Ia pernah menyebut namaku
dalam doa-doa yang panjang,
meminta kepada Rabb
agar langkahku menemukan jalannya.
Lalu ketika pagi datang,
Ia kembali merapikan hal-hal kecil di sekelilingku,
seolah ingin memastikan aku tidak terlalu sering jatuh
ketika berjalan menghadapi dunia.
Betapa lembutnya doa seorang Mama.
Bahkan ketika aku sendiri masih dipenuhi ragu,
Ia tetap percaya bahwa ada sesuatu dalam diriku
yang layak diperjuangkan.
Aku berjalan membawa nama Mama,
membawa doa-doa yang pernah ia titipkan kepada langit,
meski mungkin hidupku
belum serapi mimpi-mimpi yang pernah ia bayangkan.
Aku masih terus melangkah.
Bukan karena semua sudah selesai,
melainkan karena ada bagian dari diriku
yang ingin suatu hari nanti membuat doa Mama
menemukan jawabannya.
Kini,
tidak akan ada lagi suara Mama di sepertiga malam
yang menyebut namaku
seperti dahulu.
Mama telah beristirahat dalam kasih sayang Rabb,
setelah begitu panjang menjaga dan mendoakanku.
Namun aku percaya,
doa yang lahir dari cinta
tidak pernah benar-benar selesai.
Mungkin sebagian masih berjalan,
menyusuri jalan yang tidak dapat kulihat,
perlahan menuju hidupku,
menemukan jalannya sendiri
pada waktu yang telah ditentukan.
Maka aku akan terus berjalan, Ma.
Jika langkahku belum sampai
pada tempat yang dahulu Mama impikan,
semoga Mama tahu,
aku masih berusaha.
Dan jika suatu hari
ada sesuatu yang baik tumbuh dari hidupku,
aku ingin percaya bahwa sebagian darinya
adalah doa Mama yang akhirnya
menemukan tempat untuk tumbuh.
Beristirahatlah dengan tenang, Ma.
Doa Mama mungkin
tidak lagi terdengar oleh telingaku,
tetapi aku ingin percaya
ia masih menjadi bagian dari langkahku.
Seperti cahaya yang tidak terlihat,
namun selalu tahu ke mana harus menerangi jalan.