Jumat, 30 September 2022

Mendidik Anak Laki-Laki Usia 0 – 7 Tahun

Sebelumnya saya pernah membuat resume tentang mendidik anak laki-laki usia dini (0-7) tahun, akan tetapi ketika saya murojaah Kembali hari ini, ternyata saya mendapatkan hal baru, sehingga saya coba untuk menuliskannya kembali disini. Dan memang inilah salah satu menariknya mengulang-ulang ilmu, karena semakin diulang, maka kita akan mendapatkan pandangan-pandangan yang baru.

Bayi ibarat KERTAS PUTIH. Tergantung bagaimana orangtua melukisnya, maka demikianlah nanti kehidupannya

Setiap BAYI membawa program dari ALLAH yaitu FITRAH sebagaimana tercantum dalam hadits “Tidaklah seorang bayi yang lahir kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi” (HR. Bukhari)

FITRAH ibarat ‘software’ yang ditanam dalam setiap bayi. ORTU yang mengaktifkan atau merusaknya. Makna fitrah selain bermakna tauhid, juga memiliki makna suatu hal yang terkait bekal manusia pada saat lahir, diantaranya fitrah seksualitas. Dimana hanya ada dua jenis manusia laki - laki dan perempuan dan tidak ada waria, baik secara fisik maupun juga sifat dan karakteristik, sebagaimana firman Allah “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan…..” (Al Hujurat : 13).

Masing-masing fitrah tersebut, baik laki-laki atupun perempuan memiliki keunikan, maka mendidiknya pun beda “….. dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan..” (Ali Imran : 36). Karena karakternya berbeda maka stimulasinya berbeda. Kecenderungan orang tua yang mendidik laki-laki dan perempuan dengan stimulasi yang sama, maka kemungkinannya hanya dua, kalau tidak salah satunya rusak, maka dua-duanya rusak.

Pada dasarnya Pendidikan KELAKI-LAKIAN terkait dengan Pendidikan SEKSUALITAS, atau  Tarbiyah Al Jinsiyah, yaitu totalitas kepribadian. Pendidikan seksualitas dan seks berbeda. Seks hanya berkaitan dengan alat kelamin, hubungan Kelamin, atau menjadi laki-laki atau perempuan. Sementara seksualitas lebih luas lagi dari itu. Seksualitas bukan sekedar seks tapi juga melingkupi totalitas pribadi; apa yg kau percayai, rasakan, pikirkan dan bagaimana bereaksi; bagaimana anda berbudaya, bersosial & berseksual; bagaimana tampil ketika anda berdiri, tersenyum, berpakaian, tertawa dan menangis; dan bagaimana kita menunjukkan siapa diri kita.

Seksualitas yang diharapkan dalam mendidik anak ada 3 yaitu: BENAR (Sesuai dengan panduan agama, etika dan nilai sosial), LURUS (Sesuai dengan fitrah), dan SEHAT (Sesuai dengan prinsip Kesehatan). Sehingga laki-laki memahami makna kelaki-lakian dari makna nama yang diberikan Allah terhadap laki-laki, dalam Bahasa Arab laki-laki disebut Rojul dan jamaknya Rijal yang bermakna kaki. Laki-laki diibaratkan kaki, karena sebagaimana fungsi kaki yang mampu menahan beban, ketika kakinya tidak kuat maka akan ambruk. Begitupun ketika laki-laki banyak mengeluh, ini menjadi sebuah pertanyaan. Makna kedua adalah sesuai fungsi kaki adalah untuk melangkah, laki-laki identik dengan bergerak, sehingga laki-laki jangan hanya diam dirumah, laki-laki harus bergerak dan berusaha. Yang diperintah untuk banyak diam dirumah adalah perempuan, karena perempuan adalah kepala bagi rumah suaminya.

Ada dua syarat dalam mendidik anak. Yang pertama adalah PERSEPSI POSITIF, yaitu gambaran positif tentang kelaki-lakian tentang sosok laki-laki disekitarnya, terutama Ayah. Ketika anak mempersepsikan negatif tentang Ayahnya, maka anak bisa saja memposisikan kalau laki-laki itu jahat, ini berbahaya bagi perkembangan anak dan bisa menggores persepsi kelaki-lakian. Untuk Ibu yang menjadi single parent, hal yang harus dijaga adalah persepsi positif anak terhadap ayahnya. Seorang Ayah harus memastikan anak tidak memiliki luka pengasuhan dalam pertumbuhannya. Yang kedua adalah ROLE MODEL, anak harus mendapatkan stimulan yang pas. Ayah harus dapat memberikan stimulan kelaki-lakian yang pas ke anaknya dan Ayah harus hadir dalam pengasuhan sambil memberikan contoh yang baik dan benar.

Dalam Islam, laki-laki harus memiliki Qowwam sebagai sifat dasarnya. Seperti yang tertuang adalam Surat An Nisa ayat 34, “Lelaki adalah Qowwam bagi kaum perempuan”. Ujung dari Qowwam adalah mampu menafkahi keluarganya. Makna Qowwam ada tiga. Yang pertama, Qiwam dengan kasroh yang berarti makanan yang membuat manusia tegak berdiri, maksudnya laki-laki harus mampu memberikan dampak positif bagi sekitarnya. Yang kedua, Qowam dengan fathah yang bermakna adil dan seimbang, maksudnya laki-laki mampu menangani segala sesuatu dengan adil dan berimbang.Yang ketiga, Al Qoyyim yang berarti tuan/pemimpin. Dalam tafsir al Manar, ada tujuh ke Qowwaman yang menjadi dasar kelaki lakian, yaitu Al Himayah (melindungi), Ar Ri’ayah (menjaga), Wal Wilayah (memimpin), Wal Kifayah (memberi kecukupan), Taqdib (mendidik), menata urusan, dan melakukan perbaikan kondisi.

Untuk belajar mendidik anak laki-laki, ada sebuah ayat yang bisa kita jadikan roadmap yaitu, “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat [QS. Ali Imran : 33]. Mendidik anak laki-laki dengan mendidik anak perempuan memang berbeda, Qur’an memberikan contoh yang sempurna dalam keluarga Ibrahim dan keluarga Imran.

Sehingga tujuan pengasuhannya pun berbeda


Dari tabel diatas bisadilihat kalau target pengasuhan anak laki-laki adalah menjadi ‘nabi’. Masalahnya kenabian itu tidak mungkin terjadi semenjak wafatnya Rasulullah, berarti yang kita pelajari adalah sifat-sifat kenabian. Sifat dasar dalam kenabian yang ingin dicapai ada 2, yaitu CERDAS (al Hijr : 53), maksudnya menjadi problem solver bagi masyarakat dan SABAR (ash shaffat : 101) yang bermakna tangguh dalam melewati kesulitan.

Fokus pengasuhan anak lelaki ada tiga. Yang pertama, menjadi ahli ilmu (ulama), sebagai mana hadits “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.”(HR.Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani). Ulama maksudnya adalah menjadi orang yang ahli dalam bidangnya, jangan tanggung. Kita bisa ambil contoh dari sahabat Umar Bin Khattab (ahli tata negara), Khalid Bin Walid (ahli strategi perang), Hasan Bin Tsabit (ahli syair), Tasbit Bin Qais (ahli negosiasi), Abdullah Bin Masud (ahli Qur;an), Zaid Bin Tsabit (ahli dalam bidang waris), dan banyak contoh lainnya. Yang kedua, menjadi penegak agama. Yang ketiga, ahli dalam bidang apapun tapi punya jiwa iqomatuddin, sebagai mana dalam firman Allah, “Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya..”(Asy Syura : 13).

Seperti yang disebutkan sebelumnya kalau mendidik anak lelaki berarti mendidik anak menjadi 'nabi', maksudnya kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Pendidikan para Nabi, diantaranya adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Dimana roadmap Pendidikan Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dibawah usia 7 tahun singkatnya adalah sebagai berikut. Usia 0-5 Tahun: Rasul diasuh oleh Halimatus Sa’diyah di kampung Bani Sa’ad. Karena Bahasa Arab di kota Mekkah pada saat itu rusak, maka Rasul harus belajar bahasa ibu yang fasih. Hal ini karena setiap BAHASA punya nilai dan rasa, maka fokuslah terhadap pendidikan bahasa ibu. Karena perbaikan bahasa identik dengan perbaikan perilaku (QS. Al Ahzab : 70-71). Sehingga untuk anak usia 0-5 tahun, salah satu program yang dicanangkan adalah dengan memperdengarkan Bahasa ibu dengan berdialog dan membacakan buku. Dengan target yang ingin dicapai emotional bonding dan perkembangan nalar yang baik. Usia 6 tahun: Rasul mulai belajar Menggembala Kambing. Semua Nabi pernah menjadi penggembala kambing sebagaimana hadits “Tidaklah seorang NABI diutus kecuali pernah jadi penggembala kambing” (H.R. Bukhari). Hikmah Menggembala Kambing adalah Pathfinding, Directing, Controlling, Protecting, dan Reflecting. Sehingga yang perlu dibuat orang tua diantaranya adalah dengan membuat program memelihara HEWAN dengan target anak memiliki rasa empati, kontrol diri dan tercapat perkembangan motorik yang baik.

Sebelumnya saya juga sudah pernah membuat resume tentang yang sebaiknya dilakukan ketika anak usia 0 – 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun, dan 6 - 7 tahun.

Semoga kita bisa menjadi ayah hebat dan ibu tangguh yang mampu mendidik anak-anak laki-laki kita dengan pendidikan terbaik sesuai fitrahnya dan menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang juara dengan akhlak yang baik.

*Sumber : Webinar Ayah IrwanRinaldi dan Ustadz Bendri Jaisyurrahman


Minggu, 01 Mei 2022

Jangan Berubah Setelah Ramadhan

Ramadhan tahun ini mengajarkan banyak hal..

Ternyata kita sanggup bangun malam dan tidak mengalami masalah..

Ternyata kita sanggup membaca Al Qur'an di sela-sela waktu dan tidak mengalami masalah..

Ternyata kita sanggup mengkontrol nafsu kita dan tidak mengalami masalah..

Ternyata kita sanggup menjaga keinginan makan berlebihan dan tidak mengalami masalah..

Ternyata kita sanggup betah dalam mendengarkan majelis ilmu, minimal dalam tarawih, dan tidak mengalami masalah...

Ternyata kita bisa meninggalkan hal yang dilarang dan tidak mengalami masalah…

Ternyata bisa melakukan banyak hal baik dan tidak mengalami masalah...

Ternyata…


Semoga kita menjadi pemenang yang diterima amalnya dalam Ramadhan tahun ini

Dan semoga hal ini berlanjut setelah Ramadhan…


Imam Ibnul Jauzi Rahimaullah berkata : "Wahai yang telah menunaikan Ramadhan dengan sebaik-baik keadaan, jangan engkau berubah setelahnya di bulan Syawal ! Wahai yang telah melihat hari raya dan (juga) telah sampai kepadanya, kapankah engkau akan bersyukur kepada Dzat yang telah memberi berbagai kenikmatan dan engkau pun telah menyanjung-Nya ?" (At-Tabshirah II/114)

Ada yg berkata kepada Bisyr al-Haafi :"Ada suatu kaum yang telah beribadah dan bersungguh-sungguh dalam beramal shalih di bulan Ramadhan, namun saat Ramadhan berlalu, mereka pun meninggalkannya (tidak lagi bersungguh-sungguh dalam beribadah)"

Kemudian Bisyr al-Haafi Rahimaullah berkata :

بئس القوم قوم لا يعرفون الله إلا في رمضان

"Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah melainkan hanya pada bulan Ramadhan saja" (Miftaahul Afkaar lit Ta-ahhubi li Daaril Qaraar II/283)

Semoga Allah karuniakan kemampuan untuk menjaganya selepas Ramadhan..

Bismillah..

Yuk bisa konsisten yuk..

Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan yang akan datang..

Taubat Di Bulan Ramadhan

 

Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata:

وقت التائب كله عمل : نهاره صوم و ليله سهر، و وقت الباطل كله غفلة و بصيرته عميت عن النظر

"Waktu bagi orang yang telah bertaubat semuanya berisi amalan. Siangnya dia berpuasa serta malamnya dia tidak tidur dengan shalat malam. Sementara waktu untuk orang yang malas semuanya berisi kelalaian, dan pandangannya dibutakan dari melihat (kebenaran)" (Mawaa'izh Imam Ibnul Jauzi hl 129 oleh asy-Syaikh Shalih Ahmad asy-Syaami).


Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata:

"Saudaraku, yang lalai dalam pengangguran, wahai yang belum sadar dari mabuknya, mana penyesalanmu atas dosa-dosa dan kesalahanmu !!!? Sampai kapan engkau akan terus menyakiti dirimu dengan dosa, menyia-nyiakan harimu seperti kemarin, tidak maju bersama orang-orang yang jujur, & tidak bertaubat bersama orang-orang yang menyesal !? Mengapa engkau tidak mengangkat tangan di kegelapan malam untuk memohon & mengalirkan air mata permintaan !!?" (At-Tabshirah I/176)

Kamis, 28 April 2022

Pesan Sebelum Perpisahan

Ibnu Rajab al-Hanbali berkata: 


ﻋﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ 

Wahai hamba-hamba Allah... 

ﺇﻥ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻗﺪ ﻋﺰﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺣﻴﻞ 

Sesungguhnya bulan Ramadhan telah bersiap untuk pergi berlalu

ﻭﻟﻢ ﻳﺒﻖ ﻣﻨﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻘﻠﻴﻞ 

Tidaklah ada yang tersisa melainkan hanya sedikit waktu

ﻓﻤﻦ ﻣﻨﻜﻢ ﺃﺣﺴﻦ ﻓﻴﻪ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺍﻟﺘﻤﺎﻡ 

Siapa saja di antara kalian yang telah berbuat baik di dalamnya, hendaknya ia sempurnakan 

ﻭﻣﻦ ﻓﺮﻁ ﻓﻴﺨﺘﻤﻪ ﺑﺎﻟﺤﺴﻨﻰ 

Dan siapa yang masih banyak kekurangan, hendaknya ia tutup dengan kebaikan

ﻓﺎﻟﻌﻤﻞ ﺑﺎﻟﺨﺘﺎﻡ  

Karena amalan itu tergantung penghujungnya 

ﻓﺎﺳﺘﻤﺘﻌﻮﺍ ﻣﻨﻪ ﺑﻤﺎ ﺑﻘﻲ من ﺍﻟﻠﻴﺎﻟﻲ ﺍﻟﻨﻴﺮﺓ ﻭﺍﻷﻳﺎﻡ  

Gunakanlah malam-malam dan siang-siang Ramadhan yang tersisa

ﻭﺍﺳﺘﻮﺩﻋﻮﻩ ﻋﻤﻼً ﺻﺎﻟﺤﺎً ﻳﺸﻬﺪ ﻟﻜﻢ ﺑﻪ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺍﻟﻌﻼﻡ 

Titipkan amal shalihmu kepadanya sehingga kelak ia akan jadi saksimu di sisi Allah, Sang Penguasa hari pembalasan

ﻭﻭﺩﻋﻮﻩ ﻋﻨﺪ ﻓﺮﺍﻗﻪ ﺑﺄﺯﻛﻰ ﺗﺤﻴﺔ ﻭﺳﻼﻡ 

Lepaskanlah perpisahan darinya dengan mengucapkan sebaik-baik salam perpisahan 

[Lathaiful Ma’arif (1/209)]


Rabu, 27 April 2022

Puasa 6 Hari Yang Bernilai Seperti Setahun

Puasa Syawal mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sahabat Abu Ayyub Al Anshoriy, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)

Yakni seperti berpuasa satu tahun sempurna, karena satu kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Maka sebulan Ramadan itu menjadi sepuluh bulan, dan enam hari Syawal menjadi dua bulan. 

Maka disunnahkan berpuasa Syawal, amalan yang sedikit dan keutamaannya besar. 

 

Apakah Puasa Syawal Harus Berurutan dan Dilakukan di Awal Ramadhan ?

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” Oleh karena itu, boleh saja seseorang berpuasa syawal tiga hari setelah Idul Fithri misalnya, baik secara berturut-turut ataupun tidak, karena dalam hal ini ada kelonggaran. Namun, apabila seseorang berpuasa syawal hingga keluar waktu (bulan Syawal) karena bermalas-malasan maka dia tidak akan mendapatkan ganjaran puasa syawal.

 

Pahala Combo Puasa Syawal

Dalam  mengerjakan puasa Syawal ternyata kita bisa mendapatkan pahala combo. Kita bisa dapat dua pahala puasa sekaligus jika kita mengerjakan puasa Syawal bertepatan dengan Senin – Kamis, yaitu mendapatkan pahala puasa Syawal enam hari dan puasa Senin – Kamis.


Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:


 إِذَا اتَّفَقَ أَنْ يَكُوْنَ صِيَامُ هَذِهِ الأَيَّامِ السِّتَّةِ فِي يَوْمِ الاِثْنَيْنِ أَوِ الخَمِيْسِ فَإِنَّهُ يَحْصُلُ عَلَى أَجْرِ الاِثْنَيْنِ بِنِيَّةِ أَجْرِ الأَيَّامِ السِّتَّةِ ، وَبِنِيَّةِ أَجْرِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ أَوِ الخَمِيْسِ ، لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى)” انتهى.


“Jika puasa enam hari Syawal bertepatan dengan puasa Senin atau Kamis, maka puasa Syawal juga akan mendapatkan pahala puasa Senin, begitu pula puasa Senin atau Kamis akan mendapatkan ganjaran puasa Syawal. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan pahala yang ia niatkan.”

 

Catatan Mengenai Puasa Syawal berdasarkan fatwa dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Fatawa Islamiyyah, 2:154

1. Barang siapa yang masih punya utang puasa Ramadan, maka dia tidak boleh memulai puasa enam hari Syawal, sebelum membayar utang puasa Ramadan. Karena dia tidak bisa disebut telah berpuasa Ramadan, akan tetapi berpuasa sebagian Ramadan saja.

2. Tidak boleh mendahulukan puasa enam hari Syawal dari puasa kafarah atau nadzar. Karena puasa Syawal itu hukumnya sunnah, dan puasa kafarah dan nadzar itu wajib. Dan yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah. Dan puasa kafaarah itu wajib segera dilaksanakan. 

3. Mengqadha puasa wajib itu melepaskan tanggung jawab, dan itu yang akan dihisab seorang hamba nantinya. Dalam Hadis Qudsi:


وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضته عليه

"Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu, yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya."

4. Tidak sah menggabungkan puasa Syawal dengan puasa qadha Ramadan dengan satu niat.

5. Tidak disyariatkan mengqadha puasa Syawal setelah berlalunya bulan Syawal. Karena puasa Syawal itu ibadah sunnah yang sudah berlalu kesempatannya. Sama saja apakah meninggalkannya karena uzur atau tanpa uzur.