Kamis, 13 Agustus 2020

Panduan Dalam Menuntut Ilmu

"Dengan adab ilmu bisa dipahami, jika orang tidak memiliki adab dalam menuntut ilmu, maka akan sulit memahami ilmu tersebut".

Ilmu Allah adalah anugerah. Dan Allah tidak akan menitipkan ilmunya kecuali kepada cawan-cawan yang bersih. Dan cawan tersebut adalah hati manusia. Sebagaimana kaca yang melapisi lentera, bila ia bersih maka akan menghasilkan sinar yang terang dari lentera tersebut. Jika cahaya ilmu bersemayam di dalam hati yang bersih, maka ilmu tersebut akan memberikan cahaya bagi hati tersebut dan orang orang disekitarnya.

Ulama dahulu dalam belajar dan menuntut ilmu, yang pertama kali dipelajari adalah adab. Sebagian ulama dahulu, mempelajari adab berpuluh puluh tahun lamanya, lalu kemudian mempelajari ilmu. Seperti yang hadir di majelis Imam Ahmad ada puluhan ribu orang, hanya sekitar 500 yang menulis, sisanya memperhatikan gerak gerik Imam Ahmad. Mempelajari adab Imam Ahmad.

Salah seorang murid Imam Malik berkata, kami lebih banyak dapat faedah adab dari Imam Malik daripada Ilmu. Sebagaimana dikisahkan Imam Malik, "Ibuku membangunkanku dipagi hari sambil mengikat sorban (imamah) diatas kepalaku kemudian berkata, pergilah kepada Rabi’ah, ambillah adabnya dahulu sebelum ilmunya."

Abu Bakar Al Anjuni dalam Kitab Asy Syariah yang membahas tentang Aqidah  mengatakan seorang yang memiliki ilmu memiliki adab. Adab saat belajar, adab saat memiliki ilmu, dan adab saat mengajarkan ilmu.

Ada beberapa pedoman bagi penuntut ilmu dalam mempelajari akhlak: 1.) Akhlak bisa didapatkan dari membaca buku siroh para ulama 2.) Bisa juga dengan melihat langsung dari ulama.

Oleh karena itu, sangat beda output dan adab yang didapatkan dari orang yang belajar dari guru dengan orang yang hanya membaca buku. Siapa yang masuk ke medan ilmu dan hanya membaca buku seorang diri, ia akan keluar sebagaimana ia masuk.

Atas alasan itulah maka hadir ke majelis ilmu menjadi sangat penting. Karena di majelis ilmu selain mendapat ilmu, bisa belajar adab, bertanya pada guru-guru kita dan mendapat berkah dari Allah Subhana Wa Ta'ala.

Ulama-ulama terdahulu tidak mau mengambil imu dari orang yang berguru hanya kepada buku (otodidak), karena keburukannya lebih banyak dari kebaikannya.


Bab Pertama yang harus kita pelajari dalam menuntut ilmu adalah Ikhlas

Karena barangsiapa yang menganggap dirinya telah ikhlas, maka ia harus belajar kembali tentang ikhlas. Keikhlasan yang membutuhkan ikhlas tinggat tinggi.

Sehingga dalam setiap amalan, penting untuk meluruskan niat kita. Ibnu Hazm mengatakan, niat posisinya seperti ruh dalam setiap perbuatan yang kita lakukan. Dan Ikhlas merupakan amalan yang paling tinggi dan paling sulit direalisasikan kecuali bagi orang yang dirahmati Allah.

Kata sebagian ulama, "Aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih aku sembuhkan melebihi niatku, karena ia selalu mengalahkan aku." Ada orang semakin berilmu semakin tajam ucapannya, ada orang semakin berilmu semakin tawadhu, ada seorang yang semakin berilmu semakin hatinya jadi tempat sampah karena hasad dan dengki, ada orang semakin berilmu semakin sibuk beribadah dan ‘hilang’ dari masyarakat.

Imam Abu Syuja, Penulis buku panduan Mahzab Syafii, ketika mencapai puncak popularitas, beliau tiba-tiba menghilang, karena beliau merasa sudah dipuncak dan dikalahkan niatnya. Maka beliau memilih untuk menghilang hingga diberitakan meninggal. Padahal ia meninggalkan syam dan pindah jadi tukang sapu di Masjid Nabawi hingga akhir hayatnya tanpa ada yang tahu kalau ia ulama besar. Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah semakin berilmu semakin takut dikalahkan niat mereka.

Ada ungkapan salaf, apabila kalian melihat ada seseorang senang dikerumuni orang lain, ketahuilah bahwa orang tersebut majnun (gila). Tidak ada orang yang dapat menghindar dari Tajwidul Kalam (memperelok bahasa) ketika ditengah-tengah manusia.

Orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya adalah orang-orang yang akan diazab terlebih dahulu daripada penyembah berhala.

Perlu diingat: Ilmu tidak dipuji karena keluasannya, tapi karena kemanfaatannya


Hukum menuntut ilmu:

1. Sifatnya Wajib : Apabila ilmu tersebut berkaitan dengan ibadahnya dengan Allah. Ilmu tentang wudhu, sholat, bila pedagang wajib punya ilmu fiqih muamalat. Orang yang paling tahu tentang fiqih muamalah jual beli emas di Madinah adalah pedagang emas

2. Sifatnya Haram : Jika diniatkan untuk berdebat. Mendebat orang berilmu atau membodohi orang jahil

3. Sifatnya Makruh : Jika diniatkan agar ada bahan untuk dikutip. Jangan jadikan obsesi anda di majelis ilmu agar ada bahan untuk diceritakan ke orang. Yang paling membutuhkan ilmu adalah diri kita sendiri untuk diamalkan. Jika tidak memiliki kemampuan menukil persis seperti yang dikatakan guru kita, maka yang kita katakan adalah, "Yang saya pahami dari guru saya seperti ini.." Jangan katakan, "Kata guru saya seperti ini…" padahal redaksinya berbeda

4. Sifatnya Sunnah : Pada beberapa ilmu, dimana ilmu tersebut jarang kajiannya. Contohnya ilmu faroid (ilmu waris) (ada 2 yang pembagiannya langsung ditangani Allah SWT yaitu Zakat dan Waris, karena 2 hal ini potensi konfliknya tinggi karena berkaitan dengan harta)

Semoga kita dikaruniakan akhlak dan ilmu yang baik


Sabtu, 08 Agustus 2020

Antara Angan dan Realita

“Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam membuat gambar persegi empat, lalu menggambar garis panjang di tengah persegi empat tadi dan keluar melewati batas persegi itu. Kemudian beliau juga membuat garis-garis kecil di dalam persegi tadi, di sampingnya: (persegi yang digambar Nabi). Dan beliau bersabda : “Ini adalah manusia, dan (persegi empat) ini adalah ajal yang mengelilinginya, dan garis (panjang) yang keluar ini, adalah cita-citanya. Dan garis-garis  kecil  ini adalah penghalang - penghalangnya. Jika tidak (terjebak) dengan (garis) yang ini, maka kena (garis) yang ini. Jika tidak kena (garis) yang itu, maka kena (garis) yang setelahnya. Jika tidak mengenai semua (penghalang) tadi, maka dia pasti tertimpa ketuarentaan.”(HR. Bukhari).

Beliau menjelaskan garis lurus yang terdapat di dalam gambar adalah manusia, gambar empat persegi yang melingkarinya adalah ajalnya, satu garis lurus yang keluar melewati gambar merupakan harapan dan angan-angannya sementara garis-garis kecil yang ada disekitar garis lurus dalam gambar adalah musibah yang selalu menghadang manusia dalam kehidupannya di dunia.

“Jika manusia dapat selamat dan terhindar dari cengkraman satu musibah, musibah lain akan menghadangnya, dan jika ia selamat dari semua musibah, ia tidak akan pernah terhindar dari ajal yang mengelilinginya.”(HR. Bukhari).

Dalam situasi apapun, saya dan kamu bisa dikatakan memiliki angan-angan masing-masing. Apakah itu angan dalam hal dunia ataupun angan dalam hal ibadah dan akhirat.

Pun begitu disaat pandemi covid ini, kita tidak tahu apakah akan selamat atau tidak dari covid, tapi kita sudah punya angan-angan dalam situasi sekarang ini dan yang akan datang

Ada yang memiliki angan ingin menjadi juara olimpiade, ada yang berangan-angan memiliki rumah mewah, ada yang berangan-angan mencapai posisi karir yang diimpikan, ada yang berangan-angan ingin umroh tahun depan, ada yang berangan-angan ingin taubat ketika memasuki usia tertentu, ada yang berangan-angan ingin memiliki pesantren yatim, ada yang berangan-angan ingin memakmurkan masjid jika covid selesai, dan banyak angan lainnya

Angan manusia tidak selalu terwujud, seperti yang disampaikan Baginda Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam diatas, terkadang apa yang diinginkan tak selalu bisa didapatkan.

Jika angan yang kamu inginkan merupakan angan dunia, maka berprasangka baiklah ke Allah Azza Wa Jala, kalau apa yang kamu inginkan bukanlah yang terbaik untukmu. Seperti firman Allah dalam Surat Albaqoroh ayat 216,”Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

Jadikan angan yang gagal tadi menjadi sebuah pembelajaran. Jadikan bahan evaluasi, perbaiki kesalahan yang dibuat, dan terus berusaha yang terbaik. Tugas kita hanyalah melakukan ikhtiar terbaik, untuk urusan hasil biar Sang Khaliq yang menentukan.

Sahabat Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu pernah bertutur,”Ya Allah, saat aku kehilangan harapan dan rencana, tolong ingatkan aku bahwa cintamu jauh lebih besar daripada kekecewaanku, dan rencana yang Engkau siapkan untuk hidupku jauh lebih baik daripada hidupku.”

Tidak salah jika kita memiliki angan-angan tentang dunia, silahkan saja, karena hukum asalnya adalah boleh. Akan tetapi jangan sampai angan-angan kita tentang dunia membuat kita luput untuk kehidupan yang 1 harinya sama dengan 1000 tahun. Karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah mengingatkan kita dalam Surat Al Hijr ayat 3, “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).”

Pun dengan angan yang bersifat akhirat seperti.. “Jika covid selesai saya akan memakmurkan masjid”… “Tahun depan ingin belajar puasa”… “Besok aku tobat”… dan banyak lagi

Sekali lagi tidak ada yang salah dengan angan tersebut, karena angan tersebut adalah angan yang baik, tapi jangan sampai kita menyesal karena ajal bisa datang kapanpun

Ada satu pesan yang disampaikan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu yang bisa kita renungi “Jika tiba pagimu, jangan kau tunggu sore, jika tiba soremu, jangan kau tunggu pagi. Gunakan sehatmu sebelum datang sakitmu, manfaatkan hidupmu sebelum tiba matimu”

Banyak meme yang mengkisahkan seseorang yang berkata besok akan bertaubat, lalu dia tidur dan tak bangun lagi. Meme itu bisa jadi merupakan kenyataan yang banyak terjadi, karena ajal seringkali datang tanpa permisi dan mendadak

Tidak berbeda dengan angan dunia dan angan akhirat diatas, hal yang sama juga terjadi dengan orang yang berhijrah. Banyak yang berangan-angan setelah berhijrah ingin memiliki teman yang sholeh/sholehah, ingin kaya yang berkah, ingin memiliki keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah, dan banyak ingin lainnya. Tapi seringkali kenyataannya tidak seperti angan sebelumnya. Ternyata setelah hijrah temannya juga suka ghibah, ternyata setelah hijrah justru diuji hartanya, ternyata setelah hijrah kehidupan rumah tangganya justru memiliki banyak masalah karena setelah hijrah tidak satu frekuensi, dan banyak hal lainnya.

Ketika kamu sudah menuju kearah yang lebih baik tapi kehidupan ternyata tidak sesuai angan, maka ingatlah firman Allah dalam Surat Muhammad ayat 31 “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” Dalam Surat Ali Imran ayat 195, Allah juga berfirman, “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”

Ketika kita berhijrah dan kenyataan tidak sesuai dengan angan kita, maka berprasangka baiklah ke Allah, karena Allah ingin kita meninggalkan yang haram hanya karena Allah, bukan karena yang lain, dan untuk membuktikan harus diuji, diuji dan diuji apakah hijrah kita karena Allah atau karena dunia.

Silahkan mengejar angan kita masing-masing. Boleh jadi dalam mengejar angan kita mengalami kegagalan atau kesulitan. Jangan pernah menyerah ketika menemui kegagalan… evaluasi, tetap ikhtiar dan berbaik sangka ke Allah Jalla Jalaluhu. Jangan larut dalam angan dunia kita yang kenyataannya tidak sesuai harapan.

Dan ketika angan kita ternyata sesuai harapan, maka jangan terlalu larut dalam kebahagiaan sampai kita berbuat berlebihan. Tetap bersyukur dan batasi kebahagian sewajarnya.

Hal yang penting dalam mengejar angan, adalah selalu ingat dengan pemutus angan dan kenikmatan manusia, yaitu kematian. Karena kematian itu, jika diingat oleh orang yang sedang dalam kesusahan hidup, maka akan bisa meringankan kesusahannya. Dan jika diingat oleh orang yang sedang senang, maka akan bisa membatasi kebahagiaannya itu.

Sumber gambar terakhir: @zakkyamien

Rabu, 05 Agustus 2020

Bukan Tentang Kamu

Uda.. begitu biasanya mereka memanggilmu.. 
Tapi.. ini bukan tentang kamu.. 
Ini tentang dua malaikat kecil yang wajib kamu perjuangkan.. 
Dua malaikat kecil yang harus kamu perhatikan.. 
Dua malaikat kecil yang wajib kamu beri nafkah yang baik.. 
Dua malaikat kecil yang harus kamu pastikan makan dari yang halal.. 
Ini semua bukan tentang kamu.. 

Uda.. aku tahu ini memang tidak mudah..  
Tapi kamu harus tetap berusaha memberikan yang terbaik.. 
Berjuang memberikan rezeki yang halal dan baik untuk dua malaikat kecilmu.. 

Gagal.. coba lagi.. 
Jatuh.. bangun lagi.. 
Terjerembab.. bangkit lagi..

Ikhtiar terus, pantang menyerah dan terus maju.. 
Sampai kapan? 
Sampai Allah Aza Wa Jala memanggilmu pulang.. 

Semoga ketika giliranmu pulang akhir hidupmu adalah akhir hidup yang terbaik.. 
Sehingga kelak kau akan dipertemukan dua malaikat kecilmu di jannah-Nya.. 
Dan malaikat kecilmu memiliki peninggalan yang berharga hasil jerih payahmu.. 

Semoga.. 
Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.. 

 -JP 05082020-
#YNWA #ZAFA

Minggu, 21 Agustus 2011

Muhammad Para Pengeja Hujan

“Diakah Atsvat Ereta? Lelaki yang kelahirannya telah lama diramalkan dalam gulungan-gulungan perkamen kuno? Sosok Maitreya yang memiliki tubuh semurni emas, terang-benderang dan suci?” 

Setelah sebelumnya berhasil mengkisahkan potongan perjalanan hidup Rasulullah SAW dalam Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan, Tasaro GK hadir kembali melalui karyanya yang lain tentang penggalan lain kisah Baginda Rasul dalam Muhammad Para Pengeja Hujan. Masih tentang sosok yang dijanjikan dalam berbagai kiab suci , mulai dari kitab Kuntap Sukt, kitab Injil, kitab Zardhust, ajaran Budha. Masih juga tentang Kashva, sang pemindai Surga yang diburu oleh Khosrou II karena ingin memurnikan ajaran Zhardust.

Kisah dalam novel ini terbagi menjadi tiga kisah berbeda yang terjadi pada saat yang hampir bersamaan di tempat yang berbeda. Kisah yang pertama memuat tentang kisah perjalanan Baginda Rasul SAW hingga Khalifah Abu Bakar RA. Kisah dan alur Baginda Rasulullah disampaikan dengan apik dan cukup mendetail oleh Tasaro. Mulai dari masa sebelum kelahiran Rasulullah, seperti Nazar Abdul Muthalib, pernikahan kedua orang tuanya, kelahiran Baginda Rasul, serbuan pasukan Gajah pimpinan Abrahah, masa kecil Rasul ketika dititipkan kepada keluarga Halimah, hingga wafatnya Rasulullah SAW. Setelah Rasulullah wafat kisah dilanjutkan ke masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq hingga wafatnya Sang Khalifah.

Kisah kedua memuat kelanjutan kisah Kashva, sang pemindai surga. Setelah dalam kisah sebelumnya kisah pencarian Kashva akan Sang Pembawa Kebenaran berakhir di Tibet. Kini di Tibet, Kashva kehilangan Xerxes dan Mashya karena bencana banjir ketika meninggalkan Gunung Kailash. Ditemani dengan Vakshur, seorang remaja yang menjadi pengawalnya, mereka melakukan perjalan mendaki 13 gunung suci di Tibet untuk menemukan jejak Xerxes dan Mashya. Satu persatu puncak pegunungan suci mereka jelajahi demi mendapatkan jejak, hingga pada puncak ke sepuluh dimana ia bertemu dengan biksu Tashidelek yang membersamai Kashva memasuki Kuil Perdebatan. Kuil yang kian memberikan titik terang bagi Kashva terhadap sosok Astvat Ereta. Yang sempat membuatnya bimbang apakah mencari jejak Astvat Ereta atau mencari Xerxes dan Mashya. Di sisi lain, Kashva mulai bertanya-tanya dalam hati mengenai perubahan sikap Vakhsur setelah mereka bertemu dengan Biksu Tashidelek. Apa sebenarnya yang disembunyikan Vakshur? Tapi Kasha urun menanyakan ke Vakshur perihal tersebut. Di puncak yang sama Vakshur menemukan jejak Xerxes dan Mashya melalui pahatan yang bertuliskan ‘Mashya, Xerxes, ke Persia’. Mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan ke Persia. Yang ketika tiba di Persia, bukannya bertemu dengan Xerxes malah membuat Kashva masuk ke dalam jeruji besi.

Kisah terakhir mengambil latar di Persia. Sepeninggal Khosrou II, perebutan kekuasaan dan pertumpahan terjadi dalam waktu yang singkat dan secara terus menerus. Seorang arsitek wanita ternama yang bernama Atusa diminta untuk menemui para putri keturunan Khosrou II, yang bernama Purandokht, Turandokht dan Azarmidokht, untuk menghidupkan atanatoi, pasukan Immortal yang berjumlah 10.000 tentara pelindung raja Persia. Atusa yang awalnya menolak karena merasa tidak kompeten akhirnya menerima permintaan tersebut. Dalam perjalanan mengemban tugas menghidupkan kembali athanatoi, Atusa dibantu oleh Turandokht, kakak Azarmidokht yang memegang teguh ajaran Zarathusta. Dalam perkembangannya, Atusa ternyata sangat berbakat dan mahir dalam mengembangkan atanatoi. Pergolakan pun terjadi dan penguasa Persia silih berganti terjadi hingga akhirnya Ratu Purandokht berhasil naik tahta. Sempat membawa angin segar bagi rakyatnya, akan tetapi ternyata nasib Purandokht juga berakhir dengan terbunuh. Azarmidkokht menemukan kakak perempuannya itu diracuni suatu pagi. Sepupu mereka kemudian naik tahta. Tapi itupun tak berlangsung lama. Konspirasi demi konspirasi terjadi di istana. Hingga menghantarkan Azarmidokht menduduki singgasana Khosrou. Saat itulah cadar biru Jenderal Atusa tersingkap. Siapakah Jenderal Atusa sebenarnya? Dan benarkan Azarmidokht tidak terlibat pembunuhan saudaranya?

Secara umum novel ini sangat bagus dan sangat direkomendasikan untuk anda baca. Bahkan menurut saya novel ini lebih baik dari novel sebelumnya. Meskipun terlihat sangat tebal, tapi novel 688 halaman ini sungguh mampu membius kita untuk terus membacanya karena pilihan kata dari Tasaro yang begitu memikat. Tasaro benar-benar menciptakan candu dalam huruf demi huruf yang tercetak dalam lembar demi lembar novel ini.

Detail dan penggambaran novel ini juga sangat baik sehingga membuat kita larut seakan-akan melihat langsung dan berada dalam kisah yang dituturkan Tasaro secara detail. Tak heran memang, karena sepertinya Tasaro telah melakukan riset terlebih dahulu sebelum menulis novel ini. Mulai dari kisah Rasulullah SAW, Khalifah Abu Bakar, hingga kekaisaran Persia. Khusus untuk kekaisaran Persia, Tasaro bahkan membuat saya kesulitan dalam membedakan antara kisah yang berdasarkan fakta dengan fiksi karena penggambarannya yang sangat mendetail dan adanya tokoh-tokoh yang selama ini memang tercatat dalam sejarah dunia, seperti Khosrou II, Purandokht, Turandokht, dan lainnya.

Peradaban Persia juga disampaikan dengan mendetail dan memikat, mulai dari kuliner khas Persia seperti Reshteh, yaitu makanan sejenis mie khas Persia. Fesenjun, nasi yang disajikan dengan daging bebek berlumur bumbu dan pasta, dengan cara penyajian yang khusus. Ash yang terdiri dari campuran daging kambing, sayuran, dan kacang-kacangan. Lengkap dengan cara penyajian dan proses pembuatan makanan tersebut. Tasaro juga menggunakan beberapa istilah khas Persia seperti Khanum dan Agha yang merupakan penyebutan secara hormat kepada seorang perempuan dan laki-laki. 

Kalaupun ada sedikit koreksi mengenai novel ini, maka koreksi itu terdapat pada sedikit kesalahan pengetikan di Novel ini meskipun itu sangat minor dan tertutup oleh indahnya penuturan Tasaro di Novel ini. Tasaro juga berhasil membuat kita bertanya-tanya tentang akhir dari kisah ini dengan menggantungkan kisah Kashva, Turandokht, dan Atusa. Pertanyaan, akankah novel ini berlanjut…

Minggu, 14 Agustus 2011

Ibnu Khaldun : Sang Mahaguru

Ketika masih duduk di sekolah dasar yang saya ketahui tentang Ibnu Khaldun hanyalah sebuah Universitas dekat garis batas antara Jakarta Pusat dan Jakarta Timur yang rutin saya lewati ketika akan mengunjungi kakek saya. Baru ketika memasuki sekolah menengah atas pengetahuan saya akan Ibnu Khaldun mengalami perubahan, Ibnu Khaldun bukan hanya sebuah Universitas, namun lebih dari itu. Seorang ilmuwan muslim yang bernama lengkap Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan yang hidup antara 1332-1406 Masehi ini adalah salah seorang negarawan, ahli hukum, sejarawan, dan juga bapak ilmu sosiologi dan ekonomi islam. Karya-karya beliau mampu memberikan pengaruh kepada cendikiawan dunia, baik barat maupun timur, muslim maupun non muslim. Magnum Opusnya yang berjudul Muqaddimah adalah karya pertama yang mengkaji filsafat sejarah, ilmu-ilmu sosial, demografi, histografi serta sejarah budaya.

Tertarik dengan kisah sang cendikiawan, maka ketika saya melihat novel Ibnu Khaldun : Sang Maha Guru karangan Bensalem Himmish di salah satu toko buku di kota Medan, segeralah saya memboyong novel tersebut. Ditambah novel tersebut berhasil memenangi Naguib Mahfouz Award 2002, menjadi best seller di Kairo dan penulisnya yang merupakan sastrawan Maroko yang meraih gelar doktor dari Université de Paris dan kini menjabat Menteri kebudayaan Maroko menambah ketertarikan saya.

Dibuka dengan dikte dan filosofi Ibnu Khaldun kepada Hammu Al-Hihi, penulis setianya yang cukup berat dan membingungkan pada Bagian I. Kemudian dilanjutkan dengan kisah hidup Sang Maha guru selama beliau tinggal di Mesir hingga akhir hayatnya di Bagian II. Dibagian inilah kisah cita, cinta, dan konflik Ibnu Khaldun diceritakan dengan sangat indah oleh Bensalem Himmish, meskipun tidak menampilkan pergolakan batin dan intelektual Ibnu Khaldun ketika menulis karya-karyanya. Bensalem berhasil menampilkan dan memanusiakan Ibnu Khaldun sebagai seorang pencinta. Mulai dari rapuhnya hati Ibnu Khaldun ketika keluarganya tenggelam dilaut hingga kehidupan pernikahannya dengan Ummul Banin, yang menjadi janda setelah Hammu Al-Hihi, suaminya yang merupakan penulis setia sang mahaguru meninggal dunia.

Interaksi dan konflik semasa Ibnu Khaldin tinggal di mesir juga disampaikan dengan memikat. Mulai dari interaksinya dengan dua generasi raja Mamluk, pergolakan hidupnya sebagai hakim yang beberapa kali diangkat dan diturunkan dari jabatannya karena hasutan dari orang yang berhasrat ingin menggantikannya, hingga interaksi dan negosiasinya dengan Timur Lang, penguasa mongol keturunan Genghis Khan yang terkenal kejam, agar Timur tidak mengirimkan pasukannya untuk menyerang Mamluk. Salah satu rahasia Ibnu Khaldun hingga mampu menjadi cendekiawan terkemuka juga dipaparkan, diantaranya adalah Ibnu Khaldun banyak membaca buku-buku dari pemikir sebelumnya.

Melalui novel ini kita juga bisa mendapatkan gambaran kehidupan bernegara di negara-negara jazirah Arab saat itu yang umumnya memiliki 4 hakim dari 4 mazhab (Syafii, Hanafi, Maliki, Hambali) yang bertugas memutuskan suatu perkara agar sesuai syariah atau menerima konsultasi dari masyarakat seputar persoalan kehidupan agar tidak keluar dari jalur agama terutama tidak keluar dari mazhab atau aliran yang mereka anut. Meskipun tidak jarang para penguasa akan berusaha menjadikan para hakim ini sebagai alat politiknya melalui fatwa-fatwa yang dipaksakan, meskipun tidak jarang juga para hakim tersebut berseberangan dengan para penguasa.

Secara umum novel ini cukup menarik dan layak diganjar Naguib Mahfouz Award, Bensalem berhasil menggambarkan dan memanusiakan Ibnu Khaldun dengan segala cita, cinta, dan konflik kehidupan yang dialaminya.