Minggu, 21 Agustus 2011

Muhammad Para Pengeja Hujan

“Diakah Atsvat Ereta? Lelaki yang kelahirannya telah lama diramalkan dalam gulungan-gulungan perkamen kuno? Sosok Maitreya yang memiliki tubuh semurni emas, terang-benderang dan suci?” 

Setelah sebelumnya berhasil mengkisahkan potongan perjalanan hidup Rasulullah SAW dalam Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan, Tasaro GK hadir kembali melalui karyanya yang lain tentang penggalan lain kisah Baginda Rasul dalam Muhammad Para Pengeja Hujan. Masih tentang sosok yang dijanjikan dalam berbagai kiab suci , mulai dari kitab Kuntap Sukt, kitab Injil, kitab Zardhust, ajaran Budha. Masih juga tentang Kashva, sang pemindai Surga yang diburu oleh Khosrou II karena ingin memurnikan ajaran Zhardust.

Kisah dalam novel ini terbagi menjadi tiga kisah berbeda yang terjadi pada saat yang hampir bersamaan di tempat yang berbeda. Kisah yang pertama memuat tentang kisah perjalanan Baginda Rasul SAW hingga Khalifah Abu Bakar RA. Kisah dan alur Baginda Rasulullah disampaikan dengan apik dan cukup mendetail oleh Tasaro. Mulai dari masa sebelum kelahiran Rasulullah, seperti Nazar Abdul Muthalib, pernikahan kedua orang tuanya, kelahiran Baginda Rasul, serbuan pasukan Gajah pimpinan Abrahah, masa kecil Rasul ketika dititipkan kepada keluarga Halimah, hingga wafatnya Rasulullah SAW. Setelah Rasulullah wafat kisah dilanjutkan ke masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq hingga wafatnya Sang Khalifah.

Kisah kedua memuat kelanjutan kisah Kashva, sang pemindai surga. Setelah dalam kisah sebelumnya kisah pencarian Kashva akan Sang Pembawa Kebenaran berakhir di Tibet. Kini di Tibet, Kashva kehilangan Xerxes dan Mashya karena bencana banjir ketika meninggalkan Gunung Kailash. Ditemani dengan Vakshur, seorang remaja yang menjadi pengawalnya, mereka melakukan perjalan mendaki 13 gunung suci di Tibet untuk menemukan jejak Xerxes dan Mashya. Satu persatu puncak pegunungan suci mereka jelajahi demi mendapatkan jejak, hingga pada puncak ke sepuluh dimana ia bertemu dengan biksu Tashidelek yang membersamai Kashva memasuki Kuil Perdebatan. Kuil yang kian memberikan titik terang bagi Kashva terhadap sosok Astvat Ereta. Yang sempat membuatnya bimbang apakah mencari jejak Astvat Ereta atau mencari Xerxes dan Mashya. Di sisi lain, Kashva mulai bertanya-tanya dalam hati mengenai perubahan sikap Vakhsur setelah mereka bertemu dengan Biksu Tashidelek. Apa sebenarnya yang disembunyikan Vakshur? Tapi Kasha urun menanyakan ke Vakshur perihal tersebut. Di puncak yang sama Vakshur menemukan jejak Xerxes dan Mashya melalui pahatan yang bertuliskan ‘Mashya, Xerxes, ke Persia’. Mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan ke Persia. Yang ketika tiba di Persia, bukannya bertemu dengan Xerxes malah membuat Kashva masuk ke dalam jeruji besi.

Kisah terakhir mengambil latar di Persia. Sepeninggal Khosrou II, perebutan kekuasaan dan pertumpahan terjadi dalam waktu yang singkat dan secara terus menerus. Seorang arsitek wanita ternama yang bernama Atusa diminta untuk menemui para putri keturunan Khosrou II, yang bernama Purandokht, Turandokht dan Azarmidokht, untuk menghidupkan atanatoi, pasukan Immortal yang berjumlah 10.000 tentara pelindung raja Persia. Atusa yang awalnya menolak karena merasa tidak kompeten akhirnya menerima permintaan tersebut. Dalam perjalanan mengemban tugas menghidupkan kembali athanatoi, Atusa dibantu oleh Turandokht, kakak Azarmidokht yang memegang teguh ajaran Zarathusta. Dalam perkembangannya, Atusa ternyata sangat berbakat dan mahir dalam mengembangkan atanatoi. Pergolakan pun terjadi dan penguasa Persia silih berganti terjadi hingga akhirnya Ratu Purandokht berhasil naik tahta. Sempat membawa angin segar bagi rakyatnya, akan tetapi ternyata nasib Purandokht juga berakhir dengan terbunuh. Azarmidkokht menemukan kakak perempuannya itu diracuni suatu pagi. Sepupu mereka kemudian naik tahta. Tapi itupun tak berlangsung lama. Konspirasi demi konspirasi terjadi di istana. Hingga menghantarkan Azarmidokht menduduki singgasana Khosrou. Saat itulah cadar biru Jenderal Atusa tersingkap. Siapakah Jenderal Atusa sebenarnya? Dan benarkan Azarmidokht tidak terlibat pembunuhan saudaranya?

Secara umum novel ini sangat bagus dan sangat direkomendasikan untuk anda baca. Bahkan menurut saya novel ini lebih baik dari novel sebelumnya. Meskipun terlihat sangat tebal, tapi novel 688 halaman ini sungguh mampu membius kita untuk terus membacanya karena pilihan kata dari Tasaro yang begitu memikat. Tasaro benar-benar menciptakan candu dalam huruf demi huruf yang tercetak dalam lembar demi lembar novel ini.

Detail dan penggambaran novel ini juga sangat baik sehingga membuat kita larut seakan-akan melihat langsung dan berada dalam kisah yang dituturkan Tasaro secara detail. Tak heran memang, karena sepertinya Tasaro telah melakukan riset terlebih dahulu sebelum menulis novel ini. Mulai dari kisah Rasulullah SAW, Khalifah Abu Bakar, hingga kekaisaran Persia. Khusus untuk kekaisaran Persia, Tasaro bahkan membuat saya kesulitan dalam membedakan antara kisah yang berdasarkan fakta dengan fiksi karena penggambarannya yang sangat mendetail dan adanya tokoh-tokoh yang selama ini memang tercatat dalam sejarah dunia, seperti Khosrou II, Purandokht, Turandokht, dan lainnya.

Peradaban Persia juga disampaikan dengan mendetail dan memikat, mulai dari kuliner khas Persia seperti Reshteh, yaitu makanan sejenis mie khas Persia. Fesenjun, nasi yang disajikan dengan daging bebek berlumur bumbu dan pasta, dengan cara penyajian yang khusus. Ash yang terdiri dari campuran daging kambing, sayuran, dan kacang-kacangan. Lengkap dengan cara penyajian dan proses pembuatan makanan tersebut. Tasaro juga menggunakan beberapa istilah khas Persia seperti Khanum dan Agha yang merupakan penyebutan secara hormat kepada seorang perempuan dan laki-laki. 

Kalaupun ada sedikit koreksi mengenai novel ini, maka koreksi itu terdapat pada sedikit kesalahan pengetikan di Novel ini meskipun itu sangat minor dan tertutup oleh indahnya penuturan Tasaro di Novel ini. Tasaro juga berhasil membuat kita bertanya-tanya tentang akhir dari kisah ini dengan menggantungkan kisah Kashva, Turandokht, dan Atusa. Pertanyaan, akankah novel ini berlanjut…

Minggu, 14 Agustus 2011

Ibnu Khaldun : Sang Mahaguru

Ketika masih duduk di sekolah dasar yang saya ketahui tentang Ibnu Khaldun hanyalah sebuah Universitas dekat garis batas antara Jakarta Pusat dan Jakarta Timur yang rutin saya lewati ketika akan mengunjungi kakek saya. Baru ketika memasuki sekolah menengah atas pengetahuan saya akan Ibnu Khaldun mengalami perubahan, Ibnu Khaldun bukan hanya sebuah Universitas, namun lebih dari itu. Seorang ilmuwan muslim yang bernama lengkap Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan yang hidup antara 1332-1406 Masehi ini adalah salah seorang negarawan, ahli hukum, sejarawan, dan juga bapak ilmu sosiologi dan ekonomi islam. Karya-karya beliau mampu memberikan pengaruh kepada cendikiawan dunia, baik barat maupun timur, muslim maupun non muslim. Magnum Opusnya yang berjudul Muqaddimah adalah karya pertama yang mengkaji filsafat sejarah, ilmu-ilmu sosial, demografi, histografi serta sejarah budaya.

Tertarik dengan kisah sang cendikiawan, maka ketika saya melihat novel Ibnu Khaldun : Sang Maha Guru karangan Bensalem Himmish di salah satu toko buku di kota Medan, segeralah saya memboyong novel tersebut. Ditambah novel tersebut berhasil memenangi Naguib Mahfouz Award 2002, menjadi best seller di Kairo dan penulisnya yang merupakan sastrawan Maroko yang meraih gelar doktor dari Université de Paris dan kini menjabat Menteri kebudayaan Maroko menambah ketertarikan saya.

Dibuka dengan dikte dan filosofi Ibnu Khaldun kepada Hammu Al-Hihi, penulis setianya yang cukup berat dan membingungkan pada Bagian I. Kemudian dilanjutkan dengan kisah hidup Sang Maha guru selama beliau tinggal di Mesir hingga akhir hayatnya di Bagian II. Dibagian inilah kisah cita, cinta, dan konflik Ibnu Khaldun diceritakan dengan sangat indah oleh Bensalem Himmish, meskipun tidak menampilkan pergolakan batin dan intelektual Ibnu Khaldun ketika menulis karya-karyanya. Bensalem berhasil menampilkan dan memanusiakan Ibnu Khaldun sebagai seorang pencinta. Mulai dari rapuhnya hati Ibnu Khaldun ketika keluarganya tenggelam dilaut hingga kehidupan pernikahannya dengan Ummul Banin, yang menjadi janda setelah Hammu Al-Hihi, suaminya yang merupakan penulis setia sang mahaguru meninggal dunia.

Interaksi dan konflik semasa Ibnu Khaldin tinggal di mesir juga disampaikan dengan memikat. Mulai dari interaksinya dengan dua generasi raja Mamluk, pergolakan hidupnya sebagai hakim yang beberapa kali diangkat dan diturunkan dari jabatannya karena hasutan dari orang yang berhasrat ingin menggantikannya, hingga interaksi dan negosiasinya dengan Timur Lang, penguasa mongol keturunan Genghis Khan yang terkenal kejam, agar Timur tidak mengirimkan pasukannya untuk menyerang Mamluk. Salah satu rahasia Ibnu Khaldun hingga mampu menjadi cendekiawan terkemuka juga dipaparkan, diantaranya adalah Ibnu Khaldun banyak membaca buku-buku dari pemikir sebelumnya.

Melalui novel ini kita juga bisa mendapatkan gambaran kehidupan bernegara di negara-negara jazirah Arab saat itu yang umumnya memiliki 4 hakim dari 4 mazhab (Syafii, Hanafi, Maliki, Hambali) yang bertugas memutuskan suatu perkara agar sesuai syariah atau menerima konsultasi dari masyarakat seputar persoalan kehidupan agar tidak keluar dari jalur agama terutama tidak keluar dari mazhab atau aliran yang mereka anut. Meskipun tidak jarang para penguasa akan berusaha menjadikan para hakim ini sebagai alat politiknya melalui fatwa-fatwa yang dipaksakan, meskipun tidak jarang juga para hakim tersebut berseberangan dengan para penguasa.

Secara umum novel ini cukup menarik dan layak diganjar Naguib Mahfouz Award, Bensalem berhasil menggambarkan dan memanusiakan Ibnu Khaldun dengan segala cita, cinta, dan konflik kehidupan yang dialaminya.

Minggu, 24 Juli 2011

Tawanan Benteng Lapis Tujuh

Absence of understanding does not warrant absence of existence’ – Ibnu Sina

Dimasa sekolah dulu saya sempat diajari bahwa dalam dunia islam terdapat beberapa tokoh yang begitu berjasa bagi dunia Ilmu Pengetahuan. Salah satunya adalah Ibnu Sina, yang digambarkan sebagai bapak kedokteran yang juga hebat dalam berfilosofi. Saya ketika itu begitu tertarik untuk mengetahui tokoh yang satu ini. Belasan atau mungkin bahkan dua puluh tahun kemudian, dihadapan saya terpampang novel Biografi Ibnu Sina yang berjudul Tawanan Benteng Lapis Tujuh karangan Husayn Fattahi di salah satu rak buku di jaringan salah satu toko buku terbesar di Indonesia. Dan tanpa berpikir lama, saya pun segera membawa novel biografi tersebut untuk dapat segera saya baca dan saya nikmati.

Kisah dalam novel ini diawali dengan masa kecil Ibnu Sina atau dalam novel ini sering disebut sebagai Abu Ali yang merupakan nama kecil dari Ibnu Sina. Abu Ali adalah putra dari pasangan Abdullah dan Sattarah yang lahir pada tahun 980 di Afsyanah daerah dekat Bukhara. Abu Ali adalah satu dari sedikit dari anak yang terlahir cerdas dan jenius. Kecerdasannya sudah terlihat semenjak ia masih kanak-kanak. Di usianya yang masih sepuluh tahun, Abu Ali telah paham Al-Quran. Ia tidak hanya hafal seluruh surah, tetapi juga sangat fasih membaca Al-Quran. Bahkan telah memahami dasar-dasar agama dan hukum-hukumnya. Menyadari hal tersebut, Abdullah kemudian memperkenalkan anaknya kepada berbagai cendikia ternama untuk belajar ilmu pengetahuan. Dimulai dari Syekh Nahawi untuk belajar ilmu agama, kemudian Syekh Massah yang ahli matematika, dilanjutkan berguru dengan Syekh Abu Abdillah an-Natili, seorang Ahli Ilmu asal negeri Tibristan, seorang ahli logika, filsafat, dan hikmah. Abu Ali dengan sangat cepat menyerap ilmu yang diajarkan oleh masing-masing guru tersebut, hingga akhirnya masing-masing cendikia tersebut menyatakan tidak ada lagi ilmu mereka yang dapat diajarkan kepada Abu Ali.

Menguasai berbagai macam ilmu ternyata tidak membuat dahaga abu ali terpuaskan. Ia kemudian memutuskan untuk mempelajari ilmu kedokteran secara otodidak, untuk kemudian mengaplikasikan ilmu kedokteran tersebut. Dimulai dengan ibunya sebagai pasien pertamanya, dimana ia berhasil menyembuhkan penyakit misterius ibunya. Kemudian hal ini berlanjut ketika Abu Ali diminta mengobati tetangganya yang sakit. Dan seperti kehebatan Abu Ali tersebar dengan cepat dari mulut ke mulut ke seluruh penjuru negeri. Efek Word Of Mouth ini dengan cepat terdengar sampai ke Istana. Ia kemudian diminta untuk mengobati keponakan Raja Nuh II yang sakit misterius. Berbagai dokter ahli sudah didatangkan akan tetapi penyakit misterius raja tidak dapat juga disembuhkan. Akan tetapi Ibnu Sina dengan bekal ilmu pengetahuannya akhirnya berhasil menyembuhkan penyakit keponakan Raja tersebut.

Keberhasilan Abu Ali tersebut membuatnya masuk kelingkaran kekuasaan untuk menjadi Dokter pribadi Raja. Suatu hal yang kelak harus dibayar mahal olehnya karena iri dengki pejabat istana karena kehebatan dan perhatian raja kepadanya. Musuh dalam selimut benar-benar bertebaran didalam Istana hingga akhirnya membuat Abu Ali menjadi seorang buron karena fitnah keji yang dialamatkan kepadanya. Selanjutnya kita dibawa menelusuri rute perjalanan Abu Ali, rute yang memiliki pola yang mirip. Diundang ke Istana karena ilmu pengetahuan dan kemampuannya sebagai dokter untuk kemudian dikejar penguasa karena tipu daya dan iri dengki hingga akhirnya dijebloskan ke penjara. Mulai dari Istana Mahmud Ghaznawi, istana Ibnu Al Ma’mun, istana Syams Ad Daulah, hingga Ala Ad Daulah. Dimasa kekuasaan Ad Daulah lah Ibnu Sina dijebloskan ke dalam penjara berlapis tujuh. Sebuah perjalanan hidup yang penuh ironi.

Hidup dalam kejaran dan tahanan ternyata tidak membuat Abu Ali berhenti berkarya. Bahkan karyanya yang paling utama justru dilahirkan pada saat ia mendekam di dalam penjara, magnum opus yang berjudul Al-Qânûn fî at-Thibb atau yang biasa disebut dengan Al Qanun yang didunia barat dikenal dengan Canon Of Medicine.

Buku ini secara keseluruhan sangatlah enak dan menarik untuk dibaca. Melalui buku ini kita diajak untuk memahami dan bertualang ke kehidupan Bapak Kedokteran Modern yang dibarat dikenal dengan Avicenna ini. Avicenna yang jenius akan tetapi justru kejeniusannya itu memenjarakannya dan menjadikannya buron karena iri dengki orang lain. Buku ini juga berhasil tidak men’dewa’kan Abu Ali yang tergambar salah satunya dari kegagalan Abu Ali dalam menyembuhkan penyakit ayahandanya tercinta. Sebuah buku yang layak untuk anda koleksi, tentang seorang ilmuwan yang diakui menjadi pahlawan nasional di Iran, Afghanistan, dan berbagai negara timur tengah setelah kematiannya, tentang salah satu tokoh kedokteran yang begitu berjasa bagi dunia.

Kamis, 21 Juli 2011

Berteman Dengan Kematian

Aku Mau hidup Seribu Tahun Lagi – Chairil Anwar

Lupus.. semenjak pertama kali mendengar tentang penyakit ini saya langsung tertarik untuk mengetahuinya. Karena sama seperti AIDS, penyakit ini masih belum ditemukan obatnya hingga saat ini. Yang membedakan diantaranya adalah, jika penyebab penyakit AIDS bisa diketahui, maka untuk Lupus penyebab pastinya masih belum diketahui. Lupus berasal dari bahasa latin yang berarti Serigala, hal ini disebabkan penderita penyakit ini pada umumnya memiliki ruam merah berbentuk kupu-kupu di pipi yang serupa dengan pipi serigala. Penyakit ini juga disebut sebagai penyakit seribu wajah karena memiliki gejala bermacam-macam dan berubah-ubah dan tidak mudah didiagnosa. Berangkat dari ketertarikan itu, maka ketika saya melihat buku Berteman Dengan Kematian, maka langsung saya tukar uang saya dengan buku yang berkisah tentang seorang gadis yang menderita lupus tersebut.

Buku ini adalah memoar dari penulisnya, Sinta Ridwan, gadis kelahiran Cirebon Januari 1985, yang dituturkan seperti menulis di catatan harian yang jauh dari kesan dramatisir dengan bahasa khas anak muda yang tajam, polos, tidak cengeng, dan tanpa basa basi yang ternyata justru membuat buku ini menjadi semakin menarik. Melalui novel memoar ini Sinta tidak hanya bercerita tentang penyakit lupusnya akan tetapi juga mengenai mozaik hidupnya semenjak ia kecil hingga sekarang. Tentang getirnya masa kanak-kanak, penderitaan psikologis akibat keluarga yang berantakan, perasaannya ketika ditinggal 2 orang terdekatnya disaat yang hampir bersamaan, alasannya memilih Bandung sebagai lokasi tempat kuliah, perjuangan hidupnya di kota kembang, awal mula divonis menjadi odapus, penyangkalannya akan lupus yang membuatnya tidak dapat menerima kenyataan dan menjadi perokok, hingga berdamai dengan lupus.

Melalui buku ini Sinta juga mengedukasi kita tentang apa dan bagaimanakah penyakit Lupus melalui catatan-catatannya yang dilengkapi dengan berbagai istilah ilmiah tanpa kesan menggurui dan bahasa yang tidak bertele-tele. Penjelasan ini cukup baik menurut saya, karena sampai saat ini Lupus masihlah asing di masyarakat. Dalam buku ini hal tersebut dapat tergambar dari ucapan salah satu sahabat Sinta yang membuat gurauan tentang penyakit Sinta. Gurauan ini mungkin disebabkan karena Lupus lebih populer sebagai film anak muda dan novel tahun 90-an dibandingkan penyakit.

Bagaimana Sinta berdamai dengan Lupus juga cukup inspiratif. Terkena Lupus saat masih menjadi mahasiswi yang penuh cita dan angan, membuat Sinta sempat tidak dapat menerima kenyataan kalau ia adalah seorang odapus dengan berhenti mengkonsumsi obat dan menjadi perokok, hingga akhirnya bisa menerima keadaan dan mulai bersahabat dengan penyakit yang belum ada obatnya tersebut. Sinta akhirnya bangkit dari keterpurukan, berhasil menyelesaikan kuliah strata 1, untuk kemudian melanjutkan ke Pascasarjana Jurusan Fiologi Unpad agar dapat mengkaji dan melestarikan naskah kuno warisan nusantara. Sinta juga mencoba memaknai waktu hidupnya dengan berbagi kepada sesama mengenai informasi terkait dengan lupus serta menulis puisi dan novel. Perubahan tersebut terjadi karena Sinta meyakini hanya ada satu obat yang dapat menyembuhkan Lupus dan itu harus ada dalam diri seorang odapus, yaitu semangat hidup dan kebahagiaan.

Minggu, 19 Juni 2011

Bepe 20: Ketika Jemariku Menari

"If we stop trying, that means we are no better than a coward..” – Bambang Pamungkas

Bambang Pamungkas atau Bepe, siapa yang tak kenal sosok ini. Bermain di klub elit, kapten tim nasional, pemegang rekor penampilan dan gol terbanyak bagi Indonesia, membuatnya menjadi salah satu pesepakbola papan atas Indonesia. Saya masih ingat sekitar akhir 90-an namanya sempat mengejutkan publik sepakbola karena terpilih sebagai pemain timnas disaat usianya masih 18 tahun dan masih belum memiliki klub profesional. Belum berhenti sampai disitu, Bepe juga sempat menumbuhkan harapan akan sosok pemuda bangsa yang mampu berkiprah dikancah sepakbola Eropa seperti yang pernah dilakukan Kurniawan Dwi Julianto, idolanya, dan Bima Sakti. Akan tetapi sayangnya, ternyata Bepe belum berjodoh dengan gemerlap sepakbola Eropa. Karirnya di EHC Norad hanya seumur jagung.

Gagal berkarir di Eropa bukan berarti karir Bepe meredup dan hilang. Kembali ke tanah air dan bergabung dengan Persija Jakarta, Bepe langsung menjadi topskor di musim pertamanya di Liga Indonesia dengan menjaringkan 24 gol. Perlahan tapi pasti karirnya semakin menanjak dimusim-musim berikutnya berkat kecerdasan, kepemimpinan, dan nalurinya sebagai penyerang. Tidak hanya di Indonesia, nama Bepe juga harum di negeri jiran Malaysia ketika membela Selangor FC dan mengantarkan klub tersebut meraih treble winner dan menjadi top skor.

Kini di usianya yang menginjak 31 tahun, sebuah usia yang tidak muda lagi bagi seorang atlit sepakbola, Bepe kembali menunjukkan kecerdasannya. Bukan sebagai pemain sepakbola akan tetapi sebagai perangkai kata penuh makna melalui bukunya yang berjudul Ketika Jemariku Menari yang isinya mayoritas diambil dari blog pribadi Bepe. Tidak banyak, bahkan dapat dikatakan sampai saat ini belum ada atlit sepakbola kita yang menelurkan sebuah buku mengenai dirinya, oleh karena itu apa yang dilakukan Bepe layak untuk di apresiasi.

Melalui Ketika Jemariku Menari, Bepe mencoba membagi ide dan pikirannya kepada khalayak ramai. Buku ini juga sekaligus jawaban dari beberapa pertanyaan yang selama ini sering mengemuka mengenai Bepe. Misalnya tentang mengapa Bepe terkesan enggan untuk dimintai wawancara secara langsung, bagaimana kehidupan keluarganya, perasaannya ketika mengalami cedera patah kaki dan suka duka sebagai pemain sepakbola disaat harus dipisahkan oleh jarak dengan keluarga tercinta.

Meskipun tidak terlalu detail dan tidak menjabarkan secara sistematis, Bepe juga membahas tentang perlunya kompetisi untuk usia muda demi kemajuan sepakbola bangsa. Bepe juga membahas tentang kuota pemain asing dalam satu klub yang berjumlah 5 orang yang pada akhirnya justru membunuh kesempatan pemain muda untuk tumbuh berkembang. Kehadiran banyak pemain asing secara pragmatis dibutuhkan klub untuk berprestasi dalam jangka pendek, akan tetapi disisi lain justru menghambat regenerasi sepakbola nasional. Karena pos-pos yang seharusnya dapat diisi pemain lokal justru ditempati pemain asing. Sehingga untuk beberapa posisi seperti penyerang, bangsa ini seperti kehabisan stok pemain berkualitas. Karena umumnya klub sepakbola Indonesia lebih mempercayakan posisi penyerang kepada pemain asing.

Berbeda dengan pemain, untuk kursi kepelatihan tim nasional, Bepe justru secara gamblang menyatakan lebih setuju dengan pelatih asing. Setidaknya untuk saat ini. Alasan yang dikemukakan Bepe cukup masuk akal, pelatih asing lebih berani memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk unjuk gigi. Seperti yang pernah dilakukan Bernard Schoem ketika memberi kepercayaan kepada Bambang Pamungkas, Ivan Kolev ketika memberi kepercayaan kepada Boaz Salosa, dan yang paling anyar Alfred Riedl yang memberi kepercayaan kepada Okto Maniani.

Banyak hal lain lagi yang coba diungkapkan Bepe melalui buku ini. Seperti kecintaannya terhadap Persija Jakarta dan Timnas Indonesia, masalah PSSI, kehidupan sosialnya, dan lainnya yang membuat buku ini semakin menarik dan layak untuk dijadikan koleksi. Apalagi buku ini adalah buku memoar sepakbola pertama di Indonesia yang dituliskan oleh si calon legenda sepakbola itu sendiri.

Sebuah buku yang cukup menarik dan bernilai tambah bagi sesama, karena semua hasil penjualan buku akan disumbangkan Bepe kepada dua yayasan yang selama ini mendukung dia, yaitu syair.org (Syair Untuk Sahabat Foundation), serta Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia, sebuah yayasan yang peduli pada anak yang hidup dengan kanker. Dan seperti yang dikatakan Irfan Bachdim melalui akun twitternya:

"There is only 1 MAN, 1 HERO, and 1 LEGEND ... His name is ... Bambang Pamungkas!"

Sabtu, 18 Juni 2011

Habibie Ainun

Belasan tahun yang lalu ketika masih sekolah, saya teringat betapa saya menyukai kisah Romeo & Juliet dan Layla Majnun. Roman fiksi yang mencerminkan cinta dan kasih sayang umat manusia yang dituturkan secara apik dalam suatu kisah.

Romeo & Juliet adalah karya dari William Shakespeare yang berlatar di kota Verona dan mengisahkan sepasang insan, bernama Romeo yang berasal dari keluarga Montague dan Juliet dari keluarga Capulet, yang saling jatuh cinta, namun terhalang karena kedua keluarga mereka saling bermusuhan. Kisah ini berakhir tragis setelah Romeo memutuskan untuk minum racun setelah mengira Juliet meninggal dunia. Setelah Juliet terbangun dan melihat Romeo meninggal karena racun, maka ia bunuh diri dengan menggunakan pisau. Kisah ini sendiri dianggap sebagai salah satu kisah cinta sepanjang masa yang telah di film kan, ditulis kembali, dan dipentaskan di berbagai teater.

Layla Majnun adalah karya Syaikh Hakim Nizhami, yang konon menginspirasi William Shakespeare untuk menuliskan Romeo & Juliet. Dikisahkan Majnun begtu mencintai Layla sepanjang hidupnya. Demi cintanya ia tahan tidak tidur, tahan lapar, tahan kehujanan dan kepanasan demi Layla. Namun sayang cintanya ditentang oleh keadaan orang tua. Layla yang mengetahui ada seseorang yang mencintai hatinya dengan tulus, tetap setia dan menjaga keperawanannya demi Majnun, belahan jiwanya. Majnun yang begitu tergila-gila pada Layla akhirnya menjadi gila karena cintanya yang tak pernah sampai.

Kini, belasan tahun setelah membaca dan menonton kedua kisah diatas. Saya mendapati kembali kisah kasih sayang antara sesama manusia yang tulus dalam kisah Habibie & Ainun yang dikisahkan oleh pelakunya sendiri Prof Dr Ing BJ Habibie, mantan Presiden Indonesia ke 3. Sebuah kisah yang dirajut dalam ketulusan dan kasih sayang dalam menjalani suka duka kehidupan, yang menurut saya lebih hebat dari kedua kisah diatas.

Jika kedua kisah diatas menggambarkan bagaimana seseorang 'berani mati' untuk orang yang dikasihinya, maka kisah Habibie & Ainun justru menggambarkan bagaimana kita berani hidup dan berkorban untuk orang yang kita kasihi dalam mewujudkan rumah tangga yang sakinah mawadah warrahmah.

Kisah romansa Habibie dan Ainun sendiri dimulai dari pertemuan di kediaman keluarga besari, keluarga besar Ainun, di Rangga Malela 11B, Bandung. Habibie, seorang insinyur yang baru pulang dari Jerman bertemu kembali dengan Ainun, kawan SMA-nya, seorang dokter lulusan FK UI setelah 7 tahun tak pernah jumpa. Dalam pertemuan itu Habibie tak menyangka Ainun telah menjadi dokter berparas cantik. Padahal, saat sama-sama masih duduk di bangku SMA, Habibie kerap mengolok Ainun yang gemuk dan hitam. Merasakan ada getaran dalam hatinya, spontan Habibie berkata, ‘Ainun kamu cantik, dari gula jawa menjadi gula pasir!’. Saat itu Habibie meyakini kalau Ainun adalah jodoh yang dititipkan Allah SWT untuknya seperti yang pernah diungkapkannya, ’Ada perasaan yang sangat dalam dari sebuah pancaran cahaya berdimensi 1 milliar 60 kl/jam dan kecepatan suara hanya 1000 km/jam. Hal itu memberikan informasi kepada saya inilah jodoh yang dititipkan Allah’.

Pelajaran menarik dari kisah kasih Habibie Ainun salah satunya adalah ketika pasangan muda ini memulai hidup di negeri orang dengan kondisi keuangan yang pas-pasan. Haibibie muda yang sedang berkuliah terpaksa mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang membuatnya menjadi begitu sibuk. Begitu sibuknya sampai membuat Habibie seringkali pulang larut malam. Keterbatasan dan kesibukkan suami ternyata tidak membuat Ainun mengeluh, justru sebaliknya, Ainun dengan setia menunggu suaminya pulang, memberikan semangat, motivasi, menyumbang ide, mengingatkan untuk sholat tahajud, dan ikut membantu serta mengingatkan suaminya untuk menjaga kesehatannya. Hingga kehidupan yang pas-pasan pun dapat mereka jalani dengan ikhlas dan bahagia.

Masih di Jerman, Ainun kembali memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya perhatian terhadap keluarga. Ainun yang saat berpeluang untuk melanjutkan pendidikan dan meniti karirnya sebagai Dokter, ia dengan berani memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya demi fokus untuk mengurus suami dan kedua anaknya. ‘Saya lebih dibutuhkan dibelakang layar’, kata Ainun, sebuah pengorbanan yang istimewa dari seorang istri demi dapat mencurahkan segenap perhatian untuk keluarganya.

Pelajaran berharga dari kisah mereka juga dapat dilihat sejak Ainun terkena penyakit Jantung. Habibie yang menyayangi belahan jiwanya dengan setulus hati dengan setia terus berusaha untuk menemani dan memberi dukungan kepada Istri tercintanya. Beliau seperti tidak ingin berpisah walau sedetikpun dengan belahan jiwanya. Pengorbanan yang menguras energi dan mengaduk-aduk perasaan ini dijalani oleh Habibie selama kurang lebih 10 tahun dengan ikhlas karena dalamnya cinta. Hingga akhirnya pada tanggal 22 Mei 2010, Habibie harus benar-benar berpisah dengan Ainun secara fisik. Bukan karena suatu permasalahan, akan tetapi karena Ainun dipanggil oleh Allah SWT. Habibie yang saat itu merasakan kehilangan yang mendalam karena tulang rusuk yang diciptakan oleh Allah SWT harus diambil sampai harus melewati perawatan psikologi salah satunya dengan terapi menulis yang kemudian menghasilkan buku Habibie Ainun.

Habibie seakan ingin menunjukkan betapa dalam sayangnya kepada belahan jiwanya melalui kisah dan ungkapan yang dikumandangkan beliau tentang betapa bahagia dan beruntungnya mendapatkan istri yang selalu diliputi kesabaran dan tanggung jawab. Beliau juga sering menggambarkan kalau Habibie dan Ainun adalah manunggal dan tidak dapat dipisahkan. Hal ini seperti yang digambarkan oleh Yusran Darmawan dalam kompasiana:

Pada tahun 2006, saya mengikuti seminar yang diadakan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di kantor BPPT Jakarta, di mana Habibie menjadi keynote speaker. Saya masih ingat betul bahwa saat itu, Habibie datang ditemani Ainun. Bahkan di saat usai berceramah, di saat semua wartawan datang merubunginya, ia masih mencari-cari di mana Ainun. Pada saat seorang wartawan bertanya tentang pendapatnya atas situasi di Timor Leste, Habibie hanya menjawab singkat. “Maafkan, saya sedang mencari di mana mantan pacar saya. Mana Ainun? Saya belum pernah pisah dengan Ainun. Mana Ainun?”

Habibie juga membagi resep lain yang membuat hubungan mereka begitu harmonis sampai akhir hayat, salah satunya adalah melalui kepedulian kecil yang diberikan melalui pertanyaan-pertanyaan menjelang tidur, seperti ‘apakah sudah mendirikan sholat’; ‘jangan lupa makan’; ‘jangan lupa minum obat’; ‘apakah saya perlu sholat tahajud; dan lainnya. Ada salah satu bentuk perhatian Ainun yang mungkin tidak akan dilupakan Habibie, yaitu ketika Ainun harus berjuang melawan maut dengan 50 selang ditubuhnya di ruang ICCU, Ainun masih menunjukan perhatiannya.’ Kamu khawatir saya belum makan?. Ainun lantas menjawab dengan kepala mengangguk’. Subhanallah, sebuah perhatian yang sangat istimewa dari seorang istri kepada suaminya, disaat sebenarnya sang istrilah yang saat itu lebih membutuhkan perhatian.

Banyak pelajaran yang bisa didapat dari kisah mantan Presiden Indonesia yang ke 3, kisah tentang ketulusan dan keagungan cinta dan bagaimana menjalankannya ditengah jalan yang berliku hingga terwujud keluarga yang sakinah mawadah warrahmah yang hanya dapat dipisahkan oleh kematian. Sebuah kisah yang sungguh sangat luar biasa.

Minggu, 12 Juni 2011

Belajar Menjadi Pembelajar

Knowledge Worker “... works primarily with information or... develops and uses knowledge in the workplace.” Peter Drucker, Landmarks of Tomorrow, 1959

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Belajar dapat diartikan memiliki arti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; atau berlatih; atau perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Sedangkan menurut Wikipedia, belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Dalam literatur Islam, belajar memiliki tempat yang khusus dan sangatlah dianjurkan. Seperti yang tertuang dalam hadist, mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim; carilah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat; carilah ilmu walaupun di negeri cina; siapa meniti jalan menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalannya menuju surga; siapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah (fi sabilillah) sampai ia kembali. Bahkan ayat yang pertama kali diwahyukan kepada Rasulullah adalah perintah untuk belajar, melalui kalimat Iqra!, bacalah. Al Qur’an juga menggambarkan betapa istimewanya orang yang belajar dan berilmu, seperti yang termaktub dalam Surat Az-Zumar ayat 9, ‘Katakanlah: Tiada serupa orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan orang-orang yang tiada berilmu pengetahuan’. Dan juga dalam surat Al Mujadillah ayat 9,’Allah telah mengangkat orang-orang yang beriman dari golongan kamu, dan begitu pula orang-orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan beberapa derajat’.

Mengapa manusia diperintahkan untuk belajar? Perintah ini mungkin ditujukan agar manusia dapat terus berkembang dan beradaptasi seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman. Karena perubahan adalah satu hal yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari, maka belajar adalah suatu keharusan agar kita dapat bertahan dan berkembang. Agar tidak seperti manusia prasejarah dan dinosaurus yang tidak dapat mengikuti perkembangan zaman hingga akhirnya punah digilas zaman. Dan juga agar tidak bernasib menjadi manusia atau bangsa terbelakang yang tidak dapat mengikuti kemajuan pengetahuan dunia.

Perlu kita pahami,yang dimaksud belajar bukan hanya proses belajar mengajar di sekolah atau kampus atau ruang yang tersekat dinding. Belajar dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, dalam situasi apa saja, dan melalui media apa saja. Manusia yang selalu belajar umum dikatakan sebagai manusia pembelajar. Manusia Pembelajar adalah setiap orang manusia yang bersedia menerima tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting, yakni berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi dan bakat-bakat terbaiknya dan berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensinya itu, mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan sesuatu yang bukan dirinya. Dalam dunia kerja, seorang manusia pembelajar dikenal dengan istilah pekerja berpengetahuan (knowledge worker), yang biasanya berkompetensi tinggi, tidak cepat puas atas pencapaiannya, selalu berusaha menghasilkan yang terbaik, haus akan inovasi, berkontribusi nyata, berusaha memperbaiki kekurangannya, terbuka terhadap kritik dan masukan orang lain, dan tidak takut akan perubahan.

Ada banyak cara untuk menjadi seorang manusia pembelajar. Pertama adalah dengan memperbanyak membaca, seperti yang diperintahkan Al Qur’an, bacalah. Tentunya dengan bacaan yang bermutu dan berkualitas, baik itu buku, majalah, maupun bacaan elektronik. Kedua adalah dengan belajar dari orang yang lebih berpengalaman dan lebih ahli. Untuk itu pilihlah lingkungan yang dapat membuat pengetahuan dan kemampuan kita semakin berkembang. Seperti yang dikatakan dalam pepatah arab, apabila kita bergaul dengan tukang parfum insyaAllah kita akan ikut harum. Ketiga adalah dengan belajar dari pengalaman. Seperti pepatah yang sering dikumandangkan orang tua kita, pengalaman adalah guru yang terbaik. Berusahalah menjadikan setiap keberhasilan atau kegagalan kita menjadi bahan untuk berinstropeksi, memperbaiki diri, dan berinovasi. Keempat adalah dengan menuangkan pengalaman, pengetahuan, dan bacaan kita dalam sebuah tulisan, apakah itu dalam bentuk bercerita, menuangkan ide pemikiran, berbagi konsep, membuat analisa kritis, atau sekedar menulis resensi. Seperti yang dikatakan Ali bin Abi Thalib, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Terakhir, yang menurut saya paling penting, adalah dengan niat. Niatkanlah diri anda untuk terus belajar, belajar, dan belajar menjadi lebih baik lagi. Karena suatu perbuatan tergantung dari niatnya, jika niat kita adalah untuk terus belajar, maka insyaAllah kita akan merasakan manfaatnya. Seperti yang tertuang dalam hadist, innama ‘amalu bi niat, setiap amalan tergantung dari niatnya.

Semoga kita bisa terus belajar untuk menjadi manusia pembelajar.

Sukses

Malam minggu kemarin dalam sebuah obrolan ringan tiba-tiba saja kami, saya dan sahabat Jakarta Student Community, kumpulan pelajar asal Jakarta yang pernah berkuliah di malang, membahas tentang makna sukses di Sabang 16 dengan ditemani Kopi Tetes Vietnam dan Roti Srikaya.

Salah seorang sahabat mengatakan sukses adalah proses, siapa yang menjalani proses dengan sungguh-sungguh maka dia adalah orang yang sukses, apa pun hasil dari proses tersebut. Sahabat lain mengatakan sukses adalah pencapaian atas semua usaha yang telah kita lakukan. Dalam kesempatan lain sahabat saya yang lain juga mengatakan tentang makna sukses, menurutnya sukses itu bisa tersenyum disaat menghadapi masalah, sukses juga saat dimana kita mendapatkan apa yang kita inginkan, dan bahkan sukses adalah sebuah proses dengan tujuan akhir kita menghadap ilahi dengan khusnul khotimah.

Saya sendiri juga punya makna sendiri mengenai sukses yang ternyata mengalami pergeseran seiring dengan waktu. Dulu ketika saya masih bersekolah saya memaknai sukses dengan pencapaian karir, rezeki, dan popularitas. Dengan mencapai salah satu apalagi kesemuanya maka saya dapat dikatakan sukses. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu ternyata makna sukses menurut saya mengalami pergeseran. Saat ini menurut saya sukses adalah bagaimana kita bisa menikmati hidup dan bahagia dalam situasi apa pun.

Sukses adalah keinginan semua orang. Ya.. Semua orang pasti ingin sukses sesuai dengan pemaknaan masing-masing. Sukses menurut saya belum tentu sukses menurut anda. Sukses adalah suatu hal yang universal, dimana setiap orang memiliki pemaknaan masing-masing. Tidak ada yang bisa mengatakan kalau definisi makna sukses menurutnya adalah yang terbaik dan paling tepat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri sukses didefinisikan dengan berhasil atau beruntung. Jim Rohn memaknai sukses dengan konsekuensi pasti dari menerapkan beberapa langkah dasar dalam hidup. Menurut Zig Ziglar, sukses adalah mendapatkan banyak hal yang bisa dibeli oleh uang dan semua hal yang tak bisa dibeli oleh uang. Menurut Earl Nightingale, sukses adalah realisasi progresif dari prinsip-prinsip seseorang yang bernilai. Menurut Brian Tracy, sukses berarti jika seseorang menikmati dan mencintai profesinya sekarang, dan ia dikelilingi oleh orang-orang yang ia cintai dan mencintai dirinya.

Bagaimana sukses menurut anda?

Rabu, 01 Juni 2011

Mengapa Saya Keluar Dari Syiah

Saya sengaja membeli buku Mengapa Saya Keluar Dari Syiah, karena saya berharap buku ini dapat menjadi penetralisir setelah saya membaca buku Sejarah Para Pemimpin Islam yang sangat kental muatan Syiahnya. Penulis buku ini sendiri, Sayyid Husain Al-Musawi, adalah seorang ulama besar Syiah yang lahir di Karbala dan belajar di Hauzah (kota ilmu) di Najaf hingga mendapat gelar mujtahid. Dia juga memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Imam Ayatullah Khomeini. Selama mendalami Syiah, Sayyid Husain mengalami kebingungan karena mendapati banyaknya pertentangan dalam kitab-kitab yang diajari Syiah. Awalnya ia mencoba untuk berpikir positif bahwa hal ini terjadi karena pemahaman beliau belum mendalam, akan tetapi semakin ia mendalami justru semakin menguatlah keraguannya akan kebenaran ajaran Syiah, hingga akhirnya memutuskan keluar dari Syiah dan menuliskan kesesatan Syiah dalam sebuah buku.

Sayyid Husain menyadari bahwa dengan menulis buku ini, maka resiko kematian dapat menghampirinya kapan saja, seperti yang pernah di alami oleh beberapa ulama Syiah yang keluar dari aliran ini. Beberapa diantara mereka ada yang disembelih dan dicincang mayatnya menjadi beberapa potong, seperti yang dialami Ayatullah Uzma Imam Sayyid Abul Hasan Al Ashfani dan Sayyid Ahmad Al Kasrawi. Dan seperti apa yang telah Sayyid Husain perkirakan, setelah menulis buku ini maka ia pun mengalami berbagai fitnah dan tuduhan, mulai dari dicabutnya gelar kelimuannya, dianggap murtad, hingga akhirnya dibunuh. Padahal apabila ia menginginkan kesenangan duniawi, maka ia bisa mendapatkan kesenangan tersebut dari Mut’ah dan Khumus.

Apa dan bagaimanakah paham Syiah yang coba dibongkar oleh Sayyid Husain melalui buku ini? Berikut akan coba saya gambarkan secara ringkas.

Abdullah Bin Saba. Doktrin Syiah menyatakan kalau Abdullah bin Saba adalah tokoh fiktif yang diciptakan ahlusunnah untuk menjelek-jelekkan syiah. Benarkah doktrin tersebut? Ternyata dalam banyak kitab, termasuk kitab syiah, justru menyatakan sebaliknya. Abdullah bin Saba adalah tokoh yang benar-benar ada, nyata, dan bukan tokoh fiktif. Tokoh ini adalah seorang Yahudi yang mendirikan aliran syiah.

Ahlul bait. Keyakinan yang tersebar di kalangan pengikut syiah adalah pengutamaan terhadap ahlul bait. Madzhab Syiah semuanya dilandaskan atas kecintaan kepada ahlul bait. Akan tetapi benarkah mereka benar-benar mencintai ahlul bait? Ternyata dalam banyak riwayat syiah yang banyak terjadi justru sebaliknya, banyak riwayat mereka yang justru menghina Rasulullah SAW dan ahlul baitnya. Dan bahkan pembunuhan Hussain bin Ali erat kaitannya dengan pengkhianatan Syiah. Pertanyaannya kemudian, bagaimana sikap ahlul bait terhadap syiah? Dalam banyak riwayat kita banyak mendapatkan Saidina Ali bin Abi Thalib, Fathimah RA, Hassan dan Hussain, serta Imam-Imam dari kalangan Ahlul Bait justru mengecam perilaku kaum syiah.

Ahlusunnah. Syiah berkeyakinan sahabat telah melakukan kezaliman terhadap ahlul bait, menumpahkan darah mereka, dan menghalalkan kehormatan mereka. Dari sebab itu, para ulama dan mujtahid Syiah menanamkan bahwa musuh mereka yang terbesar adalah ahlussunnah (sunni). Dan oleh karena itu orang sunni dianggap najis dalam pandangan Syiah, hingga kalau dicuci seribu kali pun najisnya tidak akan hilang.

Nikah Mut’ah. Syiah berkeyakinan kalau nikah mut’ah (kontrak) diperbolehkan bahkan mendapatkan pahala bagi yang menjalankan, dengan menggunakan dalil yang seakan-akan berasal dari Rasulullah SAW, seperti ditulis dalam Man La Yahdhuruhu Al Faqih,3/366,"Barangsiapa melakukan mut'ah dengan seorang wanita, dia akan aman dari murka Allah, Yang Maha Memaksa.Barangsiapa melakukan mut'ah dua kali, dia akan dikumpulkan bersama orang-orang baik. Barangsiapa melakukan mut'ah tiga kali, dia akan berdampingan denganku di surga." Atau seperti tercantum pada dalam tafsir Manhaj Ash-Shadiqin,"Barangsiapa melakukan mut'ah satu kali, derajatnya seperti Husain AS. Yang melakukan dua kali, derajatnya seperti Hasan AS. Yang melakukan tiga kali, derajatnya sama dengan Ali Bin Abu Thalib. Dan barangsiapa melakukan mut'ah empat kali, derajatnya sama seperti derajatku". Pertanyaannya kemudian, apabila ada seseorang yang sangat jahat kemudian melakukan mut’ah empat kali, apakah serta merta derajatnya sama dengan Rasulullah?

Begitu besarnya pahala mut’ah, hingga Imam Khomaini melakukan mut’ah pada anak kecil yang masih dibawah umur. Bahkan merebaknya mut’ah menyebabkan terjadinya istilah meminjamkan kemaluan, dimana seorang tuan rumah membolehkan tamu mereka untuk meminjam istri mereka untuk digauli jika tamu tersebut tertarik selama mereka menginap. Mut’ah tidak berhenti pada masalah kawin kontrak saja, karena beberapa riwayat bahkan sampai memperbolehkan sodomi terhadap para wanita.

Khumus. Syiah berkeyakinan kalau mereka harus mengeluarkan seperlima harta dari hasil yang mereka usahakan untuk imam gaib. Pada prakteknya khumus yang dikeluarkan justru menjadi mata pencaharian dan pemasukan para tokoh dan mujtahid dalam jumlah yang sangat besar, padahal nash syariat menunjukkan bahwa kalangan awam orang-orang Syiah terbebas dari kewajiban membayar seperlima harta mereka. Dan dikalangan Mujtahid telah terjadi kompetisi menurunkan persentase khumus yang diambil dari masyarakat agar masyarakat berlomba-lomba untuk menyetorkan khumus pada mereka.

Kitab Suci. Syiah berkeyakinan kalau Al Qur’an yang sekarang beredar sudah mengalami penambahan dan pengurangan. Dan Qur’an yang masih asli adalah Qur’an Fathimah yang saat ini masih tersimpan di suatu tempat, kitab tersebut didiktekan oleh Rasulullah SAW dan ditulis langsung oleh Ali Bin Abu Thalib. Pertanyaannya adalah apabila kitab tersebut benar-benar ada dan mengandung manfaat bagi umat, kenapa kita tersebut disembunyikan dan tidak ada yang tahu? Selain Qur’an mushaf Fathimah, ternyata syiah masih memiliki banyak kitab suci lain seperti Al-Jami'ah, Shahifah An Namus, Shahifah Al-Abithah, Shahifah Dzuabah As-Saif, Shahifah Ali,Al-Juf. Uniknya, atau lebih tepat anehnya isi dari kitab-kitab tersebut selalu bertambah dari waktu ke waktu. Pertanyaannya lagi, jika kitab tersebut merupakan kitab ilahiyah, siapakah yang menambahkan isi kitab tersebut?

Secara umum buku ini cukup bagus, karena membahas tentang Syiah dari sudut pandang Syiah dan dengan sumber kitab Syiah itu sendiri. Masih banyak hal lain yang dibahas dalam buku yang tidak terlalu tebal, mulai dari perilaku homoseks dikalangan syiah, kemunculan imam mahdi yang menyerupai dajjal, dan pengaruh yahudi dan majusi dalam ajaran syiah. Dan semua benar-benar dikuliti dari sudut pandang syiah.

Minggu, 29 Mei 2011

Sejarah Para Pemimpin Islam

Sejujurnya saya membeli buku ini karena hasrat ingin tahu saya tentang sejarah peradaban Islam setelah membaca buku Dari Puncak Bagdad. Dengan judul Sejarah Para Pemimpin Islam, buku yang terdiri dari 3 seri ini menarik minat saya untuk segera merogoh kocek agar dapat membawanya pulang.

Hasrat yang membuncah membuat saya langsung melahap halaman demi halaman dari seri pertama buku ini yang memuat kisah mulai dari Abu Bakar hingga Utsman ketika tiba di rumah. Akan tetapi alangkah terkejutnya saya begitu mendapati beberapa penyampaian akan Abu Bakar As Shidiq. Bukan hanya tidak sesuai dengan apa yang pernah saya pelajari dahulu, akan tetapi begitu bertaburannya fitnah dan caci maki terhadap Abu Bakar, membuat rasa curiga saya akan adanya propaganda tertentu yang berjalan beriringan dengan kisah dalam buku ini semakin menguat. Saya mencoba melanjuti kisah buku ini, dan semakin saya membaca semakin banyak fitnah dan pelecehan terhadap sahabat Rasulullah yang tertuang dalam kata-kata dibuku ini. Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, dan beberapa sahabat Rasulullah tidak luput dari fitnah yang terdapat dalam buku ini.

Sejujurnya saya sudah menyadari kalau buku ini adalah propaganda Syiah dari berbagai fitnah diatas dan cara penyebutan Ali Bin Abi Thalib dengan sebutan Imam Ali. Apalagi ketika saya mencoba mencari tahu tentang penuls buku ini, Rasul Ja’fariyan yang ternyata merupakan salah satu ulama Syiah yang memenangi Iran’s Book Of The Year melalui buku Shi’a Atlas. Akan tetapi saya tetap mencoba untuk membaca buku ini, karena saya penasaran bagaimana Syiah bercerita tentang pemimpin Islam. Karena saya meyakini kalau buku ini tidak akan membuat saya menjadi seorang Syiah selagi saya bisa menjaga diri dan mengimbangi dengan bacaan yang lurus.

Di buku kedua dan ketiga, cerita berkisah mulai dari Ali Bin Abi Thalib, Hasan Bin Ali, Husain Bin Ali, gerakan dan peristiwa karbala, dan beberapa paham Syiah. Ada beberapa hal yang saya tangkap dari buku ini, bukan hanya Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Bin Khattab, dan Utsman Bin Affan yang difitnah oleh Syiah, akan tetapi Ali Bin Thalib dan keturunan-keturunannya pun tak luput dari cerita bohong yang mereka buat. Betapa Ali Bin Abi Thalib, Hasan dan Husain digambarkan seakan-akan memiliki kekuatan gaib ilahiyah. Beberapa peristiwa yang terjadi, seperti perang jamal juga tidak luput dari penambahan dan pengurangan fakta sejarah yang terjadi. Melalui buku ini, saya juga mengetahu akan hadist-hadist Syiah yang bukan hanya bersumber dari Rasulullah SAW. Akan tetapi dari Ali, Hasan, Husain, dan para imam Syiah.

Untuk anda yang ingin mengetahui fitnah dan pemikiran Syiah terhadap para khalifah dan sahabat Rasulullah, buku ini dapat menjadi salah satu yang dapat anda baca. Akan tetapi untuk anda yang ingin benar-benar belajar dan mengetahui mengenai sejarah khalifah Islam, maka kesampingkanlah buku ini dari daftar anda. Karena buku ini bukan hanya penuh caci maki, fitnah, dan pengkaburan fakta sejarah tanpa analisis sistem khalifah secara komprehensif, akan tetapi juga sangat berpotensi menyesatkan anda.

Senin, 23 Mei 2011

Dari Puncak Bagdad : Sejarah Dunia Versi Islam

Presiden Soekarno, dalam pidatonya saat peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus 1966 pernah mengatakan ‘Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah’ atau populer dengan istilah Jas Merah. Melalui sejarah kita bisa mengetahui dan meniru keberhasilan dan kebaikan pendahulu kita di masa lampau dan menghindari melakukan kesalahan yang dilakukan oleh para pendahulu.

Sejarah pun seringkali tidak lepas dari cara pandang, latar pendidikan, dan subyektifitas penulisnya. Perbedaan sudut pandang tersebut terkadang membuat suatu topik atau tokoh yang sama bisa menghasilkan cara pandang yang berbeda. Contohnya dalam literatur sejarah Indonesia kita mengenal sosok JP Coen sebagai seorang penjajah yang menindas rakyat Indonesia , sedangkan dalam pandangan Belanda sosok yang disebutkan tadi adalah seorang pahlawan. Dalam beberapa hal, sejarah juga dapat dipengaruhi oleh pandangan dari suatu kelompok ataupun rezim yang mendominasi. Hal ini dapat dilihat dari kontroversi sejarah Indonesia yang didominasi oleh cara pandang rezim yang berkuasa. Bagaimana kontroversinya peristiwa supersemar dan bagaimana kisah Tan Malaka serta Soe Hok Gie berusaha untuk ditutupi adalah contohnya.

Begitu pun dengan sejarah peradaban dunia yang tidak lepas dari cara pandang penulisnya. Begitu mendominasinya barat dalam peradaban dunia dewasa ini membuat banyak literatur sejarah peradaban dunia cenderung lebih mengarah ke barat. Dalam banyak hal, mulai dari zaman filsuf yunani, zaman kegelapan, renaisans, hingga industrialisasi selalu digambarkan seakan-akan hanya baratlah pusat episentrum peradaban dunia dan belahan dunia lain hanyalah pelengkap yang dikisahkan dalam bab kecil peradaban dunia, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Banyak dari kita yang tidak tahu, kalau ternyata pada saat bangsa barat sedang berada dalam era kegelapan, ternyata dibelahan dunia lain terdapat peradaban yang begitu jaya dan maju. Dan peradaban itu adalah peradaban Islam.

Untuk mengimbangi sudut pandang sejarah tersebutlah Tamim Ansary mencoba mengupas peradaban dunia dari sudut pandang yang berbeda dengan barat… sudut pandang Islam. Melalui buku Dari Puncak Bagdad : Sejarah Dunia Versi Islam, Tamim mencoba mengisi kekosongan sejarah yang selama ini jarang dikisahkan dalam literatur sejarah dewasa ini. Tamim seolah mencoba merubah cara pandang barat tentang Islam serta memberi warna dan menambah khasanah keilmuan tentang sejarah peradaban dunia. Dengan penuturan yang terkesan seperti sedang bercerita sambil minum teh, Tamim mencoba menegaskan bahwa Islam juga memiliki pengaruh dalam sejarah panjang peradaban dunia.

Menurut Tamim, titik awal dari sejarah peradaban Islam sendiri dimulai sejak hijrah nabi dari Mekah ke Madinah yang merupakan tahun nol hijriah. Hijrah menandai terbentuknya ummah dalam membentuk peradaban baru di Madinah. Titik awal dari terciptanya peradaban Islam yang maju dan berkembang.

Kisah menarik terjadi pada saat Rasulullah SAW wafat, karena Rasulullah tidak meninggalkan wasiat mengenai siapa yang kelak menjadi pengganti beliau. Kebimbangan sempat melanda sahabat Rasul karena tidak ada mekanisme pemilihan pemimpin yang diwariskan. Dan dimulailah era Khaulafa Rasyidi yang terus berlanjut sampai zaman kejayaan peradaban Islam hingga memudarnya pamor kejayaan Islam.

Menarik ketika membahas hilangnya kejayaan intelektual Islam dari panggung dunia yang kemudian tertutup oleh khazanah intelektual barat yang tercipta melalui arus renaisans. Tokoh-tokoh intelektul muslim seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Jabar muncul dan berkibar pada saat imperium Islam sedang memudar dan pada era setelahnya Isaac Newton, A.G Bell dan ilmuwan barat bermunculan pada saat kebangkitan barat. Hal itulah yang pada akhirnya membuat gaung Ilmuwan Muslim yang merupakan perintis pengetahuan modern tertutup oleh para tokoh intelektual barat.

Menarik juga ketika membahas runtuhnya kejayaan Islam. Karena hal ini tidak disebabkan oleh kekuatan militer, akan tetapi disebabkan oleh perdagangan, perebutan emas, dan perpecahan di tubuh umat Islam itu sendiri, yang akhirnya menggerogoti kejayaan Islam.

Tamim Ansary, penulis buku ini, sendiri lahir di Afghanistan dan bermukim di San Fransisco. Melalui buku ini Tamim seakan ingin membuka mata dunia tentang peradaban Islam yang selama ini hanya mendapat porsi kecil dalam literatur sejarah barat. Sepertinya buku ini sengaja disusun oleh Tamim untuk mengoreksi pandangan barat tentang Islam dan dihadirkan untuk konsumsi barat.

Kehadiran buku ini cukup baik dalam menambah khasanah literatur sejarah dunia. Akan tetapi buku ini juga tidak bebas dari sudut pandang tertentu, penulis yang tumbuh dan besar dalam lingkungan sekuler membuat buku ini terkesan sekuler dari gaya penulisan dan sudut pandang penulis ketika menceritakan berbagai kisah di buku ini. Penulis sepertinya berusaha untuk obyektif dalam menuliskan buku ini dengan mengambil beberapa literatur Islam, Barat, dan bahkan Syiah. Akan tetapi campur aduk literatur tersebut justru membuat saya seringkali mengernyitkan dahi dalam membaca buku ini, karena beberapa hal yang kurang sesuai dengan apa saya pelajari saat ini. Seperti ketika dalam membahas kekurangan khaulafa rasyidin yang sepertinya bercampur dalam sudut pandang aliran tertentu. Kehadiran buku ini sungguh membuat hasrat saya untuk belajar sejarah Islam tergugah, karena sisi sekuler dan campur aduk paham dalam buku ini membuat saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi karena saya meyakini pasti ada kekeliruan dari buku ini.

Sabtu, 21 Mei 2011

Padang Bulan & Cinta Di Dalam Gelas

Apa yang ada di benak anda tentang novel dwilogi? Jika yang terlintas dipikiran anda adalah tentang novel berseri yang diterbitkan secara berkesinamungan dengan jarak waktu tertentu, maka sepertinya anda perlu menengok dwilogi Padang Bulan karya Andrea Hirata. Karena novel ini benar-benar akan merombak pemikiran anda tentang novel dwilogi. Novel ini tidak diterbitkan secara terpisah. Novel ini justru diterbitkan dalam satu edisi saling terbalik, dimana cover depan adalah edisi pertama yang berjudul Padang Bulan dan cover belakang adalah kisah lanjutannya yang berjudul Cinta Di Dalam Gelas.

Kisah dalam novel ini sendiri dibuka dengan kisah getir Syalimah dan Enong, Syalimah yang selama hidupnya jarang menerima kado ataupun kejutan dari suaminya, Zamzami,karena kemiskinan mereka, tiba-tiba mendapatkan hadiah dari suaminya. Sepeda Sim King yang selama ini di idam-idamkan. Begitupun dengan Enong, gadis yang begitu mencintai bahasa Inggris ini baru saja mendapatkan kamus bahasa inggris dari ayahnya, Zamzami. Namun ternyata malang tak dapat ditolak, disaat berada di gerbang kebahagiaan itu, tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan kabar meninggalnya suami dan ayah tercinta mereka, Zamzami meninggal dunia karena tertimbun longsor.

Sepeninggal Zamzami, kisah getir perjuangan hidup Enong pun dimulai. Untuk membantu menafkahi keluarga Enong akhirnya berhenti menikmati pendidikan dasar dan mulai merantau. Enong merantau dengan harapan meraih pekerjaan untuk mnafkahi keluarga dan menyekolahkan adik-adiknya. Akan tetapi, untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak, mencari pekerjaan di tanah rantau untuk anak kecil seusia Enong ternyata tidaklah mudah. Berkali-kali mendapat penolakan, Enong akhirnya kembali ke kampong halamannya tanpa mendapatkan pekerjaan.

Di kampung halaman, Enong mencoba sebuah pekerjaan yang saat itu tidak pernah terpikirkan di masyarakat yaitu pendulang timah. Bukan hanya karena ia terlalu kecil, akan tetapi pendulang timah adalah profesi laki-laki dan selama ini tidak ada satu pun wanita yang melakukan pekerjaan tersebut. Enong menjadi pionir disana,bukan karena pekerjaan ini begitu bergengsi akan tetapi karena keterpaksaanlah ia melakukan. Menjadi pendulang timah tidak membutuhkan ijazah dan persyaratan muluk-muluk selain fisik yang kuat.

Sementara itu di kehidupan lain, Ikal yang cinta mati kepada Aling sedang merana karena penolakan ayahnya. Akan tetapi cinta ikal sudah terlalu kuat untuk dihalangi, meskipun oleh ayahnya sekalipun. Berbagai cara ia lakukan untuk mencuri perhatian Aling akan tetapi ternyata cintanya kepada Aling tidak mendapatkan sambutan seperti yang ia harapkan. Akibatnya, ikal yang merasa gundah gulana memutuskan mencari pekerjaan ke Jakarta. Ketika ia akan berangkat ke Jakarta, tepat sebelum sauh diangkat, tiba-tiba ia berubah pikiran dan segera turun dari kapal. Ia harus membuktikan kalau ia mampu mengalahkan Zinar, yang menurut desas-desus merupakan pria yang berhasil mencuri perhatian Aling, melalui pertandingan olahraga.

Banyak kisah dan pelajaran menarik yang dituangkan secara cerdas dengan diiringi humor ala melayu oleh Andrea dalam novel dwilogi ini. Mulai dari tekad dan semangat belajar Enong yang luar biasa, mulai dari bagaimana tekad Enong dalam mempelajari bahasa Inggris dengan ikut kursus di Tanjong Pandan meskipun saat itu usianya sudah tidak muda lagi dan bagaimana semangatnya dalam mempelajari permainan catur meskipun sebelumnya belum pernah menyentuh satu pun bidak catur demi dapat mengalahkan Matarom, mantan suaminya. Semangat yang tertuang dalam kata, ‘Berikan aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar’. Mimpi dan tekad yang kelak menjadi stimulan positif bagi Enong. Melalui sosok Enong, Andrea juga mengenalkan tentang tata masyarakat Melayu, dimana anak sulung harus menjadi tulang punggung yang harus bertanggung jawab memikul beban hidup keluarga.

Budaya minum kopi masyarakat Belitong juga digambarkan secara jenaka oleh Andrea Hirata. Bagaimana melalui segelas kopi kepribadian seseorang dapat tergambarkan. Dan bagaimana masyarakat melayu dari berbagai golongan dapat duduk berjam-jam di warung kopi untuk membicarakan apa pun, mulai dari pembicaraan ringan hingga masalah pemerintahan. Bahkan begitu mendarah dagingnya warung kopi, hingga pertandingan catur yang paling bergengsi pun harus diadakan di warung kopi.

Pandangan masyarakat melayu tentang wanita pada saat itu juga digambarkan dengan menarik oleh Andrea, bagaimana terkejutnya rakyat Belitong ketika Enong memutuskan menjadi penambang timah dan bagaimana pro dan kontra yang terjadi ketika Enong memutuskan untuk mengikuti pertandingan catur. Hingga membuat penduduk gempar dan terbelah menjadi dua kubu. Karena selama ini catur adalah hak kaum pria.

Secara keseluruhan dwilogi ini sangatlah menarik. Melalui dwilogi ini Andrea Hirata seperti mengajak kita menertawakan ironi dan diri sendiri tanpa kesan menggurui dan tanpa membuat kita tersinggung. Begitu halus dan jenaka cara bertutur Andrea, sehingga tanpa kita sadari ketika kita membaca novel ini kita sedang menertawakan diri sendiri dan masyarakat kita. Andrea juga memberikan pesan yang implisit melalui kisah perjuangan Enong, bahwa dalam diri setiap manusia terdapat kekuatan yang bahkan tidak disadari seseorang yang akan muncul ketika kita berusaha.

Rabu, 18 Mei 2011

Festival Malang Kembali - Malang Tempo Doeloe

Beberapa waktu yang lalu sahabat saya mengatakan kalau tanggal 19 – 22 Mei ini Festival Malang Kembali (FMK) atau yang juga dikenal sebagai Malang Tempo Doeloe akan digelar kembali. Sebuah festival yang diadakan sejak tahun 2006 di jalan Ijen yang diprakarsai Yayasan Inggil dan sepertinya sudah menjadi agenda tahunan pemerintah kota Malang.

Selama beberapa hari kita dapat melihat dan menyelami budaya tempo dulu dari kota malang, mulai dari bangunan,sejarah, kebudayaan, kesenian, kehidupan, kerajinan, hingga kuliner. Untuk anda yang menyukai fotografi, banyak sekali objek yang dapat membuat dahaga fotografi anda terpuaskan. Festival yang sepertinya sayang untuk dilewatkan akan tetapi sayangnya saya memang tidak dapat menghadiri festival tersebut.

Masih segar dalam memori ketika festival tersebut pertama kali dihelat ditahun 2006. Betapa antusiasnya warga malang dalam menyambut acara yang akan digelar pertama kalinya itu. Kantor kami pun tidak kalah heboh. Hilir mudik ide mengalir dari kami dalam mempersiapkan acara tersebut. Mulai dari kostum hingga kendaraan yang akan digunakan untuk menuju ke Jalan Ijen. Ketika waktunya tiba, begitu pulang kerja kami pun segera berganti kostum dan berangkat dengan semangat membara menuju jalan ijen dengan menggunakan sepeda onthel. Sesampainya dilokasi kami segera menikmati suasana tempo doeloe tersebut di daerah yang dulunya bernama Ijen Boulevard itu.



Tahun berikutnya saya pun berkesempatan untuk menghadiri festival ini. Bahkan ketika itu saya sampai dua kali menghadiri festival ini. Yang pertama dengan rekan kantor saya yang seperti biasa berpakaian ala tempo doeloe..


Dan yang kedua dengan sahabat Jakarta Student Community, kumpulan pelajar Jakarta di kota Malang, dengan baju ala mahasiswa. Dan seperti tahun sebelumnya, kami pun mengambil beberapa gambar untuk diabadikan.



Jika kebetulan pada tanggal tersebut anda berada di malang dan sekitarnya, maka luangkanlah waktu anda untuk datang ke FMK, nikmatilah suasana kota Malang Tempo Doeloe dan yakinlah kalau anda tidak akan merasa rugi setelahnya.

Kamis, 05 Mei 2011

9 Summers 10 Autumns

Siapa sangka anak seorang supir angkot di di kota kecil di Jawa Timur yang hidup serba pas-pasan bisa menjadi direktur di salah satu perusahaan besar dunia di New York, Amerika Serikat. Ya… Siapa yang menyangka.. Tapi ini benar-benar terjadi.. Adalah Iwan Setyawan yang membuat hal yang sepertinya utopis tersebut menjadi nyata... Melalui novel memoarnya yang berjudul 9 Summers 10 Autumns : Dari Kota Apel ke Big Apple, Iwan bertutur tentang perjalanan hidupnya hingga menjadi salah satu direktur salah satu perusahaan besar di New York. Iwan tidak menawarkan mimpi, Iwan justru memberi contoh bagaimana mengeksekusi menjadi nyata.

Terlahir dari keluarga yang miskin. Bapaknya adalah seorang supir angkot yang tidak bisa mengingat tanggal lahirnya sementara ibunya tidak sempat lulus sekolah dasar. Di rumah berukuran 6 x 7 meter di kaki Gunung Panderman, Batu, Iwan tumbuh dan berkembang bersama kedua orang tua dan empat saudara perempuannya. Tidak ada mainan yang bisa diingat, tidak ada sepeda, tidak ada boneka, dan tidak ada kamar. Bukulah yang menjadi pelipur lara dan hiburan pengganti semua itu. Iwan kecil saat itu hanya memiliki mimpi membangun kamar di rumah kecilnya.

Untuk mengatasi kesulitan ekonomi, ia mencari tambahan uang dengan berjualan di saat bulan puasa, mengecat boneka kayu di wirausaha kecil dekat rumah, atau membantu tetangga berdagang di pasar. Dalam memanajemen perut keluarga, ibunya dibekali intuisi manajemen keluarga yang kuat, ibunya mampu membelah 1 telur untuk 3 anaknya yang masih kecil dengan merata dan tahu berapa liter nasi yang harus di masak dan bisa habis tanpa tersisa saat dimakan oleh suami dan 5 anaknya.

Tekadnya yang kuat untuk mewujudkan mimpinya membuatnya menjadi sosok yang gigih. Kakak, adik, dan keterbatasan adalah inspirasi dalam hidupnya untuk lebih maju lagi. Ia benar-benar menjadikan buku, semangat, dan ketekunan sebagai pengganti mainan yang tidak dimilikinya, buku benar-benar pelipur lara baginya. Dan dari buku dan pendidikanlah ia mampu keluar dari jerat dan lingkaran setan penderitaan.

Iwan mengisahkan bagaimana perjuangannya untuk bisa menembus Fakultas MIPA IPB, kemudian menjadi lulusan terbaik, hingga akhirnya menjadi Director Internal Client di Nielsen Consumer Research di New York. Dalam ceritanya, secara tidak langsung Iwan memberikan resep bagaimana mengikuti jejaknya. Ia tidak minder ketika harus bersaing dengan lulusan luar negeri, ia selalu datang lebih pagi dan pulang lebih malam dibanding rekan-rekannya, ia selalu menyelesaikan pekerjaan lebih dari yang diminta, dan ia tidak mudah menyerah.

Iwan juga menyadarkan kita kalau tidak selamanya gemerlapnya hidup dan suksesnya dapat memuaskan semuanya. Dalam kilau sukses di New York, Iwan juga sering merasa kesepian. Ada kerinduan didalam jiwanya. Kerinduan kembali kampung halaman dan kerinduan kehangatan di keluarganya. Hingga ia akhirnya memutuskan meninggalkan hingar binger kota New York untuk pulang ke kampung halamannya.

Menurut saya buku ini adalah novel memoir. Iwan berusaha menceritakan perjalanan hidupnya melalui media seorang anak kecil dalam bentuk memoar. Kisah hidup dan perjuangan Iwan cukup tergambar dalam buku ini. Bahkan kegemaran iwan akan seni dan sastra tertuang juga, bagaimana Iwan menyukai Khairil Anwar, Paul Verlaine, Fyodor Dostoevsky, dan juga pementasan opera.

Secara keseluruhan buku ini cukup bagus. Bahasanya ringan dan tidak bertele-tele. Dan seperti telah dikatakan diatas… Buku ini tidak menawarkan mimpi, justru buku ini mengajak kita untuk bangun dari mimpi kita agar belajar dan bekerja lebih keras lagi untuk mengeksekusi mimpi-mimpi kita.

Minggu, 01 Mei 2011

Bertamu Ke Serambi Mekah : Jejak Historis Tanah Rencong

Setelah kira-kira satu setengah jam perjalanan dan menikmati keindahan Sabang, akhirnya tibalah saya kembali ke Ulee Lhuee. Dan seperti biasa, Om Yu sudah setia menanti untuk mengajak berpetualang di sekitar kota Banda Aceh. Tujuan pertama kami saat itu adalah lapangan Blang Padang. Dalam perjalanan menuju ke Blang Padang, masih dekat Ulee Lhuee, terlihat sebuah tanah lapang yang dijadikan kuburan masal bagi korban tsunami yang tidak berhasil teridentifikasi. Tidak terbayang dibenak saya, berapa banyak korban tsunami yang dimakamkan di kuburan masal tersebut. Mungkin ribuan atau bahkan puluhan ribu.

Kurang dari setengah jam tampaklah Lapangan Blang Bintang di depan mata. Tampak beberapa anak sedang berlatih sepakbola dan beberapa orang sedang lari-lari kecil di trek jogging di pinggir lapangan. Mendekati lapangan, pandangan mata saya langsung menuju ke sebuah pesawat baling-baling bertuliskan Indonesian Airways yang berdiri tegak di pinggir lapangan. Itulah pesawat Dakota RI-001 Seulawah yang dibeli dari uang sumbangan Rakyat Aceh. Dari pesawat baling-baling inilah cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan kebanggaan bangsa, Garuda Indonesia Airways. Seulawah sendiri memiliki arti Gunung Emas, nama ini mungkin berasal besarnya sumbangan rakyat Aceh. Sejarah merekam, di Hotel Kutaraja pada tanggal 16 Juni 1948, Presiden Sukarno yang saat itu sedang mencari dana untuk keperluan membeli pesawat Dakota berhasil membangkitkan nasionalisme dan patriotisme rakyat Aceh hingga akhirnya terkumpul sumbangan rakyat Aceh senilai 20 kg emas. Itulah sumbangsih masyarakat Aceh yang bernilai sangat besar pada awal berdirinya Republik ini.

Masih dilapangan Blang Padang, di sudut lain yang tidak begitu jauh dari Pesawat Seulawah tadi, berdirilah monument Aceh Thanks To The World. Monumen ini adalah bentuk terimakasih masyarakat Aceh kepada para relawan, lembaga swadaya masyarakat, lembaga tinggi Negara, perusahaan, sipil, dan ketentaraan dalam dan luar negeri yang telah berpartisipasi dalam merekonstruksi Aceh pasca musibah Tsunami. Selain monument Aceh Thanks To The World, sebagai rasa terimakasih masyarakat Aceh, maka setiap Negara yang berpartisipasi dibuatkan prasasti dan pohon persahabatan. Dimana prasasti tersebut ditulis nama Negara, bendera Negara, dan ucapan ‘Terima Kasih dan Damai’ dalam bahasa masing-masing Negara. Total terdapat 53 prasasti di lapangan Blang Padang ini.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan kembali menuju ke Museum Aceh, dalam perjalanan saya sempat melihat Museum Tsunami Aceh tidak jauh dari lapangan Blang Padang. Museum yang didirikan untuk mengenang bencana tsunami, tempat pendidikan, dan perlindungan tsunami. Sayang ketika saya ke Aceh museum tersebut sedang direnovasi sehingga kami tidak dapat singgah.

Akhirnya setelah beberapa menit, kami pun sampai di Museum Aceh. Perhatian saya langsung tertuju ke rumah adat yang menarik, berpintu sempit dan berwarna eksotis. Rumah tersebut adalah rumah adat Aceh yang biasa disebut sebagai Rumoh Aceh. Seperti kebanyakan rumah adat di Sumatera, rumah adat ini juga berbentuk rumah panggung. Rumah ini juga terlihat sangat terawat. Ukiran kayu dengan motif khas aceh tampak menghiasi eksterior dan interior rumah ini. Dibagian bawah rumah ini terdapat beberapa koleksi lain seperti Kohler Boom atau pohon Kohler yang berdiameter 130 cm dan dalam keadaan terbelah. Dinamakan Kohler Boom karena pada tanggal 14 April 1873 panglima perang belanda pertama di Aceh, Jenderal Kohler, ditembak mati oleh pejuang Aceh. Tidak jauh dari Rumoh Aceh terdapat Lonceng CakraDonya yang merupakan hadiah dari Laksamana Cheng Ho pada tahun 1414. Sebuah bukti kalau Aceh sudah menjalin hubungan bilateral yang baik sejak dahulu kala. Bangunan lain di komplek ini adalah Museum Aceh itu sendiri yang didalamnya terdapat tulisan budaya Aceh, kerajinan, tarian, adat istiadat, ukiran, dan ragam hias khas Aceh.

Setelah dari museum Aceh, saya segera singgah ke komplek yang berlokasi tepat disebelah komplek museum Aceh. Di komplek tersebutlah Sultan Iskandar Muda dimakamkan. Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam merupakan sultan paling besar dalam kesultanan Aceh yang memerintah sejak tahun 1606 hingga 1636. Selama 30 tahun masa pemerintahannya, Aceh mencapai masa kejayaan dimana beliau berhasil menyatukan wilayah semenanjung, menjalin hubungan diplomatik dengan Negara tetangga, menjadikan Aceh sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan di Asia Tenggara, dan membawa kerajaan Aceh Darussalam menjadi kerajaan Islam terbesar kelima di dunia.

Banyak orang berkata, tidak lengkap rasanya bertamu ke Nanggroe Aceh Darussalam apabila tidak sholat di Masjid Baiturrahman. Dan karenanya kami segera menuju ke Masjid Baiturrahman yang letaknya hanya beberapa kilometer, kebetulan saat itu waktu Ashar sudah masuk. Masjid yang dulunya merupakan masjid kesultanan Aceh ini berdiri megah dan kokoh di pusat kota Banda Aceh bersebelahan dengan Pasar Aceh. Arsitekturnya yang indah menjadikan Masjid ini menjadi salah satu masjid terindah di Indonesia dan membuatnya menjadi salah satu ikon Aceh. Masjid ini memiliki perjalanan historis yang menarik dan panjang. Masjid yang awalnya berkubah tunggal ini sempat dibakar Belanda pada tahun 1873, akan tetapi karena kemarahan masyarakat Aceh, Belanda akhirnya membangun kembali Masjid ini pada tahun 1875 dan selesai pada 1883. Selanjutnya masjid diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935 dan diperluas kembali menjadi 5 kubah pada tahun 1959 dan selesai tahun 1968. Didepan masjid ini terdapat kolam teratai yang berjarak 20 meter hingga ke gerbang dalam masjid. Memasuki bagian dalam masjid, interior dan kaligrafi yang indah menghiasi sekelilingnya. Pada saat musibah tsunami yang lalu masjid ini banyak menyelamatkan jiwa masyarakat Aceh. Karena meskipun diluar masjid terdapat genangan air yang tinggi akan tetapi air tersebut tidak sampai masuk ke dalam masjid, yang menjadikan masjid ini menjadi tempat mengungsi yang aman bagi masyarakat.

Selesai Sholat Ashar, perjalanan dilanjutkan kembali menuju ke Taman Pintoe Khop Putroe Phang yang didalamnya terdapat Pintoe Khop yang dulunya adalah gerbang yang menghubungkan istana dengan Taman Ghairah. Gerbang ke taman dari keluarga kerajaan, sultan, permaisuri, pangeran dan putrid raja. Konon pembangunan taman ini merupakan permintaan dari Putroe Phang, putri raja yang dibawa ke Aceh oleh Sultan Iskandar Muda setelah kerajaan Pahang Ditaklukkan. Dilokasi ini juga terdapat semacam danau buatan berukuran kecil yang sering digunakan warga setempat untuk memancing.

Setelah dari Taman Putroe Phang, perjalanan dilanjutkan ke seberang kompleks seberang taman. Tepatnya ke Gunongan. Ada suatu hal yang menggelitik saya ketika di Taman Putroe Phang, ketika saya bertanya ke salah satu warga mengenai lokasi Gunongan. Dia hanya memandang heran dan kemudian bertanya ke temannya dan kemudian berkata ‘tidak tahu’. Padahal Gunongan tersebut berlokasi tepat diseberang komplek Putroe Phang. Hal ini menurut saya cukup miris, karena seperti yang saya temui di beberapa daerah di Indonesia, tidak sedikit penduduk lokal yang kurang peduli terhadap aset berharga yang dimiliki daerahnya. Mungkin kekurangpedulian inilah salah satu penyebab kurang maju, kurang terawat, dan kurang berkembangnya beberapa potensi wisata yang dimiliki Indonesia.

Cinta dan kasih sayang yang tulus memang dapat membuat manusia menciptakan banyak hal yang Indah demi belahan jiwanya. Jika di Agra, India kita mengenal bangunan megah bernama Taj mahal yang merupakan representasi cinta dan kasih sayang Shah Jahan terhadap permaisurinya yang bernama Mumtaz Mahal. Maka di Aceh kita dapat melihat simbol kasih sayang dalam bentuk yang lain… Gunongan. Menurut kisah yang berkembang, bangunan bertingkat tiga yang berbentuk segi enam dan seperti bunga yang dibangun sekitar abad 17 ini sejatinya merupakan lambang kasih sayang Sultan Iskandar Muda kepada permasurinya yang cantik, Putroe Phang. Konon dahulu Putroe Phang sering teringat kampung halamannya di Pahang dan sering merasa kesepian karena Sultan sibuk mengurusi pemerintahan. Karena memahami kegundahan permaisurinya maka sultan membuatkan Gunongan, yang berbentuk seperti Gunung Kecil. Gunung kecil itu berbentuk seperti miniatur perbukitan yang mengelilingi istana Putroe Phang di Pahang. Putroe Phang menjadi sangat senang. Waktunya sering ia habiskan di sana, bermain-main bersama dayang-dayangnya, sambil memanjatinya.

Berhadapan dengan kompleks Gunongan, terdapat kompleks pemakaman prajurit belanda yang tewas dalam perang Aceh, Kherkoff Peucut. Kuburan Kerkhoff Banda Aceh adalah kuburan militer Belanda yang terletak di luar negeri Belanda yang terluas di dunia dan masih terawat dengan sangat baik. Sebagaimana diketahui bahwa Kerajaan Aceh dan rakyatnya sangat gigih melawan Belanda. Rakyat Aceh mempertahankan Negerinya dengan harta dan nyawa. Perlawanan yang cukup lama mengakibatkan banyak korban dikedua belah pihak. Dalam sejarah Belanda, Perang Aceh merupakan perang paling pahit yang konon melebihi pahitnya pengalaman mereka pada saat Perang Napoleon. Selain makam serdadu Belanda, di kompleks ini juga terdapat makam serdadu Jawa, Batak, Ambon, dan serdadu suku lainnya yang tergabung dalam angkatan bersenjata Hindia Belanda. Diluar serdadu-serdadu itu, areal pemakaman ini juga terdapat makam Amat Popok, Putra dari Sultan Iskandar Muda, yang berzina dan dihukum rajam.

Hari semakin sore, untuk mengejar matahari terbenam maka kami pun langsung bergegas menuju Pantai Lhoknga yang terletak di Aceh Besar. Kurang lebih 40 menit perjalanan pun kami tempuh untuk mencapai pantai ini. Ditengah perjalanan terdapat suatu tempat yang bernama Lampisang, suatu tempat dimana banyak penjual oleh-oleh, khususnya makanan khas Aceh. Pantai Lhoknga adalah pantai berpasir putih yang masih perawan yang merupakan salah satu tempat populer bagi masyarakat Aceh. Sesampainya disana saya melihat beberapa kelompok pemuda sedang asyik bermain bola di pantai, beberapa yang lain menikmati suasana pinggir pantai sambil berjalan kaki, beberapa yang lain berenang dipantai, beberapa yang yang lain berselancar tatkala ombak datang, dan beberapa yang lain tampak duduk-duduk sambil menikmati kelapa muda. Sesungguhnya pantai ini begitu alami dan indah, akan tetapi kurang dikelola dengan baik, seandainya pantai ini dikelola mungkin akan lebih banyak orang yang menjadikan pantai ini menjadi destinasi wisatanya. Matahari mulai terbenam, akan tetapi tiba-tiba sekumpulan awan melintas disekitar pantai tepat sebelum matahari tersebut benar-benar terbenam, sehingga lagi-lagi kami hanya sempat melihat lembayung mentari yang muncul dari balik awan.

Menjelang Maghrib, perut ini tampaknya mengiba untuk diberi tenaga. Maka kami pun langsung meninggalkan Lhoknga untuk mencari kuliner khas Aceh yang cocok untuk dinikmati di malam hari. Mie Acehlah akhirnya yang menjadi target kami dimalam itu. Berdasarkan informasi yang saya himpun, di Aceh terdapat warung Mie Aceh yang cukup terkenal yang bernama Mie Midi. Kamipun langsung bergerak menuju ke lokasi. Sesampainya di lokasi, penjaja mie tersebut langsung memberikan daftar menu yang terdiri beraneka rasa mie aceh, mulai dari mie biasa, mie daging, mie udang, mie jamur, mie kepiting, hingga mie kombinasi. Selain mie, warung ini juga menjajakan martabak aceh. Saya pun langsung memesan mie daging sementara Om Yu hanya memesan teh manis. Begitu mie yang dipesan datang, langsung saya menyantapnya dengan lahap. Rasanya… yummiee.. kuah kari dan bumbu rempahnya benar-benar pas dan nikmat hingga sendok terakhir.

Setelah makan mie, kami pun segera menuju ke penginapan karena Bang Zarkasih telah menanti untuk berjumpa. Sesampainya di hotel kami berbincang sejenak, akan tetapi karena Bang Zarkasih malam itu hendak ke Lhoksumawe , beliau pun menawarkan untuk mencicipi kopi Aceh yang terkenal itu. Kami pun langsung menuju ke Ulee Kareng untuk mencoba Kopi Solong Ulee Kareng yang melegenda. Sebenarnya warung kopi sangatlah menjamur di Aceh, begitu menjamurnya hingga Aceh memiliki julukan Negeri Seribu Warung Kopi. Menjamurnya warung kopi menggambarkan bagaimana mengakar dan membudayanya kebiasaan minum kopi bagi masyarakat Aceh. Warung kopi adalah representasi ruang pertemuan bagi masyarakat Aceh, berbagai golongan tumpah ruah didalamnya. Di warung kopi anda bisa berbicara apa saja mulai dari bisnis, politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga sekedar bicara yang ringan. Bahkan di banyak warung kopi sampai menyediakan kopi pancung, yaitu kopi setengah gelas bagi masyarakat yang merindukan kopi dengan anggaran terbatas. Kopi Solong Ulee Kareng begitu tersohor karena termasuk warung kopi generasi awal di ulee kareng. Konon Gubernur sering meluangkan waktunya di pagi hari untuk ngopi di warung ini. Kopi Solong memiliki rasa yang segar, kopinya yang terlihat encer ketika didalam gelas tapi terasa kental ketika diminum. Dan… sluurrrpp… nikmat nian rasa kopi ini… Selesai minum kopi kami segera kembali ke penginapan dengan tidak lupa membeli tiga bungkus kopi solong untuk kami bawa pulang ke rumah. Sesampainya di penginapan, saya menyempatkan menonton Liverpool FC yang malam itu sedang berjibaku dengan Birmingham. Alhamdulillah Anfield Gank malam itu berhasil menang lima gol tanpa balas. Setelah menyaksikan pasukan merah bertanding, saya pun segera tidur dengan nyenyak.

Minggu pagi sekitar pukul 9 pagi petualangan kami lanjutkan kembali dengan destinasi makam Syiah Kuala. Syiah Kuala adalah seorang ulama besar Aceh di abad 17 yang bernama asli Syech Abdurrauf bin Ali Al Fansuri As-Singkili. Pengaruh beliau dalam menyebarkan agama Islam di Sumatera dan Nusantara sangatlah besar. Beliau juga sempat dipercaya menjadi Kadhi Malikul Adil, suatu jabatan setingkat Mahkamah Agung saat ini, pada masa Kerajaan Aceh Darussalam yang diperintah empat ratu, yakni Ratu Safiatuddin Syah (1641-1675), Nakiatuddin Syah (1675-1678), Zakiatuddin Syah (1678-1688), dan Ratu Kamalat Syah (1688-1699). Menurut riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Beliau meninggal dunia pada tahun 1693, dengan berusia 73 tahun. Beliau dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, desa Deyah Raya Kecamatan Kuala, sekitar 15 Km dari Banda Aceh. Konon sehari sebelum tsunami terjadi Aceh, didekat makam syiah Kuala sedang diadakan pesta yang dilakukan aparat kemanan. Pesta itu dilengkapi juga dengan minuman keras dan organ tunggal. Pada saat pesta, munculah seorang berjubah putih yang mengingatkan agar pesta dihentikan hingga dua kali, akan tetapi peringatan tersebut tidak digubris dan justru pria berjubah tersebut ditodong senapan. Pria berjubah tersebut juga sempat mengingatkan aka nada bencana yang datang. Dan pagi harinya ternyata bencana itu benar-benar datang, gelombang tsunami menghantam dan memporak porandakan Aceh dan menewaskan ratusan ribu manusia, termasuk para aparat yang malam itu berpesta. Setelah bencana tsunami, makam Syiah Kuala kembali dipugar dan kini hanya berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai.

Hari mendekati siang, maka kami segera mencari asupan untuk perut kami. Maka kami segera menuju ke penajaja Bubur Kanji Rumbi, bubur ayam khas Aceh yang memiliki rasa yang khas dan nikmat. Pada saat makan bubur kanji rumba, Om Yu sempat meninggalkan saya sejenak untuk proses pemilihan Kepala Dusun di lingkungan tempat tinggalnya. Berdasarkan cerita Om Yu, kandidat yang hendak maju awalnya mencalonkan diri atau dicalonkan oleh lingkungan sekitar, selanjutnya dilakukan uji kelayakan dan kepatutan melalui musyawarah adat apakah kandidat tersebut layak diusung atau tidak, ada banyak kriteria dalam melihat patut tidaknya seseorang untuk maju sebagai kandidat, diantaranya adalah apakah ada akhlak tercela dari kandidat, karena seandainya ada maka pencalonan kandidat tersebut dapat dibatalkan. Setelah muncul beberapa kandidat yang lulus uji kelayakan, maka pemilihan pun siap digelar dan kandidat akan dipilih oleh masyarakat.

Setelah Om Yu kembali dari proses pemilihan, perjalanan kami lanjutkan kembali ke tempat penjualan cinderamata khas Aceh yang terletak tidak jauh dari Masjid Baiturrahman. Mulai dari Peci Aceh, Baju Koko Aceh, Batik Aceh, Meuketop (Topi Khas Aceh), Rencong, Tas Motif Aceh, Pin berbentuk Rencong atau Pintu Aceh, Sarung Aceh, Kaos, Baju Adat, Pajangan, dan banyak lainnya tersedia disini. Saya pun segera memilih beberapa cinderamata untuk saya beli dan saya bawa pulang.

Begitu asyiknya memilih-milah cinderamata membuat waktu tanpa terasa sudah semakin siang. Maka kami pun bergegas ke Bandara Sultan Iskandar Muda, karena harus kembali ke Medan siang itu. Dalam perjalanan saya kembali menjumpai kuburan masal korban, yaitu kuburan masal sirom yang terletak di sebelah kanan jalan. Kuburan ini berbentuk tanah lapang dan tampak tembok yang dibuat menyerupai ombak di bagian belakang pemakaman. Setelah 40 menit perjalanan, akhirnya tibalah saya di Bandara Sultan Iskandar Muda dan perpisahan dengan Nanggroe Aceh Darussalam pun harus dilakukan meskipun hasrat ini sebenarnya belum ingin berpisah, karena waktu tiga hari dirasa masih kurang. Sebelum berpisah saya kembali menyeruput kopi Solong sambil mengunyah Timphan Aceh yang lezat itu di bandara. Siang itu saya pun bertolak ke Medan dengan tekad kalau suatu saat akan kembali ke Bumi Serambi Mekah ini dengan waktu yang lebih panjang untuk menikmati keindahannya, mulai dari menikmati keindahan alam bawah laut hingga menikmati sensasi kopi Aceh.