Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2020

The Social Dilemma - Utopia dan Distopia Dunia Digital

"There are only two industries that call their customer ‘users’ : illegal drugs and software" – Edward Tufte

Berawal dari story instagram seorang psikolog muda asal semarang yang merekomendasikan film The Social Dilemma untuk semua orang yang bermain sosial media dan orang tua yang mengizinkan anaknya menonton youtube for kids. Dimana kata-kata di akhir caption storynya cukup membuat saya penasaran, karena beliau juga menyertakan kalimat yang cukup provokatif, “Orang-orang yang bekerja di teknologi tidak mengizinkan anak-anak mereka bermain media sosial.” Boom!..  

Akhirnya saya menonton film semi dokumenter yang direkomendasikan tersebut yang mengangkat narasi tentang sisi gelap algoritma media sosial yang memanipulasi penggunanya. Film ini secara umum menggambarkan utopia dan distopia yang terjadi secara bersamaan akibat adanya teknologi dan sosial media, mungkin hal tersebutlah yang membuat film ini diberi judul The Social Dilemma.  Karena selain memberikan pengaruh positif dan banyak membantu manusia, media sosial juga memberikan pengaruh mengerikan bagi kehidupan manusia, seperti memanipulasi feed menggunakan artificial intelligence dan machine learning yang membuat penggunanya ketergantungan dan tidak bisa lepas darinya.

Film yang disutradai oleh Jeff Orlowski ini juga menyertakan banyak narasumber yang kompeten dibidangnya seperti Tristan Harris (pimpinan dari Center for Humane Technology yang juga mantan pakar etika desain Google), Jeff Seibert (Angel investor dan pendiri crashlytics yang sekarang sudah diakuisisi twitter),  Aza Raskin (pendiri Center for Humane Technology ), Justin Rosenstein (penemu tombol like di Facebook), Tim Kenda (mantan pimpinan di Pinterest), Cathy O'Niel (mantan Direktur Monetisasi Facebook), Anna Lembke (pakar kecanduan di Stanford University), Roger McNamee (investor awal di Facebook), Jaron Lanier (computer scientist dan ahli virtual reality), Shoshana Zuboff (psikolog sosial Harvard University), Jonathan Haidt (psikolog sosial New York University Stern School Of Business), Bailey Richardson (tim awal Instagram), dan beberapa lainnya.

Melalui film ini kita seperti dibukakan mengenai bagaimana cara bekerja sosial media yang mampu membuat kita menjadi kecanduan. Artificial Intelligence dan Machine Learning  yang dalam film ini digambarkan dengan 3 pria yang berada didalam ruang kendali, bertugas untuk mengetahui perilaku, kebiasaan, dan apa yang disukai pengguna sosial media tidak peduli yang disukai benar atau tidak, baik atau tidak, untuk kemudian memberikan saran dan rekomendasi sesuai dengan kepribadian digital penggunanya, sehingga penggunanya tidak bisa lepas dari sosial media dan internet.

Artificial Intelligence dan Machine Learning juga ‘bertugas’ untuk mempermainkan emosi penggunanya, melalui feed, jumlah like yang diterima, respon yang diterima ketika posting, dan hal lainnya. Penggunanya bisa tiba-tiba senang dan bahagia karena mendapatkan banyak like, tapi juga bisa gelisah dan cemas ketika mendapatkan sedikit like dan respon.

Begitu masifnya penggunaan media sosial ditunjukkan dengan data kalau milenials sudah menggunakan sosial media semenjak mereka berada disekolah menengah, dan mungkin untuk generasi yang lebih muda sudah menggunakannya semenjak sebelum sekolah.. mungkin.. 

Akibat negatif dari digunakannya sosial media oleh pengguna usia labil adalah meningkatnya kasus kecemasan, depresi, dan bunuh diri selama sedekade terakhir semenjak tahun 2010.

Ini tentunya menjadi tugas tersendiri bagi para orang tua yang memiliki anak kelahiran diatas tahun 2000 karena harus berebut perhatian salah satunya dengan kompetitor digital yaitu sosial media, internet, youtube, games, dan sejenisnya. Orang tua harus benar-benar bisa memanfaatkan golden moment dan membangun perilaku positif anak dengan tepat agar anak memiliki usia psikologis lebih matang dibanding usia biologisnya. Sehingga anak tidak ketergantungan gadget, tidak labil dan tidak melakukan tindakan self-suicide.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya kalau Artificial Intelligence tidak bertugas untuk menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang hoax mana yang tidak, tapi lebih menunjukkan apa yang menjadi kepribadian digital dan preferensi penggunanya, sehingga jika kita mengetik suatu kata, di mesin pencari seperti google, maka google akan memberikan saran sesuai dengan preferensi penggunanya bukan memberikan saran berdasarkan apa yang benar. Misalnya ketika kita mengetik kata ‘demokrasi’, maka google akan memberikan rekomendasi yang bermacam-macam mengenai demokrasi yang berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain berdasarkan rekam jejak digital masing-masing yang mengakibatkan masing-masing pengguna akan memiliki sudut pandangnya yang berbeda-beda. Rekam jejak kita benar-benar direkam dan diawasi oleh internet, tidak ada lagi privasi didalamnya. Beberapa pakar menyarankan agar kita bisa menggunakan mesin pencari “Qwint” yang lebih menghargai privasi pengguna dibandingkan google.

Di akhir film, selain memberikan gambaran dampak negatif dari media sosial, para narasumber juga memberikan gambaran tindakan dan langkah yang mereka ambil untuk memperbaiki kesalahan yang telah mereka lakukan sebelumnya.  Mereka juga memberikan beberapa saran agar kita tidak menjadi konsumen dari sosial media.

The Social Dilemma membuka mata kita kalau dunia digital selain memberikan banyak manfaat juga bisa memberikan dampak buruk yang mengakibatkan kecanduan dan destruktif bila kita tidak menggunakannya dengan bijak. Tipisnya jarak antara utopia dan distopia dalam dunia digital bisa membuat mood swing seseorang berubah dengan cepat, terutama untuk anak-anak, remaja, dan pengguna labil. Kesenangan yang sebelumnya dengan mudah didapatkan bisa tiba-tiba berubah menjadi kecemasan dan kehancuran dalam waktu cepat yang bisa mengarah ke self-destruction dan self-suicide bagi penggunanya. Oleh karena itu perlu rasanya untuk memperlakukan sosial media dengan bijak dan memberikan pengarahan yang tepat mengenai sosial media bagi generasi muda. Jangan biarkan generasi muda menyelam bebas dalam samudera digital agar mereka tidak terjebak dalam candu yang destruktif.

if you tolerate this then your child will be next

 

Kamis, 13 Mei 2010

POLA

Seorang motivator pernah mengatakan dalam suatu pelatihan, kalau tanpa disadari banyak orang menjalani hidup dengan pola yang sama dari waktu ke waktu. Jika kita sudah terbiasa berangkat bekerja pada pukul 6.30 setiap harinya, maka kita akan mengulanginya dengan waktu yang sama setiap harinya, dan jika kita mencoba memperhatikan sekeliling kita, tanpa kita sadari kita akan melihat kendaraan yang sama persis setiap harinya.

Dalam dunia film, khususnya film yang berbau erotis, entah kita sadari atau tidak, ternyata juga memiliki pola pemasaran yang nyaris seragam. Sesaat sebelum film mengudara di bioskop selalu saja ada cerita sensasional yang sepertinya sengaja diangkat untuk meningkatkan rating film tersebut. Tidak peduli apakah sensasi tersebut murahan atau tidak. Mulai dari tersebarnya foto atau cuplikan seronok artis yang membintangi film tersebut sampai insiden antar pemain film tersebut...

Dalam dunia perpolitikan, jika saya tidak keliru, sepertinya juga terdapat pola yang khas dengan menggunakan teroris sebagai media pengalihnya. Karena hampir setiap ada kasus yang sedang hangat, maka tidak lama kemudian pada saat kasus ini semakin panas, akan diikuti dengan adanya kelompok teroris yang terungkap. Entah kelompok teroris ini merupakan pengalih dari kasus tersebut atau bukan, akan tetapi sepertinya ini adalah pola yang seringkali berulang...

Dan mungkin benar, kalau segala sesuatu memiliki pola...

Minggu, 31 Januari 2010

Flash Of Genius: Kisah Berliku Inovator Wiper

Mungkin banyak dari kita yang tidak tahu kalau wiper yang terdapat di mobil ternyata memiliki kisah perjuangan yang menarik tentang penciptanya melawan raksasa otomotif dunia. Saya pun sebelumnya juga tidak mengetahuinya sebelum menonton Flash Of Genius yang diangkat berdasarkan kisah nyata kehidupan Robert Kearns dibintangi oleh Greg Kinnear.

Kisah ini dimulai ketika Kearns mengendarai mobilnya saat hujan bersama dengan istrinya dan anaknya, ketika itu wiper mobil masih harus digerakkan secara manual. Terinspirasi dengan insiden yang dialami sebelumnya ketika tutup botol sampanye membutakan mata sebelah kirinya. Kearns kemudian mencoba menciptakan wiper yang dapat bergerak seperti mata, dimana wiper tersebut dapat berkedip secara otomatis dan tidak perlu digerakkan secara manual.

Kemudian Kearns mulai melakukan riset digarasinya untuk mewujudkan mimpinya tentang wiper yang dapat ‘berkedip’. Setelah berhasil mewujudkan ide dan mimpinya, atas saran dan bantuan temannya, Kearns kemudian mencoba mendemontrasikan karyanya kepada Ford Motor Corporation. Tertarik dengan karya Kearns, proses negosiasi pun dilakukan dan Kearns meminjamkan prototipe wiper buatannya kepada Ford. Akan tetapi tanpa alasan yang jelas, beberapa bulan kemudian tiba-tba Ford membatalkan proses perjanjian tersebut.

Kearns yang merasa kecewa kemudian berusaha mencari tahu alasan pembatalan tersebut. Sehingga ketika Ford mengeluarkan varian Mustang terbaru, Kearns berusaha menyelinap untuk melihat peluncuran produk tersebut. Alangkah terkejutnya Kearns ketika mendapati bahwa karyanya yang ditolak Ford tanpa alasan yang jelas ternyata terdapat pada produk terbaru Mustang dan dijadikan nilai jual utama dari Ford Mustang.

Merasa idenya dirampok dan diperlakukan sewenang-wenang, Kearns kemudian tidak tinggal diam dan berniat menuntut hak atas karyanya. Ia pun bangkit bergerak dan mulai melakukan perlawanan terhadap Ford. Dimulai dengan mendaftarkan perkara tersebut ke pengadilan, kemudian Kearns pun mulai mengajukan gugatannya tanpa didampingi pengacara. Hari demi hari berlalu dan ternyata perlawanan melawan korporasi raksasa tidaklah mudah, memakan waktu yang lama dan sempat membuat Kearns dijauhi keluarganya dan bahkan bercerai dengan istrinya. Akan tetapi Kearns yang keras kepala dan sangat idealis tidak menyerah begitu saja dengan keadaan dan terus menuntut pengakuan atas ciptaannya.

Pelan tapi pasti, jalan berliku yang dilalui Kearns dalam menuntut pengakuan atas ciptaannya mulai mendapatkan support dari berbagai pihak. Dimulai dari support anak-anaknya setelah beberapa tahun perkara tersebut bergulir. Dengan didampingi anak tertuanya yang kuliah disekolah hukum, perlawanan Kearns terus berlanjut. Dan akhirnya perjuangan Kearns tidaklah sia-sia, ketika perjuangan Kearns melewati 1 dekade, Kearns pun akhirnya dinyatakan menang dan Ford Motor Corporation diharuskan membayar sejumlah uang kepada Kearns.

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah film tersebut, mulai dari berharganya ide dan kreatifitas, kekuatan komitmen dan tekad dalam memperjuangkan hak, hingga pelajaran bahwa seringkali perjuangan dalam menuntut kebenaran dan keadilan ternyata tidaklah semudah membalik telapak tangan dan penuh dengan perjalanan yang berliku. Dalam banyak kejadian, seseorang akan langsung menyerah dalam menuntut hak ketika harus berhadapan dengan korporasi besar ataupun penguasa, karena menyadari perjuangan untuk menuntuk hak tersebut pasti akan menguras tenaga, biaya, pikiran, dan emosional. Akan tetapi Dr Kearns bukanlah orang dalam banyak kejadian tersebut, ia adalah contoh langka seseorang yang dengan gigih dan tidak kenal menyerah dalam memperjuangkan haknya. Pertanyaannya sekarang, siapkah kita menjadi manusia langka seperti Dr. Robert Kearns atau kita lebih memilih menjadi manusia kebanyakan? Anda sendirilah yang dapat menjawab pertanyaan tersebut....

Senin, 29 Juni 2009

Sindrom Tourette Yang Menginspirasi


Hari Kamis lalu saya menonton sebuah film di HBO yang berjudul Front Of The Class. Film ini berdasarkan kisah nyata tentang kisah seorang penderita Sindrom Tourette, yang bernama Brad Cohen, dalam memperjuangkan cita-citanya untuk menjadi guru. Terus terang, saya sangat menyukai film ini karena banyaknya pesan yang terkandung didalamnya.

Sindrom Tourette merupakan penyakit akibat kelainan saraf yang membuat pengidapnya melakukan beberapa gerakan spontan diluar kesadaran, seperti mata berkedip terlalu sering, mangeluarkan suara berdehem, menggerakkan bahu secara spontan, mendecak-decakkan lidah, mengeluarkan kata-kata kotor (Coprolalia) dan mengulangi kata yang didengar dari orang lain (Echolali), di masyarakat awam dua hal terakhir ini dikenal dengan latah. Sampai sekarang penyakit ini belum ada obatnya, yang bisa dilakukan penderita sindrom Tourette lebih kepada pengontrolan diri dan emosi. 

Dikisahkan Brad kecil adalah seorang anak yang menderita Sindrom Tourette sering diejek, dijadikan bahan olokan, dijauhi, dan bahkan diasingi oleh orang disekitarnya karena gerakan dan suara aneh yang ia buat yang disebabkan penyakit Tourette yang dideritanya. Brad kecil menjadi sosok yang sangat terasing dilingkungannya sendiri meskipun sebenarnya ia tidak menginginkan.

Banyak upaya yang telah dilakukan Brad dan orang tuanya sehubungan dengan penyakit Tourette yang dideritanya, seperti mencoba mengunjungi terapi penderita Tourette disebuah gereja. Akan tetapi setelah melihat terapi yang dilakukan, Ibu Brad  dan Brad keluar dari tempat tersebut karena tidak ingin anaknya diperlakukan seperti penderita Tourette lain yang hidup terasing dilingkungannya.

Dalam berbagai upayanya Brad terus hidup terasing, hingga ia menemukan filosofi hidupnya dan merasa diterima ketika dalam sebuah konser musik yang diadakan sekolahnya. Ia dipanggil oleh kepala sekolahnya untuk maju kedepan. Brad yang sebelumnya merasa khawatir akan dihukum dan dipermalukan didepan teman-temannya karena suara-suara aneh yang dibuatnya, ternyata malah diberikan sokongan dari sang kepala sekolah dan memberitahukan ke rekan-rekannya kalau penyakit Tourette yang diderita Brad akan semakin parah ketika Brad merasa tidak diterima sehingga ia secara tidak langsung mengajak pengunjung yang hadir untuk menerima Brad sebagai mana adanya.

Hal tersebut menginspirasikan Brad untuk menjadi seorang guru yang tidak pernah ia miliki. Setelah lulus menjadi sarjana, Brad melamar ke berbagai sekolah untuk menjadi seorang pengajar di berbagai sekolah. Dalam banyak wawancara yang dilakukannya, Brad seringkali ditolak karena penyakit Tourette yang dideritanya meskipun ia memiliki catatan akademik yang baik, Brad seringkali dipandang sebelah mata karena penyakitnya. Tercatat sudah 24 kali wawancara ia lakukan dan gagal. Akan tetapi ia tidak mau menyerah terhadap keadaan, ia tidak akan pernah membiarkan Tourette mengalahkannya, sehingga ia terus berusaha. Hingga pada wawancara ke 25 ia akhirnya diterima menjadi guru kelas 2 di SD Mountain View.

Sebagai guru, Brad mengajarkan murid-muridnya untuk menjadi orang yang berpikiran terbuka, dimulai dengan menceritakan tentang penyakit Tourette yang dideritanya dengan cara yang menghibur dan penuh humor. Brad juga mengajarkan kepada murid-muridnya kalau seberapapun sulitnya mereka dalam hidup, mereka tetap dapat menjadi orang yang lebih baik. Brad mencontohkan tentang sulitnya ia membaca dan berkonsentrasi karena Tourette yang dideritanya, akan tetapi ia tidak mau menyerah dan kalah terhadap Tourette yang dideritanya. Seluruh siswa Brad sangat menyenangi dan menikmati pola pembelajaran yang dilakukan oleh Brad. Sehingga tanpa disadari murid-murid Brad belajar banyak pelajaran berharga dari Brad mulai dari jangan pernah menyerah pada keadaan hingga pelajaran tentang toleransi dan menerima perbedaan.

Brad tidak pernah menyerah terhadap keadaan dan tidak ingin dikalahkan oleh Sindrom Tourette yang dideritanya. Sehingga ia menjadikan Tourette menjadi gurunya dalam mengarungi hidup dan dalam proses belajar mengajar yang ia lakukan. Usaha Brad tidak sia-sia, karena akhirnya ia terpilih menjadi guru teladan di kota tempat ia mengajar.

Banyak pesan yang dapat ditangkap dalam film tersebut. Mulai dari pelajaran tentang jangan pernah menyerah terhadap keadaan, bagaimana memanfaatkan dan mengambil hikmah dari kekurangan yang kita miliki, hingga pelajaran toleransi tehadap sesama manusia meskipun ia memiliki perbedaan. Banyak orang-orang yang merasa tidak diterima dan dikucilkan dalam pergaulan karena perbedaan yang sesungguhnya tidak ia ingini. Sudah menjadi tugas kitalah sebagai manusia untuk bisa menerima mereka...