Kamis, 05 Maret 2026

Yesterday You Said Tomorrow

Kemarin engkau berkata, besok saja.

Namun waktu tak pernah benar-benar menunggu.

Ia berjalan pelan,

lalu tiba-tiba terasa jauh.


Jika itu baik, lakukan hari ini.

Jika itu perlu, mulai sekarang.


Tak harus sempurna,

tak harus besar.

Cukup satu langkah kecil

yang benar-benar dijalankan.


Sebab mimpi tidak tumbuh dari niat yang ditunda,

melainkan dari keberanian

untuk segera melangkah.

Bersabarlah, Tetap Berjalan Dengan Tenang

Kadang yang membuat langkah terasa berat

bukanlah banyak orang,

hanya satu dua suara saja

yang terlalu ingin menentukan arah orang lain.


Ada yang masih mencoba menarikmu

ke jalan yang pernah kau tinggalkan dengan tenang.

Ada pula bisik-bisik kecil

yang berusaha memutar cerita

seolah-olah hidupmu seharusnya berjalan

sesuai kehendak mereka.


Padahal kau tidak sedang melawan siapa-siapa.

Kau hanya sedang menjaga

agar tetap berjalan

di tempat yang menurut hatimu benar.


Syukurlah,

tidak semua orang ikut menjadi angin yang gaduh itu.

Masih ada yang memandang dengan jernih,

yang diam-diam mengerti

mengapa seseorang memilih bertahan

pada jalan yang ia yakini.


Tak apa bila sesekali hati terasa terusik.

Riuh kecil itu memang kadang terdengar lebih keras

dari yang seharusnya.


Namun bersabarlah

Teruslah berjalan dengan tenang,

seperti orang yang tahu

ke mana ia sedang menuju.


Sebab waktu memiliki caranya sendiri,

perlahan, tanpa banyak kata,

menunjukkan

mana yang hanya gemuruh sesaat,

dan mana yang benar-benar

berdiri di tempat yang semestinya

Terimakasih Sudah Bertahan

Untukmu,

kalimat ini barangkali singgah

di waktu yang tak banyak orang tahu

di antara hening yang panjang,

atau di sela-sela hari yang kau jalani seperti biasa.


Tak ada yang benar-benar melihat

seberapa dalam yang kau simpan,

atau harap apa yang kau ucapkan pelan-pelan

hanya untuk didengar langit.


Yang kutahu,

kau tetap berjalan.

Meski pelan.

Meski kadang tanpa tepuk tangan.


Dan mungkin sudah lama

tak ada yang berbisik pelan di telingamu:


terima kasih.


Terima kasih karena tidak menyerah

pada hari-hari yang terasa hampa.

Terima kasih karena masih memilih lembut

saat dunia tak selalu ramah.

Terima kasih karena kebaikanmu

tak ikut berubah menjadi pahit.


Jika hari ini kau merasa

tak ada yang bangga padamu,

biarkan kalimat ini singgah sebentar:


ada rasa bangga yang tumbuh diam-diam untukmu.


Kau telah melewati lebih banyak

dari yang dulu kau kira mampu.

Namun kau tetap di sini,

masih dalam penjagaan-Nya yang tak pernah putus,

masih dibangunkan pagi demi pagi

untuk melanjutkan kisahmu perlahan-lahan.


Barangkali itu pertanda,

bahwa di depan sana

ada bahagia yang sedang disiapkan.

Buah dari sabar yang tak kau pamerkan,

dari air mata yang hanya langit tahu.

InsyaAllah.


Dan sungguh,

ada doa yang berjalan tenang ke arahmu,

tanpa riuh,

tanpa perlu kau ketahui,

hanya ingin memastikan

kau baik-baik saja.

Kamis yang Mengingatkan

 Kamis datang

dengan langkah yang hampir tak terdengar,

seperti seseorang

yang takut membangunkan kenangan.

 

Ia menyelip di antara pagi

dan secangkir teh yang mendingin,

menyisakan sehelai sunyi

yang entah milik siapa.

 

Kamis selalu terasa

seperti jeda yang tertunda

bukan akhir,

bukan juga awal

hanya ruang kecil

untuk menata napas sendiri.

 

Di luar, daun-daun bergerak perlahan,

seolah membaca arah angin

yang tak pernah pasti.

 

Dan ketika siang tiba,

aku mengerti

Kamis hanyalah pengingat

bahwa waktu berjalan pelan

bila kita mau mendengarnya,

dan tergesa

hanya jika kita memaksanya.

Rabu, 04 Maret 2026

Rabu yang Menahan Nafas

 Rabu datang

seperti seseorang

yang sudah lama berdiri di depan pintu

namun baru kini berani mengetuk.

 

Ia membawa separuh lelah dari dua hari,

dan separuh harap

yang belum tahu harus ditaruh di mana.

 

Di sepanjang pagi

angin berjalan perlahan,

seakan sedang membaca sesuatu

yang tak pernah selesai kutulis.

 

Rabu mengajarkan aku

untuk menunggu:

menunggu hujan yang ragu,

menunggu kabar yang tak jadi sampai,

menunggu diriku sendiri

menemukan alasan untuk tersenyum.

 

Dan sore hari,

ketika cahaya mulai memudar,

aku tahu

Rabu bukan pertengahan,

melainkan pengingat

bahwa setiap perjalanan

selalu membutuhkan jeda

untuk memahami arah.