Jumat, 03 April 2026

Keteguhan Yang Lembut

Ada jiwa yang ketika kecewa,

ia memilih tenang tanpa banyak mengeluh.


Ketika terjatuh,

ia memberi waktu pada lututnya yang gemetar,

lalu pelan-pelan berdiri kembali.


Ketika sesak,

ia belajar mengatur napas,

bukan menyerah pada keadaan.


Marah datang,

namun tak dibiarkan berubah menjadi dendam.


Sakit hati singgah,

namun tak dibalas dengan luka yang sama.


Sedih hadir,

tapi tak dibiarkan menetap terlalu lama.


Perih terasa nyata,

namun harap tetap dijaga

meski kecil dan nyaris tak terlihat.


Begitulah keteguhan yang lembut

tetap merasa,

namun tak kehilangan arah.

Isu Tak Nyata

Kadang, ketika tak ditemukan cela

pada apa yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh,

kata-kata mulai diciptakan

ringan, tapi sengaja dijatuhkan

agar terdengar seperti kebenaran.


Isu beredar pelan-pelan,

menyusup di antara percakapan,

tumbuh dari hal yang tak pernah terjadi,

lalu dibesarkan

oleh yang memilih percaya

tanpa sempat memahami.


Sementara yang berjalan lurus

tetap di tempatnya

membawa kerja yang nyata,

dan diam yang tak pandai membela diri

dengan cara yang sama.


Memang ada godaan

untuk membalas,

untuk ikut masuk

ke dalam riuh yang mereka ciptakan

namun tidak semua suara

perlu dijawab.


Sebab ada yang lebih perlu dijaga

dari sekadar menang dalam perdebatan:

cara melangkah,

cara menjaga diri

tetap utuh.


Maka biarkan saja

yang ringan itu lewat bersama angin,

dan tetaplah berjalan

seperti semula

tenang,

jujur,

dan setia pada yang dikerjakan.


Karena pada akhirnya,

yang akan tinggal bukanlah suara yang paling keras,

melainkan jejak yang paling nyata.

Apa Kabar Pagi

apa kabar pagi ini


sebelum langkahmu

benar-benar berangkat,

cobalah sebentar

menyentuh dada sendiri,

dan berbisik pelan:


tidak semua hal

perlu menjadi penting,

tidak semua

harus dikejar


ada yang hilang

memang untuk dilepas,

ada yang pergi

tak selalu perlu dipanggil kembali


kadang kita berlari

bukan karena ingin sampai,

melainkan karena

ada yang belum selesai di dalam hati


luka yang tak sempat disapa,

diam-diam

menggerakkan arah


ambisi memang perlu,

ia membuat langkah tetap hidup,

namun tanpa arah

ia bisa membawa kita

semakin jauh dari diri sendiri


sebab hidup

bukan sekadar tentang tiba,

melainkan tentang

menyadari

di mana hati

merasa utuh kembali

Harap Di Bulan April

Di bulan April yang perlahan kita jalani,

semoga bukan hanya kekuatan yang hadir,

tetapi juga ketenangan

untuk menerima hal-hal

yang tak sempat diubah.


Di antara hari-hari

yang tak selalu ramah,

semoga arah tetap terjaga,

dan harapan tak ikut pudar

hanya karena kenyataan

tak berjalan seperti rencana.


Semoga yang sempat retak

menemukan utuhnya kembali,

yang lelah diberi jeda,

dan yang hilang

diganti dengan yang lebih menenangkan.


Sebab pada akhirnya,

yang dibutuhkan bukanlah hidup yang sempurna,

melainkan hati yang cukup lapang

untuk tetap melangkah 

di setiap keadaan.


Dan untuk segala yang diperjuangkan diam-diam,

semoga April menjadi ruang

yang pelan-pelan menyembuhkan,

menguatkan,

serta mengingatkan,

bahwa langkah ini

tak pernah benar-benar sendiri.

Dituduh

Dituduh itu tidak menyenangkan. 

Apalagi jika kesalahan itu bahkan tak pernah dilakukan.


Ada sunyi yang tiba-tiba menetap di dada,

saat kata-kata orang lain

berlari lebih dulu

daripada kebenaran.


Langkah seakan terhenti sejenak,

hati diam-diam tahu

apa yang sebenarnya terjadi,

sementara sebagian dunia

memilih cerita yang berbeda.


Namun langkah tak perlu berhenti,

tetap berjalan sebagaimana mestinya

menjaga yang perlu dijaga,

merawat yang benar di dalam diri.


Sebab ada integritas

yang tak perlu diumumkan,

cukup dijalani dengan tenang,

dan kebaikan

yang tak perlu dibalas,

cukup diteruskan.


Mungkin memang begitu jalannya,

kebenaran sering berjalan pelan

menyusuri waktu,

hingga akhirnya sampai

pada hati yang benar-benar bersedia mengerti.

Menunggu Dalam Sunyi

Hari terasa panjang,

seperti langkah yang tak selesai-selesai.

Lelah datang diam-diam,

menyusup di sela-sela aktivitas

yang tetap harus dijalani.


Ada waktu-waktu

menunggu dalam sunyi,

tanpa suara, tanpa teman bicara,

hanya ditemani pikiran

yang kadang terlalu ramai.


Namun hari tetap berjalan,

dan langkah tetap dilanjutkan

meski pelan, meski seadanya.


Di ujung yang sederhana ini,

ada satu hal yang ingin diucapkan,

tanpa banyak kata, tanpa gemuruh


Terima kasih, ya Rabb,

untuk hari yang panjang ini,

untuk lelah yang menguatkan,

untuk sunyi

yang diam-diam menghadirkan banyak kebaikan,

dan untuk malam yang datang,

memberi jeda,

bagi segala yang telah berjuang.


Selamat istirahat...