Sebab hidup, seperti jalan yang panjang,
kadang membawa kita naik,
kadang mengajarkan kita
bagaimana rasanya berada di bawah.
Setiap orang,
pada waktunya masing-masing,
akan berjumpa dengan hari
ketika apa yang dibanggakan tidak lagi dapat diandalkan.
Pada hari-hari seperti itu,
kita mungkin baru kembali mengerti,
bahwa sebanyak apa pun yang pernah berhasil kita genggam,
peran kita tetap sederhana:
hanya seorang hamba yang sedang diberi kesempatan
untuk menjalani kehidupan.
Kita boleh berusaha.
Boleh memiliki mimpi.
Boleh merasa bangga
pada jalan yang telah berhasil kita tempuh.
Namun jangan sampai keberhasilan
membuat kita lupa pada langkah pertama,
pada tangan-tangan yang pernah membantu,
dan pada banyak hal yang datang
bukan semata-mata karena kekuatan kita.
Sebab apa yang hari ini terasa kokoh,
tidak selalu tinggal selamanya.
Hidup dapat berubah tanpa banyak memberi tanda.
Dan apa yang hari ini membuat kita merasa berada di atas,
suatu saat mungkin justru mengajarkan
bahwa tidak ada satu pun dari kita
yang benar-benar berdiri di atas hidup.
Maka jika sedang berada di tempat yang baik,
tetaplah menghormati orang lain.
Jika memiliki lebih,
jangan merasa menjadi lebih.
Jika langkah kita sedang lebih jauh,
jangan lupa,
setiap orang sedang berjalan di jalannya sendiri.
Kita tidak pernah tahu
siapa yang suatu hari akan berjalan bersama kita,
siapa yang akan lebih dulu sampai,
atau kepada siapa,
pada suatu waktu,
kita justru membutuhkan uluran tangan.
Hari ini mungkin kita sedang kuat.
Besok, bisa saja kita yang meminta dikuatkan.
Hari ini mungkin kita sedang memiliki banyak hal.
Besok, bisa saja kita kembali belajar tentang cukup.
Karena pada akhirnya,
tidak ada yang benar-benar kita miliki sepenuhnya.
Semua hanya sedang dititipkan,
untuk dijaga,
untuk disyukuri,
dan suatu hari,
untuk kita lepaskan kembali.
Mungkin kedewasaan bukan tentang
seberapa tinggi kita berhasil berdiri.
Melainkan tentang bagaimana,
setelah sampai di tempat yang tinggi,
kita masih mampu memandang orang lain
tanpa merasa lebih besar.
Sebab semakin tinggi seseorang melangkah,
semakin banyak yang perlu ia ingat:
bahwa hati,
barangkali,
adalah satu-satunya yang harus tetap belajar untuk menunduk.