Minggu, 12 April 2026

Selamat Istirahat

 selamat beristirahat,

bagi yang masih pelan-pelan

mencoba memejamkan mata


malam tidak selalu membawa tenang,

kadang ia hanya memberi ruang

untuk segala yang belum selesai


jika bisa,

maafkanlah manusia

mereka pun berjalan

dengan luka yang tidak selalu tampak


maafkan pula keadaan,

yang sejak awal

tak pernah berjanji akan sempurna


memang tidak mudah

melepaskan yang sempat menyakitkan,

namun menyimpannya terlalu lama

sering kali lebih melelahkan


sebab yang dipikul diam-diam itu

bukan hanya tentang apa yang terjadi,

melainkan tentang

yang belum selesai di dalam diri


barangkali pulang

bukan sekadar kembali ke tempat,

melainkan saat hati

tidak lagi menggenggam luka

terlalu erat


dan di situlah,

perlahan terasa

apa arti pulang yang sebenarnya


selamat beristirahat,

semoga yang lelah

diberi cara untuk reda

Pelukan Malam

mungkin terang tetap dicari

namun malam sering kali lebih memahami


bukan karena gelapnya

melainkan karena sunyinya

ketika keramaian menjauh

dan dunia perlahan menjadi tenang


tak ada tuntutan

tak ada suara yang mendesak

hanya ruang yang lapang

untuk membiarkan pikiran

berjalan tanpa arah yang dipaksa


langit yang gelap terbentang

seperti pelukan yang diam

menyisakan rasa yang teduh

meski tanpa kata


di sana

tak ada yang menilai

tak ada yang menuntut


bulan hanya hadir

tanpa meminta penjelasan

membiarkan napas kembali teratur

membiarkan diri

menjadi sebagaimana adanya


dan dalam keheningan itu

ada sesuatu yang pelan-pelan pulih


sebuah rasa cukup

yang tak perlu dicari ke mana-mana


cukup dengan diam

dan membiarkan semuanya

berada pada tempatnya

Untuk Pertama Kali

Kita semua

sedang menjalani hidup ini

untuk pertama kalinya.


Tak heran

jika sesekali terasa berantakan,

tak selalu jelas arahnya,

dan penuh ragu di banyak langkah.


Sebab tak ada yang benar-benar tahu

cara yang paling tepat

untuk melalui semuanya

kita hanya belajar,

pelan-pelan,

sambil terus berjalan.


Kadang lelah,

kadang ingin berhenti sejenak,

namun itu pun bagian

dari proses menjadi lebih mengerti.


Maka tak perlu terlalu keras

pada diri sendiri.


Tak apa jika belum sempurna,

tak apa jika masih mencari.

Selama hati tetap mau bertumbuh,

dan langkah tak benar-benar berhenti

itu sudah lebih dari cukup.

Tidak Ada Ujian Yang Tinggal Selamanya

untuk yang sedang berjalan

di masa yang terasa berat


tetaplah bertahan

meski pelan


sebab tidak ada ujian

yang tinggal selamanya


ia datang

membawa batasnya sendiri

sebagaimana waktu

yang juga punya akhir


seperti hujan

yang turun deras

dan seakan tak ingin berhenti


namun pada waktunya

ia akan reda

meninggalkan tenang

yang tak sama seperti sebelumnya


maka bersabarlah

bukan karena mudah

melainkan karena yakin

bahwa semua ini

akan sampai pada ujungnya


dan di sana

akan ada makna

yang perlahan dipahami


meski hari ini

belum sepenuhnya terlihat 

Sunyi Yang Terlalu Ramai

Tubuhmu ada di sini,

duduk, berjalan, menatap hari.

Namun pikiranmu terus pulang ke kemarin,

atau berlari ke esok yang belum tentu datang.


Ia tidak memukul dengan keras.

Ia hanya membuat dada terasa penuh,

napas lebih pendek,

dan malam menjadi lebih panjang dari biasanya.


Saat pikiran terus mengulang,

menimbang kemungkinan terburuk,

mencari jawaban dari hal-hal yang belum terjadi,

tubuh mengira ada bahaya.

Padahal yang datang hanya bayangan.


Sering kali ia muncul ketika lelah,

ketika kehilangan sesuatu,

atau saat hidup terasa tidak pasti.

Kita ingin memastikan semuanya aman.

Kita ingin tidak salah langkah.


Namun semakin dikendalikan,

ia justru semakin mengikat.


Barangkali yang dibutuhkan

bukan memaksa pikiran berhenti.

Bukan juga menyalahkan diri sendiri.


Cukup kembali pelan-pelan.

Kembali pada napas yang sedang masuk dan keluar.

Kembali pada detik yang sedang berjalan.

Kembali pada hidup yang nyata,

yang sedang ada di genggaman hari ini.


Karena tidak semua hal harus dijawab sekarang.

Dan tidak semua kemungkinan

perlu dipikirkan sampai habis.