Ia tak pernah meminta batu untuk menyingkir.
Ia hanya terus mengalir,
mencari jalan,
melewati setiap belokan dan rintangan
dengan caranya sendiri.
Kadang arusnya tenang.
Kadang deras dan menghanyutkan.
Ada saat ketika jalannya terasa mudah,
ada pula ketika ia harus berbelok hanya karena
jalan di depannya tidak lagi bisa dilewati.
Namun satu hal tak pernah berubah.
Ia tetap mengalir.
Ia tidak berbalik arah.
Begitu pula kehidupan.
Tidak semua yang datang harus dilawan.
Tidak semua yang menghalangi
harus membuat kita berhenti.
Ada hal-hal yang memang perlu dihadapi,
ada yang cukup diterima,
dan ada pula yang harus dilepaskan
agar langkah bisa kembali diteruskan.
Masa lalu boleh dikenang,
boleh dipelajari,
tetapi bukan tempat untuk terus menetap.
Sebab yang telah berlalu tak bisa diulang.
Kita hanya bisa membawa pelajarannya,
menyimpan hikmahnya,
lalu melanjutkan perjalanan
dengan hati yang sedikit lebih mengerti.
Mungkin tidak semua belokan kehidupan
langsung kita pahami.
Tidak semua rintangan segera kita mengerti
mengapa harus terjadi.
Namun seperti sungai yang terus menemukan jalannya,
kita pun belajar percaya bahwa tidak semua jalan
harus diketahui sebelum dijalani.
Yang dapat kita lakukan
hanyalah melanjutkan langkah,
membawa hikmah,
melepaskan yang perlu,
dan menjaga hati agar tetap percaya.
Sebab bisa jadi,
apa yang hari ini terlihat seperti hambatan,
kelak justru menjadi bagian dari jalan
yang membawa kita ke tempat yang lebih baik.
Dan pada akhirnya,
seperti air yang terus mengalir menuju muaranya,
kehidupan pun sedang membawa kita
melewati jalan yang telah ditetapkan
oleh Yang Maha Mengatur.
Maka teruslah berjalan.
Tidak harus tergesa.
Tidak harus mengetahui seluruh arah.
Cukup mengalir seperti sungai,
melewati apa yang datang,
dan percaya bahwa setiap perjalanan
selalu memiliki tempat untuk tiba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar