Minggu, 04 Oktober 2020

Bentang Kebaikan Dalam Commuter Line

Langit terbuka luas, mengapa tidak pikiranku, pikiranmu… -PS

Salah satu yang dirindukan pada masa-masa sebelum covid adalah melihat banyak kebaikan yang terbentang luas. Seperti kebaikan disekitar commuter line yang sempat terekam dalam kamera telepon seluler sederhana ini..

Dalam suatu waktu di stasiun tanjung barat terlihat dua petugas yang sedang membantu seorang wanita yang membutuhkan bantuan. Tampak petugas menjaga wanita yang sakit tersebut, disaat petugas yang lain sedang mengambil kursi roda, hingga saatnya rekannya datang dan membantu wanita tersebut menggunakan kursi roda. Semoga petugas diatas diberi kelapangan rezeki dan mendapat banyak kebaikan dalam hidupnya dan semoga wanita diatas juga diberikan kesehatan dan banyak kebaikan.

Dalam kesempatan lain tampak ibu tangguh yang sedang memeluk anaknya yang sedang terlelap dan berusaha agar anaknya bisa tidur senyaman mungkin dalam dekapannya. Semoga ibu tangguh tersebut diberikan banyak kemudahan dalam hidupnya.

Atau ada juga seorang ayah hebat yang mendekap anak laki-lakinya yang disayang dalam perjalanan menuju pulang. Terlihat anak tersebut sangat nyaman berada dipangkuan ayahnya sambil menggendong 'harimau' kesayangan anak tersebut. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan rezeki yang berlimpah kepada ayah hebat tersebut.

Dan terakhir, sesosok ikhwan sholeh yang memanfaatkan waktu perjalanan sambal membaca Al-Quran. Sungguh pemanfaatan waktu yang sangat berfaedah dan jauh dari makna sia-sia. Semoga Allah Azza Wa Jala mengganjar ikhwan tersebut dengan pahala yang berlipat ganda.

Sesungguhnya diluar empat hal diatas masih banyak sekali kebaikan yang terjadi di commuter line yang tidak bisa saya abadikan. Semoga pandemi ini cepat berakhir dan kita selalu bisa melakukan banyak kebaikan dalam hidup kita.

Kindness is a language which the deaf can hear and the blind can see - Mark Twain

Ayahku Sang Motivator

Serial ayah hebat yang sekarang masuk tema keenam yang disampaikan oleh Ustadz Bendri Jaisyurahman dengan judul Ayahku Sang Motivator. Sebagai seorang ayah, salah satu yang menjadi nilai lebih apabila ayah bisa menjadikan dirinya sebagai pegangan bagi anak. Ayah yang hebat adalah apabila segala ucapan ayah dijadikan ucapan yang baik dan dijadikan referensi anak. Rasulullah mengingatkan akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh dengan fitnah (hoax). Anak-anak yang tidak memiliki referensi nilai akan sangat mudah percaya kepada hoax karena ayahnya tidak mampu menjadi motivator.

Anak-anak yang tidak dekat dengan ayah secara hubungan emosi akan sangat rentan mendapatkan pengaruh dari dunia luar, baik itu pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Al Quran menggambarkan betapa ayah jika sudah menjadi sosok motivator, maka disaat anak terpisah dengan ayah, anak akan menjaga apa yang disampaikan oleh ayah. Seperti yang dialami Nabi Yusuf dalam QS Yusuf ayat 24:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰى بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ

Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.

Saat Yusuf digoda Zulaikha, Yusuf sempat tergoda oleh bujuk rayu Zulaikha, tapi Allah memberi petunjuk kepada Yusuf. Dalam beberapa tafsir Allah Azza Wa Jala memberi petunjuk kepada Yusuf dengan cara menghadirkan wajah ayahnya, Nabi Yakub, di dinding tempat Nabi Yusuf diajak maksiat. Padahal saat itu ayahnya berada di Palestina, sementara Yusuf di Mesir. Sehingga tiba-tiba Yusuf tidak berminat lagi kepada Zulaikha dan meninggalkan tempat tersebut meskipun Yusuf memiliki resiko difitnah oleh Zulaikha.

Cerita ini menjadi isyarat betapa ayah bisa menjadikan kalimat-kalimatnya menjadi pagar agar anak tidak mudah dipengaruhi.

Bagaimana ayah bisa menjadi motivator bagi anak?

Yang pertama, ayah punya integritas dan kredibilitas. Yang kedua, ayah mampu menangkap golden moment. Integritas adalah kunci, karena interitas akan melahirkan trust. Trust adalah modal besar ayah untuk menjadi motivator. Oleh karena itu Baginda Rasulullah menjaga betul antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukannya sehingga beliau mendapatkan gelar 

Al-Amin. Oleh karena itu ayah harus menunjukkan integritas dan kredibilitas melalui ucapan, usaha, dan tindakan ayah. Rasulullah dikagumi karena apa yang diucapkan sesuai dengan tindakannya, baik dilihat ataupun tidak dilihat orang.

Seorang ayah berusahalah menjadi sosok yang teladan dalam keluarga dimulai dari dirinya sendiri sebagaimana diceritakan dalam kisah ayah-ayah hebat dalam Al-Quran. Seperti kisah Nabi Ibrahim dalam Surat Ibrahim Ayat 35 dan 40:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ ۗ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Perlu dicatat.. aku dan anak cucuku.. beliau memohon agar dirinya dan keluarganya agar jangan menyembah berhala. Ini salah satu bentuk keteladanan Ibrahim, beliau memohon dirinya dahulu untuk berbuat baik.

Atau contoh doa Nabi Luth dalam Surat Asy-Syuara ayat 169:

رَبِّ نَجِّنِيْ وَاَهْلِيْ مِمَّا يَعْمَلُوْنَ

Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.

..aku dan keluargaku.. ini menjadi isyarat kalau kita harus meningkatkan kualitas diri kita agar kita bisa menjadi contoh yang baik bagi anak kita.

Seperti contoh yang dilakukan Imam Hasan Al Bashri ketika para budak meminta kepadanya agar menyampaikan khutbah jumat dengan tujuan mendorong orang-orang membebaskan budaknya agar mereka tidak mendapatkan perlakuan yang sewenang-wenang. Jumat demi Jumat berlalu, Imam Hasan al-Bashri tidak segera menyinggung pembebasan budak dalam khutbahnya. Setelah beberapa minggu, akhirnya beliau baru menyampaikan keutamaan membebaskan budak dalam khutbahnya. Isi khutbah beliau memiliki pengaruh yang luar biasa. Setiap orang yang memiliki budak tanpa fikir panjang segera membebaskan budaknya setelah sampai di rumahnya masing-masing. Setelah beberapa hari kemudian, datang lagi para bekas budak yang pernah menyampaikan permohonan ada beliau. Mereka kini menjadi manusia merdeka berkat khutbah Imam Hasan al-Bashri. Mereka berkata serta menyampaikan maksud kedatangannya, kalau mereka marah kenapa Hasan Al Bashri menunda khotbah Jumat yang mereka minta. Pada saat Hasan Al Bashri menjelaskan kalau ia tidak bisa meminta apa yang beliau belum pernah laksanakan, akhirnya Hasan Al Bashri menunggu sampai beberapa minggu, sampai ia bisa membeli budak dan membebaskannya, barulah beliau berani mendakwahkan hal itu, karena beliau sudah menjalankannya. Setelah mendengar penjelasan Hasan Al Bashri, para bekas budak itu mengerti dan akhirnya menyesali sikapnya yang gegabah.

Kisah diatas menunjukkan pengaruh dari keteladanan, karena Hasan Al Bashri selalu menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan. Sehingga membuat apa yang beliau ucapkan selalu dipercaya oleh orang lain. Oleh karena itu para ayah harus meningkatkan kualitas integritas dan kredibilitasnya agar para anak meneladani dan menjadikan ayah menjadi motivatornya.

Rumus dari integritas adalah dilihat, didengar, dan diprasastikan. Artinya anak harus melihat langsung perilaku ayahnya, anak mendengar langsung akhlak ayah dari orang sekitar, anak melihat bekas dari kebaikan ayah dalam bentuk prasasti, misalnya seperti buku, piala, piagam, dll.

Yang kedua adalah ayah belajar mengambil golden moment. Ayah menangkap poin-poin yang membuat anak mendapatkan kesempatan mendapatkan motivasi dari ayahnya. Misalnya ketika anak untuk aksi dan prestasi, anak membutuhkan kalimat dari ayahnya berupa respon yang baik sehingga anak merasa dihargai. Jangan sampai kalah dengan gadget, karena gadget bisa memberikan apresiasi kepada anak kita. Atau ketika anak akan melakukan pentas drama, ayah harus mengusahakan untuk hadir.

Seperti yang dicontohkan Rasulullah ketika melihat Bani Aslam sedang melakukan lomba panahan. Rasulullah seketika itu menghampiri mereka dan berkata “memanahlah kalian wahai keturunan ismail,  sesungguhnya nenek moyang kalian ahli dalam memanah” Hal ini yang membuat Bani Aslam termotivasi dan mencetak banyak ahli panah di zamannya, karena kehadiran dan motivasi dari Rasulullah.

Oleh karena itu jika ingin anak kita menjadi ahli Qur’an, maka hadir dan berikanlah apresiasi ketika anak sedang melakukan haflah. Menumbuhkan jiwa motivasi bagi anak ditandai dengan anak yang menjadikan kalimat ayah sebagai referensi dalam banyak hal dan menjadikan ayah sebagai pendongkrak motivasinya.

Sekali lagi, yang harus dimiliki ayah motivator adalah integritas,  kredibilitas, dan kemampuan menangkap golden moment anak. Semoga kita bisa menjadi ayah motivator bagi anak-anak kita.

Sabtu, 03 Oktober 2020

Ayahku Pahlawanku

Tema kelima dalam serial ayah hebat kali ini mengangkat topik Ayahku Pahlawanku. Sebelum masuk kedalam topik mari kita coba simak Quran Surat Thaha ayat 124 berikut ini:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.

Sempit dalam pengertian ayat diatas bukan hanya sempit harta. Mungkin saja seseorang bergelimang harta, jabatannya bagus, tapi hatinya gelisah. Itulah makna sempit yang lain. Itulah neraka dunia.

Tugas ayah adalah bagaimana membebaskan keluarganya dari neraka dunia dan neraka akhirat yaitu bagaimana mereka bisa menikmati hidup meskipun corona sedang mewabah. Dimana anggota keluarga masih bisa tersenyum, optimis, makin kuat ikatan dengan ayah, makin baik ibadahnya, dan lainnya..

Bagaimana ayah bisa menjalankan peran qaulan sadīdā?

Ayahku pahlawanku adalah ayah yang mampu melipur lara dan kesedihan anaknya. Salah satu ciri fatherman adalah ayah selalu hadir saat anak mengalami kesedihan, itu adalah salah satu ciri khas dari kepahlawanan. Salah satu gambaran ideal dari laki-laki bagi anak jaman now adalah ayah yang selalu menyeka air matanya, ini adalah mengapa salah satu sosok ayah yang menjadi buah kecerdasan adalah ayah menjadi sosok yang mampu memahami kebutuhan dasar anak yaitu kebutuhan emosi. Kebutuhan emosi anak yaitu ketika anak mendapatkan ayah yang siap menjadi konselor bagi anak. Ayah yang siap hadir ketika anak mengalami emosi-emosi negatif.

Ada dua situasi yang kalau ayah bisa hadir dalam situasi ini, maka ayah akan menjadi ayah yang heroik, ayahku pahlawanku, meskipun saat itu ayah sedang sibuk atau tidak hadir secara fisik.

Situasi Pertama, ayah hadir disaat anak sedang sedih, kehadiran ayah saat anak sedang sedih bukan hanya hadir secara fisik, akan tetapi juga hadir secara psikis. Kehadiran ketika anak memahami kalau air matanya bukan sesuatu yang salah dan dia mendapatkan sandaran jiwa disaat dia sedih. Itu hal lumrah bagi anak dan jangan menganggap anak yang nangis adalah anak yang cengeng, karena itu adalah bagian dari kecerdasan emosinya. Justru anak yang tidak menangis bisa mengakibatkan anak tersebut menjadi anak yang tidak peka secara sosial. Seperti kasus yang terjadi seorang anak wanita yang membunuh balita dan dengan percaya dirinya balita tersebut dimasukkan kedalam lemari. Lalu dengan tenangnya anak tersebut mendatangi polisi dan mengatakan ia baru membunuh. Ketika ia berbicara seperti itu, ia sejatinya tidak memiliki ikatan atau hubungan emosi yang bagus dengan orang lain. Maka salah satu tantangan ayah adalah bagaimana mengeluarkan emosi-emosi negatif pada anak, salah satunya ketika anak sedang sedih, sebab ketika anak sedang sedih, anak butuh sandaran jiwa. Dan siapa yang hadir saat itu, maka dialah superheronya.

Salah satu yang dilakukan Rasulullah adalah bagaimana Rasulullah begitu peka ketika ada seorang anak yang bernama Abu Umair (anak dari Talhah dan merupakan sepupu Anas Bin Malik) yang mengalami kesedihan ketika burung pipitnya mati dan Rasulullah sampai menyempatkan untuk datang dan menyapa sambil mengatakan,”Ya Abu Umair, ada apa dengan burung pipitmu?” Abu Umair menjawab,”Burung pipitku mati ya Rasulullah” Maka ketika ia menangis menunjukkan kesedihannya, disitulah Rasulullah sama sekali tidak menyepelekan kesedihannya.

Syaikh Utsaimin dalam nasihatnya terhadap orang tua, mengingatkan agar orang tua membiarkan anak mengekspresikan kesedihannya, karena ketika ia bisa mengeluarkan kesedihannya ia akan menjadi pribadi yang peka. Kecerdasan ayah dalam memahami anak yang sedih adalah kecerdasan memahami golden moment yang bernama memorable moment. Salah satu memorable moment dalam kehidupan anak adalah ketika dia sedih dia tahu kepada siapa dia meneteskan air matanya dan menceritakan masalahnya. Hindari memberikan gadget dan berusahalah untuk menghiburnya semaksimal yang ayah bisa. Meskipun ayah mungkin mengalami kebingungan ketika harus memberikan solusi dan berusaha membuat tenang anak tapi usaha ayah akan selalu direkam anak kalau ayah selalu ada disaat anak sedang sedih. Inilah momen yang mahal. Jangan biarkan momen ini diserahkan ke asisten rumah tangga atau gadget.

Situasi yang kedua adalah momen ketika anak sedang sakit. Sakit adalah hal yang membuat fisik dan psikis anak lemah, itulah kenapa sapaan ayah ketika anak sakit mampu membuat anak merasa diperhatikan. Rasulullah menjadikan momen sakit untuk momen berdakwah kepada orang yang sakit, itulah kenapa Rasulullah tidak pernah absen menjenguk orang yang sakit bahkan selalu menjadi yang pertama. Oleh karena itu kalau ada anak sakit jangan kita cuek. Jangan mentang-mentang kita banyak duit kita kurang memperhatikan anak kita karena merasa sudah cukup memberikan biaya kebutuhannya selama anak kita sakit, karena yang dibutuhkan adalah perhatian ayah, minimal kalau ayah tidak bisa hadir, ayah senantiasa menanyakan keadaan anak. Ketika ayah menanyakan, minimal anak mendengar telepon dari ayah dan anak merasa mendapatkan perhatian. Kita bisa melakukan apa yang dicontohkan Rasul, yaitu mendoakan anak. Mendoakan anak merupakan salah satu cara untuk menunjukkan kepedulian kita kepada anak. Kalau kita ingin membuat anak terpukau, hindari menasihati anak dan cukup mendoakan. Ayah bisa mendoakan disepertiga malam atau ayah bisa mendoakan anak didepan anak tersebut.

Kata Imam Nawawi mendoakan anak langsung didepannya memberikan tiga pengaruh yaitu mengajarkan tauhid kepada anak, memberitahukan kepedulian kita kepada anak, dan memberitahu harapan ayah. Semoga kita bisa menjadi pahlawan yang baik bagi anak-anak kita.

 

Selasa, 29 September 2020

Jurus Menaklukkan Hati

Masih dalam serial ayah hebat yang sekarang masuk kedalam tema keempat yang disampaikan oleh Ustadz BendriJaisyurahman dengan tema Jurus Menaklukkan Hati. Sebelum masuk ke tema, mari coba kita renungkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Quran Surat An Nisa ayat kesembilan:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar

Dalam ayat diatas menunjukkan kalau salah satu tanggung jawab orang tua adalah jangan meninggalkan anak yang lemah, lemah dalam mentalitas dan perilaku. Jangan sampai anak kita mengalami kelemahan dalam hal mentalitas. Ada 3 hal yang menunjukkan anak kita dalam kondisi yang lemah:

1. Jika lemah menghadapai ujian kesulitan à Kita bisa mengeceknya bagaimana anak kita ketika mengalami masalah

2. Jika lemah menghadapi ujian syahwat à Ciri anak yang lemah dalam ujian syahwat adalah tidak bisa mengatakan tidak. Tidak dalam menolak kemungkaran

3. Jika lemah dalam menghadapi ujian kemarahan à Cirinya anak yang lemah dalam ujian kemarahan yaitu anak tersebut emosional dan gampang tersinggung. Dampak anak yang mudah marah adalah anak tersebut mudah sekali dijadikan boneka, karena tidak mampu mengontrol emosinya

Salah satu target pengasuhan adalah menciptakan anak yang bisa melewati ujian kesulitan, ujian syahwat, dan ujian kemarahan.

Lalu apa solusinya jika anak kita menunjukkan salah satu atau beberapa kondisi yang lemah? Masih dalam dalam ayat yang sama, solusinya yang paling pertama dan paling utama adalah bertakwa kepada Allah Azza Wa Jala.

Salah satu nasehat dari ulama terdahulu dalam pengasuhan adalah Ayah jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang Allah murkai karena efeknya selain membuat hidup kita susah tapi juga membuat pola asuh kita menjadi tidak baik.

Salah satu yang disampaikan Fudhail Bin Iyath, Sungguh aku baru saja bermaksiat kepada Allah dan dampak maksiatku ada 4:

1. Kendaraan yang suka mogok

2. Istri dan anak yang suka membangkang, hal ini juga sudah disebutkan dalam Q.S Al Anfal ayat 63,” dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

3. Pekerja atau karyawan yang suka melawan

4. Tikus (Hewan Fasiq) yang masuk kedalam rumah

Oleh karena itu sebelum kita berbicara mengenai bagaimana cara mengurus anak, para Ayah sebaiknya melakukan evaluasi dulu bagaimana hubungannya dengan Allah.

Solusi yang kedua, masih dalam surat An Nisa ayat 9, adalah qaulan sadīdā atau bertutur kata yang benar atau dengan kata lain, perbaikilah komunikasi kita. Kenapa disebut qaulan sadīdā dalam urusan pengasuhan? Makna yang bisa kita gali dari qaulan sadīdā dari beberapa referensi adalah kalimat yang jujur yang tidak ada tipu daya. Artinya kalau kita mau jadi komunikator yang baik untuk anak pastikan kita harus ngomong jujur dan tidak membohongi anak, karena bohong dan ketidak jujuran akan merusak TRUST anak ke orang tuanya, akibatnya anak tidak mau mendengarkan nasihat orang tua.

Contoh yang tidak baik adalah bisa dilihat dari meme yang beredar tentang bagaimana orang tua yang menghitamkan mata anaknya karena terlalu banyak main gadget hingga anaknya menangis. Memang saat itu anaknya berhenti main gadget, tapi orang tuanya merusak salah satu konsep dalam pengasuhan, yaitu TRUST.

Makna qaulan sadīdā yang kedua adalah tepat, seperti anak panah yang meluncur mengenai target. Maksudnya dalam berkomunikasi Ayah harus tepat secara usia anak, tepat secara jenis kelamin, dan tepat secara konteks. Tepat secara konteks maksudnya kita harus memahami kondisi konteks lingkungan yang membuat anak bisa terjaga adat dan situasinya.

Semoga kita bisa mendidik anak kita menjadi anak yang memiliki usia psikologis lebih matang dibanding usia biologisnya, tidak menjadi anak yang lemah, dan semoga kita bisa menjadi ayah juara bagi anak-anak kita.

Senin, 28 September 2020

The Social Dilemma - Utopia dan Distopia Dunia Digital

"There are only two industries that call their customer ‘users’ : illegal drugs and software" – Edward Tufte

Berawal dari story instagram seorang psikolog muda asal semarang yang merekomendasikan film The Social Dilemma untuk semua orang yang bermain sosial media dan orang tua yang mengizinkan anaknya menonton youtube for kids. Dimana kata-kata di akhir caption storynya cukup membuat saya penasaran, karena beliau juga menyertakan kalimat yang cukup provokatif, “Orang-orang yang bekerja di teknologi tidak mengizinkan anak-anak mereka bermain media sosial.” Boom!..  

Akhirnya saya menonton film semi dokumenter yang direkomendasikan tersebut yang mengangkat narasi tentang sisi gelap algoritma media sosial yang memanipulasi penggunanya. Film ini secara umum menggambarkan utopia dan distopia yang terjadi secara bersamaan akibat adanya teknologi dan sosial media, mungkin hal tersebutlah yang membuat film ini diberi judul The Social Dilemma.  Karena selain memberikan pengaruh positif dan banyak membantu manusia, media sosial juga memberikan pengaruh mengerikan bagi kehidupan manusia, seperti memanipulasi feed menggunakan artificial intelligence dan machine learning yang membuat penggunanya ketergantungan dan tidak bisa lepas darinya.

Film yang disutradai oleh Jeff Orlowski ini juga menyertakan banyak narasumber yang kompeten dibidangnya seperti Tristan Harris (pimpinan dari Center for Humane Technology yang juga mantan pakar etika desain Google), Jeff Seibert (Angel investor dan pendiri crashlytics yang sekarang sudah diakuisisi twitter),  Aza Raskin (pendiri Center for Humane Technology ), Justin Rosenstein (penemu tombol like di Facebook), Tim Kenda (mantan pimpinan di Pinterest), Cathy O'Niel (mantan Direktur Monetisasi Facebook), Anna Lembke (pakar kecanduan di Stanford University), Roger McNamee (investor awal di Facebook), Jaron Lanier (computer scientist dan ahli virtual reality), Shoshana Zuboff (psikolog sosial Harvard University), Jonathan Haidt (psikolog sosial New York University Stern School Of Business), Bailey Richardson (tim awal Instagram), dan beberapa lainnya.

Melalui film ini kita seperti dibukakan mengenai bagaimana cara bekerja sosial media yang mampu membuat kita menjadi kecanduan. Artificial Intelligence dan Machine Learning  yang dalam film ini digambarkan dengan 3 pria yang berada didalam ruang kendali, bertugas untuk mengetahui perilaku, kebiasaan, dan apa yang disukai pengguna sosial media tidak peduli yang disukai benar atau tidak, baik atau tidak, untuk kemudian memberikan saran dan rekomendasi sesuai dengan kepribadian digital penggunanya, sehingga penggunanya tidak bisa lepas dari sosial media dan internet.

Artificial Intelligence dan Machine Learning juga ‘bertugas’ untuk mempermainkan emosi penggunanya, melalui feed, jumlah like yang diterima, respon yang diterima ketika posting, dan hal lainnya. Penggunanya bisa tiba-tiba senang dan bahagia karena mendapatkan banyak like, tapi juga bisa gelisah dan cemas ketika mendapatkan sedikit like dan respon.

Begitu masifnya penggunaan media sosial ditunjukkan dengan data kalau milenials sudah menggunakan sosial media semenjak mereka berada disekolah menengah, dan mungkin untuk generasi yang lebih muda sudah menggunakannya semenjak sebelum sekolah.. mungkin.. 

Akibat negatif dari digunakannya sosial media oleh pengguna usia labil adalah meningkatnya kasus kecemasan, depresi, dan bunuh diri selama sedekade terakhir semenjak tahun 2010.

Ini tentunya menjadi tugas tersendiri bagi para orang tua yang memiliki anak kelahiran diatas tahun 2000 karena harus berebut perhatian salah satunya dengan kompetitor digital yaitu sosial media, internet, youtube, games, dan sejenisnya. Orang tua harus benar-benar bisa memanfaatkan golden moment dan membangun perilaku positif anak dengan tepat agar anak memiliki usia psikologis lebih matang dibanding usia biologisnya. Sehingga anak tidak ketergantungan gadget, tidak labil dan tidak melakukan tindakan self-suicide.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya kalau Artificial Intelligence tidak bertugas untuk menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang hoax mana yang tidak, tapi lebih menunjukkan apa yang menjadi kepribadian digital dan preferensi penggunanya, sehingga jika kita mengetik suatu kata, di mesin pencari seperti google, maka google akan memberikan saran sesuai dengan preferensi penggunanya bukan memberikan saran berdasarkan apa yang benar. Misalnya ketika kita mengetik kata ‘demokrasi’, maka google akan memberikan rekomendasi yang bermacam-macam mengenai demokrasi yang berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain berdasarkan rekam jejak digital masing-masing yang mengakibatkan masing-masing pengguna akan memiliki sudut pandangnya yang berbeda-beda. Rekam jejak kita benar-benar direkam dan diawasi oleh internet, tidak ada lagi privasi didalamnya. Beberapa pakar menyarankan agar kita bisa menggunakan mesin pencari “Qwint” yang lebih menghargai privasi pengguna dibandingkan google.

Di akhir film, selain memberikan gambaran dampak negatif dari media sosial, para narasumber juga memberikan gambaran tindakan dan langkah yang mereka ambil untuk memperbaiki kesalahan yang telah mereka lakukan sebelumnya.  Mereka juga memberikan beberapa saran agar kita tidak menjadi konsumen dari sosial media.

The Social Dilemma membuka mata kita kalau dunia digital selain memberikan banyak manfaat juga bisa memberikan dampak buruk yang mengakibatkan kecanduan dan destruktif bila kita tidak menggunakannya dengan bijak. Tipisnya jarak antara utopia dan distopia dalam dunia digital bisa membuat mood swing seseorang berubah dengan cepat, terutama untuk anak-anak, remaja, dan pengguna labil. Kesenangan yang sebelumnya dengan mudah didapatkan bisa tiba-tiba berubah menjadi kecemasan dan kehancuran dalam waktu cepat yang bisa mengarah ke self-destruction dan self-suicide bagi penggunanya. Oleh karena itu perlu rasanya untuk memperlakukan sosial media dengan bijak dan memberikan pengarahan yang tepat mengenai sosial media bagi generasi muda. Jangan biarkan generasi muda menyelam bebas dalam samudera digital agar mereka tidak terjebak dalam candu yang destruktif.

… if you tolerate this then your child will be next…