Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2011

Festival Malang Kembali - Malang Tempo Doeloe

Beberapa waktu yang lalu sahabat saya mengatakan kalau tanggal 19 – 22 Mei ini Festival Malang Kembali (FMK) atau yang juga dikenal sebagai Malang Tempo Doeloe akan digelar kembali. Sebuah festival yang diadakan sejak tahun 2006 di jalan Ijen yang diprakarsai Yayasan Inggil dan sepertinya sudah menjadi agenda tahunan pemerintah kota Malang.

Selama beberapa hari kita dapat melihat dan menyelami budaya tempo dulu dari kota malang, mulai dari bangunan,sejarah, kebudayaan, kesenian, kehidupan, kerajinan, hingga kuliner. Untuk anda yang menyukai fotografi, banyak sekali objek yang dapat membuat dahaga fotografi anda terpuaskan. Festival yang sepertinya sayang untuk dilewatkan akan tetapi sayangnya saya memang tidak dapat menghadiri festival tersebut.

Masih segar dalam memori ketika festival tersebut pertama kali dihelat ditahun 2006. Betapa antusiasnya warga malang dalam menyambut acara yang akan digelar pertama kalinya itu. Kantor kami pun tidak kalah heboh. Hilir mudik ide mengalir dari kami dalam mempersiapkan acara tersebut. Mulai dari kostum hingga kendaraan yang akan digunakan untuk menuju ke Jalan Ijen. Ketika waktunya tiba, begitu pulang kerja kami pun segera berganti kostum dan berangkat dengan semangat membara menuju jalan ijen dengan menggunakan sepeda onthel. Sesampainya dilokasi kami segera menikmati suasana tempo doeloe tersebut di daerah yang dulunya bernama Ijen Boulevard itu.



Tahun berikutnya saya pun berkesempatan untuk menghadiri festival ini. Bahkan ketika itu saya sampai dua kali menghadiri festival ini. Yang pertama dengan rekan kantor saya yang seperti biasa berpakaian ala tempo doeloe..


Dan yang kedua dengan sahabat Jakarta Student Community, kumpulan pelajar Jakarta di kota Malang, dengan baju ala mahasiswa. Dan seperti tahun sebelumnya, kami pun mengambil beberapa gambar untuk diabadikan.



Jika kebetulan pada tanggal tersebut anda berada di malang dan sekitarnya, maka luangkanlah waktu anda untuk datang ke FMK, nikmatilah suasana kota Malang Tempo Doeloe dan yakinlah kalau anda tidak akan merasa rugi setelahnya.

Minggu, 01 Mei 2011

Bertamu Ke Serambi Mekah : Jejak Historis Tanah Rencong

Setelah kira-kira satu setengah jam perjalanan dan menikmati keindahan Sabang, akhirnya tibalah saya kembali ke Ulee Lhuee. Dan seperti biasa, Om Yu sudah setia menanti untuk mengajak berpetualang di sekitar kota Banda Aceh. Tujuan pertama kami saat itu adalah lapangan Blang Padang. Dalam perjalanan menuju ke Blang Padang, masih dekat Ulee Lhuee, terlihat sebuah tanah lapang yang dijadikan kuburan masal bagi korban tsunami yang tidak berhasil teridentifikasi. Tidak terbayang dibenak saya, berapa banyak korban tsunami yang dimakamkan di kuburan masal tersebut. Mungkin ribuan atau bahkan puluhan ribu.

Kurang dari setengah jam tampaklah Lapangan Blang Bintang di depan mata. Tampak beberapa anak sedang berlatih sepakbola dan beberapa orang sedang lari-lari kecil di trek jogging di pinggir lapangan. Mendekati lapangan, pandangan mata saya langsung menuju ke sebuah pesawat baling-baling bertuliskan Indonesian Airways yang berdiri tegak di pinggir lapangan. Itulah pesawat Dakota RI-001 Seulawah yang dibeli dari uang sumbangan Rakyat Aceh. Dari pesawat baling-baling inilah cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan kebanggaan bangsa, Garuda Indonesia Airways. Seulawah sendiri memiliki arti Gunung Emas, nama ini mungkin berasal besarnya sumbangan rakyat Aceh. Sejarah merekam, di Hotel Kutaraja pada tanggal 16 Juni 1948, Presiden Sukarno yang saat itu sedang mencari dana untuk keperluan membeli pesawat Dakota berhasil membangkitkan nasionalisme dan patriotisme rakyat Aceh hingga akhirnya terkumpul sumbangan rakyat Aceh senilai 20 kg emas. Itulah sumbangsih masyarakat Aceh yang bernilai sangat besar pada awal berdirinya Republik ini.

Masih dilapangan Blang Padang, di sudut lain yang tidak begitu jauh dari Pesawat Seulawah tadi, berdirilah monument Aceh Thanks To The World. Monumen ini adalah bentuk terimakasih masyarakat Aceh kepada para relawan, lembaga swadaya masyarakat, lembaga tinggi Negara, perusahaan, sipil, dan ketentaraan dalam dan luar negeri yang telah berpartisipasi dalam merekonstruksi Aceh pasca musibah Tsunami. Selain monument Aceh Thanks To The World, sebagai rasa terimakasih masyarakat Aceh, maka setiap Negara yang berpartisipasi dibuatkan prasasti dan pohon persahabatan. Dimana prasasti tersebut ditulis nama Negara, bendera Negara, dan ucapan ‘Terima Kasih dan Damai’ dalam bahasa masing-masing Negara. Total terdapat 53 prasasti di lapangan Blang Padang ini.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan kembali menuju ke Museum Aceh, dalam perjalanan saya sempat melihat Museum Tsunami Aceh tidak jauh dari lapangan Blang Padang. Museum yang didirikan untuk mengenang bencana tsunami, tempat pendidikan, dan perlindungan tsunami. Sayang ketika saya ke Aceh museum tersebut sedang direnovasi sehingga kami tidak dapat singgah.

Akhirnya setelah beberapa menit, kami pun sampai di Museum Aceh. Perhatian saya langsung tertuju ke rumah adat yang menarik, berpintu sempit dan berwarna eksotis. Rumah tersebut adalah rumah adat Aceh yang biasa disebut sebagai Rumoh Aceh. Seperti kebanyakan rumah adat di Sumatera, rumah adat ini juga berbentuk rumah panggung. Rumah ini juga terlihat sangat terawat. Ukiran kayu dengan motif khas aceh tampak menghiasi eksterior dan interior rumah ini. Dibagian bawah rumah ini terdapat beberapa koleksi lain seperti Kohler Boom atau pohon Kohler yang berdiameter 130 cm dan dalam keadaan terbelah. Dinamakan Kohler Boom karena pada tanggal 14 April 1873 panglima perang belanda pertama di Aceh, Jenderal Kohler, ditembak mati oleh pejuang Aceh. Tidak jauh dari Rumoh Aceh terdapat Lonceng CakraDonya yang merupakan hadiah dari Laksamana Cheng Ho pada tahun 1414. Sebuah bukti kalau Aceh sudah menjalin hubungan bilateral yang baik sejak dahulu kala. Bangunan lain di komplek ini adalah Museum Aceh itu sendiri yang didalamnya terdapat tulisan budaya Aceh, kerajinan, tarian, adat istiadat, ukiran, dan ragam hias khas Aceh.

Setelah dari museum Aceh, saya segera singgah ke komplek yang berlokasi tepat disebelah komplek museum Aceh. Di komplek tersebutlah Sultan Iskandar Muda dimakamkan. Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam merupakan sultan paling besar dalam kesultanan Aceh yang memerintah sejak tahun 1606 hingga 1636. Selama 30 tahun masa pemerintahannya, Aceh mencapai masa kejayaan dimana beliau berhasil menyatukan wilayah semenanjung, menjalin hubungan diplomatik dengan Negara tetangga, menjadikan Aceh sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan di Asia Tenggara, dan membawa kerajaan Aceh Darussalam menjadi kerajaan Islam terbesar kelima di dunia.

Banyak orang berkata, tidak lengkap rasanya bertamu ke Nanggroe Aceh Darussalam apabila tidak sholat di Masjid Baiturrahman. Dan karenanya kami segera menuju ke Masjid Baiturrahman yang letaknya hanya beberapa kilometer, kebetulan saat itu waktu Ashar sudah masuk. Masjid yang dulunya merupakan masjid kesultanan Aceh ini berdiri megah dan kokoh di pusat kota Banda Aceh bersebelahan dengan Pasar Aceh. Arsitekturnya yang indah menjadikan Masjid ini menjadi salah satu masjid terindah di Indonesia dan membuatnya menjadi salah satu ikon Aceh. Masjid ini memiliki perjalanan historis yang menarik dan panjang. Masjid yang awalnya berkubah tunggal ini sempat dibakar Belanda pada tahun 1873, akan tetapi karena kemarahan masyarakat Aceh, Belanda akhirnya membangun kembali Masjid ini pada tahun 1875 dan selesai pada 1883. Selanjutnya masjid diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935 dan diperluas kembali menjadi 5 kubah pada tahun 1959 dan selesai tahun 1968. Didepan masjid ini terdapat kolam teratai yang berjarak 20 meter hingga ke gerbang dalam masjid. Memasuki bagian dalam masjid, interior dan kaligrafi yang indah menghiasi sekelilingnya. Pada saat musibah tsunami yang lalu masjid ini banyak menyelamatkan jiwa masyarakat Aceh. Karena meskipun diluar masjid terdapat genangan air yang tinggi akan tetapi air tersebut tidak sampai masuk ke dalam masjid, yang menjadikan masjid ini menjadi tempat mengungsi yang aman bagi masyarakat.

Selesai Sholat Ashar, perjalanan dilanjutkan kembali menuju ke Taman Pintoe Khop Putroe Phang yang didalamnya terdapat Pintoe Khop yang dulunya adalah gerbang yang menghubungkan istana dengan Taman Ghairah. Gerbang ke taman dari keluarga kerajaan, sultan, permaisuri, pangeran dan putrid raja. Konon pembangunan taman ini merupakan permintaan dari Putroe Phang, putri raja yang dibawa ke Aceh oleh Sultan Iskandar Muda setelah kerajaan Pahang Ditaklukkan. Dilokasi ini juga terdapat semacam danau buatan berukuran kecil yang sering digunakan warga setempat untuk memancing.

Setelah dari Taman Putroe Phang, perjalanan dilanjutkan ke seberang kompleks seberang taman. Tepatnya ke Gunongan. Ada suatu hal yang menggelitik saya ketika di Taman Putroe Phang, ketika saya bertanya ke salah satu warga mengenai lokasi Gunongan. Dia hanya memandang heran dan kemudian bertanya ke temannya dan kemudian berkata ‘tidak tahu’. Padahal Gunongan tersebut berlokasi tepat diseberang komplek Putroe Phang. Hal ini menurut saya cukup miris, karena seperti yang saya temui di beberapa daerah di Indonesia, tidak sedikit penduduk lokal yang kurang peduli terhadap aset berharga yang dimiliki daerahnya. Mungkin kekurangpedulian inilah salah satu penyebab kurang maju, kurang terawat, dan kurang berkembangnya beberapa potensi wisata yang dimiliki Indonesia.

Cinta dan kasih sayang yang tulus memang dapat membuat manusia menciptakan banyak hal yang Indah demi belahan jiwanya. Jika di Agra, India kita mengenal bangunan megah bernama Taj mahal yang merupakan representasi cinta dan kasih sayang Shah Jahan terhadap permaisurinya yang bernama Mumtaz Mahal. Maka di Aceh kita dapat melihat simbol kasih sayang dalam bentuk yang lain… Gunongan. Menurut kisah yang berkembang, bangunan bertingkat tiga yang berbentuk segi enam dan seperti bunga yang dibangun sekitar abad 17 ini sejatinya merupakan lambang kasih sayang Sultan Iskandar Muda kepada permasurinya yang cantik, Putroe Phang. Konon dahulu Putroe Phang sering teringat kampung halamannya di Pahang dan sering merasa kesepian karena Sultan sibuk mengurusi pemerintahan. Karena memahami kegundahan permaisurinya maka sultan membuatkan Gunongan, yang berbentuk seperti Gunung Kecil. Gunung kecil itu berbentuk seperti miniatur perbukitan yang mengelilingi istana Putroe Phang di Pahang. Putroe Phang menjadi sangat senang. Waktunya sering ia habiskan di sana, bermain-main bersama dayang-dayangnya, sambil memanjatinya.

Berhadapan dengan kompleks Gunongan, terdapat kompleks pemakaman prajurit belanda yang tewas dalam perang Aceh, Kherkoff Peucut. Kuburan Kerkhoff Banda Aceh adalah kuburan militer Belanda yang terletak di luar negeri Belanda yang terluas di dunia dan masih terawat dengan sangat baik. Sebagaimana diketahui bahwa Kerajaan Aceh dan rakyatnya sangat gigih melawan Belanda. Rakyat Aceh mempertahankan Negerinya dengan harta dan nyawa. Perlawanan yang cukup lama mengakibatkan banyak korban dikedua belah pihak. Dalam sejarah Belanda, Perang Aceh merupakan perang paling pahit yang konon melebihi pahitnya pengalaman mereka pada saat Perang Napoleon. Selain makam serdadu Belanda, di kompleks ini juga terdapat makam serdadu Jawa, Batak, Ambon, dan serdadu suku lainnya yang tergabung dalam angkatan bersenjata Hindia Belanda. Diluar serdadu-serdadu itu, areal pemakaman ini juga terdapat makam Amat Popok, Putra dari Sultan Iskandar Muda, yang berzina dan dihukum rajam.

Hari semakin sore, untuk mengejar matahari terbenam maka kami pun langsung bergegas menuju Pantai Lhoknga yang terletak di Aceh Besar. Kurang lebih 40 menit perjalanan pun kami tempuh untuk mencapai pantai ini. Ditengah perjalanan terdapat suatu tempat yang bernama Lampisang, suatu tempat dimana banyak penjual oleh-oleh, khususnya makanan khas Aceh. Pantai Lhoknga adalah pantai berpasir putih yang masih perawan yang merupakan salah satu tempat populer bagi masyarakat Aceh. Sesampainya disana saya melihat beberapa kelompok pemuda sedang asyik bermain bola di pantai, beberapa yang lain menikmati suasana pinggir pantai sambil berjalan kaki, beberapa yang lain berenang dipantai, beberapa yang yang lain berselancar tatkala ombak datang, dan beberapa yang lain tampak duduk-duduk sambil menikmati kelapa muda. Sesungguhnya pantai ini begitu alami dan indah, akan tetapi kurang dikelola dengan baik, seandainya pantai ini dikelola mungkin akan lebih banyak orang yang menjadikan pantai ini menjadi destinasi wisatanya. Matahari mulai terbenam, akan tetapi tiba-tiba sekumpulan awan melintas disekitar pantai tepat sebelum matahari tersebut benar-benar terbenam, sehingga lagi-lagi kami hanya sempat melihat lembayung mentari yang muncul dari balik awan.

Menjelang Maghrib, perut ini tampaknya mengiba untuk diberi tenaga. Maka kami pun langsung meninggalkan Lhoknga untuk mencari kuliner khas Aceh yang cocok untuk dinikmati di malam hari. Mie Acehlah akhirnya yang menjadi target kami dimalam itu. Berdasarkan informasi yang saya himpun, di Aceh terdapat warung Mie Aceh yang cukup terkenal yang bernama Mie Midi. Kamipun langsung bergerak menuju ke lokasi. Sesampainya di lokasi, penjaja mie tersebut langsung memberikan daftar menu yang terdiri beraneka rasa mie aceh, mulai dari mie biasa, mie daging, mie udang, mie jamur, mie kepiting, hingga mie kombinasi. Selain mie, warung ini juga menjajakan martabak aceh. Saya pun langsung memesan mie daging sementara Om Yu hanya memesan teh manis. Begitu mie yang dipesan datang, langsung saya menyantapnya dengan lahap. Rasanya… yummiee.. kuah kari dan bumbu rempahnya benar-benar pas dan nikmat hingga sendok terakhir.

Setelah makan mie, kami pun segera menuju ke penginapan karena Bang Zarkasih telah menanti untuk berjumpa. Sesampainya di hotel kami berbincang sejenak, akan tetapi karena Bang Zarkasih malam itu hendak ke Lhoksumawe , beliau pun menawarkan untuk mencicipi kopi Aceh yang terkenal itu. Kami pun langsung menuju ke Ulee Kareng untuk mencoba Kopi Solong Ulee Kareng yang melegenda. Sebenarnya warung kopi sangatlah menjamur di Aceh, begitu menjamurnya hingga Aceh memiliki julukan Negeri Seribu Warung Kopi. Menjamurnya warung kopi menggambarkan bagaimana mengakar dan membudayanya kebiasaan minum kopi bagi masyarakat Aceh. Warung kopi adalah representasi ruang pertemuan bagi masyarakat Aceh, berbagai golongan tumpah ruah didalamnya. Di warung kopi anda bisa berbicara apa saja mulai dari bisnis, politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga sekedar bicara yang ringan. Bahkan di banyak warung kopi sampai menyediakan kopi pancung, yaitu kopi setengah gelas bagi masyarakat yang merindukan kopi dengan anggaran terbatas. Kopi Solong Ulee Kareng begitu tersohor karena termasuk warung kopi generasi awal di ulee kareng. Konon Gubernur sering meluangkan waktunya di pagi hari untuk ngopi di warung ini. Kopi Solong memiliki rasa yang segar, kopinya yang terlihat encer ketika didalam gelas tapi terasa kental ketika diminum. Dan… sluurrrpp… nikmat nian rasa kopi ini… Selesai minum kopi kami segera kembali ke penginapan dengan tidak lupa membeli tiga bungkus kopi solong untuk kami bawa pulang ke rumah. Sesampainya di penginapan, saya menyempatkan menonton Liverpool FC yang malam itu sedang berjibaku dengan Birmingham. Alhamdulillah Anfield Gank malam itu berhasil menang lima gol tanpa balas. Setelah menyaksikan pasukan merah bertanding, saya pun segera tidur dengan nyenyak.

Minggu pagi sekitar pukul 9 pagi petualangan kami lanjutkan kembali dengan destinasi makam Syiah Kuala. Syiah Kuala adalah seorang ulama besar Aceh di abad 17 yang bernama asli Syech Abdurrauf bin Ali Al Fansuri As-Singkili. Pengaruh beliau dalam menyebarkan agama Islam di Sumatera dan Nusantara sangatlah besar. Beliau juga sempat dipercaya menjadi Kadhi Malikul Adil, suatu jabatan setingkat Mahkamah Agung saat ini, pada masa Kerajaan Aceh Darussalam yang diperintah empat ratu, yakni Ratu Safiatuddin Syah (1641-1675), Nakiatuddin Syah (1675-1678), Zakiatuddin Syah (1678-1688), dan Ratu Kamalat Syah (1688-1699). Menurut riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Beliau meninggal dunia pada tahun 1693, dengan berusia 73 tahun. Beliau dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, desa Deyah Raya Kecamatan Kuala, sekitar 15 Km dari Banda Aceh. Konon sehari sebelum tsunami terjadi Aceh, didekat makam syiah Kuala sedang diadakan pesta yang dilakukan aparat kemanan. Pesta itu dilengkapi juga dengan minuman keras dan organ tunggal. Pada saat pesta, munculah seorang berjubah putih yang mengingatkan agar pesta dihentikan hingga dua kali, akan tetapi peringatan tersebut tidak digubris dan justru pria berjubah tersebut ditodong senapan. Pria berjubah tersebut juga sempat mengingatkan aka nada bencana yang datang. Dan pagi harinya ternyata bencana itu benar-benar datang, gelombang tsunami menghantam dan memporak porandakan Aceh dan menewaskan ratusan ribu manusia, termasuk para aparat yang malam itu berpesta. Setelah bencana tsunami, makam Syiah Kuala kembali dipugar dan kini hanya berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai.

Hari mendekati siang, maka kami segera mencari asupan untuk perut kami. Maka kami segera menuju ke penajaja Bubur Kanji Rumbi, bubur ayam khas Aceh yang memiliki rasa yang khas dan nikmat. Pada saat makan bubur kanji rumba, Om Yu sempat meninggalkan saya sejenak untuk proses pemilihan Kepala Dusun di lingkungan tempat tinggalnya. Berdasarkan cerita Om Yu, kandidat yang hendak maju awalnya mencalonkan diri atau dicalonkan oleh lingkungan sekitar, selanjutnya dilakukan uji kelayakan dan kepatutan melalui musyawarah adat apakah kandidat tersebut layak diusung atau tidak, ada banyak kriteria dalam melihat patut tidaknya seseorang untuk maju sebagai kandidat, diantaranya adalah apakah ada akhlak tercela dari kandidat, karena seandainya ada maka pencalonan kandidat tersebut dapat dibatalkan. Setelah muncul beberapa kandidat yang lulus uji kelayakan, maka pemilihan pun siap digelar dan kandidat akan dipilih oleh masyarakat.

Setelah Om Yu kembali dari proses pemilihan, perjalanan kami lanjutkan kembali ke tempat penjualan cinderamata khas Aceh yang terletak tidak jauh dari Masjid Baiturrahman. Mulai dari Peci Aceh, Baju Koko Aceh, Batik Aceh, Meuketop (Topi Khas Aceh), Rencong, Tas Motif Aceh, Pin berbentuk Rencong atau Pintu Aceh, Sarung Aceh, Kaos, Baju Adat, Pajangan, dan banyak lainnya tersedia disini. Saya pun segera memilih beberapa cinderamata untuk saya beli dan saya bawa pulang.

Begitu asyiknya memilih-milah cinderamata membuat waktu tanpa terasa sudah semakin siang. Maka kami pun bergegas ke Bandara Sultan Iskandar Muda, karena harus kembali ke Medan siang itu. Dalam perjalanan saya kembali menjumpai kuburan masal korban, yaitu kuburan masal sirom yang terletak di sebelah kanan jalan. Kuburan ini berbentuk tanah lapang dan tampak tembok yang dibuat menyerupai ombak di bagian belakang pemakaman. Setelah 40 menit perjalanan, akhirnya tibalah saya di Bandara Sultan Iskandar Muda dan perpisahan dengan Nanggroe Aceh Darussalam pun harus dilakukan meskipun hasrat ini sebenarnya belum ingin berpisah, karena waktu tiga hari dirasa masih kurang. Sebelum berpisah saya kembali menyeruput kopi Solong sambil mengunyah Timphan Aceh yang lezat itu di bandara. Siang itu saya pun bertolak ke Medan dengan tekad kalau suatu saat akan kembali ke Bumi Serambi Mekah ini dengan waktu yang lebih panjang untuk menikmati keindahannya, mulai dari menikmati keindahan alam bawah laut hingga menikmati sensasi kopi Aceh.

Bertamu Ke Serambi Mekah : Menuju Ke Titik Nol

Senin minggu yang lalu, setelah melihat kalender kalau akhir pekan ini libur panjang, tiba-tiba saja hasrat ini ingin plesir. Dan entah kenapa Aceh lah yang saat itu terlintas di kepala dan saya pun langsung memesan tiket pesawat dari Medan ke Nanggroe Aceh Darussalam. Keesokan harinya mulailah saya mencari informasi mengenai kondisi, destinasi, dan kuliner khas Aceh dari sahabat saya yang cerdas ini dan dari Bang Zarkasih. Saya pun semakin tidak sabar menunggu akhir pekan tiba, setelah satu persatu tujuan perjalanan didapat.

Akhirnya hari yang dinanti-nanti pun tiba. Jumat siang itu saya lepas landas dari Bandara Polonia. Sepanjang perjalanan pikiran saya mulai menari-nari membayangkan apa saja yang akan dijumpai di Propinsi yang baru pertama kali saya kunjungi ini… Laut eksotis, suasana religius, masyarakat pesisir, watak yang keras, kegigihan yang luar biasa, pemandangan nan menawan adalah beberapa yang sempat hinggap di alam pikiran saya.. Setelah hampir 1 jam sampailah saya di Bandara Sultan Iskandar Muda yang indah. Telepon saya langsung berdering, ternyata Om Yu yang dipercayakan Bang Zarkasih untuk menemani saya selama saya di Banda Aceh sudah menunggu saya. Begitu berjumpa, saya pun langsung bertanya kepada Om Yu akan indahnya Bandara dan bagusnya jalan. Om Yu pun menjawab dengan indah bahwasanya hal itu adalah berkah dari tsunami bagi masyarakat Aceh. Mungkin jika tidak ada tsunami, Aceh belum memiliki Bandara sebagus ini. Sebuah jawaban yang sangat menyejukkan hati. Maka benarlah apa yang termaktub dalam kitab suci kalau sesudah kesulitan ada kemudahan.

Tidak lama kemudian kami segera bergegas agar dapat memanfaatkan waktu yang singkat dengan optimal. Tujuan pertama kami adalah Kapal Terapung yang terletak di daerah Pungee. Setelah setengah jam perjalanan tibalah saya di lokasi yang dituju. Tampak di depan mata saya kapal berukuran besar dengan berat 2600 ton, panjang 63 meter, tinggi 22 meter, dan luas 1900m2 berdiri dengan gagah diatas puing dan bekas pondasi rumah penduduk. Menurut kisah yang beredar, Kapal terapung itu adalah kapal milik PLN yang kesehariannya difungsikan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan sebelumnya bersandar di dekat pelabuhan Ulee Lhuee. Namun ketika tsunami menerjang Aceh 26 Desember 2004 yang lalu, kapal itu ikut terbawa arus dan menerjang rumah penduduk hingga sekitar 3-4 kilometer. Setelah tsunami, kapal tersebut tetap terdampar karena dirasa tidak memungkinkan untuk menarik kembali ke pantai, hingga akhirnya menjadi salah satu objek wisata di Banda Aceh.

Setengah jam kemudian perjalanan pun kami lanjutkan kembali ke Pelabuhan Ulee Lhuee untuk menuju Sabang. Sepanjang perjalanan, bekas kerusakan sisa tsunami nyaris tidak terlihat lagi, rumah-rumah sudah berdiri dan jalan sudah mulus kembali . Mendekati pelabuhan, tidak jauh dari bibir pantai terlihat Masjid Baiturrahim. Konon masjid ini adalah satu-satunya bangunan yang kokoh berdiri ketika tsunami memporak-porandakan Aceh. Sepertinya Allah SWT hendak menunjukkan kuasa dan rahasia-Nya melalui Masjid Baiturrahim yang selamat ditengah puing-puing yang hancur. Sekitar 5 menit dari Masjid Baiturrahim, tibalah kami di pelabuhan Ulee Lhuee dan langsung bergegas menuju ke dermaga, karena kapal cepat yang hendak saya naiki akan segera berangkat. Sebenarnya ada 2 jenis kapal yang berangkat dari pelabuhan Ulee Lhuee menuju ke Sabang. Yang pertama adalah kapal cepat yang berangkat 2 kali sehari, pagi dan sore, yang memakan waktu sekitar 45 menit – 1 jam dengan biaya 60-75 ribu rupiah. Kapal ini hanya dapat mengangkut manusia. Yang kedua adalah kapal lambat yang berukuran lebih besar, berangkat 3 kali sehari, memakan waktu 1.5 sampai 2 jam dengan biaya 18-36 ribu rupiah. Selain manusia, kapal ini juga dapat mengangkut mobil dan motor.

Setelah sekitar 1 jam menyeberang akhirnya sampailah saya di pelabuhan Balohan, Sabang. Sesuai petunjuk Om Yu, begitu turun dari kapal saya bergegas menuju ke angkutan umum untuk menuju ke Gapang, Iboih, dan Titik Nol Kilometer. Perjalanan di Sabang pun dimulai, kami melewati Sumur Tiga untuk menuju rute yang kami tempuh. Menurut Iwan, supir angkutan yang membawa saya, Sumur Tiga adalah lokasi populer terbaru untuk menyelam dan snorkeling. Setelah setengah jam perjalanan akhirnya tibalah kami di Gapang, untuk menaruh tas saya di penginapan. Tidak lama kemudian perjalanan dilanjutkan kembali ke Iboih. Iboih dan Gapang adalah lokasi yang terkenal di Sabang karena memiliki pantai dengan pasir putih, terumbu karang dan air yang sangat jernih. Dimana dari kedua lokasi ini kita dapat menuju ke pulau Rubiah menggunakan perahu yang memiliki kaca di tengahnya untuk menikmati keindahan alam bawah laut pulau Sabang, yang konon merupakan salah satu yang terindah di Indonesia, dengan biaya 100-150 ribu rupiah.

Puas di Iboih, perjalanan pun kami lanjutkan ke Tugu Kilometer Nol yang berjarak sekitar 8 kilometer. Tugu Kilometer Nol adalah tugu yang dibangun untuk menandakan pengukuhan titik nol kilometer Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang diresmikan tahun 1997 dan terletak di ujung pulau weh. Sesampainya di Tugu Kilometer Nol, saya langsung bergegas menuju ke atas tugu untuk melihat-lihat. Dalam perjalanan keatas Iwan sempat bertutur ke saya, jika tiba-tiba menjumpai sepasang babi hutan jangan takut karena babi hutan itu jinak. Babi hutan… Ya… Babi hutan kawan… Di sekitar tugu kilometer nol ini hidup sepasang babi hutan yang diberi nama Bawai dan Bebi, dimana bawai adalah pejantan dan bebi betinanya. Konon babi hutan tersebut menjadi jinak karena pengunjung asing suka memberikan makanan kepada keduanya, sehingga keduanya menjadi jinak dan kemunculannya tidak pernah mengganggu. Terus terang saya tidak terbayang apa yang akan saya lakukan jika sepasang babi hutan dengan bulu hitam seperti sapu ijuk itu tiba-tiba muncul di depan saya. Beruntung ketika saya disana babi hutan tersebut tidak muncul.

Setelah puas melihat-lihat diatas, Iwan mengajak saya menuju ke sebuah batu yang terletak di ujung pulau sabang. Sebuah batu yang menjorok dan langsung berbatasan dengan jurang yang dibawahnya pantai penuh batu-batu besar. Ia mengajak saya untuk berdiri diatas batu tersebut. Konon dari batu tersebutlah lokasi paling bagus untuk menikmati indahnya matahari terbenam, karena matahari akan tampak sangat dekat. Sayang ketika saya sampai di lokasi tersebut, masa-masa indah matahari terbenam sudah lewat, beruntung saya masih sempat melihat lembayung yang terlihat di ujung terbenamnya. Tidak lama setelah matahari menghilang berganti gelapnya malam, kami pun bergegas meninggalkan kilometer nol kembali ke Gapang. Ada yang sangat saya sayangkan di kilometer nol ini, karena saya mendapati tangan-tangan tidak bertanggung jawab yang mencorat-coret di sekitar kilometer nol. Sayang sekali keindahan matahari terbenam di kilometer ini dirusak oleh hal tersebut.

Di Gapang, saya mencoba menikmati ketenangan malam di pantai yang relatif masih perawan ini. Ketika sedang makan malam, samar-samar saya mendengar wisatawan asing dari italia dan perancis sedang membicarakan makna kata dari mamamia. Saya sempat berbincang-bincang sejenak dengan salah satu dari mereka dan dengan penjaga warung tempat saya makan. Ternyata umumnya para wisatawan asing menghabiskan waktu mingguan bahkan bulanan untuk menikmati keindahan alam bawah laut sabang yang menurut Guardian Magazine Inggris, merupakan salah satu dari 10 lokasi menyelam terbaik di dunia. Setelah hari semakin larut, saya pun kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Pagi hari sekitar pukul 7 pagi, saya langsung bergegas ke bibir pantai untuk menikmati keindahan alam bawah laut sabang. Saya memilih untuk melakukan snorkeling karena keterbatasan waktu. Dengan berbekal 40 ribu rupiah untuk snorkel, kaki katak, dan pelampung, saya pun sudah dapat menuju ke tengah pantai untuk menikmati keindahan laut. Keindahan laut memang benar-benar tergambarkan dari beraneka biota laut yang terdapat disini. Mulai dari Ikan Barracuda, Ikan Belut Muray, Ikan Nemo, Bintang Laut, Aneka Terumbu Karang, hingga ikan-ikan kecil lainnya yang hilir mudik membuat alam bawah laut seperti lukisan hidup. Setelah sekitar 2 jam menikmati alam bawah laut saya pun segera kembali ke penginapan untuk mandi, karena Iwan akan segera menjemput pukul 10 untuk membawa saya mengelilingi Sabang. Keindahan alam bawah laut sabang memang tidak diragukan lagi dan menurut saya akan lebih indah lagi apabila kawasan Iboih dan Gapang lebih tertata dengan baik dan sampah serta daun dari pohon yang berguguran bisa lebih dibersihkan lagi.

Tepat pukul 10 pagi, Iwan sudah muncul di depan penginapan sesuai janjinya. Dan kami pun segera bergegas meninggalkan penginapan. Yang pertama kali akan dilakukan adalah memberi makan kera-kera hutan. Untuk itu kami membeli dua sisir pisang. Sesampainya di lokasi, mobil kami berhentikan dan kami pun keluar dari mobil dengan membawa pisang. Tidak lama kemudian sekelompok kera berlarian ke arah kami. Pisang pun segera kami bagikan. Satu dua kera mencoba menggertak kami dengan suara dan bahasa tubuhnya dan seperti yang telah diajarkan Iwan, kami pun tetap diam meskipun kera tersebut menggertak. Dan tidak lama kemudian kera tersebut pun berbaur dengan kawan-kawannya. Menurut penilaian saya, gertakan ini terjadi karena kera tersebut tidak ingin ekosistemnya diganggu dan apabila ia merasa aman maka ia akan bersikap biasa kembali. Ada yang unik dalam pembagian pisang ini, karena kera-kera tersebut hanya mengambil masing-masing satu pisang untuk kemudian menyingkir dan memberikan kesempatan kepada kera lain untuk dapat menikmati pisang pemberian kami.

Setelah memberi makan kera, kami melanjutkan perjalanan untuk mengelilingi kota sabang. Dalam perjalanan, saya sempat bertanya kepada Iwan mengapa penduduk sabang banyak yang memelihara anjing. Ternyata tujuan mereka memelihara anjing adalah untuk berburu babi hutan. Karena selain bebi dan bawai, babi hutan disekitar sabang suka datang ke ladang penduduk dan merusak tanaman. Dan ketika datang, babi-babi tersebut bergerombol, paling sedikit 5 babi dan bahkan bisa sampai 15 babi. Untuk itulah anjing dibutuhkan. Agar kebun-kebun mereka tidak dirusak oleh kawanan babi tadi.

Dalam perjalanan ini Iwan juga bercerita, bagaimana hutan lindung benar-benar dijaga. Karena mereka tidak menginginkan hutannya rusak. Jadi aktifitas yang mengganggu hutan dilarang disini. Untuk menebang pohon dikawasan hutan lindung hanya dibolehkan untuk pohon yang telah mati, itupun setelah mendapatkan izin. Oleh karena itu apabila mereka mendengar suara mesin ditengah hutan lindung, maka mereka akan segera menghentikan dan menghukum orang tersebut. Itulah rahasia yang membuat hutan lindung di sabang benar-benar terjaga.

Pada kesempatan lain Iwan juga sempat bertutur, kalau dalam konflik yang sempat terjadi antara GAM dengan TNI, Sabang juga termasuk daerah yang bebas dari konflik dan kerusuhan karena penduduknya yang relatif kompak dan tidak menyukai kerusuhan. Dapat dikatakan sabang adalah salah satu wilayah paling aman di Nanggroe Aceh Darussalam saat Daerah Operasi Militer (DOM) dan saat konflik antara TNI dengan GAM terjadi. Bahkan setelah rekonsiliasi, Sabang pun tetap menjadi salah satu daerah yang paling aman dan damai di bumi serambi mekah.

Puas keliling kota sabang, maka kami pun berhenti sejenak di rumah makan yang menurut Iwan salah satu yang terenak di kota itu. Plik U dan Asam Keueng pun menjadi salah satu menu yang kami santap siang itu. Plik U adalah sayuran yang terbuat dari berbagai macam daun segar dengan kuah gulai yang terbuat dari kelapa yang telah dibusukkan dengan rasa yang sangat menggugah selera, sedangkan Asam Keueng adalah masakan ikan yang dimasak dengan asam keueng dan memiliki rasa asam pedas yang segar. Setelah menyantap makanan, kami pun bergegas menuju ke Balohan untuk mengejar kapal lambat menuju ke Ulee Lhuee.

Sesampainya di Balohan, saya langsung bergegas menuju ke kapal untuk menuju ke Ulee Lhue. Kesan akan masyarakat Aceh yang keras benar-benar terkikis habis selama saya berada di Sabang. Karena disini saya mendapati masyarakat Aceh yang ramah, jujur, dan murah senyum.

Sabtu, 09 April 2011

Berkunjung Ke Tanah Batak

Seperti yang sudah kami rencanakan 2 hari sebelumnya, hari sabtu awal april itu kami berencana untuk plesir ke Danau Toba. Sekitar jam 10 pagi, perjalanan kami menuju tanah batak dimulai dari Rantau Prapat, untuk kemudian melintasi Asahan, Batubara, Simalungun, Siantar, hingga akhirnya ke Tobasa, yang jika ditempuh tanpa berhenti akan memakan waktu 5-6 jam. Sawit yang membentang dari kebun satu ke kebun lain menghampar di sepanjang perjalanan dari Rantau Prapat hingga Batubara. Baru ketika memasuki Perdagangan, satu-dua hutan karet mulai terlihat di tepi jalan.

Ketika memasuki Siantar, yang berjarak sekitar 128 KM barat daya kota Medan, kami langsung bergegas ke destinasi pertama kami, Patung Dewi Kwan Im yang terdapat di Vihara Avalokiteswara. Patung ini sangat menarik karena dengan tinggi 22.8 meter, membuat patung dewi kasih sayang ini menjadi Patung Dewi Kwan Im tertinggi dan termegah di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara. Begitu tingginya membuat keanggunan patung ini langsung terlihat ketika kami akan memasuki komplek vihara. Nuansa Cina benar-benar terasa di vihara ini, mulai dari patung 12 shio yang terdapat di dekat tempat parkir, kuil, hingga patung Dewi Kwan Im yang dikawal 4 pengawal berbadan kekar dan 2 lonceng disekitar sang dewi.

Selesai dari Kuil tersebut, perjalanan kami lanjutkan ke destinasi utama, Danau Toba!! Dan setelah sekitar 1 jam perjalanan dari Siantar, akhirnya kami sampai di Danau Toba, danau terbesar di Indonesia dengan pemandangan yang menakjubkan membentang di hadapan. Kemudian kami mencoba keliling danau sejenak sebelum menuju hotel untuk bermalam dan beristirahat sejenak memandangi indahnya danau yang konon berasal dari kisah seorang pemuda bernama Toba yang menemukan ikan besar yang indah, dimana kemudian ikan tersebut berubah menjadi wanita cantik dan kemudian ia nikahi dengan syarat Toba harus menjaga asal usul wanita tersebut. Akan tetapi syarat ini dilanggar Toba ketika Samosir, anak perkawinan Toba dengan wanita tadi, memakan sebagian nasi yang hendak diberikan istri Toba kepada Toba, hingga terucaplah kata dari Toba, dasar anak ikan. Mendengar perkataan Toba kepada anaknya ketika Samosir pulang dan mengadu, sedihlah wanita itu. Kemudian sang anak berlari kedataran tinggi atas perintah ibunya, dimana sang ibu lari ke pinggir sungai dan melompat kedalamnya Berselang beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap kemana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir. Toba tidak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang kemudian hari dinamakan Danau Toba. Dan Pulau kecil ditengah-tengahnya diberi nama pulau Samosir.

Pagi hari, sebelum matahari benar-benar terik. Kami bergegas untuk segera ke tengah danau menggunakan perahu menuju ke Pulau Samosir, tepatnya Tomok. Sebelum ke Tomok, oleh nakhoda kapal kami disempatkan untuk melewati Tuktuk untuk kemudian singgah sebentar di Batu Gantung yang melegenda itu, yang menurut cerita rakyat merupakan bagian tubuh dari wanita cantik bernama Seruni. Dimana ketika itu Seruni sedang gundah gulana karena akan dinikahkan dengan sepupunya sementara ia sudah punya kekasih dan telah berjanji akan membina rumah tangga dengan kekasihnya. Diliputi rasa putus asa karena tidak sanggup berpisah dengan kekasihnya dan tidak ingin mengecewakan orang tuanya, Seruni kemudian berjalan kepinggir danau dan tanpa sengaja terperosok kedalam lubang. Awalnya seruni ketakutan karena gelapnya lubang tersebut, akan tetapi karena putus asa, Seruni kemudian memilih untuk mati dan kemudian berteriak ‘Parapat.. Parapat Batu.. Parapat’. Hingga sesaat kemudian terdengar suara gemuruh. Dan sesaat kemudian setelah gemuruh hilang, muncullah sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis yang dipercaya penjelmaan dari Seruni. Oleh karena Parapat sering diucapkan oleh orang yang menceritakan kejadian tersebut, maka daerah disekitar danau Toba disebut sebagai daerah Parapat. Ketika berhenti di Batu Gantung kami juga melihat beberapa ‘anak danau’ yang mencoba mengais rezeki dengan cara menyelam mengambil uang receh yang dilempar pengunjung kedalam danau.

Setelah dari Batu Gantung perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Tomok. Sesampainya di Tomok, kami disambut oleh tugu yang menggambarkan pasangan batak yang terdiri dari Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Karo, dan Batak Mandailing. Kami lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, ditengah perjalanan datanglah pemuda lokal yang menawarkan diri menjadi pemandu wisata dengan upah lima puluh ribu rupiah. Akan tetapi karena rekan saya mengetahui seluk beluk daerah ini, dengan halus kami tolak tawaran pemuda tersebut dan bergegas menuju Patung Sigale Gale. Yang konon Sigale Gale ini adalah anak Raja di Pulau Samosir, yang bernama Manggale. Namun kemudian meninggal dan orang tuanya masih belum dapat melepas kepergian anaknya tersebut. Maka untuk menghibur diri, mereka membuat replika anaknya tersebut. Boneka kayu itu dibuat dengan sedemikian rupa sehingga bisa digerakkan dari belakang oleh seseorang. Gerakan itu terjadi karena bagian lengan dan kepala dihubungkan dengan tali tersembunyi. Konon dahulu kala jumlah tali yang menggerakkan si Gale-gale itu sama dengan jumlah urat yang ada di tangan manusia.

Selepas dari Sigale Gale, kami mengunjungi makam Raja Sidabutar. Raja yang konon merupakan orang pertama yang menginjakkan kaki di Samosir. Dimana makam tertua adalah makam Raja Ompu Naibatu Sidabutar yang meninggal sekitar 460 tahun yang lalu. Semasa hidupnya, raja ini berpesan apabila kelak ia meninggal maka ia dimakamkan di dalam batu. Pada umur 115 tahun, raja ini meninggal kemudian mayatnya dibungkus dengan selendang batak yaitu ulos sibolang dengan warna biru – biru hitam. Dan sesudah tujuh hari maka ditanamlah satu pohon yang bernama pohon Ari Ara yang berarti pohon peringatan, pohon ini merupakan pohon yang sangat besar. Selain makam Raja Ompu Naibatu Sidabutar, makam lain yang terkenal diarea ini adalah makam Raja Ompu Soributu Sidabutar yang merupakan cucu dari Raja pertama tersebut. Sebagian besar dari Raja masih menganut kepercayaan Parmalin, hal ini ditandai dengan adanya kain yang berwarna Hitam, Merah, dan Putih diatas makam Raja yang menganut kepercayaan Parmalin.

Perjalanan selanjutnya adalah menuju ke Museum Batak Tomok. Museum ini berbentuk rumah adat Batak yang cukup indah. Memasuki ke dalam museum, nuansa megalitikum cukup terasa, hal ini ditandai dengan banyak batu maupun peninggalan masa lalu yang bercorak patung megalitukum. Beberapa alat yang tersisa juga menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat zaman dahulu yang sepertinya menggantungkan hidup dari berburu dan bercocok tanam.

Puas berkunjung dari satu tempat ke tempat lain, kami pun bergegas untuk kembali menyeberangi Danau Toba untuk kembali ke hotel. Dimana sebelum kembali kami menyempatkan membeli beberapa cinderamata khas seperti Kalender Batak, Sarung Harum, Ulos, Saur Ikat, dan kerajinan batak lainnya. Setelah istirahat sejenak, perjalanan pulang ke Rantau Prapat kami lanjutkan kembali. Untuk teman kami diperjalanan kami kembali membeli sesuatu yang khas, yaitu Mangga Udang dan Kacang Sihobuk. Sesampainya di Siantar, kami juga menyempatkan untuk membeli Roti Ganda yang sangat legendaris dan tersohor di Siantar. Kami kembali ke rumah dengan perasaan puas, senang, dan berkeinginan untuk kembali berkunjung menikmati indahnya Tanah Batak dan indahnya Danau Terbesar di Indonesia tercinta.

Minggu, 27 Maret 2011

Eksotisme Batik Sumatera

Sebagai orang Indonesia anda pasti sudah familiar dengan batik. Kain khas Indonesia dengan corak khas bernilai seni tinggi serta memiliki filosofi yang dalam yang di akui oleh UNESCO sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi sejak 2 Oktober 2009. Sebagian besar dari kita tentu sudah mengetahui mengetahui mengenai motif dan corak batik yang sebagian besar mengacu ke corak batik Jawa. Tidak salah memang karena batik yang selama ini populer di masyarakat adalah batik yang berasal dari pulau Jawa. Akan tetapi tahukah anda kalau di belahan pulau lain, tepatnya pulau Sumatera, juga memiliki corak batik yang khas dan tidak kalah eksotis? Untuk itu saya akan mencoba untuk berbagi sedikit yang saya tahu mengenai batik Sumatera semasa saya berkarya di Sumatera.

Meskipun tidak sepopuler di Jawa, Sumatera memang memiliki beraneka corak dan motif batik yang memiliki keunikan sendiri. Hampir di setiap propinsi di sumatera memiliki motif dan corak batik sendiri, mulai dari Batik Palembang, Batik Riau, Batik Tanah Liek Sumatera Barat, Batik Besurek Bengkulu, hingga Batik Jambi. Untuk mengetahui apa dan bagaimana ragam batik tersebut saya akan coba berbagi sedikit mengenai tiap-tiap batik.

Batik Palembang, dalam sejarahnya batik Palembang memang berasal dari Jawa sekitar 100 tahun yang lalu dengan motif yang telah mengalami adaptasi dengan budaya Palembang. Adapun motif batik Palembang di antaranya adalah kembang jepri, lasem, sisik ikan, gribik, encim, kembang, bakung, kerak mutung, sembagi, dan salahi. Selain motif diatas, terdapat motif baru yang sangat khas nuansa Palembangnya yaitu batik songket, yang memadukan motif songket kedalam kain batik.

Batik Riau, berdasarkan jejaknya batik Riau sudah ada sejak zaman Kerajaan Daek Lingga dan Kerajaan Siak dengan warna khas melayu yaitu kuning atau perak dan menggunakan tehnik cap. Awalnya batik ini hanya berkembang dikalangan kerajaan dan sempat tenggelam sekian lama. Baru pada sekitar tahun 1985, pemerintah daerah mengambil inisiatif untuk mengembangkan kembali batik khas Riau. Dari pengembangan motif tradisional yang ada diciptakan motif baru yang tak lari dari akarnya yaitu antara lain: Bungo Kesumbo, Bunga Tanjung, Bunga Cempaka, Bunga Matahari Kaluk Berlapis, dll. Umumnya motif diatas memiliki benang merah yaitu berbentuk garis memanjang seperti tabir. Karena motif yang seperti tabir itulah sehingga Batik Riau juga sering dibilang sebagai Batik Tabir.

Batik Tanah Liek Sumatera Barat, disebut batik tanah liek karena salah satu pewarnanya adalah tanak liek atau tanah liat. Selain tanah liek sumber pewarna lain untuk batik ini adalah kulit jengkol, kulit rambutan, gambir, kulit mahoni, daun jerame dan masih banyak akar-akar lainnya yang juga digunakan. Menurut sejarahnya batik tanah Liek berasal dari Cina yang dibawa oleh pedagang Cina dan hanya dibuat oleh beberapa pengrajin di tanah datar. Seperti juga batik Riau, batik tanah Liek juga sempat mengalami mati suri yang cukup lama, baru pada sekitar tahun 1990-an batik ini mulai kembali muncul setelah Wirda Hanim mencoba menggiatkan kembali batik Tanah Liek ini. Meskipun batik tanah liek sudah mulai kembali muncul ke permukaan, akan tetapi perkembangannya bisa dikatakan belumlah pesat, bahkan tidak sedikit orang minang, khususnya orang minang yang sudah lahir dan besar di perantauan yang tidak mengetahui tentang batik nenek moyangnya.

Batik Besurek Bengkulu, disebut batik besurek karena motifnya menyerupai kaligrafi huruf arab. Di beberapa kain, terutama untuk upacara adat, kain ini memang bertuliskan huruf Arab yang bisa dibaca. Tetapi, sebagian besar hanya berupa hiasan mirip huruf Arab. Selain motif kaligrafi, batik besurek Bengkulu juga memiliki motif lain seperti motif bunga raflesia, motif burung kuau, motif relung paku, motif rembulan, dan banyak lagi. Dilihat dari motifnya, maka batik besurek dapat dikatakan memiliki karakter dan motif yang khas dan sangat unik dibandingkan Batik lain di Indonesia yang hanya dapat dijumpai di Bengkulu. Sayang jika kita mencoba melacak mengenai asal muasal batik besurek ini, kita akan mengalami kesulitan untuk menemui literatur mengenai sejarah batik besurek. Dan juga disayangkan, karena kurang dilestarikan, jumlah pengrajin batik besurek juga terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu.

Batik Jambi, diantara semua jenis batik khas Sumatera, batik Jambi bisa dikatakan merupakan batik yang paling populer baik di ‘rumah’ sendiri maupun di luar propinsi Jambi. Menurut beberapa literatur, konon sekitar tahun 1857, Batik Jambi dibawa oleh keluarga Haji Muhibat dari Jawa Tengah. Sesuai perkembangan zaman, Batik Jambi telah memiliki kekhasan tersendiri dan dikembangkan oleh keluarga raja-raja Melayu Jambi, dimana setiap kerajaan memiliki motif tersendiri. Sehingga tidaklah mengherankan kalau sekarang tiap kabupaten memiliki motif tersendiri yang menambah keragaman dan keunikan motif batik Jambi. Dimana jika dilihat motifnya, terdapat lebih dari 100 jenis motif batik Jambi, seperti anca, kapal sanggat, duren pecah, sawit, perahu pencalang, karet, nagosari, burung punai, rotan, tampuk manggis, riang-riang, patola, dan lainnya. Beberapa literatur juga menyebutkan, kalau sejak tahun 1928 batik jambi sudah dikenal oleh dunia luar. Diprakarsai oleh Tuan Tassilo Adam, seorang etnolog dan fotografer, yang mengenalkan batik Jambi untuk pertama kali kepada Departemen Etnologi Institut Kolonial di Amsterdam. Pewarnaan batik Jambi diambil dari antara lain, kulit kayu bergetah dan daun jambu, daun mengkudu, serta daun mangga yang direbus dan memanfaatkan kulit kayu jelutung, kulit kayu bulian, kayu lempato, dan kulit kayu merbau, yang didapat dari hutan di Jambi. Untuk mencari Batik Jambi di Propinsi Jambi jauh lebih mudah dibandingkan mencari batik sumatera lainnya di propinsi masing-masing, karena banyaknya pengrajin Batik Jambi dan begitu membudayanya batik jambi di masyarakat Jambi.

Mungkin masih ada motif batik lain di Sumatera yang belum saya ketahui. Akan tetapi dari beberapa motif diatas, ternyata Batik Sumatera juga tidak kalah unik dan cukup eksotis bukan? Sudah menjadi kewajiban kita untuk ikut menjaga dan melestarikan budaya bangsa, apalagi ini budaya yang sudah diakui dunia. Jika anda peduli dan ingin eksotisme batik Sumatera tetap terjaga anda juga dapat membantu melestarikan. Cara yang paling mudah adalah dengan berbagi info mengenai batik sumatera, sedangkan cara lain yang menurut saya lebih efektif adalah dengan membeli produk batik tersebut dan mengajak orang lain untuk membeli produk batik tersebut. Jika bukan anak bangsa yang melestarikan, siapa lagi? Jangan menunggu bangsa lain mengklaim budaya kita bung…