Ada hal-hal yang memang tidak mudah dilupakan,
ada perlakuan yang meninggalkan bekas,
dan ada kesalahan orang lain yang mungkin
membutuhkan waktu untuk kita terima.
Namun setelah mengakui bahwa ia telah salah,
apakah hatimu harus terus menjadi
ruang pengadilan yang tidak pernah selesai?
Kamu tidak harus menganggap
apa yang terjadi sebagai sesuatu yang benar.
Memaafkan bukan berarti membenarkan.
Melepaskan bukan berarti melupakan begitu saja.
Tetapi mungkin,
setelah cukup lama mengulang kejadian
yang sama di dalam pikiran,
sudah waktunya berhenti menghukum seseorang
yang bahkan mungkin sudah tidak berada di hadapanmu.
Sebab setiap kali kamu mengulang kesalahannya,
barangkali kamu juga sedang mengulang lukamu sendiri.
Biarkan kesalahan itu tetap menjadi kesalahan,
dan biarkan pengalaman itu menjadi pelajaran.
Kamu boleh menjaga jarak.
Kamu boleh memilih untuk tidak kembali percaya.
Namun jangan biarkan perbuatan orang lain
mengambil terlalu banyak ruang dalam hidupmu.
Pada akhirnya,
yang perlu kamu selamatkan
bukan orang yang pernah menyakitimu,
melainkan hatimu sendiri.
Agar setelah semua yang terjadi,
kamu masih bisa hidup dengan tenang,
tanpa membawa seseorang yang telah pergi
ke dalam setiap hari yang baru.