Minggu, 29 Mei 2011

Sejarah Para Pemimpin Islam

Sejujurnya saya membeli buku ini karena hasrat ingin tahu saya tentang sejarah peradaban Islam setelah membaca buku Dari Puncak Bagdad. Dengan judul Sejarah Para Pemimpin Islam, buku yang terdiri dari 3 seri ini menarik minat saya untuk segera merogoh kocek agar dapat membawanya pulang.

Hasrat yang membuncah membuat saya langsung melahap halaman demi halaman dari seri pertama buku ini yang memuat kisah mulai dari Abu Bakar hingga Utsman ketika tiba di rumah. Akan tetapi alangkah terkejutnya saya begitu mendapati beberapa penyampaian akan Abu Bakar As Shidiq. Bukan hanya tidak sesuai dengan apa yang pernah saya pelajari dahulu, akan tetapi begitu bertaburannya fitnah dan caci maki terhadap Abu Bakar, membuat rasa curiga saya akan adanya propaganda tertentu yang berjalan beriringan dengan kisah dalam buku ini semakin menguat. Saya mencoba melanjuti kisah buku ini, dan semakin saya membaca semakin banyak fitnah dan pelecehan terhadap sahabat Rasulullah yang tertuang dalam kata-kata dibuku ini. Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, dan beberapa sahabat Rasulullah tidak luput dari fitnah yang terdapat dalam buku ini.

Sejujurnya saya sudah menyadari kalau buku ini adalah propaganda Syiah dari berbagai fitnah diatas dan cara penyebutan Ali Bin Abi Thalib dengan sebutan Imam Ali. Apalagi ketika saya mencoba mencari tahu tentang penuls buku ini, Rasul Ja’fariyan yang ternyata merupakan salah satu ulama Syiah yang memenangi Iran’s Book Of The Year melalui buku Shi’a Atlas. Akan tetapi saya tetap mencoba untuk membaca buku ini, karena saya penasaran bagaimana Syiah bercerita tentang pemimpin Islam. Karena saya meyakini kalau buku ini tidak akan membuat saya menjadi seorang Syiah selagi saya bisa menjaga diri dan mengimbangi dengan bacaan yang lurus.

Di buku kedua dan ketiga, cerita berkisah mulai dari Ali Bin Abi Thalib, Hasan Bin Ali, Husain Bin Ali, gerakan dan peristiwa karbala, dan beberapa paham Syiah. Ada beberapa hal yang saya tangkap dari buku ini, bukan hanya Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Bin Khattab, dan Utsman Bin Affan yang difitnah oleh Syiah, akan tetapi Ali Bin Thalib dan keturunan-keturunannya pun tak luput dari cerita bohong yang mereka buat. Betapa Ali Bin Abi Thalib, Hasan dan Husain digambarkan seakan-akan memiliki kekuatan gaib ilahiyah. Beberapa peristiwa yang terjadi, seperti perang jamal juga tidak luput dari penambahan dan pengurangan fakta sejarah yang terjadi. Melalui buku ini, saya juga mengetahu akan hadist-hadist Syiah yang bukan hanya bersumber dari Rasulullah SAW. Akan tetapi dari Ali, Hasan, Husain, dan para imam Syiah.

Untuk anda yang ingin mengetahui fitnah dan pemikiran Syiah terhadap para khalifah dan sahabat Rasulullah, buku ini dapat menjadi salah satu yang dapat anda baca. Akan tetapi untuk anda yang ingin benar-benar belajar dan mengetahui mengenai sejarah khalifah Islam, maka kesampingkanlah buku ini dari daftar anda. Karena buku ini bukan hanya penuh caci maki, fitnah, dan pengkaburan fakta sejarah tanpa analisis sistem khalifah secara komprehensif, akan tetapi juga sangat berpotensi menyesatkan anda.

Senin, 23 Mei 2011

Dari Puncak Bagdad : Sejarah Dunia Versi Islam

Presiden Soekarno, dalam pidatonya saat peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus 1966 pernah mengatakan ‘Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah’ atau populer dengan istilah Jas Merah. Melalui sejarah kita bisa mengetahui dan meniru keberhasilan dan kebaikan pendahulu kita di masa lampau dan menghindari melakukan kesalahan yang dilakukan oleh para pendahulu.

Sejarah pun seringkali tidak lepas dari cara pandang, latar pendidikan, dan subyektifitas penulisnya. Perbedaan sudut pandang tersebut terkadang membuat suatu topik atau tokoh yang sama bisa menghasilkan cara pandang yang berbeda. Contohnya dalam literatur sejarah Indonesia kita mengenal sosok JP Coen sebagai seorang penjajah yang menindas rakyat Indonesia , sedangkan dalam pandangan Belanda sosok yang disebutkan tadi adalah seorang pahlawan. Dalam beberapa hal, sejarah juga dapat dipengaruhi oleh pandangan dari suatu kelompok ataupun rezim yang mendominasi. Hal ini dapat dilihat dari kontroversi sejarah Indonesia yang didominasi oleh cara pandang rezim yang berkuasa. Bagaimana kontroversinya peristiwa supersemar dan bagaimana kisah Tan Malaka serta Soe Hok Gie berusaha untuk ditutupi adalah contohnya.

Begitu pun dengan sejarah peradaban dunia yang tidak lepas dari cara pandang penulisnya. Begitu mendominasinya barat dalam peradaban dunia dewasa ini membuat banyak literatur sejarah peradaban dunia cenderung lebih mengarah ke barat. Dalam banyak hal, mulai dari zaman filsuf yunani, zaman kegelapan, renaisans, hingga industrialisasi selalu digambarkan seakan-akan hanya baratlah pusat episentrum peradaban dunia dan belahan dunia lain hanyalah pelengkap yang dikisahkan dalam bab kecil peradaban dunia, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Banyak dari kita yang tidak tahu, kalau ternyata pada saat bangsa barat sedang berada dalam era kegelapan, ternyata dibelahan dunia lain terdapat peradaban yang begitu jaya dan maju. Dan peradaban itu adalah peradaban Islam.

Untuk mengimbangi sudut pandang sejarah tersebutlah Tamim Ansary mencoba mengupas peradaban dunia dari sudut pandang yang berbeda dengan barat… sudut pandang Islam. Melalui buku Dari Puncak Bagdad : Sejarah Dunia Versi Islam, Tamim mencoba mengisi kekosongan sejarah yang selama ini jarang dikisahkan dalam literatur sejarah dewasa ini. Tamim seolah mencoba merubah cara pandang barat tentang Islam serta memberi warna dan menambah khasanah keilmuan tentang sejarah peradaban dunia. Dengan penuturan yang terkesan seperti sedang bercerita sambil minum teh, Tamim mencoba menegaskan bahwa Islam juga memiliki pengaruh dalam sejarah panjang peradaban dunia.

Menurut Tamim, titik awal dari sejarah peradaban Islam sendiri dimulai sejak hijrah nabi dari Mekah ke Madinah yang merupakan tahun nol hijriah. Hijrah menandai terbentuknya ummah dalam membentuk peradaban baru di Madinah. Titik awal dari terciptanya peradaban Islam yang maju dan berkembang.

Kisah menarik terjadi pada saat Rasulullah SAW wafat, karena Rasulullah tidak meninggalkan wasiat mengenai siapa yang kelak menjadi pengganti beliau. Kebimbangan sempat melanda sahabat Rasul karena tidak ada mekanisme pemilihan pemimpin yang diwariskan. Dan dimulailah era Khaulafa Rasyidi yang terus berlanjut sampai zaman kejayaan peradaban Islam hingga memudarnya pamor kejayaan Islam.

Menarik ketika membahas hilangnya kejayaan intelektual Islam dari panggung dunia yang kemudian tertutup oleh khazanah intelektual barat yang tercipta melalui arus renaisans. Tokoh-tokoh intelektul muslim seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Jabar muncul dan berkibar pada saat imperium Islam sedang memudar dan pada era setelahnya Isaac Newton, A.G Bell dan ilmuwan barat bermunculan pada saat kebangkitan barat. Hal itulah yang pada akhirnya membuat gaung Ilmuwan Muslim yang merupakan perintis pengetahuan modern tertutup oleh para tokoh intelektual barat.

Menarik juga ketika membahas runtuhnya kejayaan Islam. Karena hal ini tidak disebabkan oleh kekuatan militer, akan tetapi disebabkan oleh perdagangan, perebutan emas, dan perpecahan di tubuh umat Islam itu sendiri, yang akhirnya menggerogoti kejayaan Islam.

Tamim Ansary, penulis buku ini, sendiri lahir di Afghanistan dan bermukim di San Fransisco. Melalui buku ini Tamim seakan ingin membuka mata dunia tentang peradaban Islam yang selama ini hanya mendapat porsi kecil dalam literatur sejarah barat. Sepertinya buku ini sengaja disusun oleh Tamim untuk mengoreksi pandangan barat tentang Islam dan dihadirkan untuk konsumsi barat.

Kehadiran buku ini cukup baik dalam menambah khasanah literatur sejarah dunia. Akan tetapi buku ini juga tidak bebas dari sudut pandang tertentu, penulis yang tumbuh dan besar dalam lingkungan sekuler membuat buku ini terkesan sekuler dari gaya penulisan dan sudut pandang penulis ketika menceritakan berbagai kisah di buku ini. Penulis sepertinya berusaha untuk obyektif dalam menuliskan buku ini dengan mengambil beberapa literatur Islam, Barat, dan bahkan Syiah. Akan tetapi campur aduk literatur tersebut justru membuat saya seringkali mengernyitkan dahi dalam membaca buku ini, karena beberapa hal yang kurang sesuai dengan apa saya pelajari saat ini. Seperti ketika dalam membahas kekurangan khaulafa rasyidin yang sepertinya bercampur dalam sudut pandang aliran tertentu. Kehadiran buku ini sungguh membuat hasrat saya untuk belajar sejarah Islam tergugah, karena sisi sekuler dan campur aduk paham dalam buku ini membuat saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi karena saya meyakini pasti ada kekeliruan dari buku ini.

Sabtu, 21 Mei 2011

Padang Bulan & Cinta Di Dalam Gelas

Apa yang ada di benak anda tentang novel dwilogi? Jika yang terlintas dipikiran anda adalah tentang novel berseri yang diterbitkan secara berkesinamungan dengan jarak waktu tertentu, maka sepertinya anda perlu menengok dwilogi Padang Bulan karya Andrea Hirata. Karena novel ini benar-benar akan merombak pemikiran anda tentang novel dwilogi. Novel ini tidak diterbitkan secara terpisah. Novel ini justru diterbitkan dalam satu edisi saling terbalik, dimana cover depan adalah edisi pertama yang berjudul Padang Bulan dan cover belakang adalah kisah lanjutannya yang berjudul Cinta Di Dalam Gelas.

Kisah dalam novel ini sendiri dibuka dengan kisah getir Syalimah dan Enong, Syalimah yang selama hidupnya jarang menerima kado ataupun kejutan dari suaminya, Zamzami,karena kemiskinan mereka, tiba-tiba mendapatkan hadiah dari suaminya. Sepeda Sim King yang selama ini di idam-idamkan. Begitupun dengan Enong, gadis yang begitu mencintai bahasa Inggris ini baru saja mendapatkan kamus bahasa inggris dari ayahnya, Zamzami. Namun ternyata malang tak dapat ditolak, disaat berada di gerbang kebahagiaan itu, tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan kabar meninggalnya suami dan ayah tercinta mereka, Zamzami meninggal dunia karena tertimbun longsor.

Sepeninggal Zamzami, kisah getir perjuangan hidup Enong pun dimulai. Untuk membantu menafkahi keluarga Enong akhirnya berhenti menikmati pendidikan dasar dan mulai merantau. Enong merantau dengan harapan meraih pekerjaan untuk mnafkahi keluarga dan menyekolahkan adik-adiknya. Akan tetapi, untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak, mencari pekerjaan di tanah rantau untuk anak kecil seusia Enong ternyata tidaklah mudah. Berkali-kali mendapat penolakan, Enong akhirnya kembali ke kampong halamannya tanpa mendapatkan pekerjaan.

Di kampung halaman, Enong mencoba sebuah pekerjaan yang saat itu tidak pernah terpikirkan di masyarakat yaitu pendulang timah. Bukan hanya karena ia terlalu kecil, akan tetapi pendulang timah adalah profesi laki-laki dan selama ini tidak ada satu pun wanita yang melakukan pekerjaan tersebut. Enong menjadi pionir disana,bukan karena pekerjaan ini begitu bergengsi akan tetapi karena keterpaksaanlah ia melakukan. Menjadi pendulang timah tidak membutuhkan ijazah dan persyaratan muluk-muluk selain fisik yang kuat.

Sementara itu di kehidupan lain, Ikal yang cinta mati kepada Aling sedang merana karena penolakan ayahnya. Akan tetapi cinta ikal sudah terlalu kuat untuk dihalangi, meskipun oleh ayahnya sekalipun. Berbagai cara ia lakukan untuk mencuri perhatian Aling akan tetapi ternyata cintanya kepada Aling tidak mendapatkan sambutan seperti yang ia harapkan. Akibatnya, ikal yang merasa gundah gulana memutuskan mencari pekerjaan ke Jakarta. Ketika ia akan berangkat ke Jakarta, tepat sebelum sauh diangkat, tiba-tiba ia berubah pikiran dan segera turun dari kapal. Ia harus membuktikan kalau ia mampu mengalahkan Zinar, yang menurut desas-desus merupakan pria yang berhasil mencuri perhatian Aling, melalui pertandingan olahraga.

Banyak kisah dan pelajaran menarik yang dituangkan secara cerdas dengan diiringi humor ala melayu oleh Andrea dalam novel dwilogi ini. Mulai dari tekad dan semangat belajar Enong yang luar biasa, mulai dari bagaimana tekad Enong dalam mempelajari bahasa Inggris dengan ikut kursus di Tanjong Pandan meskipun saat itu usianya sudah tidak muda lagi dan bagaimana semangatnya dalam mempelajari permainan catur meskipun sebelumnya belum pernah menyentuh satu pun bidak catur demi dapat mengalahkan Matarom, mantan suaminya. Semangat yang tertuang dalam kata, ‘Berikan aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar’. Mimpi dan tekad yang kelak menjadi stimulan positif bagi Enong. Melalui sosok Enong, Andrea juga mengenalkan tentang tata masyarakat Melayu, dimana anak sulung harus menjadi tulang punggung yang harus bertanggung jawab memikul beban hidup keluarga.

Budaya minum kopi masyarakat Belitong juga digambarkan secara jenaka oleh Andrea Hirata. Bagaimana melalui segelas kopi kepribadian seseorang dapat tergambarkan. Dan bagaimana masyarakat melayu dari berbagai golongan dapat duduk berjam-jam di warung kopi untuk membicarakan apa pun, mulai dari pembicaraan ringan hingga masalah pemerintahan. Bahkan begitu mendarah dagingnya warung kopi, hingga pertandingan catur yang paling bergengsi pun harus diadakan di warung kopi.

Pandangan masyarakat melayu tentang wanita pada saat itu juga digambarkan dengan menarik oleh Andrea, bagaimana terkejutnya rakyat Belitong ketika Enong memutuskan menjadi penambang timah dan bagaimana pro dan kontra yang terjadi ketika Enong memutuskan untuk mengikuti pertandingan catur. Hingga membuat penduduk gempar dan terbelah menjadi dua kubu. Karena selama ini catur adalah hak kaum pria.

Secara keseluruhan dwilogi ini sangatlah menarik. Melalui dwilogi ini Andrea Hirata seperti mengajak kita menertawakan ironi dan diri sendiri tanpa kesan menggurui dan tanpa membuat kita tersinggung. Begitu halus dan jenaka cara bertutur Andrea, sehingga tanpa kita sadari ketika kita membaca novel ini kita sedang menertawakan diri sendiri dan masyarakat kita. Andrea juga memberikan pesan yang implisit melalui kisah perjuangan Enong, bahwa dalam diri setiap manusia terdapat kekuatan yang bahkan tidak disadari seseorang yang akan muncul ketika kita berusaha.

Rabu, 18 Mei 2011

Festival Malang Kembali - Malang Tempo Doeloe

Beberapa waktu yang lalu sahabat saya mengatakan kalau tanggal 19 – 22 Mei ini Festival Malang Kembali (FMK) atau yang juga dikenal sebagai Malang Tempo Doeloe akan digelar kembali. Sebuah festival yang diadakan sejak tahun 2006 di jalan Ijen yang diprakarsai Yayasan Inggil dan sepertinya sudah menjadi agenda tahunan pemerintah kota Malang.

Selama beberapa hari kita dapat melihat dan menyelami budaya tempo dulu dari kota malang, mulai dari bangunan,sejarah, kebudayaan, kesenian, kehidupan, kerajinan, hingga kuliner. Untuk anda yang menyukai fotografi, banyak sekali objek yang dapat membuat dahaga fotografi anda terpuaskan. Festival yang sepertinya sayang untuk dilewatkan akan tetapi sayangnya saya memang tidak dapat menghadiri festival tersebut.

Masih segar dalam memori ketika festival tersebut pertama kali dihelat ditahun 2006. Betapa antusiasnya warga malang dalam menyambut acara yang akan digelar pertama kalinya itu. Kantor kami pun tidak kalah heboh. Hilir mudik ide mengalir dari kami dalam mempersiapkan acara tersebut. Mulai dari kostum hingga kendaraan yang akan digunakan untuk menuju ke Jalan Ijen. Ketika waktunya tiba, begitu pulang kerja kami pun segera berganti kostum dan berangkat dengan semangat membara menuju jalan ijen dengan menggunakan sepeda onthel. Sesampainya dilokasi kami segera menikmati suasana tempo doeloe tersebut di daerah yang dulunya bernama Ijen Boulevard itu.



Tahun berikutnya saya pun berkesempatan untuk menghadiri festival ini. Bahkan ketika itu saya sampai dua kali menghadiri festival ini. Yang pertama dengan rekan kantor saya yang seperti biasa berpakaian ala tempo doeloe..


Dan yang kedua dengan sahabat Jakarta Student Community, kumpulan pelajar Jakarta di kota Malang, dengan baju ala mahasiswa. Dan seperti tahun sebelumnya, kami pun mengambil beberapa gambar untuk diabadikan.



Jika kebetulan pada tanggal tersebut anda berada di malang dan sekitarnya, maka luangkanlah waktu anda untuk datang ke FMK, nikmatilah suasana kota Malang Tempo Doeloe dan yakinlah kalau anda tidak akan merasa rugi setelahnya.

Kamis, 05 Mei 2011

9 Summers 10 Autumns

Siapa sangka anak seorang supir angkot di di kota kecil di Jawa Timur yang hidup serba pas-pasan bisa menjadi direktur di salah satu perusahaan besar dunia di New York, Amerika Serikat. Ya… Siapa yang menyangka.. Tapi ini benar-benar terjadi.. Adalah Iwan Setyawan yang membuat hal yang sepertinya utopis tersebut menjadi nyata... Melalui novel memoarnya yang berjudul 9 Summers 10 Autumns : Dari Kota Apel ke Big Apple, Iwan bertutur tentang perjalanan hidupnya hingga menjadi salah satu direktur salah satu perusahaan besar di New York. Iwan tidak menawarkan mimpi, Iwan justru memberi contoh bagaimana mengeksekusi menjadi nyata.

Terlahir dari keluarga yang miskin. Bapaknya adalah seorang supir angkot yang tidak bisa mengingat tanggal lahirnya sementara ibunya tidak sempat lulus sekolah dasar. Di rumah berukuran 6 x 7 meter di kaki Gunung Panderman, Batu, Iwan tumbuh dan berkembang bersama kedua orang tua dan empat saudara perempuannya. Tidak ada mainan yang bisa diingat, tidak ada sepeda, tidak ada boneka, dan tidak ada kamar. Bukulah yang menjadi pelipur lara dan hiburan pengganti semua itu. Iwan kecil saat itu hanya memiliki mimpi membangun kamar di rumah kecilnya.

Untuk mengatasi kesulitan ekonomi, ia mencari tambahan uang dengan berjualan di saat bulan puasa, mengecat boneka kayu di wirausaha kecil dekat rumah, atau membantu tetangga berdagang di pasar. Dalam memanajemen perut keluarga, ibunya dibekali intuisi manajemen keluarga yang kuat, ibunya mampu membelah 1 telur untuk 3 anaknya yang masih kecil dengan merata dan tahu berapa liter nasi yang harus di masak dan bisa habis tanpa tersisa saat dimakan oleh suami dan 5 anaknya.

Tekadnya yang kuat untuk mewujudkan mimpinya membuatnya menjadi sosok yang gigih. Kakak, adik, dan keterbatasan adalah inspirasi dalam hidupnya untuk lebih maju lagi. Ia benar-benar menjadikan buku, semangat, dan ketekunan sebagai pengganti mainan yang tidak dimilikinya, buku benar-benar pelipur lara baginya. Dan dari buku dan pendidikanlah ia mampu keluar dari jerat dan lingkaran setan penderitaan.

Iwan mengisahkan bagaimana perjuangannya untuk bisa menembus Fakultas MIPA IPB, kemudian menjadi lulusan terbaik, hingga akhirnya menjadi Director Internal Client di Nielsen Consumer Research di New York. Dalam ceritanya, secara tidak langsung Iwan memberikan resep bagaimana mengikuti jejaknya. Ia tidak minder ketika harus bersaing dengan lulusan luar negeri, ia selalu datang lebih pagi dan pulang lebih malam dibanding rekan-rekannya, ia selalu menyelesaikan pekerjaan lebih dari yang diminta, dan ia tidak mudah menyerah.

Iwan juga menyadarkan kita kalau tidak selamanya gemerlapnya hidup dan suksesnya dapat memuaskan semuanya. Dalam kilau sukses di New York, Iwan juga sering merasa kesepian. Ada kerinduan didalam jiwanya. Kerinduan kembali kampung halaman dan kerinduan kehangatan di keluarganya. Hingga ia akhirnya memutuskan meninggalkan hingar binger kota New York untuk pulang ke kampung halamannya.

Menurut saya buku ini adalah novel memoir. Iwan berusaha menceritakan perjalanan hidupnya melalui media seorang anak kecil dalam bentuk memoar. Kisah hidup dan perjuangan Iwan cukup tergambar dalam buku ini. Bahkan kegemaran iwan akan seni dan sastra tertuang juga, bagaimana Iwan menyukai Khairil Anwar, Paul Verlaine, Fyodor Dostoevsky, dan juga pementasan opera.

Secara keseluruhan buku ini cukup bagus. Bahasanya ringan dan tidak bertele-tele. Dan seperti telah dikatakan diatas… Buku ini tidak menawarkan mimpi, justru buku ini mengajak kita untuk bangun dari mimpi kita agar belajar dan bekerja lebih keras lagi untuk mengeksekusi mimpi-mimpi kita.