Senin, 28 September 2026

Belajar Melihat

Menerima Takdir

Di antara gedung-gedung tinggi,
di tengah kota yang terus bergerak,
ada hati yang memilih diam
karena terlalu banyak kehilangan untuk diceritakan.

Ramai tetap ramai,
namun tak lagi terasa.
Suara-suara datang,
tetapi hati seperti tidak mampu menerimanya.
Sebab ada ruang di dalam diri yang baru saja kehilangan
seseorang yang begitu berarti.

Awan boleh mendung,
tetapi hati kadang menyimpan langit yang jauh lebih kelam.
Hujan boleh jatuh deras,
namun ada air mata yang membawa kesedihan
yang tak mudah dijelaskan.

Yang dahulu terasa begitu indah,
kini berubah menjadi kenangan.
Tawa yang pernah mengisi hari,
kini hanya datang sesekali dalam ingatan.

Begitulah perjalanan manusia.
Ada masa ketika hidup mengguncang sesuatu
yang selama ini kita jadikan pegangan.
Kita kehilangan seseorang,
kehilangan arah,
bahkan kehilangan keyakinan
bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, mungkin di sanalah
kita belajar sesuatu yang paling sulit:
bahwa tidak semua yang kita cintai 
ditakdirkan untuk tinggal.

Kehilangan memang menyakitkan.
Tetapi jangan sampai luka
membuat kita menolak takdir yang telah Allah tetapkan.
Sebab menerima takdir
bukan berarti berhenti mencintai yang telah pergi.
Bukan pula berarti kesedihan harus segera selesai.

Menerima adalah ketika,
di tengah hati yang masih berduka,
kita perlahan berkata kepada diri sendiri:
ada hal-hal yang tidak mampu kita ubah,
dan ada ketetapan Allah yang pada akhirnya 
harus kita percayakan.

Mungkin hati belum sepenuhnya mengerti.
Tidak apa-apa.
Cukup terus berjalan,
membawa doa,
membawa kenangan,
dan menyerahkan apa yang tidak lagi
mampu kita genggam kepada Allah.
Sebab kadang,
kesembuhan bukan tentang melupakan siapa yang telah pergi,
melainkan belajar hidup dengan cinta yang tetap ada,
tanpa lagi melawan takdir-Nya.

Tidak ada komentar: