Minggu, 15 Maret 2026

Langka Seperti Oase

Berhentilah menjelaskan dirimu 

kepada mereka yang memang tak ingin mengerti.


Ada hal-hal yang hanya dipahami oleh jiwa 

yang lapangnya sebanding dengan luka-lukamu. 


Dan bukan kewajibanmu membuat semua orang paham 

mengapa kamu menjaga diri, 

mengapa kamu berhenti bertahan, 

atau mengapa kamu memilih pergi.


Hargai mereka yang hadirnya menenangkan, 

yang meminjamkan bahu 

tanpa membuatmu merasa berhutang, 

yang tinggal bukan karena butuh sesuatu, 

melainkan karena ingin melihatmu baik-baik saja.


Mereka sedikit. 

Langka seperti oase.


Selain mereka, 

biarkan saja menjauh. 

Jangan menagih kesetiaan 

dari hati yang tak pernah berniat tinggal. 

Jangan meminta pengertian 

dari jiwa yang sibuk dengan dirinya sendiri.


Tidak semua orang jahat. 

Sebagian hanya memang bukan bagian dari perjalananmu.


Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan 

pada yang tak menghargai hadirmu, 

terlalu berharga untuk diberikan 

pada yang hanya mengisi ruang, 

namun tak pernah mengisi hati.

Selama Mereka Ada

Hidup rasanya

akan baik-baik saja

selama masih bisa melihat

senyum orang tua.


Senyum yang sederhana itu

seringkali lebih menenangkan

daripada banyak kabar baik

yang datang dari mana-mana.


Ada rasa teduh

yang sulit dijelaskan

seolah dunia yang ramai ini

menjadi sedikit lebih ramah

ketika melihat mereka tersenyum.


Selama mereka masih ada,

selama doa mereka

masih diam-diam menyertai langkah,

banyak hal terasa

tidak terlalu berat untuk dijalani.


Barangkali memang begitu

kadang yang membuat hidup terasa cukup

bukanlah hal-hal besar,

melainkan kenyataan sederhana

bahwa orang tua masih bisa tersenyum

melihat kita pulang.

Badai dan Lembaran Baru

 Akhir-akhir ini

hari-hari mungkin terasa tidak mudah.


Ada banyak hal

yang datang seperti badai

menguji kesabaran,

menguras pikiran,

dan kadang membuat hati

menyimpan lebih banyak

daripada yang bisa diucapkan.


Ada keadaan

yang menempatkan kita

di ruang yang tidak selalu nyaman,

membuat langkah terasa

lebih berat dari biasanya.


Namun di tengah semua itu,

tetap ada orang-orang

yang dengan tulus hadir.


Yang dalam sunyinya

menyisipkan doa-doa baik,

yang berharap kamu perlahan

menemukan kembali tenangmu,

yang menunggu

hari-harimu terasa lebih ringan.


Ada juga yang sesekali

mengingatkan dengan cara sederhana

agar kamu tidak terlalu keras

pada dirimu sendiri

agar kamu menyayangi tubuhmu.


Dan  ada harap

agar suatu saat nanti

kamu bisa tersenyum lagi

dengan tulus seperti biasanya.


Selamat menikmati akhir pekan.

Biarkan hari-hari ini

menjadi ruang untuk bernapas.


Besok kita akan membuka

lembar baru yang lebih baik lagi

pelan-pelan saja,

selangkah demi selangkah

Rumah

Rumah, 

barangkali, 

bukan sekadar bangunan yang diberi dinding, 

jendela, 

dan pintu.


Ia tidak selalu berdiri dari batu dan kayu, 

tidak selalu berada di alamat yang bisa ditulis.


Rumah lebih mirip udara yang tenang, 

tempat kita bernapas tanpa rasa cemas, 

tempat kita boleh menjadi diri sendiri 

tanpa takut ditimbang oleh penilaian.


Di sana, 

lelah boleh duduk sebentar. 

Cerita boleh jatuh satu per satu 

tanpa harus disusun rapi. 

Bahkan diam pun tetap dipahami.


Sebab rumah yang sesungguhnya 

bukan sekadar tempat untuk kembali, 

melainkan suasana yang membuat hati 

merasa tidak perlu pergi.

Ketidakpastian

Dulu, 

aku kira ketidakpastian 

hanya singgah sebentar. 


Nanti juga jalan hidup akan jelas. 

Bukankah kita semua menginginkan itu? 

Pekerjaan yang pasti, 

masa depan yang terbayang, 

hidup yang terasa bisa dikendalikan. 

Sebab dengan kejelasan 

hati terasa lebih tenang.


Namun hidup selalu punya caranya sendiri.


Di saat semuanya terlihat rapi, 

tiba-tiba datang sesuatu 

yang tak kita duga. 


Rencana berubah arah. 

Hari-hari menjadi penuh tanya. 

Dan kita hanya bisa berkata pelan: 

apa lagi yang harus kulakukan?


Mungkin di situlah hidup sedang mengingatkan, 

bahwa terlalu lama berdiri di tempat yang pasti 

kadang membuat kita lupa untuk terus belajar, 

terus mempersiapkan diri, 

terus bertumbuh. 


Maka ketidakpastian tidak selalu datang 

untuk menghancurkan.


Kadang ia hanya mengetuk pelan, 

mengatakan bahwa perjalanan belum selesai. 

Masih ada yang perlu dipelajari. 

Masih ada yang perlu dibangun. 

Dan kita pun kembali berjalan, pelan-pelan.