Jumat, 24 Desember 2021

Syafaat Al Qur'an

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam telah bersabda:

اقرأوا الْقُرْآن فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْم الْقِيَامَة شَفِيعًا لأَصْحَابه  (رواه مسلم)

“Bacalah Al-Quran, kelak ia akan datang di Hari Kiamat memberi syafaat kepada para pembacanya.” (HR. Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda tentang orang yang mengkaji dan mempelajari ayat-ayat Allah:

تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَافِعًا لِأَصْحَابِهِ (رواه ابن حبان)

“Pelajarilah Al-Quran oleh kalian, sebab kelak di Hari Kiamat ia akan datang memberi syafaat kepada para pengkajinya.” (HR. Ibnu Hibban)

Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

من تعلم القرآن وعلمه وأخذ بما فيه كان له شفيعا ودليلا إلى الجنة (رواه ابن عساكر)

“Siapa yang mempelajari Al-Quran, mengajarkan, dan mengamalkan isinya, maka ia akan menjadi pemberi syafaat dan petunjuk jalan menuju surga.” (HR. Ibnu Asakir)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

من قرأ القرآن كتب الله له بكل حرف عشر حسنات ومن سمع القرآن كتب الله له بكل حرف حسنة وحشر في جملة من يقرأ ويرقى (رواه الديلمي)

“Siapa yang membaca Al-Quran, Allah akan mencatat baginya, sepuluh pahala kebaikan di tiap hurufnya dan siapa yang mendengarkan bacaan Al-Quran, Allah akan catat untuknya, satu kebaikan di tiap hurufnya, serta ia akan dibangkitkan dalam golongan orang yang membaca dan naik derajatnya.” (HR. Ad-Dailami)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَسَلُوا بِهِ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَنْ يَتَعَلَّمَ قَوْمٌ يَسْأَلُونَ بِهِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْقُرْآنَ يَتَعَلَّمُهُ ثَلَاثَةٌ: رَجُلٌ يُبَاهِي بِهِ، وَرَجُلٌ يَسْتَأْكِلُ بِهِ، وَرَجُلٌ يَقْرَأُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (رواه البيهقي)

“Pelajarilah Al-Quran dan mintalah surga dengannya, sebelum muncul satu kaum yang mempelajari Al-Quran untuk tujuan duniawi. Sesungguhnya ada tiga kelompok yang mempelajari Al-Quran: (1) Seseorang yang mempelajarinya untuk membanggakan diri, (2) Seseorang yang mencari makan darinya, dan (3) seseorang yang membaca karena Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. Baihaqi)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَحَفِظَهُ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ وَشَفَّعَهُ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلُّهُمْ قَدْ اسْتَوْجَبُوا النَّارَ

“Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dan menghafalkannya, maka Allah masukkan ia ke surga, dan memberikan syafaat kepadanya sepuluh dari keluarganya yang semua divonis masuk neraka.” (HR. Ibnu Majah)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

القرآن مشفع وماحل مُصَدَّقٌ مَنْ جَعَلَهُ إِمَامَهُ قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ ومن جعله خلف ظَهْرِهِ سَاقَهُ إِلَى النَّارِ

“Al-Qur’an memberi syafaat dan dimintai syafaat, dan menjadi saksi yang diyakini (kebenarannya), barangsiapa yang menjadikannya sebagai imam, panutan, pedoman (dengan mengamalkan isi kandungannya) maka ia akan ditarik ke surga, dan barangsiapa yang menjadikannya di belakang punggungnya (meninggalkan isi kandungannya) maka ia akan ditarik ke neraka” (HR. Ibnu Hibban)

Sudahkah Membaca Al-Qur’an Hari Ini?

Kapan Terakhir Membaca Al-Qur’an?

*sumber: instagram udahavid

Batasan Toleransi

toleran/to·le·ran/ a bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri

toleransi/to·le·ran·si/ n 1 sifat atau sikap toleran: 2 batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan; 3 penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja; (KBBI)

Dalam Islam, salah satu wujud toleransi adalah dengan semakin toleran terhadap perkara khilafiyah yang bersifat mu’tabar dengan tetap berpegang kepada perkara yang kita anggap benar tanpa mencela yang berbeda dalam perkara ini

Dalam hubungan dengan agama lain, wujud toleransi adalah dengan menghormati dan menghargai umar beragama lain tanpa mencampur adukkan aqidah dan syariat dengan agama lain

Lakum diinukum wa liya diin

Sayangnya makna toleransi ini semakin kesini semakin bias

Diantara wujud toleransi dengan agama lain yang bisa dilakukan diantaranya dengan tidak menghina agama apapun baik Tuhannya maupun ajarannya, tidak melecehkan pemuka agama manapun, tidak mengganggu ibadah dan tidak merusak tempat ibadah agama manapun, membantu umat agama manapun yang terkena musibah atau terzalimi, tidak memaksa atau meneror umat agama manapun untuk masuk islam, berniaga dengan umat agama apapun dengan cara yang halal, dan memberikan hak umat agama manapun secara adil tanpa dikurangi.

Toleransi telah banyak diajarkan dan dipraktikkan oleh Rasulullah kepada umatnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam paham betul bahwa masyarakat Arab yang menjadi obyek dakwahnya terdiri dari berbagai suku. Apalagi di lingkungan bangsa Arab sendiri, sikap kesukuan sangat tinggi, yang terdiri dari banyak kabilah. Salah satu contohnya adalah bagaimana Rasulullah. mampu bergaul dan berhubungan secara sosial dengan tetangganya yang beragama Yahudi di Madinah. Bahkan suatu kali ada seorang Yahudi meninggal dunia yang dibawa oleh para kerabatnya untuk dimakamkan. Pada saat yang sama, Rasulullah dan para sahabat sedang duduk-duduk. Mengetahui ada jenazah orang Yahudi sedang lewat, Rasulullah kemudian berdiri sebagai tanda penghormatan. Spontanitas para sahabat bertanya, “Wahai Nabi, kenapa engkau berdiri, padahal jenazah tersebut adalah seorang Yahudi? Jawaban Rasuullah singkat: “Setidaknya ia adalah seorang manusia”. Sikap Rasulullah. ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah tipe yang menjunjung tinggi toleransi.

Akan tetapi Ketika berurusan dengan aqidah dan syariat, toleransi memiliki batasan yang sangat jelas. Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Inilah di antara prinsip akidah yang mesti dipegang dan dianut setiap muslim dengan tetap menghormati umat agama lain tersebut.

Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 24: 704)

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

*sumber : instagram udahavid

Kematian Yang Membuat Iri

Innalillahi wa inna ilaihi raajiun

Seketika linimasa dan medsos saya ramai dengan berita kematian Mang Oded Rahimahullah. Beliau meninggal saat sholat sunnah, hendak menjalankan ibadah wajib dan hendak menjadi khatib. Beliau meninggal ditempat yang mulia, di Masjid, dan dihari Jum’at.

MasyaAllah.. Sungguh hati ini dibuat iri dengan cara Allah Subhanahu Wa Ta’ala memanggil beliau 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum`at atau malam Jum`at, melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah (siksa) kubur”. [HR Ahmad dan Tirmidzi]

 

Bagaimana tidak iri dengan cara Allah memanggil beliau???

Saya sendiri tidak mengenal beliau, hanya tahu sedikit sekali ketika beliau menjadi wakil walikota Bandung… Saya juga tidak tahu amalan apa yang biasa beliau kerjakan sehingga Allah memanggil beliau dengan cara yang indah…

Namun seperti sabda Rasulullah, “Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya” [HR Muslim]. Yang kemudian dijelaskan Al-Munaawi Rahimahullah, “Yaitu ia meninggal diatas kehidupan yang ia jalani dan ia dibangkitkan diatas itu” [At Taisir bi Syarh Al-Jami’ Ash Shogir 2/859)

Dari Mang Oded kita belajar kalau setiap manusia akan meninggal, yang membedakan adalah bagaimana dan dalam keadaan seperti apa nyawa kelak akan dicabut. Seperti apa hidup seseorang, begitu pula keadaan matinya.

 

Kematian adalah sebaik-baiknya nasihat

Sekarang giliran kita. Apakah amal dan ibadah kita semakin giat dan khusyuk? Apakah kita mau merencanakan akhir hidup kita dengan cara yang baik? Karena proses meninggal seseorang itu menunjukkan rekam jejaknya ketika hidup di dunia…

 

عَنْ المُطَّلَبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اَنَّ أَبَا بَكْرٍ كَانَ يَقُوْلُ اللّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِيْ آخِيْرَهُ وَخَيْرَ عَمَلِيْ خَوَاتِمَهُ وَخَيْرَ أيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ

“Dari Muthalib bin Abdillah bahwasannya Abu Bakar pernah berdoa Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada akhirnya. Dan jadikanlah sebaik- baik amalku pada akhir hayatku, dan jadikanlah sebaik hariku pada saat aku bertemu dengan Engkau.” [H.R ibnu Abi Syaibah]

 

فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ

(Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh. [QS Yusuf : 101]

 

 رَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ

Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu). [QS Al Araf : 126]

Semoga kita dimatikan dalam dekat-dekatnya kepada Allah. Tidak ada yang kita harapkan kecuali menjadikan penutup hidup kita dengan ketaatan kepada-Nya

Aamiin Allahumma Aaamiin

*sumber : instagram udahavid

Tuhan Bukan Orang Arab

Tuhan bukan orang Indonesia

Tuhan bukan orang Wakanda

Tuhan juga bukan orang Timbuktu

 

 لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. – QS Asy Syura : 11

 

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. - QS Al Ikhlas : 4

 

رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهٖۗ هَلْ تَعْلَمُ لَهٗ سَمِيًّا

(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya? – QS Maryam – 65

 

Tuhanku…

Allah Azza Wa Jala

Bukan Orang

Titik.

*sumber : instagram udahavid

Senin, 22 Maret 2021

Yang Sebaiknya Dilakukan Ketika Anak Laki-Laki Usia 6 - 7 tahun

Setelah tuntas kelompok usiadibawah 2 tahun, kelompok usia 3 tahun, kelompok usia 4 tahun, dan kelompok usia 5 tahun, sekarang kita masuk ke kelompok kelima, yaitu apa yang sebaiknya ayah bunda lakukan ketika anak laki-laki berusia 6 - 7 tahun.

Ketika anak laki-laki memasuki usia 6 – 7 tahun, ia sudah bisa membedakan kanan kiri dan baik buruk. Diusia ini ayah bunda juga bisa menanamkan adab akhlak dan karakter baik ke anak laki-laki ayah bunda. Ayah bunda juga bisa mengajarkan dan membiasakan untuk berpikir dan berdiskusi.

Perkembangan Anak Diusia 6 – 7 Tahun

Kemampuannya dalam menginterpretasi ucapan orang dewasa masih sangat literal. Ia masih belum paham jika disindir. Ia perlu kata-kata atau kalimat yang PENDEK dan SEDERHANA. Ia masih belum mengerti ketika gurunya berkata pada supir jemputan “Pak, kita lewat jalan tikus aja, supaya lebih cepat sampainya.” Ia akan langsung membayangkan jalan yang becek, kotor, bau dan membayangkan tikus yang hidupnya jorok. Ia langsung berkomentar, “ Jangan bu, jalan tikus itu kan kotor dan bau. Aku nggak mau lewat jalan tikus.”

Ia sangat percaya pada GURUnya, pada ilmu yang gurunya miliki. Apa yang gurunya katakan itu yang benar. Hal ini kadang membuat kesal ayah bunda karena ia tidak mau mengerjakan tugas jika tidak dengan cara yang diajarkan gurunya.

Ia senang bekerja KELOMPOK, tapi ia suka kesal dengan teman-temannya yang maunya menang sendiri. Ayah bunda perlu mengajarkan ia bagaimana CARANYA BEKERJA DAN BELAJAR DALAM KELOMPOK. Ia perlu berlatih bagaimana caranya berbagi tugas dengan teman, berbicara dan mendengarkan pendapat teman, agar ia lebih terampil bekerja sama. Ia juga perlu masukan dari ayah bunda apa yang masih harus ia perbaiki saat ia bekerja dalam kelompok.

Ia senang MENGADU jika ia melihat ada perbuatan temannya yang tidak baik. Ia sangat senang menilai temannya dengan kategori BAIK dan BURUK. Ia tahu hal ini tidak baik untuk dilakukan tapi ia belum tahu bagaimana cara menilai orang lain.

Ia perlu dilatih untuk tidak menilai orang lain atas baik atau buruk tapi lebih kepada cocok atau tidak cocok perilaku temannya dengan situasi. Ia juga perlu ATURAN YANG JELAS agar ia dapat berperilaku baik.

Ia senang diperhatikan SIKAP POSITIFNYA saja.

Sikapnya lebih TENANG, lebih banyak DIAM dan lebih TERATUR daripada tahap sebelumnya. Ia sudah menguasai keterampilan akademis dan siap untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata sehari-hari – membaca buku sendiri, menggunakan matematika di dalam kehidupannya.

Penampilannya sehari-hari LEBIH SERIUS, banyak berpikir dan kadang SANGAT PEKA perasaannya. Ia dapat tiba-tiba berubah perasaannya dari bahagia menjadi sedih dalam WAKTU SINGKAT. Ia mulai PUNYA SAHABAT walau kadang persahabatannya putus setelah tiga hari tapi putusnya hubungan persahabatan dapat membuatnya hancur.

Ia sudah mampu melakukan perenungan mengapa dapat putus persahabatannya dengan temannya. Tapi ia masih membutuhkan BANTUAN untuk MEMAHAMI KESALAHANNYA. Ia akan cepat memahami kesalahannya jika ayah bunda memberikan pertanyaan-pertanyaan seperti : Apa yang terjadi? Bagaimana kira-kira perasaan temannya itu? Bagaimana ia dapat memperbaikinya?

Ia sekarang sudah dapat DUDUK LEBIH LAMA mendengarkan ayah bunda berbicara tapi jangan manfaatkan kemampuannya ini dengan membuat ia selalu duduk mendengar saja. Ia tetap perlu untuk BERGERAK dan melakukan eksplorasi.

Ia sangat suka bekerja dalam KELOMPOK. Ia kadang tertekan juga dengan teman-teman sebayanya. Ia akan berusaha keras untuk menjadi teman yang baik agar ia tetap menjadi bagian dari teman-temannya.

Kemampuannya untuk memahami hal atau KONSEP YANG ABSTRAK seperti konsep matematika semakin baik karena ia sudah pandai dalam melakukan klasifikasi, memahami angka dan hubungan antar angka.

Hal ini juga membuatnya sering mengelompokkan teman-temannya yang berbeda dengan ’kamu’ misalnya “eh Nadin kamu jangan di sini, kamu kan nggak kursus piano …” atau “ kita di sini kelompok anak perempuan, anak laki jangan di sini, memangnya kamu tidak malu main sama anak perempuan …”

Yang Ayah Bunda Sebaiknya Lakukan

Ia masih SULIT menerima perbedaan. Ia hanya mau bermain dengan teman-teman yang ADA KESAMAANNYA dengannya. Ayah bunda harus MELATIHNYA untuk dapat melihat bahwa setiap orang diciptakan berbeda dan masing-masing orang memiliki kelebihan dan kekurangan.

Ayah bunda harus lebih banyak memperhatikan SIKAP POSITIFNYA.

Kalau ada sesuatu YANG BARU tolong agar ia DISIAPKAN dan DIBERI PEMAHAMAN lebih dahulu karena ia tidak suka PERUBAHAN TANPA PERSIAPAN.

Demikian yang sebaiknya dilakukan ketika anak laki-laki kita berusia 6 - 7 tahun. Semoga kita bisa menjadi ayah hebat dan ibu tangguh yang mampu mendidik anak-anak laki-laki kita dengan pendidikan terbaik sesuai fitrahnya dan menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang juara dengan akhlak yang baik.

*Sumber : Webinar Ayah Irwan Rinaldi dan Ustadz Bendri Jaisyurrahman