Jumat, 17 Juli 2026

Peluang Ke Diri Sendiri

Sering kali
yang membuat hati
merasa sepi,
bukan karena
tak ada siapa-siapa.
Melainkan karena
ia terlalu jauh
dari dirinya sendiri.

Terlalu sibuk
mencari tempat
untuk diterima.
Terlalu lelah
mengejar
pengakuan manusia.
Hingga lupa,
bahwa ketenangan
bukan selalu ditemukan
di luar sana.

Ada yang harus
lebih dulu dipulangkan,
yaitu hati
kepada dirinya sendiri.
Kepada nilai-nilai
yang diyakininya.
Kepada tujuan
yang membuatnya tetap teguh.

Sebab hati
yang tak lagi mengenal
tempat pulangnya,
akan terus merasa
kurang,
meski dikelilingi
banyak manusia.

Namun ketika
ia telah berdamai
dengan dirinya,
kesendirian
tak lagi menakutkan,
dan kebersamaan
tak lagi menjadi
sesuatu yang harus dipaksakan.

Karena rumah
yang paling tenang,
sering kali
bukan sebuah tempat,
melainkan hati
yang telah menemukan
jalan pulangnya.

Hidup Hanya Sekali, Tetaplah Menjadi Orang Baik

Ada kalanya
kebaikan
terasa melelahkan.
Bukan karena
berbuat baik itu salah.
Melainkan karena
tak semua hati
mampu menghargainya.

Ada ketulusan
yang dibalas
dengan ketidakpedulian.
Ada kepercayaan
yang justru dimanfaatkan.
Lalu perlahan
muncul pertanyaan,
Masih pantaskah tetap menjadi orang baik?"

Barangkali,
dunia memang
tak selalu adil.
Namun jangan biarkan
cara dunia
mengubah cara
hatimu bertumbuh.
Sebab kebaikan
tak pernah kehilangan nilainya
hanya karena
tak mendapat tepuk tangan.

Mungkin kita
tak selalu mampu
melakukan hal-hal besar.
Namun satu perhatian,
satu senyum,
satu telinga
yang bersedia mendengar,
atau satu doa
yang diam-diam dipanjatkan,
boleh jadi
adalah alasan
seseorang kembali kuat
menjalani hidupnya.

Sering kali,
kita tak pernah tahu
sejauh mana
kebaikan kecil
menjangkau kehidupan orang lain.
Karena itu,
jangan terburu-buru
berhenti menjadi baik.
Bukan karena
semua orang
akan membalasnya.
Melainkan karena
kebaikan
adalah cara
menjaga hati
agar tetap hidup.

Jika manusia
tak mampu menghargainya,
biarlah.
Sebab tujuan
dari setiap kebaikan
bukanlah pujian.
Melainkan agar hati
tetap bersih
di hadapan
Yang Maha Melihat.

Mungkin dunia
akan membuatmu lelah.
Namun jangan biarkan
kelelahan itu
mengubahmu
menjadi seseorang
yang dulu
tak ingin kaujadi.

Sebab hidup
hanya sekali.
Dan rasanya
terlalu sayang
jika perjalanan yang singkat ini
dihabiskan
dengan kebencian.

Tetaplah menjadi
orang yang baik.
Bukan karena dunia
selalu pantas menerimanya.
Melainkan karena
hatimu pantas
tetap menjaganya.

Pelihara Syukur

Semoga hati
selalu cukup
dengan apa
yang telah dititipkan.
Mampu menikmati
bagian yang menjadi miliknya,
tanpa sibuk
menghitung
apa yang ada
di tangan orang lain.

Sebab setiap orang
memiliki rezeki,
waktu,
dan perjalanan
yang berbeda.
Apa yang tampak
lebih indah
di mata kita,
belum tentu
lebih ringan
untuk dijalani.

Maka peliharalah syukur.
Sebab hati
yang pandai bersyukur,
tak mudah
dikuasai iri.
Ia lebih senang
merawat apa yang dimiliki,
daripada gelisah
oleh apa yang dimiliki
orang lain.

Karena pada akhirnya,
ketenangan
sering lahir
bukan ketika
kita memiliki lebih banyak,
melainkan ketika
kita mampu
mencintai
bagian yang telah
dipercayakan kepada kita.

Jangan Merasa Tak Berarti

Mungkin,
kita terlalu sering
bertanya
tentang doa-doa
yang belum tiba.

Hingga lupa,
bahwa bisa jadi
kehadiran kita
sedang menjadi
jawaban
atas doa seseorang.

Langkah kecil
yang terasa biasa,
mungkin membawa
rezeki
ke meja makan
orang lain.

Percakapan singkat
yang hampir terlupa,
mungkin sedang
menguatkan hati
yang nyaris menyerah.

Senyum
yang diberikan
tanpa banyak pikir,
boleh jadi
menjadi alasan
seseorang percaya
bahwa dunia
masih menyimpan kebaikan.

Begitulah hidup.
Tidak semua
manfaat yang kita berikan
sempat kita ketahui.
Banyak di antaranya
bekerja dalam diam,
menyentuh kehidupan orang lain
tanpa pernah
kembali membawa kabar.

Maka jangan pernah
merasa
bahwa hidupmu
tidak berarti.
Sebab mungkin,
di saat engkau
sedang menunggu
doamu dipertemukan
dengan jawabannya,
Yang Maha Mengatur
sedang mengabulkan
doa orang lain
melalui kebaikan,
kehadiran,
dan langkah-langkah
yang engkau jalani
setiap hari.

Barangkali,
itulah salah satu cara
Yang Maha Pengasih
menjaga dunia,
melalui manusia
yang terus berbuat baik,
meski tak pernah tahu
siapa saja
yang sedang ditolongnya.

Bayangan

Dunia
sering kali
seperti bayangan.
Semakin dikejar
dengan hati yang gelisah,
semakin terasa
tak pernah benar-benar tergenggam.

Selalu ada
yang ingin ditambah.
Selalu ada
yang terasa kurang.
Dan tanpa sadar,
hidup habis
untuk mengejar
sesuatu yang terus menjauh.

Begitu pula dengan penyesalan.
Ia seperti bayangan
yang tak pernah selesai
dikejar.
Semakin lama
kita tinggal di masa lalu,
semakin jauh pula
ketenangan terasa.

Padahal waktu
tak pernah berjalan mundur.
Yang telah berlalu
tak dapat diulang.
Yang dapat dilakukan
hanyalah mengambil hikmahnya,
lalu melangkah
dengan hati yang lebih bijaksana.

Maka jangan habiskan hidup
untuk mengejar
hal-hal yang memang
tak bisa kembali.
Tataplah hari ini.
Syukuri apa yang masih ada.
Rawat apa yang masih dititipkan.

Karena sering kali,
ketika hati
tidak lagi sibuk mengejar
yang tak mungkin digenggam,
ia justru menemukan
ketenangan
yang selama ini
diam-diam dicarinya.