ternyata aku masih belajar membaca kehilangan.
Selama ini aku terlalu sibuk
mengejar jalan yang kupilih sendiri,
mengira rumah akan selalu ada di ujung perjalanan.
Aku lupa,
waktu diam-diam berjalan di antara pintu dan jendela,
membawa usia Mama sedikit demi sedikit.
Sampai suatu hari aku pulang,
dan rumah itu masih berdiri,
tetapi tidak lagi menjadi rumah seperti yang kukenal.
Tidak ada suara Mama yang memanggil namaku.
Tidak ada aroma masakan yang dulu membuat perjalanan pulang terasa lebih pendek.
Hanya ada ruang-ruang yang masih menyimpan jejakmu,
dan sebuah tubuh yang telah selesai dengan perjalanan panjangnya.
Kini aku hanya bisa datang
ke rumah Mama yang lain.
Tempat yang tidak lagi memiliki pintu untuk kubuka,
tetapi selalu memiliki jalan untuk doa-doaku.
Di sana aku menyebut namamu pelan-pelan,
seperti seseorang yang takut suaranya mengganggu istirahatmu.
Ma, ternyata yang paling berat
bukan kehilangan rumah untuk pulang,
melainkan menyadari bahwa dulu aku pernah memilikinya,
namun terlalu sibuk untuk benar-benar tinggal di dalamnya.
Ada peluk yang tertunda.
Ada kata sayang yang kusimpan untuk nanti.
Ada waktu yang kukira masih panjang.
Kini semuanya menjadi doa.
Semoga Allah menerima Mama dengan kasih sayang-Nya,
melapangkan tempat istirahatnya,
dan menjadikan rumah barunya jauh lebih indah
daripada rumah mana pun yang pernah kukenal.
Dan jika suatu hari rinduku kembali mengetuk pintu,
aku tahu ke mana harus pulang:
kepada doa,
kepada kenangan,
dan kepada Allah yang kini menjaga Mama
dengan cara yang tidak mampu kulihat.
Beristirahatlah dengan tenang, Ma.
Maaf,
aku baru benar-benar mengerti arti pulang
setelah rumah itu tidak lagi menungguku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar