Kamis, 19 Maret 2026

Menjaga Ruang

Hari raya

bukanlah panggung

untuk mengusik luka

yang tidak terlihat.


Bukan pula waktu

untuk menanyakan

hal-hal yang masih diam-diam

diperjuangkan dalam doa


tentang jodoh

yang belum dipertemukan,

tentang anak

yang belum dititipkan,

atau rezeki

yang waktunya masih dirahasiakan.


Sebab di balik senyum

di meja silaturahmi,

ada hati

yang sedang belajar ikhlas,

ada harap

yang masih digenggam

dalam sujud panjang.


Maka biarlah hari raya

cukup menjadi ruang

untuk saling merangkul,

saling memaafkan,

dan menghangatkan kebersamaan


tanpa membuka kembali

luka

yang sedang seseorang rawat

dalam diam.

Tidak Perlu Ramai

Ada hati-hati yang tidak mencari kebahagiaan

di keramaian yang riuh.


Ia justru menemukannya

dalam percakapan yang pelan,

dalam keheningan yang nyaman,

dalam momen-momen kecil

yang terasa sangat personal.


Bukan pada gemuruh yang besar,

melainkan pada hal-hal sederhana

tatapan yang mengerti,

kehadiran yang tidak banyak kata,

namun terasa cukup.


Sebab bagi sebagian hati,

ketenangan tidak perlu ramai

untuk menjadi berarti.

Mudik

Mudik adalah tentang pulang

bukan hanya pada tempat,

tetapi pada rasa

yang lama tersimpan.


Ada langkah yang ditempuh jauh,

ada lelah yang rela dilalui,

hanya untuk sampai

pada satu pintu

yang selalu terasa rumah.


Di sana,

ada wajah-wajah yang dirindukan,

ada pelukan yang sederhana,

namun mampu meredakan

banyak hal yang tak terucapkan.


Mudik juga tentang kembali

menjadi diri yang lebih utuh

meninggalkan sejenak

hiruk-pikuk perantauan,

dan menemukan lagi

hangat yang sempat terjauhkan.


Sebab sejauh apa pun langkah pergi,

selalu ada jalan pulang

yang menunggu untuk ditempuh.


Dan di setiap kepulangan itu,

rindu menemukan tempatnya,

dan hati

pelan-pelan kembali tenang.

Perkatan Yang Baik Adalah Sedekah

Rasulullah mengajarkan,

perkataan yang baik

adalah bagian dari sedekah.


Dan sedekah

tidak selalu tentang harta.


Ia bisa hadir

dalam kalimat yang dijaga,

dalam pertanyaan

yang ditahan,

atau dalam diam

yang justru melindungi hati

orang lain.


Di hari raya,

barangkali itulah bentuknya

kehati-hatian dalam berbicara.


Menahan diri

dari hal-hal yang terasa ringan

bagi diri sendiri,

namun bisa menjadi berat

bagi yang mendengarnya.


Tentang kelulusan,

tentang pernikahan,

tentang anak,

tentang pekerjaan,

tentang hal-hal

yang mungkin sedang diperjuangkan

dalam diam,

yang belum sempat terucap,

namun terus dibawa

dalam doa.


Sebab tidak semua senyum

siap menjawab,

dan tidak semua hati

sedang dalam keadaan lapang.


Dan betapa indahnya

jika kehadiran kita

membawa rasa aman

dari lisan yang terjaga,

dan sikap yang menenangkan.


Semoga kita dimudahkan

untuk menjadi lembut dalam berkata,

dan ringan dalam memberi,

dengan cara-cara yang sederhana

namun berarti. 

Jangan Padamkan Nyala Mimpi

Atas segala pengorbanan

yang tak pernah diberi harga,

atas kepayahan yang dijalani dalam diam,

atas hari-hari yang terasa lebih panjang dari biasanya

jangan pernah berani memadamkan nyala mimpi 

di dalam dada.


Biarkan ia tetap hidup,

meski kecil, meski tertiup ragu.


Langkah-langkah yang tampak sederhana itu

tetaplah berjalan.

Pelan tak apa,

yang penting tidak berhenti.

Terabas ketakutan yang bersembunyi di dalam diri,

selama tujuanmu lurus,

selama akhirat masih menjadi arah pulang.


Validasi manusia datang dan pergi.

Ia berubah bersama waktu dan kepentingan.

Namun apa yang diniatkan karena-Nya

tak pernah sia-sia.


Bukankah setiap kesulitan telah disertai kemudahan,

setiap masalah telah digandengkan dengan jalan keluar?


Maka pilihlah yang menenangkan hatimu,

pilihlah yang memudahkan langkahmu kelak

saat yang ditanya bukan tentang tepuk tangan manusia,

melainkan tentang apa yang benar-benar kau perjuangkan.