Minggu, 18 Oktober 2026

Ibu Dan Cinta Yang Tinggal

Ibu adalah cinta pertama kita,
tempat kita mengenal kasih bahkan sebelum memahami dunia.
Dari tangannya, kita belajar melangkah.
Dari suaranya, kita mengenal panggilan pulang.
Dan dari doanya, 
kita tumbuh menjadi seseorang 
yang perlahan belajar menjalani hidup sendiri.

Sementara bagi Ibu,
kita adalah cinta yang tak pernah selesai.
Anak yang namanya selalu punya tempat dalam setiap doa,
bahkan ketika kita sudah terlalu dewasa untuk sekadar meminta dipeluk.

Lalu waktu berjalan,
hingga suatu hari Ibu lebih dahulu berpulang.
Rumah mungkin masih berdiri,
hari-hari tetap berganti,
tetapi ada sesuatu yang tak lagi sama.
Tak ada lagi suara yang bisa kita dengar,
tak ada lagi tangan yang bisa kita genggam,
kecuali dalam ingatan yang sesekali datang tanpa diminta.

Barangkali, menjadi anak yang kehilangan Ibu adalah belajar menerima
bahwa cinta yang begitu dekat
kini hanya bisa kita temui melalui kenangan, doa,
dan kebaikan yang ia tinggalkan.

Kita mungkin tak lagi bisa bercerita
tentang hari yang melelahkan,
atau pulang untuk sekadar duduk di dekatnya.
Namun, ada bagian dari diri kita
yang akan selalu menjadi anak kecilnya,
yang diam-diam masih merindukan Ibu
di tengah kehidupan yang terus berjalan.

Sebab Ibu adalah cinta pertama kita,
dan meski ia telah mendahului kita,
cinta itu tidak ikut pergi bersamanya.

Ia tinggal dalam cara kita menyayangi,
dalam nasihat yang masih kita ingat,
dalam doa yang kita kirimkan,
dan dalam hal-hal sederhana yang dahulu terasa biasa,
tetapi kini begitu berharga.

Semoga setiap anak yang telah kehilangan Ibu
diberi hati yang lapang untuk menerima,
kekuatan untuk melanjutkan kehidupan,
dan kesempatan untuk terus mengirimkan doa.

Sebab ada cinta yang tak lagi bisa kita peluk,
tetapi namanya akan selalu kita bawa dalam setiap langkah
hingga kelak kita pun kembali kepada-Nya.

Tidak ada komentar: