Sering kali kita pandai menjadi pendengar
bagi orang lain.
Kita tahu kapan harus diam,
kapan harus mengangguk,
kapan harus berkata pelan,
aku mengerti.
Namun saat giliran hati sendiri berbicara,
kita justru tergesa menyuruhnya tenang,
menyuruhnya kuat,
menyuruhnya diam.
Lucu ya,
kita begitu sabar pada luka orang lain,
tapi keras pada luka sendiri.
Padahal mungkin,
yang paling membutuhkan telinga itu
bukan mereka
melainkan diri yang setiap hari
berusaha terlihat baik-baik saja.
Barangkali sesekali
kita juga perlu duduk sebentar,
mendengarkan diri sendiri
tanpa menghakimi,
tanpa buru-buru menyelesaikan.
Karena memahami orang lain itu indah,
tapi memahami diri sendiri
adalah bentuk kasih yang tak kalah penting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar