sebatas yang mampu hatimu.
Sebab tidak ada peta
untuk menemukan jalan melewati kehilangan.
Tidak ada jam yang dapat menentukan
kapan air mata harus berhenti.
Setiap hati memiliki jalannya sendiri.
Ada yang melewati duka dengan banyak air mata.
Ada yang memilih diam,
menyimpan namanya di antara doa-doa yang panjang.
Ada yang tetap menjalani hari
seperti biasa,
meski di dalam dirinya ada sesuatu yang belum selesai.
Semua itu tidak apa-apa.
Biarkan dirimu merasakan apa yang memang sedang terasa.
Jika ingin menangis, menangislah.
Jika hanya mampu diam,
diam pun tidak mengapa.
Sebab luka tidak selalu harus segera disembuhkan.
Ada luka yang perlu duduk sebentar bersama kita,
agar kita belajar mengenal bagian diri
yang sedang kehilangan.
Jangan terburu-buru menutup pintu kesedihan.
Biarkan ia masuk,
duduk sebentar,
lalu perlahan pergi ketika waktunya tiba.
Dan jika hari ini hatimu belum mampu berjalan jauh,
tidak apa-apa.
Cukup bernapas.
Cukup melewati hari.
Cukup bangun dan mencoba sekali lagi.
Sebab mungkin,
pulih bukan tentang melupakan apa yang hilang.
Pulih adalah ketika kita perlahan mampu
membawa kehilangan itu tanpa lagi merasa
harus meninggalkan seluruh kehidupan kita bersamanya.
Maka berdukalah dengan caramu sendiri.
Tidak perlu terburu-buru
menjadi baik-baik saja.
Biarkan waktu,
doa,
dan langkah-langkah kecil
mengajarkan hatimu bagaimana bernapas kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar