Senin, 02 Maret 2026

Minggu yang Menggenggam Sunyi

 Minggu datang

dengan langkah paling lembut

di antara semua hari

seakan ia tahu

bahwa manusia butuh waktu

untuk menjadi pelan.

 

Ia menghamparkan cahaya

yang tidak menyilaukan,

cuma cukup

untuk membuat daun-daun

tampak lebih jujur.

 

Orang-orang berjalan

dengan hati yang sedikit lebih lapang,

membiarkan suara burung

mengisi jeda

yang biasanya terlalu penuh

oleh urusan-urusan hidup.

 

Minggu mengajariku

bahwa diam pun bisa merawat,

dan jeda adalah cara hari

menyentuh pundak kita

dengan sangat hati-hati.

 

Ketika senja mulai turun,

aku mengerti

Minggu bukan penutup,

melainkan bisikan pelan

bahwa esok segalanya

akan dimulai lagi,

dan tak apa

sebab hidup selalu menemukan

caranya sendiri

untuk kembali.

Senin yang Diam

Senin datang pelan-pelan,

seperti hujan yang lupa

di mana ia seharusnya jatuh.

 

Ia mengetuk jendela pagi,

mengajak aku bangun

tanpa suara,

tanpa janji apa-apa.

 

Di jalan menuju kerja

aku melihat bayangku sendiri

berjalan lebih dulu,

seolah ia lebih tahu

ke mana aku hendak pergi.

 

Senin,

kadang kau terasa panjang

seperti doa yang tak selesai,

kadang hanya lewat

tanpa sempat aku pahami.

 

Tapi aku tetap melangkah

sebab kau selalu datang

dengan cara paling sederhana,

dan mengingatkanku

bahwa waktu tidak pernah

berpamitan.

Waktu Untuk Sendiri

Barangkali kamu memang butuh sendiri.

Di luar mungkin langit cerah 

dan matahari hangat menyentuh jendela, 

namun tidak dengan hatimu yang sedang gelap dan bergemuruh.


Biarkan dulu hujan itu turun. 

Biarkan ia membasahi kerasnya kecewa, 

mendinginkan panasnya harapan yang terganggu


Apa yang kau khawatirkan tentang masa depan 

sering kali tak semenakutkan bayanganmu sendiri. 

Perbanyak prasangka baik pada takdir, 

pada rencana-Nya.


Jika sedihmu sudah selesai, 

mari keluar pelan-pelan.

Hadapi hidup dengan doa,

jalani dengan syukur.


Percayalah, 

jalan akan dimudahkan. 

Jika sudah siap, 

kita akan mulai lagi.. 

Bismillah.


Titik Terendah

Kita semua pernah berada di titik terendah.

Di tempat yang sunyi,

di mana hati terasa lebih berat dari biasanya.


Sebagian orang menyebutnya luka.

Aku menyebutnya pelajaran.


Karena dari sana kita belajar bertahan.

Belajar membedakan mana yang tulus,

mana yang hanya singgah.


Di sana kita mengenal diri sendiri

lebih jujur dari sebelumnya.


Titik rendah itu memang tidak nyaman,

tapi sering kali justru di sanalah

kita tumbuh paling dalam.


Rezeki Pertama Hari Ini

Rezeki pertamamu hari ini 

adalah bisa menyambut hari Senin 

dengan tubuh yang sehat, 

dengan napas yang masih teratur.


Jika itu membuatmu bersyukur, 

rezeki lain akan menyusul, 

entah semangat yang datang perlahan,

atau pertemuan dengan teman yang menumbuhkan bahagia.


Apapun rezekimu hari ini,

awalilah dengan “Alhamdulillah”.


Mulailah hari dengan syukur.

Sayangi diri dan hatimu dengan rasa terima kasih.

Sebab syukur adalah cara sederhana 

agar hidup terasa cukup, 

dan hati tetap tenang.