Bagaimana kaki belajar melangkah,
bagaimana kata-kata perlahan menemukan suara,
bagaimana tangan memegang sesuatu tanpa menjatuhkannya.
Mama mengajariku cara mengenal dunia,
cara bangun ketika terjatuh,
cara tersenyum meski hari
tidak selalu berjalan seperti yang kuinginkan.
Bahkan ketika aku sudah cukup besar
untuk berjalan sendiri,
rasanya ada bagian dari diriku
yang masih mencari tangan Mama
ketika jalan terasa terlalu panjang.
Namun ada satu hal
yang ternyata tidak pernah Mama ajarkan:
bagaimana caranya hidup tanpa Mama.
Mungkin karena bagi seorang anak,
kepergian Mama memang tidak pernah menjadi
sesuatu yang bisa dipelajari.
Rumah masih berdiri.
Pagi masih datang.
Hari masih berjalan seperti biasanya.
Hanya saja,
ada satu suara yang tidak lagi terdengar,
satu tempat yang terasa berbeda,
dan satu nama yang kini lebih sering kusebut dalam doa.
Mama telah mengajariku cara menjalani hidup.
Kini aku harus belajar sendiri bagaimana melanjutkannya
dengan rindu yang tidak selalu bisa kuceritakan.
Mungkin begitulah cinta seorang Mama tetap tinggal:
tidak lagi dalam genggaman,
tetapi dalam langkah-langkah yang pernah ia ajarkan.
Dan jika suatu hari nanti aku mampu berjalan lebih jauh,
semoga Mama tahu,
di setiap langkah itu ada sedikit jejak
yang berasal darinya.
Terima kasih, Mama.
Untuk semua yang telah Mama ajarkan.
Hanya satu yang masih sedang kupelajari:
bagaimana tetap berjalan
ketika tanganmu sudah tidak lagi bisa kugenggam.