Kamis, 23 Juli 2026

Dua Keadaan

Seseorang
tak benar-benar dikenal
dari apa
yang dimilikinya.
Melainkan dari
cara ia menjalani
dua keadaan
yang berbeda.

Yang pertama,
ketika hidup
belum menghadirkan
apa yang diharapkan.
Masihkah ia
bersabar,
tetap berikhtiar,
dan menjaga hatinya
dari putus asa?

Yang kedua,
ketika kehidupan
melimpahkan
begitu banyak nikmat.
Masihkah ia
rendah hati,
tetap menghargai orang lain,
dan tidak lupa
dari mana
semuanya berasal?

Sebab kekurangan
mengajarkan kesabaran.
Sedangkan kelapangan
menguji kerendahan hati.

Dan sering kali,
bukan apa
yang kita miliki
yang menunjukkan
siapa diri kita.

Melainkan
cara kita bersikap
ketika kehilangan,
dan cara kita
tetap membumi
ketika memiliki.

Tetap Bergerak Maju

Tidak semua
hal berjalan
sesuai harapan.
Ada kalanya
bukan keadaan
yang berubah,
melainkan kita
yang belajar
menyesuaikan langkah.

Bukan karena
kehilangan tujuan.
Melainkan karena
memahami,
bahwa jalan hidup
tak selalu lurus
seperti yang direncanakan.

Namun apa pun
yang sedang dihadapi,
jangan berhenti
berusaha.
Jangan lelah
melangkah.

Sebab selama
kaki masih bergerak
dan hati
masih menyimpan harapan,
selalu ada
kemungkinan
untuk menemukan
jalan yang lebih baik.

Pelan-pelan saja.
Yang terpenting
bukan seberapa cepat
kita sampai,
melainkan
tetap memilih
bergerak maju,
meski dengan
langkah yang sederhana.

Selamat pagi dan semangat beraktifitas.

Memilih Jadi Baik

Ada seseorang
yang tetap memilih
menjadi baik,
meski hidup
berulang kali
mengajarinya
tentang kecewa.

Langkahnya
tidak sampai di titik ini
dengan mudah.
Ada lelah
yang tak pernah
diceritakan.
Ada luka
yang dipulihkan
pelan-pelan.
Ada doa
yang hanya
Yang Maha Kuasa
yang mengetahuinya.

Pernah ada masa
ketika arah
terasa samar,
dan harapan
nyaris kehilangan
cahayanya.

Namun waktu
tidak membuatnya
menjadi keras.
Justru dari semua
yang telah dilalui,
ia belajar
menjadi seseorang
yang tetap menghadirkan
kebaikan.

Tetap menjaga
akhlaknya.
Tetap menjadi
alasan
bagi orang lain
untuk percaya
bahwa dunia
masih menyimpan
ketulusan.

Betapa indahnya,
ketika luka
tidak diwariskan
menjadi luka yang baru,
melainkan diubah
menjadi kasih,
pengertian,
dan kepedulian.

Barangkali,
itulah salah satu
cara-Nya
menumbuhkan seorang hamba.

Bukan dengan
menghilangkan badai,
melainkan dengan
menguatkan hati
agar tetap memilih
jalan yang baik
di tengah badai.

Maka teruslah melangkah.
Sebab setiap langkah
yang dijaga
dengan ikhtiar
dan keyakinan,
tak akan pernah
sia-sia
di hadapan
Yang Maha Mengetahui.

Dan sering kali,
kebaikan terbesar
datang bukan
setelah semua luka hilang,
melainkan ketika
hati telah belajar
melihat hikmah
di balik setiap
takdir yang dijalani.

Korupsi

Korupsi tidak lahir tiba-tiba.
Ia tumbuh pelan-pelan,
di rumah yang hangat,
di meja makan,
di percakapan yang kita anggap biasa.

Ucapan kecil tentang menaikkan angka,
tentang mencari jalan pintas,
tentang bantuan orang dalam—
terdengar sepele.
Namun seorang anak merekamnya diam-diam.
Ia belajar bahwa celah
adalah bagian dari cara hidup.

Ia tumbuh menjadi dewasa
yang pandai berkelit di antara batas.
Bukan karena ia tak tahu benar dan salah,
melainkan karena sejak awal
hasil sering diletakkan lebih tinggi daripada cara.

Lalu kita heran
ketika ia tergelincir lebih jauh.
Padahal benihnya
pernah ditanam bersama tawa ringan
di ruang keluarga.

Korupsi jarang dimulai dari angka besar.
Ia bermula dari pembenaran kecil
yang diberi nama demi kebaikan.

Jika ingin perubahan,
barangkali yang perlu dibenahi
bukan hanya hukum dan gedung-gedung tinggi,
melainkan cara kita berbicara di rumah.

Ajarkan bahwa jujur meski pelan
tetap lebih teduh daripada cepat yang mengorbankan hati.

Dan bila masa lalu tak sepenuhnya bersih,
hari ini selalu ada kesempatan
untuk memilih langkah yang lebih lurus—
meski harus ditempuh dengan lebih sabar.

Selasa, 21 Juli 2026

Mencoba Memahami

Kita mudah menilai pilihan seseorang.
Padahal,
kita tak pernah benar-benar tahu
pilihan apa saja yang tersedia di hadapannya.

Kita hanya melihat keputusannya.
Bukan ketakutan 
yang ia sembunyikan.
Bukan doa-doa 
yang berkali-kali ia panjatkan.
Bukan pula kehilangan
yang telah ia terima.

Barangkali,
apa yang tampak 
sebagai pilihan yang keliru,
adalah jalan
yang paling mampu
ia tempuh pada saat itu.

Sebab setiap orang
sedang memikul ceritanya sendiri.
Ada yang berjuang melawan luka.
Ada yang bertahan di bawah tekanan.
Ada yang memilih diam,
karena lelah menjelaskan.

Maka sebelum tergesa-gesa menilai,
cobalah memahami.
Sebelum menghakimi,
belajarlah berlapang hati.
Karena kita tak pernah benar-benar
menjalani kehidupan mereka.

Namun kita selalu memiliki
pilihan untuk bersikap lebih lembut,
dan menghadirkan kasih
di tempat yang sering kali
terlalu cepat dipenuhi penilaian.