Yaa Rabb,
hampir saja putus asa
bukan karena tak kuat,
melainkan karena lelah yang datang tanpa jeda.
Hari-hari dipenuhi hal yang tak sempat dipahami,
seperti hujan yang turun terus-menerus
tanpa memberi waktu langit untuk cerah.
Pertanyaan tumbuh pelan di dalam dada,
sedang Kau bentukkah semua ini,
atau justru sedang Kau luruhkan perlahan?
Sebab yang terasa
bukan sekadar berat
melainkan seperti sesuatu di dalam diri
yang runtuh diam-diam.
Kata-kata tanpa dasar datang silih berganti,
fitnah tanpa fakta,
tatapan yang tak jujur,
dan dengki yang tumbuh tanpa alasan
semuanya seolah tak memberi ruang untuk bernapas.
Namun Engkau,
aku tahu,
tak selalu menjelaskan di awal perjalanan.
Sering kali langkah dibiarkan berjalan
dalam gelap yang belum bernama,
dalam ragu yang tak bertepi,
tanpa peta, tanpa tanda.
Bukan untuk menyesatkan,
melainkan untuk menumbuhkan percaya—
meski arah belum sempat terlihat.
Maka dalam ujian yang panjang ini,
jagalah, ya Rabb,
dekap dalam lindungan-Mu
yang tak terlihat tapi terasa.
Bimbing langkah keluar
dari langit yang terlalu lama mendung.
Dan jika hari ini
masih mampu bertahan,
meski dengan sisa tenaga
yang hampir tak tersisa—
biarkan hati mengerti,
itu bukan kebetulan.
Itu cara-Mu berkata,
pelan dan dalam
bahwa Engkau tak pernah pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar