untuk merasa hidup ini layak dirayakan.
Menunggu sesuatu tercapai,
sebuah pintu terbuka,
atau kabar baik datang mengetuk.
Padahal pagi tidak pernah meminta kita
menjadi siapa-siapa.
Ia hanya datang,
meletakkan cahaya di atas jendela,
lalu mengingatkan bahwa hari baru masih diberikan.
Bukankah itu juga sebuah alasan untuk bersyukur?
Bahwa setelah malam yang penuh pikiran,
kita masih bisa bangun dan merasakan hangat matahari.
Bahwa meski kepala dipenuhi banyak hal,
kita masih menyelesaikan apa yang harus diselesaikan.
Bahwa ketika hati ingin meletakkan semuanya,
kita memilih mengambil napas,
lalu melangkah lagi.
Mungkin keberanian
tidak selalu berbentuk langkah yang besar.
Kadang ia hanya berupa seseorang
yang tetap membuka pintu pada pagi hari,
meski semalam
ia hampir kehilangan alasan untuk melakukannya.
Ada banyak hari yang telah kita lewati
tanpa pernah kita beri nama.
Hari ketika kita terpuruk tetapi tetap bekerja.
Hari ketika takut tetapi tetap mencoba.
Hari ketika lelah tetapi masih memilih
menyelesaikan satu hal lagi.
Hari-hari seperti itu
mungkin tidak pernah masuk ke dalam daftar pencapaian.
Namun bukankah di sanalah sebagian besar
kehidupan sebenarnya berlangsung?
Jadi, jangan hanya merayakan ketika sampai di tujuan.
Rayakan juga jalan yang membuatmu sampai sejauh ini.
Rayakan tubuh yang masih mau berjalan.
Hati yang masih mau berharap.
Dan dirimu sendiri yang meski berkali-kali
bertemu alasan untuk menyerah,
tetap memilih tinggal dan melanjutkan hidup.
Sebab mungkin,
merayakan kehidupan
bukan selalu tentang tertawa paling keras.
Kadang cukup dengan menyadari bahwa hari ini
kita masih di sini,
masih bernapas,
masih punya kesempatan untuk mencoba sekali lagi.
Dan untuk semua itu,
barangkali hidup memang pantas dirayakan pelan-pelan,
dengan cara yang sederhana,
seperti cahaya pagi yang datang tanpa banyak suara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar