yang terlalu sering dipelihara.
Kadang kita terlalu sibuk menafsirkan sikap orang,
mencari makna dari sebuah diam,
mengira-ngira maksud dari sebuah perkataan,
hingga pikiran kita sendiri menciptakan cerita
yang belum tentu pernah terjadi.
Lalu tanpa sadar,
kita mulai menjauh,
mulai kecewa,
bahkan membenci seseorang
yang mungkin tidak pernah bermaksud
menyakiti kita.
Tidak semua diam adalah penolakan.
Tidak semua jarak berarti kebencian.
Dan tidak semua hal yang kita pikirkan adalah kenyataan.
Maka sebelum menilai
seseorang dari apa yang ada di kepala kita,
berikan ruang bagi kemungkinan
bahwa kita sedang keliru memahami.
Sebab terkadang,
yang membuat hati lelah
bukan perlakuan orang lain,
melainkan cerita yang terus
kita bangun sendiri tentang mereka.
Belajarlah bertanya sebelum menyimpulkan,
memahami sebelum menghakimi,
dan memilih jernih
sebelum membiarkan prasangka memenuhi hati.
Sebab hati yang tenang tidak membutuhkan
terlalu banyak cerita untuk membenci.