Sabtu, 21 Maret 2026

Tentang Rumah

Rumah,

kadang tidak perlu dijelaskan.


Ia bukan hanya dinding

atau atap yang melindungi,

melainkan ruang yang diam-diam

menyimpan banyak hal

yang tak tergantikan.


Di sana,

waktu pernah berjalan

dengan sederhana

tawa yang tak dibuat-buat,

langkah yang akrab terdengar,

percakapan yang mungkin

dulu terasa biasa saja.


Namun perlahan,

semua itu berubah

menjadi sesuatu yang tinggal

lebih lama di dalam hati.


Seperti puisi

yang tidak selalu panjang,

tidak selalu indah di awal,

namun penuh makna

bagi yang pernah membacanya.


Dan rindu,

datang tanpa banyak suara

membuka kembali

halaman-halaman itu

yang pernah kita jalani.


Tiba-tiba saja

yang jauh terasa dekat,

yang lama terasa hangat.


Barangkali memang begitu

rumah tidak pernah benar-benar pergi.


Ia menetap

di dalam ingatan,

dan setiap kali rindu datang,

kita seperti kembali pulang,

meski hanya lewat rasa.

Silaturahmi

Di hari raya,

ada langkah-langkah

yang kembali diarahkan pulang.


Bukan hanya ke rumah,

tetapi ke hati

yang lama tidak disapa.


Silaturahmi hadir

dalam genggaman tangan,

dalam senyum yang saling menemukan,

dalam kata maaf

yang diucapkan dengan pelan

namun terasa dalam.


Ada jarak yang luruh,

ada rindu yang akhirnya

menemukan tempatnya.


Yang dulu mungkin sempat renggang,

perlahan dirajut kembali

tanpa banyak syarat,

hanya dengan niat

untuk saling mendekat.


Sebab hari raya

bukan sekadar perayaan,

melainkan waktu

untuk kembali mengingat

bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri.


Ada keluarga,

ada saudara,

ada hati-hati

yang tetap terhubung

meski sempat berjauhan.


Dan di antara semua itu,

silaturahmi menjadi cara sederhana

untuk saling menjaga

agar kebersamaan

tidak hanya datang sesaat,

tetapi tinggal

lebih lama di dalam hati.

Lebaran

Lebaran

tidak selalu menjadi hari yang ringan

bagi setiap orang.


Ada yang sudah kehilangan ayah,

ada yang telah lama merindukan ibu,

bahkan ada yang harus menerima

keduanya tak lagi ada,

dan ada yang pasangannya

sudah mendahului.


Ada yang belum bisa pulang,

ada yang menahan banyak keinginan,

ada pula yang diam-diam

merasa cemas

pada pertanyaan-pertanyaan

yang mungkin akan datang.


Tidak semua orang

merasa benar-benar bahagia

di hari ini.


Sebagian hanya berusaha

terlihat baik-baik saja,

tersenyum seperlunya,

sambil tetap merayakan

apa yang datang.


Maka jika hidup

sedang terasa ringan,

jagalah kata-kata.


Sebab tidak semua hal

perlu ditanyakan,

dan tidak semua hati

siap untuk menjawabnya.

Idul Fitri

Ketika hati kembali mencari tenang,

kata-kata sederhana

perlahan menemukan

maknanya yang paling dalam


Mohon maaf lahir dan batin.


Bukan sekadar ucapan,

melainkan niat yang pelan-pelan

ingin membersihkan hati,

dari hal-hal yang pernah singgah

namun belum sempat diselesaikan.


Jika ada kata

yang pernah melukai,

jika ada sikap

yang tanpa sadar menyisakan luka,

biarlah hari ini

menjadi ruang

untuk saling memaafkan.


Sebab tidak semua salah

sempat dijelaskan,

dan tidak semua rasa

mudah diungkapkan.


Namun dengan hati yang lebih lapang,

yang terasa berat

perlahan bisa dilepaskan.


Semoga yang tersisa

adalah ketulusan

dalam memberi maaf,

dan dalam memulai kembali

dengan langkah yang lebih ringan.


Selamat Idul Fitri,

Mohon maaf lahir dan batin

Taqobalallahu Minna Wa Minkum

Pulang

Ada perjalanan panjang

yang akhirnya bermuara

pada satu hal sederhana

pulang.


Di sana,

wajah-wajah yang dirindukan

menyambut dengan senyum

yang tidak pernah berubah.


Ada ayah,

ada ibu,

ada tawa yang kembali akrab

meski sempat terpisah jarak.


Di meja makan,

hidangan tersaji

dengan rasa yang tak pernah sama

di tempat lain

bukan hanya karena masakannya,

tetapi karena kebersamaan

yang menyertainya.


Dan tanpa banyak disadari,

lelah yang dibawa dari jauh

perlahan menghilang,

seperti diletakkan begitu saja

di depan pintu rumah.


Barangkali memang begitu

rumah tidak banyak bicara,

namun selalu tahu

bagaimana membuat hati

kembali utuh.


Tempat di mana

kita tidak perlu menjadi apa-apa,

cukup menjadi diri sendiri,

dan merasa cukup