Hidup,
rupanya,
tidak pernah menetap pada satu musim.
Ada hari-hari ketika langit terasa begitu cerah,
segala sesuatu berjalan sebagaimana harapan,
dan hati menemukan alasan untuk tersenyum
tanpa perlu mencarinya.
Ada pula hari-hari ketika langkah terasa lebih berat,
doa terasa lebih panjang,
dan waktu berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya.
Namun begitulah hidup.
Ia datang silih berganti,
membawa pertemuan dan perpisahan,
kemudahan dan kesulitan,
tawa dan air mata.
Maka ketika kebahagiaan datang,
nikmatilah ia dengan penuh syukur.
Duduklah sejenak di sisinya.
Perhatikan hal-hal kecil yang sering terlewat.
Simpan hangatnya di dalam hati,
sebab tidak semua keindahan tinggal selamanya.
Dan ketika kesedihan datang mengetuk,
terimalah ia sebagaimana musim hujan.
Tidak perlu mencintainya,
tetapi tidak perlu pula membencinya.
Sebab seperti musim yang lain,
ia pun akan berlalu.
Memahami bahwa segala sesuatu bersifat sementara
bukanlah cara untuk mengurangi makna kebahagiaan
atau menolak kesedihan.
Justru karena semuanya sementara,
setiap tawa menjadi berharga,
dan setiap luka mengandung pelajaran.
Barangkali itulah yang diajarkan waktu kepada kita:
agar tidak terlalu mabuk ketika bahagia,
dan tidak terlalu putus asa ketika terluka.
Karena hidup tidak berjalan dalam garis yang selalu naik,
juga tidak menetap dalam lembah yang selalu gelap.
Ia bergerak.
Ia berubah.
Dan sering kali,
ketenangan lahir bukan ketika semua keadaan menjadi baik,
melainkan ketika hati memahami
bahwa setiap keadaan memiliki waktunya sendiri
untuk datang dan pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar