Minggu datang
dengan langkah paling
lembut
di antara semua hari
seakan ia tahu
bahwa manusia butuh
waktu
untuk menjadi pelan.
Ia menghamparkan
cahaya
yang tidak
menyilaukan,
cuma cukup
untuk membuat
daun-daun
tampak lebih jujur.
Orang-orang berjalan
dengan hati yang
sedikit lebih lapang,
membiarkan suara
burung
mengisi jeda
yang biasanya terlalu
penuh
oleh urusan-urusan
hidup.
Minggu mengajariku
bahwa diam pun bisa
merawat,
dan jeda adalah cara
hari
menyentuh pundak kita
dengan sangat
hati-hati.
Ketika senja mulai
turun,
aku mengerti
Minggu bukan penutup,
melainkan bisikan
pelan
bahwa esok segalanya
akan dimulai lagi,
dan tak apa
sebab hidup selalu
menemukan
caranya sendiri
untuk kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar