Kamis datang
dengan langkah yang
hampir tak terdengar,
seperti seseorang
yang takut
membangunkan kenangan.
Ia menyelip di antara
pagi
dan secangkir teh yang
mendingin,
menyisakan sehelai
sunyi
yang entah milik
siapa.
Kamis selalu terasa
seperti jeda yang
tertunda
bukan akhir,
bukan juga awal
hanya ruang kecil
untuk menata napas
sendiri.
Di luar, daun-daun
bergerak perlahan,
seolah membaca arah
angin
yang tak pernah pasti.
Dan ketika siang tiba,
aku mengerti
Kamis hanyalah
pengingat
bahwa waktu berjalan
pelan
bila kita mau
mendengarnya,
dan tergesa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar