Tidak ada jam yang dapat menghitung
berapa lama sebuah hati membutuhkan waktu
untuk menerima kehilangan.
Yang kehilangan adalah kamu.
Yang merasakan adalah kamu.
Maka biarkan hatimu menentukan sendiri
kapan ia siap berjalan lagi.
Tidak apa-apa jika hari ini
air mata masih datang tanpa diminta.
Tidak apa-apa jika suatu pagi nama seseorang
tiba-tiba membuat dada terasa penuh.
Sebab kehilangan tidak selalu datang seperti hujan yang deras.
Kadang ia hanya berupa sebuah kursi yang kosong,
suara yang tidak lagi terdengar,
atau kebiasaan kecil yang tiba-tiba tidak memiliki tempat.
Berikan ruang kepada dukamu.
Biarkan ia bercerita tentang betapa dalamnya
seseorang pernah berarti.
Namun jangan biarkan duka
mengambil seluruh rumah di dalam dirimu.
Pelan-pelan,
bukalah jendela.
Biarkan cahaya masuk,
meski sedikit.
Sebab mencintai seseorang yang telah pergi
bukan berarti kita harus berhenti menjalani hidup.
Ada cinta yang tetap tinggal
dalam bentuk doa,
dalam kenangan,
dalam kebaikan yang kita teruskan,
dan dalam langkah-langkah yang kita jalani setelahnya.
Tidak perlu terburu-buru untuk baik-baik saja.
Berjalanlah perlahan.
Hari ini mungkin hanya mampu satu langkah.
Besok mungkin dua.
Sampai suatu hari nanti,
kita mengerti bahwa berdamai dengan kehilangan
bukan berarti berhenti merindukan,
melainkan belajar membawa rindu
tanpa membiarkannya menghentikan langkah.
Sebab duka mungkin
akan selalu menjadi bagian dari perjalanan.
Namun hidup,
dengan segala cahaya kecilnya,
tetap menunggu kita untuk melanjutkan perjalanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar