Rabu, 04 Maret 2026

Rabu yang Menahan Nafas

 Rabu datang

seperti seseorang

yang sudah lama berdiri di depan pintu

namun baru kini berani mengetuk.

 

Ia membawa separuh lelah dari dua hari,

dan separuh harap

yang belum tahu harus ditaruh di mana.

 

Di sepanjang pagi

angin berjalan perlahan,

seakan sedang membaca sesuatu

yang tak pernah selesai kutulis.

 

Rabu mengajarkan aku

untuk menunggu:

menunggu hujan yang ragu,

menunggu kabar yang tak jadi sampai,

menunggu diriku sendiri

menemukan alasan untuk tersenyum.

 

Dan sore hari,

ketika cahaya mulai memudar,

aku tahu

Rabu bukan pertengahan,

melainkan pengingat

bahwa setiap perjalanan

selalu membutuhkan jeda

untuk memahami arah.

Tidak ada komentar: