tak pernah meminta
untuk dipuji.
Ia tetap membentang,
meski tak semua orang
sempat menengadah.
Senja pun
datang dengan tenang.
Mengajarkan bahwa
keindahan
tak selalu hadir
pada permulaan.
Kadang,
ia justru menetap
di penghujung waktu.
Lalu malam
menyalakan rembulan,
seolah ingin mengingatkan
bahwa cahaya
tak pernah benar-benar hilang,
ia hanya memilih
waktu yang tepat
untuk terlihat.
Saat hati
belajar memperhatikan
hal-hal sederhana,
syukur tumbuh
dengan sendirinya.
Dan ketika syukur
menemukan tempatnya,
dendam perlahan luruh,
amarah kehilangan suaranya,
dan kasih
menjadi lebih mudah
dibagikan.
Bukankah hidup
akan terasa lebih indah,
jika kita
lebih sibuk
menjaga hati
daripada menghakimi,
lebih ringan
mengulurkan tangan
daripada saling menjatuhkan,
dan lebih senang
menyebarkan kebaikan
daripada menyimpan kebencian?
Kita mungkin
tak mampu
mengubah seluruh dunia.
Namun selalu ada kesempatan
menjadikan
sudut kecil kehidupan ini
lebih hangat
karena sikap kita,
lebih damai
karena kata-kata kita,
dan lebih indah
karena hati
yang memilih
untuk tetap berbuat baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar