tetapi pikiranmu sudah sibuk hidup di esok hari.
Besok belum datang.
Namun di dalam kepala,
sudah ada begitu banyak kemungkinan.
Bagaimana kalau rencana tidak berjalan
seperti yang diharapkan?
Bagaimana kalau sesuatu yang sedang
diperjuangkan tidak berhasil?
Bagaimana kalau hal yang baik
justru berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan?
Satu kemungkinan melahirkan kemungkinan lain.
Lalu pikiran terus berjalan,
semakin jauh,
sampai tanpa sadar kita sudah lelah
menghadapi sesuatu yang bahkan belum terjadi.
Padahal mungkin,
hari ini sedang baik-baik saja.
Ada hal yang masih bisa dinikmati.
Ada orang-orang yang masih bisa disapa.
Ada pekerjaan yang masih bisa diselesaikan.
Namun semuanya sering terlewatkan,
karena pikiran terlalu sibuk berusaha memastikan
bahwa besok tidak akan menyakitkan.
Padahal tidak ada yang benar-benar
bisa memastikan hari esok.
Kita boleh merencanakan.
Kita boleh mempersiapkan diri.
Kita juga boleh berhati-hati.
Tetapi jangan sampai semua persiapan itu
berubah menjadi ketakutan
yang mengambil kedamaian hari ini.
Sebab jika sesuatu yang ditakutkan itu
benar-benar datang,
kita akan menghadapinya ketika waktunya tiba.
Dan jika ternyata tidak pernah datang,
jangan sampai kita sudah terlalu lama menderita
karena sesuatu yang hanya hidup di dalam pikiran.
Maka untuk hari ini, kembalilah.
Kembalilah kepada tempat di mana kakimu sedang berpijak.
Tarik napas. Lihat sekeliling.
Jalani apa yang memang ada di hadapanmu.
Besok akan datang pada waktunya.
Dan ketika ia datang,
barangkali kita akan memiliki kekuatan
yang hari ini belum kita sadari.
Jadi jangan biarkan yang belum terjadi
mengambil terlalu banyak dari hari yang sedang kamu miliki.
Sebab mungkin,
yang paling kita butuhkan bukan jawaban
untuk semua kemungkinan di masa depan.
Melainkan ketenangan untuk menjalani hari ini,
satu langkah, satu napas,
dan satu hari pada satu waktu.