Sabtu, 02 Mei 2026

Sejatinya Hidup Kadang-Kadang

Sejatinya hidup berjalan bergantian.

Ada saat hati terasa bahagia,
lalu datang hari yang penuh sedih.
Ada waktu senyum terasa mudah,
dan ada waktu air mata jatuh diam-diam.

Kadang tubuh terasa kuat,
kadang perlu berhenti sejenak.
Kadang beraktifitas penuh energi,
kadang beristirahat di rumah sakit.
Kadang jalan terasa lapang,
kadang terasa sempit dan berat.

Tidak ada yang menetap selamanya.
Semua datang dan pergi,
mengisi hari dengan caranya.

Hidup tidak selalu indah,
namun juga tidak terus-menerus buruk.

Maka jalani saja perlahan,
nikmati yang hadir,
dan sabari yang belum sesuai.

Karena setiap fase punya waktunya,
dan semua akan berganti
pada gilirannya.

Hal Baik Dan Ujian Kesabaran

Kadang hal baik datang,
hadir membawa rasa yang menyenangkan.
Kadang juga hal yang tidak diharapkan muncul,
menguji kesabaran tanpa aba-aba.

Hidup memang berjalan seperti itu
tidak selalu sesuai keinginan,
tidak selalu mudah dipahami.

Yang bisa dijaga hanyalah sikap di dalamnya:
bersyukur saat kebaikan hadir,
dan bersabar saat keadaan terasa berat.

Ada hal-hal yang tak perlu diberi banyak ruang,
tak perlu dipikirkan terlalu dalam.
Cukup disadari, lalu dilewati perlahan.

Jaga apa yang baik tetap tinggal,
rawat hal-hal yang memberi makna.
Terus hadirkan kebaikan,
walau sederhana dan tanpa banyak suara.

Dan untuk yang tidak membawa arah,
biarkan ia berlalu begitu saja
tanpa harus diikuti,
tanpa harus disimpan,
dan dijalani dengan hati yang ikhlas

Sikap Yang Tetap Dijaga

kemarin
kita diajari
bahwa jika berbuat baik,
kebaikan akan kembali

seolah semuanya
berjalan lurus
tanpa jeda

hari ini
pelan-pelan kita mengerti

bahwa baik
bukan soal balasan

ia adalah sikap
yang tetap dijaga,
meski tak selalu
mendapatkan hal yang sama

sebab tidak semua
yang kita beri
akan kembali
dari arah yang kita harapkan

namun bukan berarti
ia hilang

ia hanya berpindah jalan,
menemukan waktunya sendiri
untuk kembali

maka tetaplah baik
bukan karena berharap dibalas,
melainkan karena itu
yang seharusnya dilakukan

dan tentang balasan—
biarkan ia menjadi
urusan Yang Maha Tahu
cara mengaturnya

Kamis, 30 April 2026

Tenang Di Dalam Badai

Ia tampak tenang di luar
ucapannya terukur,
langkahnya tetap rapi,
seolah tidak ada yang sedang terjadi.

Padahal di dalam,
kepalanya penuh oleh suara yang tak berhenti,
pikiran saling bertabrakan,
mencari jawaban
atas sesuatu yang terasa tidak adil.

Hatinya pun tidak benar-benar tenang.
Ada badai yang terus berputar,
menahan marah,
menahan luka,
menahan hal-hal
yang tidak sempat ia tunjukkan.

Orang lain melihatnya baik-baik saja,
mengira ia kuat tanpa celah.
Padahal yang terjadi
adalah ia sedang menahan semuanya
agar tidak runtuh di hadapan siapa pun.

Didzalimi tidak selalu terlihat jelas.
Tidak selalu terdengar keras.
Kadang justru tampak biasa saja,
namun di dalamnya penuh tekanan
yang tidak semua orang pahami.

Dan bertahan dalam keadaan seperti itu
bukan hal kecil.
Ia adalah perjuangan yang berat,
yang hanya benar-benar dimengerti
oleh yang menjalaninya sendiri
dan orang yang peduli dengannya.

Jangan Memilih Menjadi Medioker

jangan memilih menjadi medioker
sebab medioker
bukan sesuatu yang terjadi begitu saja
ia lahir
dari pilihan-pilihan kecil
yang diabaikan setiap hari

dari usaha yang ditunda
dari batas yang tak ingin dilewati
dari rasa cukup
yang datang terlalu cepat

menjadi lebih baik
memang tidak mudah
ia meminta kesungguhan
setiap waktu
menghadirkan lelah
bahkan kegagalan

namun di sanalah
pertumbuhan itu terjadi
sementara menjadi medioker
tak butuh banyak usaha

cukup berhenti
saat segalanya terasa cukup
cukup menghindari
apa yang terasa sulit

dan perlahan
diri itu tetap di tempat
tanpa benar-benar berkembang
maka pilihlah untuk melangkah
meski berat

berikan yang terbaik
meski tak selalu sempurna
sebab hidup ini
terlalu berharga
untuk dijalani
setengah-setengah

dan yang membedakan
bukan seberapa cepat sampai
melainkan
seberapa sungguh-sungguh
menjalani setiap langkahnya