Ada malam yang terasa begitu panjang,
ketika hati seperti kehilangan tempat
untuk meletakkan segala yang dirasakannya.
Kita duduk sendiri,
memandangi waktu yang bergerak perlahan,
sementara di dalam diri ada begitu banyak
hal yang belum selesai.
Siang dijalani dengan senyum yang dipaksakan,
malam ditemani air mata
yang bahkan perlahan kehabisan tenaga.
Kita berharap semua ini hanyalah mimpi,
namun ketika membuka mata,
kenyataan masih berada di tempat yang sama.
Lelah, tentu saja.
Ada saat ketika kita bahkan tidak tahu lagi
apa yang harus diperjuangkan,
apa yang harus dilepaskan,
dan dari mana harus memulai kembali.
Namun mungkin,
ada waktunya kita memang perlu sampai di batas itu.
Bukan untuk menyerah,
melainkan untuk belajar
bahwa tidak semua hal dapat kita kendalikan.
Ada luka yang tidak bisa kita percepat sembuhnya.
Ada kehilangan yang hanya bisa kita terima perlahan.
Dan ada kesedihan yang
memang harus diberi waktu untuk selesai.
Seperti senja yang pada akhirnya tetap turun,
meski kita ingin menahannya lebih lama.
Maka jika hari ini hujan,
biarkan ia turun.
Tidak perlu selalu berpura-pura kuat.
Istirahatlah jika lelah,
menangislah jika perlu,
lalu bangun kembali ketika hati
sudah sedikit lebih siap.
Sebab luka yang hari ini terasa begitu dalam,
kelak mungkin menjadi bagian
dari alasan mengapa kita mampu berdiri lebih teguh.
Dan perlahan,
sabar akan tumbuh.
Ikhlas akan menemukan jalannya.
Bukan karena semua yang terjadi menjadi mudah,
melainkan karena hati kita
akhirnya belajar
menerima bahwa tidak semua yang hilang harus kembali,
dan tidak semua yang menyakitkan
harus menjadi akhir dari perjalanan.