meninggalkan 20 dirham dari hartanya. Bahkan Umar Bin Khattab pernah menangis ketika mendapati Abu Bakar Ash Shiddiq akan meninggal dan tidak memiliki apa-apa. Abu Bakar berkata, ”Periksalah apa yang aku miliki wahai Umar, selesaikanlah sebelum mata ini terpejam” Umar mengatakan, ”Aku tidak melihat dari hartamu wahai Abu Bakar, kecuali 3.. budak yang kau miliki, unta kurus untuk membawa air, dan baju putih yang kau pakai ini” Lalu Abu Bakar menjawab, “Merdekakan budak tersebut, jual lah untaku masukkan ke Baitul Marwan, biarkan baju putih ini menemaniku ke lobang kubur”

Allah berfirman dalam Surat An Nahl ayat 97:

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةًۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Kehidupan yang baik ialah kehidupan yang mengandung semua segi kebahagiaan dari berbagai aspeknya. Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan sejumlah ulama, bahwa mereka menafsirkannya dengan pengertian rezeki yang halal lagi baik. Dari Ali ibnu Abu Talib, disebutkan bahwa dia menafsirkannya dengan pengertian al-qana'ah (puas dengan apa yang diberikan kepadanya). Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ikrimah, dan Wahb ibnu Munabbih.

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051).

Kekayaan yang terpuji adalah kekayaan hati, ketika dia berpuas diri dengan apa yang dimiliki. Kaya bukan seperti yang dibenakmu. Kaya bukan banyaknya harta di dunia. Kaya yang sebenarnya kaya hati. Orang yang merasa cukup itu baru kaya.

Rasulullah bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ, ورُزِقَ كَفَافًا, وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ”

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan diberikan oleh Allah sikap qana’ah (rasa cukup) terhadap pemberian-Nya” (HR. Tirmidzi)

Rumah Nabi dulu bukanlah rumah yang mewah, rumah Nabi sangatlah sederhana, dan Rasul pun tidak pernah meminta diberikan kemewahan dalam hidupnya, bahkan dalam salah satu Riwayat, Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah berdoa: اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا… “Ya Allah, jadikan rezeki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya” (HR. Muslim, no. 1055). Rasulullah dan keluarganya benar-benar telah menceraikan dunia, bahkan dalam salah satu Riwayat, ketika bunda Aisyah sudah tua, beliau memiliki pakaian yang penuh dengan tambalan, akan tetapi beliau Radhiyallahu Anha sanggup bersedekah 70.000 dirham, sebuah sedekah yang mampu membeli konveksi di zaman sekarang.

Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Dari ’Ubaidillah bin  Mihshan  Al Anshary dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Puasa itu solusi, orang yang sering puasa akan terlatih kesabaran

Rasulullah mengajak kita untuk menjaga Qanaah dengan cara melihat orang yang lebih susah, sebagaimana riwayat Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keburukan yang kau rasakan kebanyakan karena prasangka burukmu kepada Allah

Nabi berwasiat kepada sahabat-sahabatnya untuk bersikap wara (merasa cukup dengan kesederhanaan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كن ورعًا تكن أعبد الناس، وكن قنعًا تكن أشكر الناس

“Jadilah seorang yang wara’, niscaya engkau menjadi manusia yang paling baik dalam beribadah. Dan jadilah seorang yang qana’ah, niscaya engkau menjadi manusia yang paling bersyukur” (Shahih. HR. Ibnu Majah). Batasi dirimu dengan dunia, karena dunia ini penjara bagi orang beriman. Qana’ah adalah salah satu bentuk yang dapat menimbulkan rasa syukur kepada Allah, qana’ah terhadap apa yang Allah beri, merasa cukup dan pasrah atas segala ketetapan-Nya.


Pertanyaan:

Apabila orang tua  status ekonominya lebih daripada anak apakah wajib diberikan nafkah

Jawaban:

Sampai kapanpun ekonomi orang tua tidak pernah kalah dari anak. Karena nabi mengatakan, kamu dan hartamu adalah milik orang tuamu. Ini bukan masalah kaya miskin, akan tetapi pandanglah ini semua sebagai kesempatan untuk mendapatkan banyak berkah. Jadi kalau sampai apa yang kita punya diambil orang tua tanpa izin, orang tua bukan mencuri harta kita, karena kita dan harta kita milik orang tua kita.

Immaarah Rahimahullah berkata bahwa ayahnya pernah berwasiat kepadanya:

ﻭﻳﺤﻚ ﺃﻣﺎ ﺷﻌﺮﺕ ﺃﻥ ﻧﻈﺮﻙ ﺇﻟﻰ ﻭﺟﻪ ﻭاﻟﺪﺗﻚ ﻋﺒﺎﺩﺓ ﻓﻜﻴﻒ اﻟﺒﺮ ﺑﻬﺎ

“Tidakkah kamu merasa bahwa sekedar memandang wajah ibumu itu saja sudah termasuk ibadah, apalagi berbakti kepadanya.” [Al-Biir wasilah Li Ibnu Jauzi: 1/66]

 

Pertanyaan:

Ketika suami memberikan nafkah tadi tidak mencukupi dimata wanita, bagaimana kita menyikapinya

Jawaban:

Kalau kita sudah berumah tangga kewajiban yang harus diberikan adalah makan dan pakaian sesuai dengan kebutuhan. Laki-laki memberikan itu semua sesuai standar yang ada dan wanita mensyukurinya. Yang dikhawatirkan kalau yang dibutuhkan tidak sesuai syariat, nanti suami akan menanggung dosa, karena Dayyuts (tidak punya rasa cemburu, karena kebutuhannya ini diluar syariat yang ada)

 

Pertanyaan:

Kalau orang tuanya masih suka memberi anaknya. Tapi anaknya kayak tidak terima kasih itu gimana?

Jawaban:

Biasanya ada hukum sebab akibat. Bisa jadi anaknya tidak diajarkan untuk biasa berterima kasih, atau waktunya tidak tepat, atau hal lainnya. Ini membutuhkan pembelajaran. Yang paling baik, kalau kita diberikan sesuatu, balaslah dengan doa. Jadi seandainya kita mampu sekalipun dan ada yang memberi, maka terimalah pemberian tersebut. Nabi tidak pernah menolak pemberian orang. Karena membuat bangga orang yang memberi adalah suatu kebaikan.

Jumat, 30 September 2022

Mendidik Anak Laki-Laki Usia 0 – 7 Tahun

Sebelumnya saya pernah membuat resume tentang mendidik anak laki-laki usia dini (0-7) tahun, akan tetapi ketika saya murojaah Kembali hari ini, ternyata saya mendapatkan hal baru, sehingga saya coba untuk menuliskannya kembali disini. Dan memang inilah salah satu menariknya mengulang-ulang ilmu, karena semakin diulang, maka kita akan mendapatkan pandangan-pandangan yang baru.

Bayi ibarat KERTAS PUTIH. Tergantung bagaimana orangtua melukisnya, maka demikianlah nanti kehidupannya

Setiap BAYI membawa program dari ALLAH yaitu FITRAH sebagaimana tercantum dalam hadits “Tidaklah seorang bayi yang lahir kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi” (HR. Bukhari)

FITRAH ibarat ‘software’ yang ditanam dalam setiap bayi. ORTU yang mengaktifkan atau merusaknya. Makna fitrah selain bermakna tauhid, juga memiliki makna suatu hal yang terkait bekal manusia pada saat lahir, diantaranya fitrah seksualitas. Dimana hanya ada dua jenis manusia laki - laki dan perempuan dan tidak ada waria, baik secara fisik maupun juga sifat dan karakteristik, sebagaimana firman Allah “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan…..” (Al Hujurat : 13).

Masing-masing fitrah tersebut, baik laki-laki atupun perempuan memiliki keunikan, maka mendidiknya pun beda “….. dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan..” (Ali Imran : 36). Karena karakternya berbeda maka stimulasinya berbeda. Kecenderungan orang tua yang mendidik laki-laki dan perempuan dengan stimulasi yang sama, maka kemungkinannya hanya dua, kalau tidak salah satunya rusak, maka dua-duanya rusak.

Pada dasarnya Pendidikan KELAKI-LAKIAN terkait dengan Pendidikan SEKSUALITAS, atau  Tarbiyah Al Jinsiyah, yaitu totalitas kepribadian. Pendidikan seksualitas dan seks berbeda. Seks hanya berkaitan dengan alat kelamin, hubungan Kelamin, atau menjadi laki-laki atau perempuan. Sementara seksualitas lebih luas lagi dari itu. Seksualitas bukan sekedar seks tapi juga melingkupi totalitas pribadi; apa yg kau percayai, rasakan, pikirkan dan bagaimana bereaksi; bagaimana anda berbudaya, bersosial & berseksual; bagaimana tampil ketika anda berdiri, tersenyum, berpakaian, tertawa dan menangis; dan bagaimana kita menunjukkan siapa diri kita.

Seksualitas yang diharapkan dalam mendidik anak ada 3 yaitu: BENAR (Sesuai dengan panduan agama, etika dan nilai sosial), LURUS (Sesuai dengan fitrah), dan SEHAT (Sesuai dengan prinsip Kesehatan). Sehingga laki-laki memahami makna kelaki-lakian dari makna nama yang diberikan Allah terhadap laki-laki, dalam Bahasa Arab laki-laki disebut Rojul dan jamaknya Rijal yang bermakna kaki. Laki-laki diibaratkan kaki, karena sebagaimana fungsi kaki yang mampu menahan beban, ketika kakinya tidak kuat maka akan ambruk. Begitupun ketika laki-laki banyak mengeluh, ini menjadi sebuah pertanyaan. Makna kedua adalah sesuai fungsi kaki adalah untuk melangkah, laki-laki identik dengan bergerak, sehingga laki-laki jangan hanya diam dirumah, laki-laki harus bergerak dan berusaha. Yang diperintah untuk banyak diam dirumah adalah perempuan, karena perempuan adalah kepala bagi rumah suaminya.

Ada dua syarat dalam mendidik anak. Yang pertama adalah PERSEPSI POSITIF, yaitu gambaran positif tentang kelaki-lakian tentang sosok laki-laki disekitarnya, terutama Ayah. Ketika anak mempersepsikan negatif tentang Ayahnya, maka anak bisa saja memposisikan kalau laki-laki itu jahat, ini berbahaya bagi perkembangan anak dan bisa menggores persepsi kelaki-lakian. Untuk Ibu yang menjadi single parent, hal yang harus dijaga adalah persepsi positif anak terhadap ayahnya. Seorang Ayah harus memastikan anak tidak memiliki luka pengasuhan dalam pertumbuhannya. Yang kedua adalah ROLE MODEL, anak harus mendapatkan stimulan yang pas. Ayah harus dapat memberikan stimulan kelaki-lakian yang pas ke anaknya dan Ayah harus hadir dalam pengasuhan sambil memberikan contoh yang baik dan benar.

Dalam Islam, laki-laki harus memiliki Qowwam sebagai sifat dasarnya. Seperti yang tertuang adalam Surat An Nisa ayat 34, “Lelaki adalah Qowwam bagi kaum perempuan”. Ujung dari Qowwam adalah mampu menafkahi keluarganya. Makna Qowwam ada tiga. Yang pertama, Qiwam dengan kasroh yang berarti makanan yang membuat manusia tegak berdiri, maksudnya laki-laki harus mampu memberikan dampak positif bagi sekitarnya. Yang kedua, Qowam dengan fathah yang bermakna adil dan seimbang, maksudnya laki-laki mampu menangani segala sesuatu dengan adil dan berimbang.Yang ketiga, Al Qoyyim yang berarti tuan/pemimpin. Dalam tafsir al Manar, ada tujuh ke Qowwaman yang menjadi dasar kelaki lakian, yaitu Al Himayah (melindungi), Ar Ri’ayah (menjaga), Wal Wilayah (memimpin), Wal Kifayah (memberi kecukupan), Taqdib (mendidik), menata urusan, dan melakukan perbaikan kondisi.

Untuk belajar mendidik anak laki-laki, ada sebuah ayat yang bisa kita jadikan roadmap yaitu, “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat [QS. Ali Imran : 33]. Mendidik anak laki-laki dengan mendidik anak perempuan memang berbeda, Qur’an memberikan contoh yang sempurna dalam keluarga Ibrahim dan keluarga Imran.

Sehingga tujuan pengasuhannya pun berbeda


Dari tabel diatas bisadilihat kalau target pengasuhan anak laki-laki adalah menjadi ‘nabi’. Masalahnya kenabian itu tidak mungkin terjadi semenjak wafatnya Rasulullah, berarti yang kita pelajari adalah sifat-sifat kenabian. Sifat dasar dalam kenabian yang ingin dicapai ada 2, yaitu CERDAS (al Hijr : 53), maksudnya menjadi problem solver bagi masyarakat dan SABAR (ash shaffat : 101) yang bermakna tangguh dalam melewati kesulitan.

Fokus pengasuhan anak lelaki ada tiga. Yang pertama, menjadi ahli ilmu (ulama), sebagai mana hadits “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.”(HR.Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani). Ulama maksudnya adalah menjadi orang yang ahli dalam bidangnya, jangan tanggung. Kita bisa ambil contoh dari sahabat Umar Bin Khattab (ahli tata negara), Khalid Bin Walid (ahli strategi perang), Hasan Bin Tsabit (ahli syair), Tasbit Bin Qais (ahli negosiasi), Abdullah Bin Masud (ahli Qur;an), Zaid Bin Tsabit (ahli dalam bidang waris), dan banyak contoh lainnya. Yang kedua, menjadi penegak agama. Yang ketiga, ahli dalam bidang apapun tapi punya jiwa iqomatuddin, sebagai mana dalam firman Allah, “Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya..”(Asy Syura : 13).

Seperti yang disebutkan sebelumnya kalau mendidik anak lelaki berarti mendidik anak menjadi 'nabi', maksudnya kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Pendidikan para Nabi, diantaranya adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Dimana roadmap Pendidikan Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dibawah usia 7 tahun singkatnya adalah sebagai berikut. Usia 0-5 Tahun: Rasul diasuh oleh Halimatus Sa’diyah di kampung Bani Sa’ad. Karena Bahasa Arab di kota Mekkah pada saat itu rusak, maka Rasul harus belajar bahasa ibu yang fasih. Hal ini karena setiap BAHASA punya nilai dan rasa, maka fokuslah terhadap pendidikan bahasa ibu. Karena perbaikan bahasa identik dengan perbaikan perilaku (QS. Al Ahzab : 70-71). Sehingga untuk anak usia 0-5 tahun, salah satu program yang dicanangkan adalah dengan memperdengarkan Bahasa ibu dengan berdialog dan membacakan buku. Dengan target yang ingin dicapai emotional bonding dan perkembangan nalar yang baik. Usia 6 tahun: Rasul mulai belajar Menggembala Kambing. Semua Nabi pernah menjadi penggembala kambing sebagaimana hadits “Tidaklah seorang NABI diutus kecuali pernah jadi penggembala kambing” (H.R. Bukhari). Hikmah Menggembala Kambing adalah Pathfinding, Directing, Controlling, Protecting, dan Reflecting. Sehingga yang perlu dibuat orang tua diantaranya adalah dengan membuat program memelihara HEWAN dengan target anak memiliki rasa empati, kontrol diri dan tercapat perkembangan motorik yang baik.

Sebelumnya saya juga sudah pernah membuat resume tentang yang sebaiknya dilakukan ketika anak usia 0 – 2 tahun3 tahun4 tahun5 tahun, dan 6 - 7 tahun.

Semoga kita bisa menjadi ayah hebat dan ibu tangguh yang mampu mendidik anak-anak laki-laki kita dengan pendidikan terbaik sesuai fitrahnya dan menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang juara dengan akhlak yang baik.

*Sumber : Webinar Ayah IrwanRinaldi dan Ustadz Bendri Jaisyurrahman


Minggu, 01 Mei 2022

Jangan Berubah Setelah Ramadhan

Ramadhan tahun ini mengajarkan banyak hal..

Ternyata kita sanggup bangun malam dan tidak mengalami masalah..

Ternyata kita sanggup membaca Al Qur'an di sela-sela waktu dan tidak mengalami masalah..

Ternyata kita sanggup mengkontrol nafsu kita dan tidak mengalami masalah..

Ternyata kita sanggup menjaga keinginan makan berlebihan dan tidak mengalami masalah..

Ternyata kita sanggup betah dalam mendengarkan majelis ilmu, minimal dalam tarawih, dan tidak mengalami masalah...

Ternyata kita bisa meninggalkan hal yang dilarang dan tidak mengalami masalah…

Ternyata bisa melakukan banyak hal baik dan tidak mengalami masalah...

Ternyata…


Semoga kita menjadi pemenang yang diterima amalnya dalam Ramadhan tahun ini

Dan semoga hal ini berlanjut setelah Ramadhan…


Imam Ibnul Jauzi Rahimaullah berkata : "Wahai yang telah menunaikan Ramadhan dengan sebaik-baik keadaan, jangan engkau berubah setelahnya di bulan Syawal ! Wahai yang telah melihat hari raya dan (juga) telah sampai kepadanya, kapankah engkau akan bersyukur kepada Dzat yang telah memberi berbagai kenikmatan dan engkau pun telah menyanjung-Nya ?" (At-Tabshirah II/114)

Ada yg berkata kepada Bisyr al-Haafi :"Ada suatu kaum yang telah beribadah dan bersungguh-sungguh dalam beramal shalih di bulan Ramadhan, namun saat Ramadhan berlalu, mereka pun meninggalkannya (tidak lagi bersungguh-sungguh dalam beribadah)"

Kemudian Bisyr al-Haafi Rahimaullah berkata :

بئس القوم قوم لا يعرفون الله إلا في رمضان

"Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah melainkan hanya pada bulan Ramadhan saja" (Miftaahul Afkaar lit Ta-ahhubi li Daaril Qaraar II/283)

Semoga Allah karuniakan kemampuan untuk menjaganya selepas Ramadhan..

Bismillah..

Yuk bisa konsisten yuk..

Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan yang akan datang..