datang lebih cepat
daripada kebijaksanaan.
Ia mengetuk hati
tanpa permisi,
sementara pikiran
masih berusaha mengejar
agar semuanya tetap utuh.
Pada saat seperti itu,
menahan diri
bukanlah tanda kelemahan.
Melainkan keberanian
untuk tidak membiarkan
sesaat mengalahkan
penyesalan yang panjang.
Karena tidak semua
yang ingin diucapkan
harus benar-benar diucapkan.
Dan tidak semua
yang terasa di dalam hati
perlu segera dikeluarkan.
Ada baiknya
memberi jeda.
Bukan sekadar menunggu waktu,
melainkan memberi kesempatan
bagi hati untuk tenang
dan pikiran untuk kembali jernih.
Sebab banyak luka
tidak lahir karena kebencian,
melainkan karena kata-kata
yang keluar
lebih cepat daripada kebijaksanaan.
Maka jika amarah datang,
duduklah sejenak.
Diamlah sejenak.
Biarkan hati
menemukan ketenangannya kembali.
Karena sering kali,
keputusan terbaik
lahir bukan ketika emosi sedang tinggi,
melainkan ketika hati
telah kembali lapang.
Dan pada akhirnya,
menguasai diri
bukanlah tentang menang
atas orang lain.
Melainkan tentang
tidak membiarkan amarah
menguasai diri sendiri.
Sebab hati yang mampu
menenangkan dirinya,
akan selalu lebih kuat
daripada hati
yang membiarkan emosinya
menentukan arah setiap langkah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar