Jumat, 13 Maret 2026

Di Sela-Sela Patah

Tahukah,

ada hari yang terasa begitu sendu

dalam kehidupan manusia

hari ketika hati seperti retak

tanpa suara.


Kita merasa kehilangan.

Seolah ada yang terlepas

dari genggaman yang sudah lama dijaga.


Namun di sela-sela patah itu,

doa menjadi lebih jujur.

Tawakal tumbuh tanpa diminta.

Air mata yang jatuh

membawa nama-Nya lebih sering dari biasanya.


Kita mungkin kehilangan seseorang,

tetapi justru dalam ruang kosong itu

kita menemukan kembali

Sang Pemilik segala yang pernah kita miliki.


Dan ketika disadari pelan-pelan,

bukankah ada teduh yang menyusup?

Bahwa yang pergi hanyalah titipan,

sedang Dia tetap tinggal.


Tidakkah kesadaran itu

perlahan meredakan hatimu

Berani Jujur

Ada satu hal

yang pelan-pelan terasa dalam hidup:


semakin jujur seseorang,

semakin tidak semua orang

merasa nyaman.


Sejak kecil kita diajarkan

bahwa kejujuran itu baik

ia adalah nilai,

ia adalah dasar

sebuah kepercayaan.


Dan itu memang benar.


Namun dalam kehidupan,

kejujuran kadang membawa

sesuatu yang tidak selalu mudah:

sebuah cermin.


Tidak semua orang

siap melihat dirinya sendiri

setiap saat.


Karena itu

orang yang terlalu jujur

kadang dianggap mengusik,

bukan karena ia ingin melukai,

melainkan karena

ia tidak ikut menjaga

ilusi yang sama.


Lalu apakah kita

harus berhenti jujur?


Tidak.


Kejujuran tetap perlu,

hanya saja

ia harus berjalan

bersama kebijaksanaan.


Tidak semua kebenaran

perlu diucapkan sekaligus.

Tidak semua kejujuran

perlu disampaikan

tanpa empati.


Mungkin kedewasaan

berada di sana


tetap setia pada kebenaran,

namun tetap lembut

kepada manusia.

Tentang Suara dan Kerja

Di dunia kerja

yang paling terdengar

sering dianggap

paling berperan.


Padahal

mereka yang benar-benar bekerja

tidak selalu banyak suara.


Mereka dikenali

dari hal-hal yang lebih sunyi:

hasil yang tetap terjaga,

janji yang tidak berubah,

kualitas yang bisa diandalkan.


Bukan dari

seberapa sering berbicara,

melainkan dari

seberapa sering menepati.


Sebab kepercayaan

tidak dibangun

oleh satu momen yang ramai,

melainkan oleh konsistensi

yang berulang.


Dan pada akhirnya

sebuah organisasi

tidak tumbuh

karena suara yang paling keras,


melainkan karena orang-orang

yang terus hadir,

bertanggung jawab,

dan tetap bekerja

meski tanpa sorotan.


Maka pertanyaannya

selalu kembali sama:


yang lebih kita hargai

suara yang keras,

atau hasil

yang terus datang

dengan tenang

Sampai Kapan

Untuk kamu

yang diam-diam masih bertanya,

sampai kapan?


Ada hari-hari

yang terasa panjang sekali—

lelah bukan hanya di tubuh,

tetapi juga menetap di pikiran.


Senyum terasa mahal,

doa seperti menggantung

di langit

yang belum memberi jawaban.


Kadang kamu berkata pelan

pada diri sendiri:

mungkin ini yang terakhir.


Namun pagi datang lagi

dengan beban yang tidak selalu

lebih ringan.


Lalu muncul kalimat

yang menguji hatimu:

aku tidak sanggup lagi.


Tapi percayalah,

itu bukan tanda kamu lemah.


Itu hanya tanda

bahwa kamu manusia

yang sudah terlalu lama

berjuang.


Hari ini

kamu boleh mengakui lelah.


Namun jika kamu melihat

lebih dalam,

ada satu hal

yang mungkin luput disadari:


kamu masih berdiri.


Mungkin masalahnya

belum selesai,

tetapi dirimu

tidak lagi sama.


Ada hati

yang kini lebih tahu

cara menenangkan luka,

lebih mengerti

cara bertahan lebih lama.


Maka mungkin

pertanyaannya perlahan berubah—


bukan lagi

sampai kapan ini berakhir,


melainkan:


*sejauh apa aku

sudah bertumbuh

di dalamnya.*


Sebab bertanya

bukan berarti kehilangan percaya.


Sering kali

itu hanya jeda kecil

sebelum seseorang

menemukan kembali

kekuatan untuk berjalan

Rabu, 11 Maret 2026

Katanya Anjing

Di sebuah ruang percakapan

orang-orang berbicara

tentang dunia.


Tentang sejarah,

tentang siapa yang benar.


Namun ada juga

yang sejak awal

sudah merasa paling tahu—

mendengar hanya sebentar,

lalu buru-buru

merendahkan yang lain.


Ketika kata-kata

tak lagi cukup

menopang keyakinannya,

sebuah kata jatuh

ke lantai percakapan:


anjing.


Sejak saat itu

orang-orang mengerti

bahwa yang sedang berbicara

bukan lagi pengetahuan.


Hanya kemarahan

yang kehilangan arah

Hanya arogansi bodoh

yang menunjukkan kekosongan akal.


Sebab yang benar-benar paham

biasanya tidak perlu

berteriak paling keras

apalagi merendahkan

orang lain.