Kamis, 01 Oktober 2026

Pulang Yang Terlambat

Soal ikhlas,
ternyata aku masih belajar membaca kehilangan.
Selama ini aku terlalu sibuk
mengejar jalan yang kupilih sendiri,
mengira rumah akan selalu ada di ujung perjalanan.

Aku lupa,
waktu diam-diam berjalan di antara pintu dan jendela,
membawa usia Mama sedikit demi sedikit.
Sampai suatu hari aku pulang,
dan rumah itu masih berdiri,
tetapi tidak lagi menjadi rumah seperti yang kukenal.

Tidak ada suara Mama yang memanggil namaku.
Tidak ada aroma masakan yang dulu membuat perjalanan pulang terasa lebih pendek.
Hanya ada ruang-ruang yang masih menyimpan jejakmu,
dan sebuah tubuh yang telah selesai dengan perjalanan panjangnya.

Kini aku hanya bisa datang
ke rumah Mama yang lain.
Tempat yang tidak lagi memiliki pintu untuk kubuka,
tetapi selalu memiliki jalan untuk doa-doaku.
Di sana aku menyebut namamu pelan-pelan,
seperti seseorang yang takut suaranya mengganggu istirahatmu.

Ma, ternyata yang paling berat
bukan kehilangan rumah untuk pulang,
melainkan menyadari bahwa dulu aku pernah memilikinya,
namun terlalu sibuk untuk benar-benar tinggal di dalamnya.
Ada peluk yang tertunda.
Ada kata sayang yang kusimpan untuk nanti.
Ada waktu yang kukira masih panjang.

Kini semuanya menjadi doa.
Semoga Allah menerima Mama dengan kasih sayang-Nya,
melapangkan tempat istirahatnya,
dan menjadikan rumah barunya jauh lebih indah
daripada rumah mana pun yang pernah kukenal.

Dan jika suatu hari rinduku kembali mengetuk pintu,
aku tahu ke mana harus pulang:
kepada doa,
kepada kenangan,
dan kepada Allah yang kini menjaga Mama
dengan cara yang tidak mampu kulihat.
Beristirahatlah dengan tenang, Ma.
Maaf,
aku baru benar-benar mengerti arti pulang
setelah rumah itu tidak lagi menungguku.

Untuk Mama, Terima Kasih Atas Segalanya

Aku tidak tahu ke mana hidup akan membawaku,
sejauh apa jalan ini akan berjalan,
atau di mana nanti langkahku berhenti.
Namun ada satu hal yang selalu aku tahu:
dari mana semua ini bermula.

Dari tangan Mama
yang dahulu sering terangkat dalam doa-doa panjang.
Dari wajah yang menyimpan cemas
setiap kali aku melangkah terlalu jauh.
Dari suara yang mungkin tidak selalu kudengar,
tetapi namaku selalu ada di dalam doanya.

Aku tumbuh dari cinta sederhana itu.
Dari tangan yang mengajariku berjalan,
dari pelukan yang membuat dunia terasa sedikit lebih aman,
dan dari doa Mama
yang diam-diam menjadi jalan bagi banyak langkahku.

Hari ini,
ketika Mama telah lebih dahulu menyelesaikan perjalanannya,
aku semakin mengerti betapa banyak bagian dari hidupku
yang tumbuh dari kasih Mama.
Mungkin tidak semua mimpi Mama sempat menjadi nyata.
Mungkin masih banyak cerita dan pencapaian
yang ingin kubawa pulang.

Namun aku akan terus berjalan.
Membawa kebaikan yang Mama tinggalkan.
Sebab jika kelak aku mampu
menjadi seseorang yang baik dan bermanfaat,
aku ingin percaya ada sedikit bagian dari Mama
yang terus hidup dalam langkahku.

Terima kasih, Ma,
untuk segala cinta yang dahulu terasa begitu biasa,
namun kini baru kusadari betapa berharganya.

Aku mungkin tidak akan pernah
mampu membalas semuanya.
Maka biarlah doa-doaku menjadi cara kecil
untuk terus mencintai Mama.
Beristirahatlah dengan tenang.

Aku akan melanjutkan langkahku sebaik yang aku mampu.
Dan setiap kali sampai pada sesuatu yang baik,
aku akan mengingat bahwa pernah ada seorang Mama
yang sejak awal menitipkan namaku
kepada Rabb Yang Maha Mengasihi.

Kini, izinkan aku menitipkan Mama kepada Yang Maha Mengasihi.
Agar dijaga dengan kasih sayang-Nya yang jauh lebih luas,
agar dosa dan khilafnya diampuni,
agar amal baiknya diterima,
agar dilapangkan tempat istirahatnya,
agar diterangi perjalanannya,
dan agar ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.

Jika dahulu ia tidak pernah lelah menjagaku
dengan doa-doanya,
maka kini aku memohon,
jagalah Mama lebih baik daripada aku pernah mampu menjaganya.
Semoga setiap doa yang kukirimkan
menjadi cahaya yang menemani Mama dalam perjalanan menuju-Mu.

Rabu, 30 September 2026

Beristirahatlah dengan Tenang, Mamaku Sayang

Hari ini,
Mama telah menyelesaikan perjalanan panjangnya.
Dan meski hati ini masih belum sepenuhnya
mampu menerima bahwa Mama telah pergi,
aku ingin menitipkan satu permohonan
kepada Rabb yang Maha Menyayangi.

Yaa Rabb,
semasa hidupnya,
Mama selalu berusaha membuatku bahagia.
Ia memberikan begitu banyak
yang bahkan mungkin tidak sempat
aku balas dengan cukup.

Maka kini,
ketika Mama telah kembali kepada-Mu,
kumohon,
balaslah segala kebaikannya
dengan kebahagiaan yang jauh lebih indah.

Yaa Rabb,
seperti Mama yang dahulu
menjagaku dengan segenap kekuatannya,
jagalah Mama dengan kasih sayang-Mu.
Temani perjalanannya,
lapangkan tempatnya,
dan berikan ketenangan yang tidak pernah berakhir.

Yaa Rabb,
seperti Mama yang selalu berusaha
memberikan yang terbaik untukku,
maka berikanlah yang terbaik pula untuknya.
Ampuni segala salah dan khilafnya,
terima seluruh amal baiknya,
dan tempatkan Mama di tempat terbaik di sisi-Mu.

Dan jika selama ini
doa Mama selalu lebih dahulu naik ke langit untukku,
hari ini izinkan aku mengirimkan doa untuknya.
Sampaikan kepada Mama,
bahwa anaknya ini akan baik-baik saja.
Mungkin akan ada hari-hari ketika aku sangat merindukannya.
Mungkin akan ada saat ketika aku masih ingin bercerita,
memanggil namanya,
atau sekadar mendengar suaranya.

Tetapi aku akan berusaha, sebaik yang aku mampu.
Aku akan melanjutkan hidup
dengan membawa segala kebaikan yang Mama ajarkan.
Menjaga apa yang Mama titipkan.
Dan berusaha menjadi seseorang
yang membuat Mama tersenyum
jika suatu hari nanti kami dipertemukan kembali.

Mama,
terima kasih untuk seluruh cinta
yang selama ini tidak pernah
meminta balasan.
Beristirahatlah dengan tenang.
Tidak perlu lagi khawatir tentangku.
Semoga Rabb menjagamu
lebih baik daripada aku pernah mampu menjagamu.

Semoga setiap doa
yang hari ini kami kirimkan
menjadi cahaya dalam perjalananmu.
Dan semoga kelak,
ketika waktunya tiba,
Allah mempertemukan kita kembali
di tempat yang tidak ada lagi
perpisahan.

Selamat beristirahat, Mama sayang.
Doaku akan selalu menemukan jalan menuju langit,
dan namamu akan selalu memiliki
tempat yang paling lembut
di dalam hatiku.

Selasa, 29 September 2026

Yang Menemukan Jalannya

Hidup adalah perjalanan panjang,
dan di sepanjang jalan itu,
ada banyak hal yang berjalan tanpa kita ketahui.
Ada pertemuan yang datang
seperti pagi membuka jendela.
Ada kehilangan yang membuat kita 
harus berjalan dengan langkah berbeda.
Ada pula jalan yang berbelok
tanpa pernah menjelaskan
mengapa kita harus melewatinya.

Kita sering ingin tahu
ke mana semuanya akan membawa kita.
Ingin memastikan
bahwa langkah hari ini tidak akan sia-sia.
Namun mungkin,
tidak semua yang penting
harus kita temukan dengan tergesa.

Ada hal-hal yang memang memiliki waktunya sendiri.
Seperti sungai yang tidak pernah 
salah menemukan laut,
meski harus melewati begitu banyak batu dan belokan.
Apa yang memang dituliskan
untuk menjadi bagian dari hidupmu
tidak akan kehilangan jalan.

Ia mungkin datang lebih lambat 
dari yang kauharapkan.
Mungkin melalui jalan
yang tidak pernah kaubayangkan.
Mungkin setelah beberapa pintu
sempat tertutup di hadapanmu.
Tetapi jika waktunya tiba,
ia akan menemukan jalannya.

Dan ketika akhirnya ia sampai di hadapanmu,
mungkin kau akan mengerti:
ternyata beberapa hal
tidak pernah benar-benar terlambat.
Ia hanya sedang berjalan menuju waktunya.

Seperti halnya dirimu,
yang mungkin hari ini masih berjalan tanpa tahu
ke mana arah akhirnya.
Teruslah melangkah.
Tidak semua jalan harus dipahami sejak awal.
Sebab ada sesuatu yang sedang mencari jalannya sendiri,
dan pada waktunya nanti,
kalian akan saling menemukan.

Hiduplah Bersama Mimpi

Hiduplah bersama mimpi-mimpimu
selagi masih ada waktu untuk mengejarnya.
Sebab hidup akan terus berjalan,
dan suatu hari mungkin kita memiliki tanggung jawab
yang membuat mimpi-mimpi itu harus menunggu.

Maka jika ada sesuatu yang ingin kau wujudkan,
jangan terlalu lama menundanya.
Kejarlah perlahan,
dengan langkah yang mampu kau tempuh.

Bukan karena semua mimpi harus segera menjadi nyata,
melainkan karena ada bagian dari hidup
yang memang perlu kita perjuangkan
sebelum keadaan memilihkan jalan untuk kita.

Sebab kelak,
mungkin kita tidak menyesal karena pernah mencoba.
Yang lebih berat adalah ketika kita menoleh ke belakang
dan bertanya,
mengapa dulu aku tidak pernah memberi diriku kesempatan?

Maka selagi masih bisa memilih,
beranilah melangkah.
Rawat mimpi-mimpimu dengan usaha,
sebelum kesibukan, kewajiban, dan keadaan
membuatmu lebih sibuk menjalani mimpi orang lain
daripada menghidupi mimpi 
yang pernah tumbuh di dalam dirimu sendiri.