Senin datang pelan-pelan,
seperti hujan yang
lupa
di mana ia seharusnya
jatuh.
Ia mengetuk jendela
pagi,
mengajak aku bangun
tanpa suara,
tanpa janji apa-apa.
Di jalan menuju kerja
aku melihat bayangku
sendiri
berjalan lebih dulu,
seolah ia lebih tahu
ke mana aku hendak
pergi.
Senin,
kadang kau terasa
panjang
seperti doa yang tak
selesai,
kadang hanya lewat
tanpa sempat aku
pahami.
Tapi aku tetap
melangkah
sebab kau selalu
datang
dengan cara paling
sederhana,
dan mengingatkanku
bahwa waktu tidak
pernah
berpamitan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar