Selasa, 12 Mei 2026

Jangan Remehkan Doa

Jangan remehkan doa
yang terucap pelan 
di waktu-waktu orang sedang terlelap. 

Ia mungkin tak terdengar 
oleh manusia, 
namun tidak pernah luput 
dari yang Maha Mendengar.

Seperti anak panah 
yang dilepas di malam hari. 
Ia melesat tanpa terlihat, 
namun tak pernah salah arah. 
Hanya saja ia memiliki 
waktunya sendiri untuk sampai. 
Dan setiap waktu punya akhirnya.

Maka jangan gantungkan harap 
pada pintu-pintu yang mudah tertutup. 
Mintalah pada Dia yang selalu terbuka,
tanpa lelah dan tanpa bosan.

Sebab manusia kadang 
enggan diminta, 
bahkan bisa berpaling. 
Namun Dia justru mencintai 
hamba yang datang memohon. 

Dan ketika hati bertanya 
seberapa dekat Ia. 
Jawabnya ada dalam setiap doa 
yang diangkat dengan tulus. 
Bahwa Ia dekat, 
lebih dekat dari yang disangka, 
mendengar, 
dan mengabulkan 
dengan cara yang paling tepat.

Doa bukan sekadar harap, 
ia adalah kekuatan 
yang menolak yang buruk, 
dan yang meringankan yang berat. 

Kadang mengubah arah 
dan kadang menguatkan langkah. 
Dan di sanalah kita belajar percaya, 
bahwa tak semua yang terlihat 
adalah satu-satunya jalan.

Sebab selalu ada yang bekerja dalam diam, 
melalui doa yang tak pernah sia-sia.

Senin, 11 Mei 2026

Belajar Bukan Siapa-Siapa

Aku sedang belajar
merasa bukan siapa-siapa,
merasa belum cukup,
belum sepenuhnya layak.
Dan perlahan aku mengerti,
bahwa rasa belum layak
tidak selalu buruk.

Kadang ia hadir
untuk menjaga hati tetap rendah,
agar tidak mudah merasa paling baik,
dan agar tetap sadar
bahwa diri ini masih harus belajar.

Namun aku juga belajar
untuk tidak menunggu sempurna
baru mulai melangkah.
Karena jika terus menunggu tanpa cela,
yang tumbuh hanya keraguan
dan penundaan.

Ternyata keberanian
tidak selalu datang dari rasa yakin.
Kadang ia lahir
saat hati masih takut,
namun tetap memilih berjalan.

Dan langkah kecil yang jujur
lebih berarti
daripada diam
dengan rasa percaya diri yang semu.

Aku percaya,
ukuran Sang Pencipta
tidak selalu sama
dengan ukuran manusia.
Apa yang terlihat kecil di mata dunia,
bisa saja bernilai besar di hadapan-Nya.

Karena yang dilihat
bukan hanya hasil akhirnya,
melainkan hati
yang terus berusaha menjadi lebih baik.

Merawat Pekerjaan

Pernah terpikir,
pekerjaan yang dijalani hari ini
yang mungkin terasa biasa,
atau bahkan melelahkan
adalah sesuatu yang diam-diam
diinginkan oleh orang lain.

Ada yang pernah mencoba,
pernah berusaha dengan sungguh-sungguh,
mengetuk banyak pintu,
menunggu dengan penuh harap
namun kesempatan
belum juga singgah di tempatnya.

Sementara yang kini ada di genggaman,
sering kali terasa ringan nilainya,
hanya karena sudah terbiasa dijalani.

Padahal di balik itu,
ada rezeki yang mengalir,
ada kebutuhan yang terpenuhi,
ada peran yang tetap berarti.

Maka jangan dipandang sekadar rutinitas,
jangan disikapi dengan keluh yang berlebihan.

Rawat dengan rasa syukur,
jalani dengan sungguh-sungguh,
dan hargai setiap prosesnya.

Sebab tidak semua orang
diberi kesempatan yang sama
dan tidak semua yang menunggu
akhirnya bisa merasakan.

Menutup Dengan Kebaikan

segelap apa pun masa lalu
setiap diri
diam-diam ingin menutupnya
dengan kebaikan
berharap
yang akan datang
lebih lapang
lebih terang

maka tak perlu membuka
apa yang orang lain
ingin simpan rapat
bukankah setiap hati
punya cerita
yang tak ingin diulang
atau diperdengarkan kembali

biarlah yang telah lalu
menjadi urusan antara dirinya
dan Yang Maha Mengetahui
dan untuk hati
yang masih terasa lelah
yang sesekali kembali
pada bayang-bayang lama
tenangkanlah perlahan

tak semua harus diselesaikan
dalam satu waktu
ada yang cukup
diserahkan
ada yang cukup
dipercayakan

sementara diri melangkah
melakukan yang mampu
kebaikan demi kebaikan
meski kecil
meski sederhana
biarkan sisanya
ditata oleh-Nya

sebab yang mengatur masa depan
bukan hanya usaha
melainkan juga kehendak
yang selalu tahu
apa yang terbaik

maka tetap berjalan
meski pelan
dan percaya
bahwa yang diperbaiki hari ini
akan menjadi jawaban
untuk hari esok

Minggu, 10 Mei 2026

Peran

Dalam hidup ini,
setiap orang datang
dengan perannya masing-masing.

Ada yang dilahirkan
untuk menghadapi banyak badai,
melewati jalan yang tidak mudah,
dan belajar kuat
dari hal-hal yang pernah menjatuhkannya.

Ada yang hadir
untuk berjalan di sampingnya,
menjadi tenang
di tengah gelombang,
menjadi tempat pulang
saat dunia terasa melelahkan.

Ada pula yang hanya melihat,
mendengar,
lalu diam-diam belajar
dari setiap cerita
yang ia saksikan.

Sebab hidup memang begitu
setiap orang membawa perjalanan yang berbeda,
dengan waktunya sendiri-sendiri.

Tidak semua harus berada
di titik yang sama.
Tidak semua harus memahami
jalan yang sedang dilalui orang lain.

Kadang seseorang sedang diuji
agar hatinya tumbuh lebih kuat.
Kadang seseorang dipertemukan
agar belajar tentang sabar,
tentang ikhlas,
atau tentang arti hadir bagi sesama.

Dan anehnya,
hal-hal yang dulu terasa berat
sering kali baru dipahami maknanya
setelah waktu berlalu.

Begitulah hidup berjalan.
Ada yang datang untuk menguatkan,
ada yang datang untuk mengajarkan,
ada pula yang hadir
sekadar meninggalkan pelajaran
yang tak terlupakan.

Namun tidak ada yang benar-benar sia-sia.
Semua punya tempatnya,
punya waktunya,
punya perannya masing-masing.

Dan di antara semua yang terjadi,
kita hanya sedang belajar
menjalani bagian hidup
yang telah ditetapkan untuk kita.