Minggu, 24 Juli 2011

Tawanan Benteng Lapis Tujuh

Absence of understanding does not warrant absence of existence’ – Ibnu Sina

Dimasa sekolah dulu saya sempat diajari bahwa dalam dunia islam terdapat beberapa tokoh yang begitu berjasa bagi dunia Ilmu Pengetahuan. Salah satunya adalah Ibnu Sina, yang digambarkan sebagai bapak kedokteran yang juga hebat dalam berfilosofi. Saya ketika itu begitu tertarik untuk mengetahui tokoh yang satu ini. Belasan atau mungkin bahkan dua puluh tahun kemudian, dihadapan saya terpampang novel Biografi Ibnu Sina yang berjudul Tawanan Benteng Lapis Tujuh karangan Husayn Fattahi di salah satu rak buku di jaringan salah satu toko buku terbesar di Indonesia. Dan tanpa berpikir lama, saya pun segera membawa novel biografi tersebut untuk dapat segera saya baca dan saya nikmati.

Kisah dalam novel ini diawali dengan masa kecil Ibnu Sina atau dalam novel ini sering disebut sebagai Abu Ali yang merupakan nama kecil dari Ibnu Sina. Abu Ali adalah putra dari pasangan Abdullah dan Sattarah yang lahir pada tahun 980 di Afsyanah daerah dekat Bukhara. Abu Ali adalah satu dari sedikit dari anak yang terlahir cerdas dan jenius. Kecerdasannya sudah terlihat semenjak ia masih kanak-kanak. Di usianya yang masih sepuluh tahun, Abu Ali telah paham Al-Quran. Ia tidak hanya hafal seluruh surah, tetapi juga sangat fasih membaca Al-Quran. Bahkan telah memahami dasar-dasar agama dan hukum-hukumnya. Menyadari hal tersebut, Abdullah kemudian memperkenalkan anaknya kepada berbagai cendikia ternama untuk belajar ilmu pengetahuan. Dimulai dari Syekh Nahawi untuk belajar ilmu agama, kemudian Syekh Massah yang ahli matematika, dilanjutkan berguru dengan Syekh Abu Abdillah an-Natili, seorang Ahli Ilmu asal negeri Tibristan, seorang ahli logika, filsafat, dan hikmah. Abu Ali dengan sangat cepat menyerap ilmu yang diajarkan oleh masing-masing guru tersebut, hingga akhirnya masing-masing cendikia tersebut menyatakan tidak ada lagi ilmu mereka yang dapat diajarkan kepada Abu Ali.

Menguasai berbagai macam ilmu ternyata tidak membuat dahaga abu ali terpuaskan. Ia kemudian memutuskan untuk mempelajari ilmu kedokteran secara otodidak, untuk kemudian mengaplikasikan ilmu kedokteran tersebut. Dimulai dengan ibunya sebagai pasien pertamanya, dimana ia berhasil menyembuhkan penyakit misterius ibunya. Kemudian hal ini berlanjut ketika Abu Ali diminta mengobati tetangganya yang sakit. Dan seperti kehebatan Abu Ali tersebar dengan cepat dari mulut ke mulut ke seluruh penjuru negeri. Efek Word Of Mouth ini dengan cepat terdengar sampai ke Istana. Ia kemudian diminta untuk mengobati keponakan Raja Nuh II yang sakit misterius. Berbagai dokter ahli sudah didatangkan akan tetapi penyakit misterius raja tidak dapat juga disembuhkan. Akan tetapi Ibnu Sina dengan bekal ilmu pengetahuannya akhirnya berhasil menyembuhkan penyakit keponakan Raja tersebut.

Keberhasilan Abu Ali tersebut membuatnya masuk kelingkaran kekuasaan untuk menjadi Dokter pribadi Raja. Suatu hal yang kelak harus dibayar mahal olehnya karena iri dengki pejabat istana karena kehebatan dan perhatian raja kepadanya. Musuh dalam selimut benar-benar bertebaran didalam Istana hingga akhirnya membuat Abu Ali menjadi seorang buron karena fitnah keji yang dialamatkan kepadanya. Selanjutnya kita dibawa menelusuri rute perjalanan Abu Ali, rute yang memiliki pola yang mirip. Diundang ke Istana karena ilmu pengetahuan dan kemampuannya sebagai dokter untuk kemudian dikejar penguasa karena tipu daya dan iri dengki hingga akhirnya dijebloskan ke penjara. Mulai dari Istana Mahmud Ghaznawi, istana Ibnu Al Ma’mun, istana Syams Ad Daulah, hingga Ala Ad Daulah. Dimasa kekuasaan Ad Daulah lah Ibnu Sina dijebloskan ke dalam penjara berlapis tujuh. Sebuah perjalanan hidup yang penuh ironi.

Hidup dalam kejaran dan tahanan ternyata tidak membuat Abu Ali berhenti berkarya. Bahkan karyanya yang paling utama justru dilahirkan pada saat ia mendekam di dalam penjara, magnum opus yang berjudul Al-Qânûn fî at-Thibb atau yang biasa disebut dengan Al Qanun yang didunia barat dikenal dengan Canon Of Medicine.

Buku ini secara keseluruhan sangatlah enak dan menarik untuk dibaca. Melalui buku ini kita diajak untuk memahami dan bertualang ke kehidupan Bapak Kedokteran Modern yang dibarat dikenal dengan Avicenna ini. Avicenna yang jenius akan tetapi justru kejeniusannya itu memenjarakannya dan menjadikannya buron karena iri dengki orang lain. Buku ini juga berhasil tidak men’dewa’kan Abu Ali yang tergambar salah satunya dari kegagalan Abu Ali dalam menyembuhkan penyakit ayahandanya tercinta. Sebuah buku yang layak untuk anda koleksi, tentang seorang ilmuwan yang diakui menjadi pahlawan nasional di Iran, Afghanistan, dan berbagai negara timur tengah setelah kematiannya, tentang salah satu tokoh kedokteran yang begitu berjasa bagi dunia.

Kamis, 21 Juli 2011

Berteman Dengan Kematian

Aku Mau hidup Seribu Tahun Lagi – Chairil Anwar

Lupus.. semenjak pertama kali mendengar tentang penyakit ini saya langsung tertarik untuk mengetahuinya. Karena sama seperti AIDS, penyakit ini masih belum ditemukan obatnya hingga saat ini. Yang membedakan diantaranya adalah, jika penyebab penyakit AIDS bisa diketahui, maka untuk Lupus penyebab pastinya masih belum diketahui. Lupus berasal dari bahasa latin yang berarti Serigala, hal ini disebabkan penderita penyakit ini pada umumnya memiliki ruam merah berbentuk kupu-kupu di pipi yang serupa dengan pipi serigala. Penyakit ini juga disebut sebagai penyakit seribu wajah karena memiliki gejala bermacam-macam dan berubah-ubah dan tidak mudah didiagnosa. Berangkat dari ketertarikan itu, maka ketika saya melihat buku Berteman Dengan Kematian, maka langsung saya tukar uang saya dengan buku yang berkisah tentang seorang gadis yang menderita lupus tersebut.

Buku ini adalah memoar dari penulisnya, Sinta Ridwan, gadis kelahiran Cirebon Januari 1985, yang dituturkan seperti menulis di catatan harian yang jauh dari kesan dramatisir dengan bahasa khas anak muda yang tajam, polos, tidak cengeng, dan tanpa basa basi yang ternyata justru membuat buku ini menjadi semakin menarik. Melalui novel memoar ini Sinta tidak hanya bercerita tentang penyakit lupusnya akan tetapi juga mengenai mozaik hidupnya semenjak ia kecil hingga sekarang. Tentang getirnya masa kanak-kanak, penderitaan psikologis akibat keluarga yang berantakan, perasaannya ketika ditinggal 2 orang terdekatnya disaat yang hampir bersamaan, alasannya memilih Bandung sebagai lokasi tempat kuliah, perjuangan hidupnya di kota kembang, awal mula divonis menjadi odapus, penyangkalannya akan lupus yang membuatnya tidak dapat menerima kenyataan dan menjadi perokok, hingga berdamai dengan lupus.

Melalui buku ini Sinta juga mengedukasi kita tentang apa dan bagaimanakah penyakit Lupus melalui catatan-catatannya yang dilengkapi dengan berbagai istilah ilmiah tanpa kesan menggurui dan bahasa yang tidak bertele-tele. Penjelasan ini cukup baik menurut saya, karena sampai saat ini Lupus masihlah asing di masyarakat. Dalam buku ini hal tersebut dapat tergambar dari ucapan salah satu sahabat Sinta yang membuat gurauan tentang penyakit Sinta. Gurauan ini mungkin disebabkan karena Lupus lebih populer sebagai film anak muda dan novel tahun 90-an dibandingkan penyakit.

Bagaimana Sinta berdamai dengan Lupus juga cukup inspiratif. Terkena Lupus saat masih menjadi mahasiswi yang penuh cita dan angan, membuat Sinta sempat tidak dapat menerima kenyataan kalau ia adalah seorang odapus dengan berhenti mengkonsumsi obat dan menjadi perokok, hingga akhirnya bisa menerima keadaan dan mulai bersahabat dengan penyakit yang belum ada obatnya tersebut. Sinta akhirnya bangkit dari keterpurukan, berhasil menyelesaikan kuliah strata 1, untuk kemudian melanjutkan ke Pascasarjana Jurusan Fiologi Unpad agar dapat mengkaji dan melestarikan naskah kuno warisan nusantara. Sinta juga mencoba memaknai waktu hidupnya dengan berbagi kepada sesama mengenai informasi terkait dengan lupus serta menulis puisi dan novel. Perubahan tersebut terjadi karena Sinta meyakini hanya ada satu obat yang dapat menyembuhkan Lupus dan itu harus ada dalam diri seorang odapus, yaitu semangat hidup dan kebahagiaan.

Minggu, 19 Juni 2011

Bepe 20: Ketika Jemariku Menari

"If we stop trying, that means we are no better than a coward..” – Bambang Pamungkas

Bambang Pamungkas atau Bepe, siapa yang tak kenal sosok ini. Bermain di klub elit, kapten tim nasional, pemegang rekor penampilan dan gol terbanyak bagi Indonesia, membuatnya menjadi salah satu pesepakbola papan atas Indonesia. Saya masih ingat sekitar akhir 90-an namanya sempat mengejutkan publik sepakbola karena terpilih sebagai pemain timnas disaat usianya masih 18 tahun dan masih belum memiliki klub profesional. Belum berhenti sampai disitu, Bepe juga sempat menumbuhkan harapan akan sosok pemuda bangsa yang mampu berkiprah dikancah sepakbola Eropa seperti yang pernah dilakukan Kurniawan Dwi Julianto, idolanya, dan Bima Sakti. Akan tetapi sayangnya, ternyata Bepe belum berjodoh dengan gemerlap sepakbola Eropa. Karirnya di EHC Norad hanya seumur jagung.

Gagal berkarir di Eropa bukan berarti karir Bepe meredup dan hilang. Kembali ke tanah air dan bergabung dengan Persija Jakarta, Bepe langsung menjadi topskor di musim pertamanya di Liga Indonesia dengan menjaringkan 24 gol. Perlahan tapi pasti karirnya semakin menanjak dimusim-musim berikutnya berkat kecerdasan, kepemimpinan, dan nalurinya sebagai penyerang. Tidak hanya di Indonesia, nama Bepe juga harum di negeri jiran Malaysia ketika membela Selangor FC dan mengantarkan klub tersebut meraih treble winner dan menjadi top skor.

Kini di usianya yang menginjak 31 tahun, sebuah usia yang tidak muda lagi bagi seorang atlit sepakbola, Bepe kembali menunjukkan kecerdasannya. Bukan sebagai pemain sepakbola akan tetapi sebagai perangkai kata penuh makna melalui bukunya yang berjudul Ketika Jemariku Menari yang isinya mayoritas diambil dari blog pribadi Bepe. Tidak banyak, bahkan dapat dikatakan sampai saat ini belum ada atlit sepakbola kita yang menelurkan sebuah buku mengenai dirinya, oleh karena itu apa yang dilakukan Bepe layak untuk di apresiasi.

Melalui Ketika Jemariku Menari, Bepe mencoba membagi ide dan pikirannya kepada khalayak ramai. Buku ini juga sekaligus jawaban dari beberapa pertanyaan yang selama ini sering mengemuka mengenai Bepe. Misalnya tentang mengapa Bepe terkesan enggan untuk dimintai wawancara secara langsung, bagaimana kehidupan keluarganya, perasaannya ketika mengalami cedera patah kaki dan suka duka sebagai pemain sepakbola disaat harus dipisahkan oleh jarak dengan keluarga tercinta.

Meskipun tidak terlalu detail dan tidak menjabarkan secara sistematis, Bepe juga membahas tentang perlunya kompetisi untuk usia muda demi kemajuan sepakbola bangsa. Bepe juga membahas tentang kuota pemain asing dalam satu klub yang berjumlah 5 orang yang pada akhirnya justru membunuh kesempatan pemain muda untuk tumbuh berkembang. Kehadiran banyak pemain asing secara pragmatis dibutuhkan klub untuk berprestasi dalam jangka pendek, akan tetapi disisi lain justru menghambat regenerasi sepakbola nasional. Karena pos-pos yang seharusnya dapat diisi pemain lokal justru ditempati pemain asing. Sehingga untuk beberapa posisi seperti penyerang, bangsa ini seperti kehabisan stok pemain berkualitas. Karena umumnya klub sepakbola Indonesia lebih mempercayakan posisi penyerang kepada pemain asing.

Berbeda dengan pemain, untuk kursi kepelatihan tim nasional, Bepe justru secara gamblang menyatakan lebih setuju dengan pelatih asing. Setidaknya untuk saat ini. Alasan yang dikemukakan Bepe cukup masuk akal, pelatih asing lebih berani memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk unjuk gigi. Seperti yang pernah dilakukan Bernard Schoem ketika memberi kepercayaan kepada Bambang Pamungkas, Ivan Kolev ketika memberi kepercayaan kepada Boaz Salosa, dan yang paling anyar Alfred Riedl yang memberi kepercayaan kepada Okto Maniani.

Banyak hal lain lagi yang coba diungkapkan Bepe melalui buku ini. Seperti kecintaannya terhadap Persija Jakarta dan Timnas Indonesia, masalah PSSI, kehidupan sosialnya, dan lainnya yang membuat buku ini semakin menarik dan layak untuk dijadikan koleksi. Apalagi buku ini adalah buku memoar sepakbola pertama di Indonesia yang dituliskan oleh si calon legenda sepakbola itu sendiri.

Sebuah buku yang cukup menarik dan bernilai tambah bagi sesama, karena semua hasil penjualan buku akan disumbangkan Bepe kepada dua yayasan yang selama ini mendukung dia, yaitu syair.org (Syair Untuk Sahabat Foundation), serta Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia, sebuah yayasan yang peduli pada anak yang hidup dengan kanker. Dan seperti yang dikatakan Irfan Bachdim melalui akun twitternya:

"There is only 1 MAN, 1 HERO, and 1 LEGEND ... His name is ... Bambang Pamungkas!"

Sabtu, 18 Juni 2011

Habibie Ainun

Belasan tahun yang lalu ketika masih sekolah, saya teringat betapa saya menyukai kisah Romeo & Juliet dan Layla Majnun. Roman fiksi yang mencerminkan cinta dan kasih sayang umat manusia yang dituturkan secara apik dalam suatu kisah.

Romeo & Juliet adalah karya dari William Shakespeare yang berlatar di kota Verona dan mengisahkan sepasang insan, bernama Romeo yang berasal dari keluarga Montague dan Juliet dari keluarga Capulet, yang saling jatuh cinta, namun terhalang karena kedua keluarga mereka saling bermusuhan. Kisah ini berakhir tragis setelah Romeo memutuskan untuk minum racun setelah mengira Juliet meninggal dunia. Setelah Juliet terbangun dan melihat Romeo meninggal karena racun, maka ia bunuh diri dengan menggunakan pisau. Kisah ini sendiri dianggap sebagai salah satu kisah cinta sepanjang masa yang telah di film kan, ditulis kembali, dan dipentaskan di berbagai teater.

Layla Majnun adalah karya Syaikh Hakim Nizhami, yang konon menginspirasi William Shakespeare untuk menuliskan Romeo & Juliet. Dikisahkan Majnun begtu mencintai Layla sepanjang hidupnya. Demi cintanya ia tahan tidak tidur, tahan lapar, tahan kehujanan dan kepanasan demi Layla. Namun sayang cintanya ditentang oleh keadaan orang tua. Layla yang mengetahui ada seseorang yang mencintai hatinya dengan tulus, tetap setia dan menjaga keperawanannya demi Majnun, belahan jiwanya. Majnun yang begitu tergila-gila pada Layla akhirnya menjadi gila karena cintanya yang tak pernah sampai.

Kini, belasan tahun setelah membaca dan menonton kedua kisah diatas. Saya mendapati kembali kisah kasih sayang antara sesama manusia yang tulus dalam kisah Habibie & Ainun yang dikisahkan oleh pelakunya sendiri Prof Dr Ing BJ Habibie, mantan Presiden Indonesia ke 3. Sebuah kisah yang dirajut dalam ketulusan dan kasih sayang dalam menjalani suka duka kehidupan, yang menurut saya lebih hebat dari kedua kisah diatas.

Jika kedua kisah diatas menggambarkan bagaimana seseorang 'berani mati' untuk orang yang dikasihinya, maka kisah Habibie & Ainun justru menggambarkan bagaimana kita berani hidup dan berkorban untuk orang yang kita kasihi dalam mewujudkan rumah tangga yang sakinah mawadah warrahmah.

Kisah romansa Habibie dan Ainun sendiri dimulai dari pertemuan di kediaman keluarga besari, keluarga besar Ainun, di Rangga Malela 11B, Bandung. Habibie, seorang insinyur yang baru pulang dari Jerman bertemu kembali dengan Ainun, kawan SMA-nya, seorang dokter lulusan FK UI setelah 7 tahun tak pernah jumpa. Dalam pertemuan itu Habibie tak menyangka Ainun telah menjadi dokter berparas cantik. Padahal, saat sama-sama masih duduk di bangku SMA, Habibie kerap mengolok Ainun yang gemuk dan hitam. Merasakan ada getaran dalam hatinya, spontan Habibie berkata, ‘Ainun kamu cantik, dari gula jawa menjadi gula pasir!’. Saat itu Habibie meyakini kalau Ainun adalah jodoh yang dititipkan Allah SWT untuknya seperti yang pernah diungkapkannya, ’Ada perasaan yang sangat dalam dari sebuah pancaran cahaya berdimensi 1 milliar 60 kl/jam dan kecepatan suara hanya 1000 km/jam. Hal itu memberikan informasi kepada saya inilah jodoh yang dititipkan Allah’.

Pelajaran menarik dari kisah kasih Habibie Ainun salah satunya adalah ketika pasangan muda ini memulai hidup di negeri orang dengan kondisi keuangan yang pas-pasan. Haibibie muda yang sedang berkuliah terpaksa mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang membuatnya menjadi begitu sibuk. Begitu sibuknya sampai membuat Habibie seringkali pulang larut malam. Keterbatasan dan kesibukkan suami ternyata tidak membuat Ainun mengeluh, justru sebaliknya, Ainun dengan setia menunggu suaminya pulang, memberikan semangat, motivasi, menyumbang ide, mengingatkan untuk sholat tahajud, dan ikut membantu serta mengingatkan suaminya untuk menjaga kesehatannya. Hingga kehidupan yang pas-pasan pun dapat mereka jalani dengan ikhlas dan bahagia.

Masih di Jerman, Ainun kembali memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya perhatian terhadap keluarga. Ainun yang saat berpeluang untuk melanjutkan pendidikan dan meniti karirnya sebagai Dokter, ia dengan berani memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya demi fokus untuk mengurus suami dan kedua anaknya. ‘Saya lebih dibutuhkan dibelakang layar’, kata Ainun, sebuah pengorbanan yang istimewa dari seorang istri demi dapat mencurahkan segenap perhatian untuk keluarganya.

Pelajaran berharga dari kisah mereka juga dapat dilihat sejak Ainun terkena penyakit Jantung. Habibie yang menyayangi belahan jiwanya dengan setulus hati dengan setia terus berusaha untuk menemani dan memberi dukungan kepada Istri tercintanya. Beliau seperti tidak ingin berpisah walau sedetikpun dengan belahan jiwanya. Pengorbanan yang menguras energi dan mengaduk-aduk perasaan ini dijalani oleh Habibie selama kurang lebih 10 tahun dengan ikhlas karena dalamnya cinta. Hingga akhirnya pada tanggal 22 Mei 2010, Habibie harus benar-benar berpisah dengan Ainun secara fisik. Bukan karena suatu permasalahan, akan tetapi karena Ainun dipanggil oleh Allah SWT. Habibie yang saat itu merasakan kehilangan yang mendalam karena tulang rusuk yang diciptakan oleh Allah SWT harus diambil sampai harus melewati perawatan psikologi salah satunya dengan terapi menulis yang kemudian menghasilkan buku Habibie Ainun.

Habibie seakan ingin menunjukkan betapa dalam sayangnya kepada belahan jiwanya melalui kisah dan ungkapan yang dikumandangkan beliau tentang betapa bahagia dan beruntungnya mendapatkan istri yang selalu diliputi kesabaran dan tanggung jawab. Beliau juga sering menggambarkan kalau Habibie dan Ainun adalah manunggal dan tidak dapat dipisahkan. Hal ini seperti yang digambarkan oleh Yusran Darmawan dalam kompasiana:

Pada tahun 2006, saya mengikuti seminar yang diadakan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di kantor BPPT Jakarta, di mana Habibie menjadi keynote speaker. Saya masih ingat betul bahwa saat itu, Habibie datang ditemani Ainun. Bahkan di saat usai berceramah, di saat semua wartawan datang merubunginya, ia masih mencari-cari di mana Ainun. Pada saat seorang wartawan bertanya tentang pendapatnya atas situasi di Timor Leste, Habibie hanya menjawab singkat. “Maafkan, saya sedang mencari di mana mantan pacar saya. Mana Ainun? Saya belum pernah pisah dengan Ainun. Mana Ainun?”

Habibie juga membagi resep lain yang membuat hubungan mereka begitu harmonis sampai akhir hayat, salah satunya adalah melalui kepedulian kecil yang diberikan melalui pertanyaan-pertanyaan menjelang tidur, seperti ‘apakah sudah mendirikan sholat’; ‘jangan lupa makan’; ‘jangan lupa minum obat’; ‘apakah saya perlu sholat tahajud; dan lainnya. Ada salah satu bentuk perhatian Ainun yang mungkin tidak akan dilupakan Habibie, yaitu ketika Ainun harus berjuang melawan maut dengan 50 selang ditubuhnya di ruang ICCU, Ainun masih menunjukan perhatiannya.’ Kamu khawatir saya belum makan?. Ainun lantas menjawab dengan kepala mengangguk’. Subhanallah, sebuah perhatian yang sangat istimewa dari seorang istri kepada suaminya, disaat sebenarnya sang istrilah yang saat itu lebih membutuhkan perhatian.

Banyak pelajaran yang bisa didapat dari kisah mantan Presiden Indonesia yang ke 3, kisah tentang ketulusan dan keagungan cinta dan bagaimana menjalankannya ditengah jalan yang berliku hingga terwujud keluarga yang sakinah mawadah warrahmah yang hanya dapat dipisahkan oleh kematian. Sebuah kisah yang sungguh sangat luar biasa.

Minggu, 12 Juni 2011

Belajar Menjadi Pembelajar

Knowledge Worker “... works primarily with information or... develops and uses knowledge in the workplace.” Peter Drucker, Landmarks of Tomorrow, 1959

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Belajar dapat diartikan memiliki arti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; atau berlatih; atau perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Sedangkan menurut Wikipedia, belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Dalam literatur Islam, belajar memiliki tempat yang khusus dan sangatlah dianjurkan. Seperti yang tertuang dalam hadist, mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim; carilah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat; carilah ilmu walaupun di negeri cina; siapa meniti jalan menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalannya menuju surga; siapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah (fi sabilillah) sampai ia kembali. Bahkan ayat yang pertama kali diwahyukan kepada Rasulullah adalah perintah untuk belajar, melalui kalimat Iqra!, bacalah. Al Qur’an juga menggambarkan betapa istimewanya orang yang belajar dan berilmu, seperti yang termaktub dalam Surat Az-Zumar ayat 9, ‘Katakanlah: Tiada serupa orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan orang-orang yang tiada berilmu pengetahuan’. Dan juga dalam surat Al Mujadillah ayat 9,’Allah telah mengangkat orang-orang yang beriman dari golongan kamu, dan begitu pula orang-orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan beberapa derajat’.

Mengapa manusia diperintahkan untuk belajar? Perintah ini mungkin ditujukan agar manusia dapat terus berkembang dan beradaptasi seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman. Karena perubahan adalah satu hal yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari, maka belajar adalah suatu keharusan agar kita dapat bertahan dan berkembang. Agar tidak seperti manusia prasejarah dan dinosaurus yang tidak dapat mengikuti perkembangan zaman hingga akhirnya punah digilas zaman. Dan juga agar tidak bernasib menjadi manusia atau bangsa terbelakang yang tidak dapat mengikuti kemajuan pengetahuan dunia.

Perlu kita pahami,yang dimaksud belajar bukan hanya proses belajar mengajar di sekolah atau kampus atau ruang yang tersekat dinding. Belajar dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, dalam situasi apa saja, dan melalui media apa saja. Manusia yang selalu belajar umum dikatakan sebagai manusia pembelajar. Manusia Pembelajar adalah setiap orang manusia yang bersedia menerima tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting, yakni berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi dan bakat-bakat terbaiknya dan berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensinya itu, mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan sesuatu yang bukan dirinya. Dalam dunia kerja, seorang manusia pembelajar dikenal dengan istilah pekerja berpengetahuan (knowledge worker), yang biasanya berkompetensi tinggi, tidak cepat puas atas pencapaiannya, selalu berusaha menghasilkan yang terbaik, haus akan inovasi, berkontribusi nyata, berusaha memperbaiki kekurangannya, terbuka terhadap kritik dan masukan orang lain, dan tidak takut akan perubahan.

Ada banyak cara untuk menjadi seorang manusia pembelajar. Pertama adalah dengan memperbanyak membaca, seperti yang diperintahkan Al Qur’an, bacalah. Tentunya dengan bacaan yang bermutu dan berkualitas, baik itu buku, majalah, maupun bacaan elektronik. Kedua adalah dengan belajar dari orang yang lebih berpengalaman dan lebih ahli. Untuk itu pilihlah lingkungan yang dapat membuat pengetahuan dan kemampuan kita semakin berkembang. Seperti yang dikatakan dalam pepatah arab, apabila kita bergaul dengan tukang parfum insyaAllah kita akan ikut harum. Ketiga adalah dengan belajar dari pengalaman. Seperti pepatah yang sering dikumandangkan orang tua kita, pengalaman adalah guru yang terbaik. Berusahalah menjadikan setiap keberhasilan atau kegagalan kita menjadi bahan untuk berinstropeksi, memperbaiki diri, dan berinovasi. Keempat adalah dengan menuangkan pengalaman, pengetahuan, dan bacaan kita dalam sebuah tulisan, apakah itu dalam bentuk bercerita, menuangkan ide pemikiran, berbagi konsep, membuat analisa kritis, atau sekedar menulis resensi. Seperti yang dikatakan Ali bin Abi Thalib, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Terakhir, yang menurut saya paling penting, adalah dengan niat. Niatkanlah diri anda untuk terus belajar, belajar, dan belajar menjadi lebih baik lagi. Karena suatu perbuatan tergantung dari niatnya, jika niat kita adalah untuk terus belajar, maka insyaAllah kita akan merasakan manfaatnya. Seperti yang tertuang dalam hadist, innama ‘amalu bi niat, setiap amalan tergantung dari niatnya.

Semoga kita bisa terus belajar untuk menjadi manusia pembelajar.