Ada jiwa yang ketika kecewa,
ia memilih tenang tanpa banyak mengeluh.
Ketika terjatuh,
ia memberi waktu pada lututnya yang gemetar,
lalu pelan-pelan berdiri kembali.
Ketika sesak,
ia belajar mengatur napas,
bukan menyerah pada keadaan.
Marah datang,
namun tak dibiarkan berubah menjadi dendam.
Sakit hati singgah,
namun tak dibalas dengan luka yang sama.
Sedih hadir,
tapi tak dibiarkan menetap terlalu lama.
Perih terasa nyata,
namun harap tetap dijaga
meski kecil dan nyaris tak terlihat.
Begitulah keteguhan yang lembut
tetap merasa,
namun tak kehilangan arah.