Rabu datang
seperti seseorang
yang sudah lama
berdiri di depan pintu
namun baru kini berani
mengetuk.
Ia membawa separuh
lelah dari dua hari,
dan separuh harap
yang belum tahu harus
ditaruh di mana.
Di sepanjang pagi
angin berjalan
perlahan,
seakan sedang membaca
sesuatu
yang tak pernah
selesai kutulis.
Rabu mengajarkan aku
untuk menunggu:
menunggu hujan yang
ragu,
menunggu kabar yang
tak jadi sampai,
menunggu diriku
sendiri
menemukan alasan untuk
tersenyum.
Dan sore hari,
ketika cahaya mulai
memudar,
aku tahu
Rabu bukan
pertengahan,
melainkan pengingat
bahwa setiap
perjalanan
selalu membutuhkan
jeda
untuk memahami arah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar