Rabu, 10 Juni 2026

Tidak Semua Meminta Untuk Dipuji

Barangkali,
hal-hal yang paling indah dalam hidup
tidak selalu dapat dilihat oleh mata,
dan tidak selalu dapat didengar oleh telinga.

Ia tidak selalu datang dengan gemerlap,
tidak pula selalu hadir dengan suara yang riuh.
Kadang ia hanya berupa ketenangan
yang singgah setelah hari yang panjang.

Kadang ia berupa doa yang dijawab perlahan,
pelukan yang menenangkan,
atau kehadiran seseorang
yang membuat kita merasa tidak sendirian.

Dan anehnya,
hal-hal seperti itu
sering kali tidak banyak bercerita tentang dirinya.
Ia hanya datang,
lalu diam-diam membuat hati merasa cukup.

Lalu diam-diam membuat kita bersyukur
atas hal-hal yang selama ini mungkin luput kita sadari.

Sebab tidak semua yang baik
meminta untuk dipuji.
Tidak semua yang indah
harus dimiliki oleh banyak orang.

Ada yang cukup tinggal
di dalam rasa syukur,
di dalam ketulusan,
dan di dalam kasih sayang
yang tidak menuntut untuk selalu dimengerti.

Dan mungkin,
hal-hal terbaik dalam hidup ini
memang bukan yang paling mudah dilihat.
Melainkan yang paling lama tinggal
di dalam hati.

Seperti hujan yang telah berlalu,
namun kesejukannya
masih tertinggal pada daun-daun.

Seperti senja yang telah pergi,
namun kehangatannya
masih tersimpan dalam kenangan.

Dan seperti kebaikan-kebaikan kecil
yang tak banyak diketahui orang,
namun selalu menemukan jalannya
untuk membuat hati merasa cukup.

Selasa, 09 Juni 2026

Ampuni Dan Ajarkan Aku Yaa Rabb

Ya Rabb,
jika pernah, tanpa kusadari,
aku menjadi sebab seseorang memendam sedihnya terlalu lama,
atau membuat hatinya terluka karena kata-kata dan sikapku,
maka peluklah ia dengan kasih sayang-Mu yang luas.

Jika lisanku pernah keliru,
jika egoku pernah lebih besar daripada kelembutan,
dan jika aku pernah mengecewakan seseorang yang tidak pantas menerimanya,
maka ampunilah aku.

Lembutkan hatinya,
dan lembutkan pula hatiku.

Jangan biarkan ada luka yang menetap
hanya karena aku terlambat menyadarinya.

Dan jika ada yang tak sempat kuperbaiki,
jika ada maaf yang tak sempat terucap,
maka perbaikilah dengan rahmat-Mu
apa yang tak mampu dijangkau oleh tanganku.

Ajarkan aku
untuk lebih berhati-hati dalam berkata,
lebih lembut dalam bersikap,
dan lebih peka terhadap hati-hati yang Kau titipkan di sekelilingku.

Sebab Engkau mengetahui
hal-hal yang tak pernah diucapkan,
air mata yang tak pernah diperlihatkan,
dan luka yang disimpan dalam diam.

Maka sembuhkanlah.
Ampunilah.
Dan biarkan kami bertemu kembali,
dengan hati yang telah Kau lapangkan,
seperti hujan yang turun perlahan
lalu meninggalkan bumi dalam keadaan yang lebih tenang.

Sebab Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan,
dan kepada-Mulah segala hati pulang.

Menyediakan Ruang

Cakrawala terbentang tanpa batas,
mengapa ruang di dalam diri
harus begitu sempit?

Bukankah kita dipertemukan
dengan begitu banyak manusia,
begitu banyak cerita,
dan begitu banyak cara
untuk memandang kehidupan?

Tidak semua yang berbeda
harus dibantah.
Tidak semua yang tidak serupa
harus dipaksa menjadi sama.

Sebab setiap orang
bertumbuh dari tanah yang berbeda,
dibesarkan oleh pengalaman yang berbeda,
dan belajar dari luka
yang tidak selalu kita mengerti.

Maka tidak mengapa
jika pandangan kita tidak selalu sejalan.

Bukankah laut menerima
ribuan sungai yang datang
dari arah yang berbeda?

Dan bukankah pepohonan di hutan
tetap tumbuh berdampingan
meski tak ada satu daun pun
yang benar-benar sama?

Barangkali hidup memang tidak meminta kita
untuk memiliki pemikiran yang serupa.
Barangkali hidup hanya meminta kita
untuk tetap menyediakan ruang
bagi perbedaan,
bagi pemahaman,
dan bagi kemungkinan
bahwa kita pun masih bisa belajar
dari mereka yang tidak berjalan
dengan cara yang sama seperti kita.

Tetap Bertahan

Tak perlu banyak kata.
Diam pun tidak apa-apa.

Tak perlu memaksa diri terlihat kuat,
tak perlu memaksa senyum
jika hati masih terlalu lelah untuk itu.
Biarkan saja.

Ada hari-hari
yang memang hanya perlu dijalani,
bukan dijelaskan.

Cukup tetap ada.
Cukup bernapas.
Cukup melangkah,
meski pelan.

Sebab terkadang,
hal paling berani yang bisa dilakukan seseorang
bukan berlari,
melainkan tetap bertahan.

Dan meski tidak ada yang tahu
betapa berat yang sedang dipikul,
fakta bahwa kamu masih di sini,
masih mencoba melewati hari demi hari,
sudah mengatakan banyak hal.

Bahwa harapan itu belum pergi.
Ia mungkin tidak bersuara.
Tidak terlihat jelas.

Namun diam-diam,
ia masih tinggal di sana,
menemani langkahmu.

Senin, 08 Juni 2026

Nanti

Nanti, 
ketika kamu bertemu seseorang yang emosinya tenang,

kamu akan menyadari 
bahwa kenyamanan ternyata sesederhana merasa didengar.

Tidak perlu takut 
setiap percakapan berubah menjadi pertengkaran.
Tidak perlu cemas 
setiap perbedaan pendapat berakhir dengan saling melukai.

Bersamanya, 
kamu bisa menyampaikan isi hati tanpa merasa kecil.
Bisa menjelaskan tanpa harus membela diri terus-menerus.
Bisa melakukan kesalahan tanpa takut dihakimi.

Bukan karena ia selalu benar.
Tetapi karena ia memahami 
bahwa setiap manusia memiliki hari-hari yang sulit.

Ia juga bisa marah.
Ia juga bisa kecewa.

Namun ia tidak membiarkan 
emosinya mengambil alih cara ia memperlakukan orang lain.

Ia memilih menenangkan diri sebelum berbicara.
Memilih memahami sebelum menyimpulkan.
Dan memilih menyelesaikan masalah daripada memperbesar luka.

Saat bertemu orang seperti itu,
kamu akan mengerti bahwa ketenangan bukanlah sifat yang biasa saja.

Ia adalah tempat di mana orang lain merasa aman untuk menjadi manusia.