Kamis, 13 Agustus 2020

Panduan Dalam Menuntut Ilmu

"Dengan adab ilmu bisa dipahami, jika orang tidak memiliki adab dalam menuntut ilmu, maka akan sulit memahami ilmu tersebut".

Ilmu Allah adalah anugerah. Dan Allah tidak akan menitipkan ilmunya kecuali kepada cawan-cawan yang bersih. Dan cawan tersebut adalah hati manusia. Sebagaimana kaca yang melapisi lentera, bila ia bersih maka akan menghasilkan sinar yang terang dari lentera tersebut. Jika cahaya ilmu bersemayam di dalam hati yang bersih, maka ilmu tersebut akan memberikan cahaya bagi hati tersebut dan orang orang disekitarnya.

Ulama dahulu dalam belajar dan menuntut ilmu, yang pertama kali dipelajari adalah adab. Sebagian ulama dahulu, mempelajari adab berpuluh puluh tahun lamanya, lalu kemudian mempelajari ilmu. Seperti yang hadir di majelis Imam Ahmad ada puluhan ribu orang, hanya sekitar 500 yang menulis, sisanya memperhatikan gerak gerik Imam Ahmad. Mempelajari adab Imam Ahmad.

Salah seorang murid Imam Malik berkata, kami lebih banyak dapat faedah adab dari Imam Malik daripada Ilmu. Sebagaimana dikisahkan Imam Malik, "Ibuku membangunkanku dipagi hari sambil mengikat sorban (imamah) diatas kepalaku kemudian berkata, pergilah kepada Rabi’ah, ambillah adabnya dahulu sebelum ilmunya."

Abu Bakar Al Anjuni dalam Kitab Asy Syariah yang membahas tentang Aqidah  mengatakan seorang yang memiliki ilmu memiliki adab. Adab saat belajar, adab saat memiliki ilmu, dan adab saat mengajarkan ilmu.

Ada beberapa pedoman bagi penuntut ilmu dalam mempelajari akhlak: 1.) Akhlak bisa didapatkan dari membaca buku siroh para ulama 2.) Bisa juga dengan melihat langsung dari ulama.

Oleh karena itu, sangat beda output dan adab yang didapatkan dari orang yang belajar dari guru dengan orang yang hanya membaca buku. Siapa yang masuk ke medan ilmu dan hanya membaca buku seorang diri, ia akan keluar sebagaimana ia masuk.

Atas alasan itulah maka hadir ke majelis ilmu menjadi sangat penting. Karena di majelis ilmu selain mendapat ilmu, bisa belajar adab, bertanya pada guru-guru kita dan mendapat berkah dari Allah Subhana Wa Ta'ala.

Ulama-ulama terdahulu tidak mau mengambil imu dari orang yang berguru hanya kepada buku (otodidak), karena keburukannya lebih banyak dari kebaikannya.


Bab Pertama yang harus kita pelajari dalam menuntut ilmu adalah Ikhlas

Karena barangsiapa yang menganggap dirinya telah ikhlas, maka ia harus belajar kembali tentang ikhlas. Keikhlasan yang membutuhkan ikhlas tinggat tinggi.

Sehingga dalam setiap amalan, penting untuk meluruskan niat kita. Ibnu Hazm mengatakan, niat posisinya seperti ruh dalam setiap perbuatan yang kita lakukan. Dan Ikhlas merupakan amalan yang paling tinggi dan paling sulit direalisasikan kecuali bagi orang yang dirahmati Allah.

Kata sebagian ulama, "Aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih aku sembuhkan melebihi niatku, karena ia selalu mengalahkan aku." Ada orang semakin berilmu semakin tajam ucapannya, ada orang semakin berilmu semakin tawadhu, ada seorang yang semakin berilmu semakin hatinya jadi tempat sampah karena hasad dan dengki, ada orang semakin berilmu semakin sibuk beribadah dan ‘hilang’ dari masyarakat.

Imam Abu Syuja, Penulis buku panduan Mahzab Syafii, ketika mencapai puncak popularitas, beliau tiba-tiba menghilang, karena beliau merasa sudah dipuncak dan dikalahkan niatnya. Maka beliau memilih untuk menghilang hingga diberitakan meninggal. Padahal ia meninggalkan syam dan pindah jadi tukang sapu di Masjid Nabawi hingga akhir hayatnya tanpa ada yang tahu kalau ia ulama besar. Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah semakin berilmu semakin takut dikalahkan niat mereka.

Ada ungkapan salaf, apabila kalian melihat ada seseorang senang dikerumuni orang lain, ketahuilah bahwa orang tersebut majnun (gila). Tidak ada orang yang dapat menghindar dari Tajwidul Kalam (memperelok bahasa) ketika ditengah-tengah manusia.

Orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya adalah orang-orang yang akan diazab terlebih dahulu daripada penyembah berhala.

Perlu diingat: Ilmu tidak dipuji karena keluasannya, tapi karena kemanfaatannya


Hukum menuntut ilmu:

1. Sifatnya Wajib : Apabila ilmu tersebut berkaitan dengan ibadahnya dengan Allah. Ilmu tentang wudhu, sholat, bila pedagang wajib punya ilmu fiqih muamalat. Orang yang paling tahu tentang fiqih muamalah jual beli emas di Madinah adalah pedagang emas

2. Sifatnya Haram : Jika diniatkan untuk berdebat. Mendebat orang berilmu atau membodohi orang jahil

3. Sifatnya Makruh : Jika diniatkan agar ada bahan untuk dikutip. Jangan jadikan obsesi anda di majelis ilmu agar ada bahan untuk diceritakan ke orang. Yang paling membutuhkan ilmu adalah diri kita sendiri untuk diamalkan. Jika tidak memiliki kemampuan menukil persis seperti yang dikatakan guru kita, maka yang kita katakan adalah, "Yang saya pahami dari guru saya seperti ini.." Jangan katakan, "Kata guru saya seperti ini…" padahal redaksinya berbeda

4. Sifatnya Sunnah : Pada beberapa ilmu, dimana ilmu tersebut jarang kajiannya. Contohnya ilmu faroid (ilmu waris) (ada 2 yang pembagiannya langsung ditangani Allah SWT yaitu Zakat dan Waris, karena 2 hal ini potensi konfliknya tinggi karena berkaitan dengan harta)

Semoga kita dikaruniakan akhlak dan ilmu yang baik


Tidak ada komentar: