Selasa, 31 Maret 2026

Hampir Saja Putus Asa

Yaa Rabb,

hampir saja putus asa

bukan karena tak kuat,

melainkan karena lelah yang datang tanpa jeda.


Hari-hari dipenuhi hal yang tak sempat dipahami,

seperti hujan yang turun terus-menerus

tanpa memberi waktu langit untuk cerah.

Pertanyaan tumbuh pelan di dalam dada,

sedang Kau bentukkah semua ini,

atau justru sedang Kau luruhkan perlahan?


Sebab yang terasa

bukan sekadar berat

melainkan seperti sesuatu di dalam diri

yang runtuh diam-diam.


Kata-kata tanpa dasar datang silih berganti,

fitnah tanpa fakta,

tatapan yang tak jujur,

dan dengki yang tumbuh tanpa alasan

semuanya seolah tak memberi ruang untuk bernapas.


Namun Engkau,

aku tahu,

tak selalu menjelaskan di awal perjalanan.

Sering kali langkah dibiarkan berjalan

dalam gelap yang belum bernama,

dalam ragu yang tak bertepi,

tanpa peta, tanpa tanda.


Bukan untuk menyesatkan,

melainkan untuk menumbuhkan percaya—

meski arah belum sempat terlihat.


Maka dalam ujian yang panjang ini,

jagalah, ya Rabb,

dekap dalam lindungan-Mu

yang tak terlihat tapi terasa.

Bimbing langkah keluar

dari langit yang terlalu lama mendung.


Dan jika hari ini

masih mampu bertahan,

meski dengan sisa tenaga

yang hampir tak tersisa—


biarkan hati mengerti,

itu bukan kebetulan.


Itu cara-Mu berkata,

pelan dan dalam

bahwa Engkau tak pernah pergi.

Tidak ada komentar: