Rabu, 05 Agustus 2020

Bukan Tentang Kamu

Uda.. begitu biasanya mereka memanggilmu.. 
Tapi.. ini bukan tentang kamu.. 
Ini tentang dua malaikat kecil yang wajib kamu perjuangkan.. 
Dua malaikat kecil yang harus kamu perhatikan.. 
Dua malaikat kecil yang wajib kamu beri nafkah yang baik.. 
Dua malaikat kecil yang harus kamu pastikan makan dari yang halal.. 
Ini semua bukan tentang kamu.. 

Uda.. aku tahu ini memang tidak mudah..  
Tapi kamu harus tetap berusaha memberikan yang terbaik.. 
Berjuang memberikan rezeki yang halal dan baik untuk dua malaikat kecilmu.. 

Gagal.. coba lagi.. 
Jatuh.. bangun lagi.. 
Terjerembab.. bangkit lagi..

Ikhtiar terus, pantang menyerah dan terus maju.. 
Sampai kapan? 
Sampai Allah Aza Wa Jala memanggilmu pulang.. 

Semoga ketika giliranmu pulang akhir hidupmu adalah akhir hidup yang terbaik.. 
Sehingga kelak kau akan dipertemukan dua malaikat kecilmu di jannah-Nya.. 
Dan malaikat kecilmu memiliki peninggalan yang berharga hasil jerih payahmu.. 

Semoga.. 
Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.. 

 -JP 05082020-
#YNWA #ZAFA

Minggu, 21 Agustus 2011

Muhammad Para Pengeja Hujan

“Diakah Atsvat Ereta? Lelaki yang kelahirannya telah lama diramalkan dalam gulungan-gulungan perkamen kuno? Sosok Maitreya yang memiliki tubuh semurni emas, terang-benderang dan suci?” 

Setelah sebelumnya berhasil mengkisahkan potongan perjalanan hidup Rasulullah SAW dalam Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan, Tasaro GK hadir kembali melalui karyanya yang lain tentang penggalan lain kisah Baginda Rasul dalam Muhammad Para Pengeja Hujan. Masih tentang sosok yang dijanjikan dalam berbagai kiab suci , mulai dari kitab Kuntap Sukt, kitab Injil, kitab Zardhust, ajaran Budha. Masih juga tentang Kashva, sang pemindai Surga yang diburu oleh Khosrou II karena ingin memurnikan ajaran Zhardust.

Kisah dalam novel ini terbagi menjadi tiga kisah berbeda yang terjadi pada saat yang hampir bersamaan di tempat yang berbeda. Kisah yang pertama memuat tentang kisah perjalanan Baginda Rasul SAW hingga Khalifah Abu Bakar RA. Kisah dan alur Baginda Rasulullah disampaikan dengan apik dan cukup mendetail oleh Tasaro. Mulai dari masa sebelum kelahiran Rasulullah, seperti Nazar Abdul Muthalib, pernikahan kedua orang tuanya, kelahiran Baginda Rasul, serbuan pasukan Gajah pimpinan Abrahah, masa kecil Rasul ketika dititipkan kepada keluarga Halimah, hingga wafatnya Rasulullah SAW. Setelah Rasulullah wafat kisah dilanjutkan ke masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq hingga wafatnya Sang Khalifah.

Kisah kedua memuat kelanjutan kisah Kashva, sang pemindai surga. Setelah dalam kisah sebelumnya kisah pencarian Kashva akan Sang Pembawa Kebenaran berakhir di Tibet. Kini di Tibet, Kashva kehilangan Xerxes dan Mashya karena bencana banjir ketika meninggalkan Gunung Kailash. Ditemani dengan Vakshur, seorang remaja yang menjadi pengawalnya, mereka melakukan perjalan mendaki 13 gunung suci di Tibet untuk menemukan jejak Xerxes dan Mashya. Satu persatu puncak pegunungan suci mereka jelajahi demi mendapatkan jejak, hingga pada puncak ke sepuluh dimana ia bertemu dengan biksu Tashidelek yang membersamai Kashva memasuki Kuil Perdebatan. Kuil yang kian memberikan titik terang bagi Kashva terhadap sosok Astvat Ereta. Yang sempat membuatnya bimbang apakah mencari jejak Astvat Ereta atau mencari Xerxes dan Mashya. Di sisi lain, Kashva mulai bertanya-tanya dalam hati mengenai perubahan sikap Vakhsur setelah mereka bertemu dengan Biksu Tashidelek. Apa sebenarnya yang disembunyikan Vakshur? Tapi Kasha urun menanyakan ke Vakshur perihal tersebut. Di puncak yang sama Vakshur menemukan jejak Xerxes dan Mashya melalui pahatan yang bertuliskan ‘Mashya, Xerxes, ke Persia’. Mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan ke Persia. Yang ketika tiba di Persia, bukannya bertemu dengan Xerxes malah membuat Kashva masuk ke dalam jeruji besi.

Kisah terakhir mengambil latar di Persia. Sepeninggal Khosrou II, perebutan kekuasaan dan pertumpahan terjadi dalam waktu yang singkat dan secara terus menerus. Seorang arsitek wanita ternama yang bernama Atusa diminta untuk menemui para putri keturunan Khosrou II, yang bernama Purandokht, Turandokht dan Azarmidokht, untuk menghidupkan atanatoi, pasukan Immortal yang berjumlah 10.000 tentara pelindung raja Persia. Atusa yang awalnya menolak karena merasa tidak kompeten akhirnya menerima permintaan tersebut. Dalam perjalanan mengemban tugas menghidupkan kembali athanatoi, Atusa dibantu oleh Turandokht, kakak Azarmidokht yang memegang teguh ajaran Zarathusta. Dalam perkembangannya, Atusa ternyata sangat berbakat dan mahir dalam mengembangkan atanatoi. Pergolakan pun terjadi dan penguasa Persia silih berganti terjadi hingga akhirnya Ratu Purandokht berhasil naik tahta. Sempat membawa angin segar bagi rakyatnya, akan tetapi ternyata nasib Purandokht juga berakhir dengan terbunuh. Azarmidkokht menemukan kakak perempuannya itu diracuni suatu pagi. Sepupu mereka kemudian naik tahta. Tapi itupun tak berlangsung lama. Konspirasi demi konspirasi terjadi di istana. Hingga menghantarkan Azarmidokht menduduki singgasana Khosrou. Saat itulah cadar biru Jenderal Atusa tersingkap. Siapakah Jenderal Atusa sebenarnya? Dan benarkan Azarmidokht tidak terlibat pembunuhan saudaranya?

Secara umum novel ini sangat bagus dan sangat direkomendasikan untuk anda baca. Bahkan menurut saya novel ini lebih baik dari novel sebelumnya. Meskipun terlihat sangat tebal, tapi novel 688 halaman ini sungguh mampu membius kita untuk terus membacanya karena pilihan kata dari Tasaro yang begitu memikat. Tasaro benar-benar menciptakan candu dalam huruf demi huruf yang tercetak dalam lembar demi lembar novel ini.

Detail dan penggambaran novel ini juga sangat baik sehingga membuat kita larut seakan-akan melihat langsung dan berada dalam kisah yang dituturkan Tasaro secara detail. Tak heran memang, karena sepertinya Tasaro telah melakukan riset terlebih dahulu sebelum menulis novel ini. Mulai dari kisah Rasulullah SAW, Khalifah Abu Bakar, hingga kekaisaran Persia. Khusus untuk kekaisaran Persia, Tasaro bahkan membuat saya kesulitan dalam membedakan antara kisah yang berdasarkan fakta dengan fiksi karena penggambarannya yang sangat mendetail dan adanya tokoh-tokoh yang selama ini memang tercatat dalam sejarah dunia, seperti Khosrou II, Purandokht, Turandokht, dan lainnya.

Peradaban Persia juga disampaikan dengan mendetail dan memikat, mulai dari kuliner khas Persia seperti Reshteh, yaitu makanan sejenis mie khas Persia. Fesenjun, nasi yang disajikan dengan daging bebek berlumur bumbu dan pasta, dengan cara penyajian yang khusus. Ash yang terdiri dari campuran daging kambing, sayuran, dan kacang-kacangan. Lengkap dengan cara penyajian dan proses pembuatan makanan tersebut. Tasaro juga menggunakan beberapa istilah khas Persia seperti Khanum dan Agha yang merupakan penyebutan secara hormat kepada seorang perempuan dan laki-laki. 

Kalaupun ada sedikit koreksi mengenai novel ini, maka koreksi itu terdapat pada sedikit kesalahan pengetikan di Novel ini meskipun itu sangat minor dan tertutup oleh indahnya penuturan Tasaro di Novel ini. Tasaro juga berhasil membuat kita bertanya-tanya tentang akhir dari kisah ini dengan menggantungkan kisah Kashva, Turandokht, dan Atusa. Pertanyaan, akankah novel ini berlanjut…

Minggu, 14 Agustus 2011

Ibnu Khaldun : Sang Mahaguru

Ketika masih duduk di sekolah dasar yang saya ketahui tentang Ibnu Khaldun hanyalah sebuah Universitas dekat garis batas antara Jakarta Pusat dan Jakarta Timur yang rutin saya lewati ketika akan mengunjungi kakek saya. Baru ketika memasuki sekolah menengah atas pengetahuan saya akan Ibnu Khaldun mengalami perubahan, Ibnu Khaldun bukan hanya sebuah Universitas, namun lebih dari itu. Seorang ilmuwan muslim yang bernama lengkap Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan yang hidup antara 1332-1406 Masehi ini adalah salah seorang negarawan, ahli hukum, sejarawan, dan juga bapak ilmu sosiologi dan ekonomi islam. Karya-karya beliau mampu memberikan pengaruh kepada cendikiawan dunia, baik barat maupun timur, muslim maupun non muslim. Magnum Opusnya yang berjudul Muqaddimah adalah karya pertama yang mengkaji filsafat sejarah, ilmu-ilmu sosial, demografi, histografi serta sejarah budaya.

Tertarik dengan kisah sang cendikiawan, maka ketika saya melihat novel Ibnu Khaldun : Sang Maha Guru karangan Bensalem Himmish di salah satu toko buku di kota Medan, segeralah saya memboyong novel tersebut. Ditambah novel tersebut berhasil memenangi Naguib Mahfouz Award 2002, menjadi best seller di Kairo dan penulisnya yang merupakan sastrawan Maroko yang meraih gelar doktor dari Université de Paris dan kini menjabat Menteri kebudayaan Maroko menambah ketertarikan saya.

Dibuka dengan dikte dan filosofi Ibnu Khaldun kepada Hammu Al-Hihi, penulis setianya yang cukup berat dan membingungkan pada Bagian I. Kemudian dilanjutkan dengan kisah hidup Sang Maha guru selama beliau tinggal di Mesir hingga akhir hayatnya di Bagian II. Dibagian inilah kisah cita, cinta, dan konflik Ibnu Khaldun diceritakan dengan sangat indah oleh Bensalem Himmish, meskipun tidak menampilkan pergolakan batin dan intelektual Ibnu Khaldun ketika menulis karya-karyanya. Bensalem berhasil menampilkan dan memanusiakan Ibnu Khaldun sebagai seorang pencinta. Mulai dari rapuhnya hati Ibnu Khaldun ketika keluarganya tenggelam dilaut hingga kehidupan pernikahannya dengan Ummul Banin, yang menjadi janda setelah Hammu Al-Hihi, suaminya yang merupakan penulis setia sang mahaguru meninggal dunia.

Interaksi dan konflik semasa Ibnu Khaldin tinggal di mesir juga disampaikan dengan memikat. Mulai dari interaksinya dengan dua generasi raja Mamluk, pergolakan hidupnya sebagai hakim yang beberapa kali diangkat dan diturunkan dari jabatannya karena hasutan dari orang yang berhasrat ingin menggantikannya, hingga interaksi dan negosiasinya dengan Timur Lang, penguasa mongol keturunan Genghis Khan yang terkenal kejam, agar Timur tidak mengirimkan pasukannya untuk menyerang Mamluk. Salah satu rahasia Ibnu Khaldun hingga mampu menjadi cendekiawan terkemuka juga dipaparkan, diantaranya adalah Ibnu Khaldun banyak membaca buku-buku dari pemikir sebelumnya.

Melalui novel ini kita juga bisa mendapatkan gambaran kehidupan bernegara di negara-negara jazirah Arab saat itu yang umumnya memiliki 4 hakim dari 4 mazhab (Syafii, Hanafi, Maliki, Hambali) yang bertugas memutuskan suatu perkara agar sesuai syariah atau menerima konsultasi dari masyarakat seputar persoalan kehidupan agar tidak keluar dari jalur agama terutama tidak keluar dari mazhab atau aliran yang mereka anut. Meskipun tidak jarang para penguasa akan berusaha menjadikan para hakim ini sebagai alat politiknya melalui fatwa-fatwa yang dipaksakan, meskipun tidak jarang juga para hakim tersebut berseberangan dengan para penguasa.

Secara umum novel ini cukup menarik dan layak diganjar Naguib Mahfouz Award, Bensalem berhasil menggambarkan dan memanusiakan Ibnu Khaldun dengan segala cita, cinta, dan konflik kehidupan yang dialaminya.

Minggu, 24 Juli 2011

Tawanan Benteng Lapis Tujuh

Absence of understanding does not warrant absence of existence’ – Ibnu Sina

Dimasa sekolah dulu saya sempat diajari bahwa dalam dunia islam terdapat beberapa tokoh yang begitu berjasa bagi dunia Ilmu Pengetahuan. Salah satunya adalah Ibnu Sina, yang digambarkan sebagai bapak kedokteran yang juga hebat dalam berfilosofi. Saya ketika itu begitu tertarik untuk mengetahui tokoh yang satu ini. Belasan atau mungkin bahkan dua puluh tahun kemudian, dihadapan saya terpampang novel Biografi Ibnu Sina yang berjudul Tawanan Benteng Lapis Tujuh karangan Husayn Fattahi di salah satu rak buku di jaringan salah satu toko buku terbesar di Indonesia. Dan tanpa berpikir lama, saya pun segera membawa novel biografi tersebut untuk dapat segera saya baca dan saya nikmati.

Kisah dalam novel ini diawali dengan masa kecil Ibnu Sina atau dalam novel ini sering disebut sebagai Abu Ali yang merupakan nama kecil dari Ibnu Sina. Abu Ali adalah putra dari pasangan Abdullah dan Sattarah yang lahir pada tahun 980 di Afsyanah daerah dekat Bukhara. Abu Ali adalah satu dari sedikit dari anak yang terlahir cerdas dan jenius. Kecerdasannya sudah terlihat semenjak ia masih kanak-kanak. Di usianya yang masih sepuluh tahun, Abu Ali telah paham Al-Quran. Ia tidak hanya hafal seluruh surah, tetapi juga sangat fasih membaca Al-Quran. Bahkan telah memahami dasar-dasar agama dan hukum-hukumnya. Menyadari hal tersebut, Abdullah kemudian memperkenalkan anaknya kepada berbagai cendikia ternama untuk belajar ilmu pengetahuan. Dimulai dari Syekh Nahawi untuk belajar ilmu agama, kemudian Syekh Massah yang ahli matematika, dilanjutkan berguru dengan Syekh Abu Abdillah an-Natili, seorang Ahli Ilmu asal negeri Tibristan, seorang ahli logika, filsafat, dan hikmah. Abu Ali dengan sangat cepat menyerap ilmu yang diajarkan oleh masing-masing guru tersebut, hingga akhirnya masing-masing cendikia tersebut menyatakan tidak ada lagi ilmu mereka yang dapat diajarkan kepada Abu Ali.

Menguasai berbagai macam ilmu ternyata tidak membuat dahaga abu ali terpuaskan. Ia kemudian memutuskan untuk mempelajari ilmu kedokteran secara otodidak, untuk kemudian mengaplikasikan ilmu kedokteran tersebut. Dimulai dengan ibunya sebagai pasien pertamanya, dimana ia berhasil menyembuhkan penyakit misterius ibunya. Kemudian hal ini berlanjut ketika Abu Ali diminta mengobati tetangganya yang sakit. Dan seperti kehebatan Abu Ali tersebar dengan cepat dari mulut ke mulut ke seluruh penjuru negeri. Efek Word Of Mouth ini dengan cepat terdengar sampai ke Istana. Ia kemudian diminta untuk mengobati keponakan Raja Nuh II yang sakit misterius. Berbagai dokter ahli sudah didatangkan akan tetapi penyakit misterius raja tidak dapat juga disembuhkan. Akan tetapi Ibnu Sina dengan bekal ilmu pengetahuannya akhirnya berhasil menyembuhkan penyakit keponakan Raja tersebut.

Keberhasilan Abu Ali tersebut membuatnya masuk kelingkaran kekuasaan untuk menjadi Dokter pribadi Raja. Suatu hal yang kelak harus dibayar mahal olehnya karena iri dengki pejabat istana karena kehebatan dan perhatian raja kepadanya. Musuh dalam selimut benar-benar bertebaran didalam Istana hingga akhirnya membuat Abu Ali menjadi seorang buron karena fitnah keji yang dialamatkan kepadanya. Selanjutnya kita dibawa menelusuri rute perjalanan Abu Ali, rute yang memiliki pola yang mirip. Diundang ke Istana karena ilmu pengetahuan dan kemampuannya sebagai dokter untuk kemudian dikejar penguasa karena tipu daya dan iri dengki hingga akhirnya dijebloskan ke penjara. Mulai dari Istana Mahmud Ghaznawi, istana Ibnu Al Ma’mun, istana Syams Ad Daulah, hingga Ala Ad Daulah. Dimasa kekuasaan Ad Daulah lah Ibnu Sina dijebloskan ke dalam penjara berlapis tujuh. Sebuah perjalanan hidup yang penuh ironi.

Hidup dalam kejaran dan tahanan ternyata tidak membuat Abu Ali berhenti berkarya. Bahkan karyanya yang paling utama justru dilahirkan pada saat ia mendekam di dalam penjara, magnum opus yang berjudul Al-Qânûn fî at-Thibb atau yang biasa disebut dengan Al Qanun yang didunia barat dikenal dengan Canon Of Medicine.

Buku ini secara keseluruhan sangatlah enak dan menarik untuk dibaca. Melalui buku ini kita diajak untuk memahami dan bertualang ke kehidupan Bapak Kedokteran Modern yang dibarat dikenal dengan Avicenna ini. Avicenna yang jenius akan tetapi justru kejeniusannya itu memenjarakannya dan menjadikannya buron karena iri dengki orang lain. Buku ini juga berhasil tidak men’dewa’kan Abu Ali yang tergambar salah satunya dari kegagalan Abu Ali dalam menyembuhkan penyakit ayahandanya tercinta. Sebuah buku yang layak untuk anda koleksi, tentang seorang ilmuwan yang diakui menjadi pahlawan nasional di Iran, Afghanistan, dan berbagai negara timur tengah setelah kematiannya, tentang salah satu tokoh kedokteran yang begitu berjasa bagi dunia.

Kamis, 21 Juli 2011

Berteman Dengan Kematian

Aku Mau hidup Seribu Tahun Lagi – Chairil Anwar

Lupus.. semenjak pertama kali mendengar tentang penyakit ini saya langsung tertarik untuk mengetahuinya. Karena sama seperti AIDS, penyakit ini masih belum ditemukan obatnya hingga saat ini. Yang membedakan diantaranya adalah, jika penyebab penyakit AIDS bisa diketahui, maka untuk Lupus penyebab pastinya masih belum diketahui. Lupus berasal dari bahasa latin yang berarti Serigala, hal ini disebabkan penderita penyakit ini pada umumnya memiliki ruam merah berbentuk kupu-kupu di pipi yang serupa dengan pipi serigala. Penyakit ini juga disebut sebagai penyakit seribu wajah karena memiliki gejala bermacam-macam dan berubah-ubah dan tidak mudah didiagnosa. Berangkat dari ketertarikan itu, maka ketika saya melihat buku Berteman Dengan Kematian, maka langsung saya tukar uang saya dengan buku yang berkisah tentang seorang gadis yang menderita lupus tersebut.

Buku ini adalah memoar dari penulisnya, Sinta Ridwan, gadis kelahiran Cirebon Januari 1985, yang dituturkan seperti menulis di catatan harian yang jauh dari kesan dramatisir dengan bahasa khas anak muda yang tajam, polos, tidak cengeng, dan tanpa basa basi yang ternyata justru membuat buku ini menjadi semakin menarik. Melalui novel memoar ini Sinta tidak hanya bercerita tentang penyakit lupusnya akan tetapi juga mengenai mozaik hidupnya semenjak ia kecil hingga sekarang. Tentang getirnya masa kanak-kanak, penderitaan psikologis akibat keluarga yang berantakan, perasaannya ketika ditinggal 2 orang terdekatnya disaat yang hampir bersamaan, alasannya memilih Bandung sebagai lokasi tempat kuliah, perjuangan hidupnya di kota kembang, awal mula divonis menjadi odapus, penyangkalannya akan lupus yang membuatnya tidak dapat menerima kenyataan dan menjadi perokok, hingga berdamai dengan lupus.

Melalui buku ini Sinta juga mengedukasi kita tentang apa dan bagaimanakah penyakit Lupus melalui catatan-catatannya yang dilengkapi dengan berbagai istilah ilmiah tanpa kesan menggurui dan bahasa yang tidak bertele-tele. Penjelasan ini cukup baik menurut saya, karena sampai saat ini Lupus masihlah asing di masyarakat. Dalam buku ini hal tersebut dapat tergambar dari ucapan salah satu sahabat Sinta yang membuat gurauan tentang penyakit Sinta. Gurauan ini mungkin disebabkan karena Lupus lebih populer sebagai film anak muda dan novel tahun 90-an dibandingkan penyakit.

Bagaimana Sinta berdamai dengan Lupus juga cukup inspiratif. Terkena Lupus saat masih menjadi mahasiswi yang penuh cita dan angan, membuat Sinta sempat tidak dapat menerima kenyataan kalau ia adalah seorang odapus dengan berhenti mengkonsumsi obat dan menjadi perokok, hingga akhirnya bisa menerima keadaan dan mulai bersahabat dengan penyakit yang belum ada obatnya tersebut. Sinta akhirnya bangkit dari keterpurukan, berhasil menyelesaikan kuliah strata 1, untuk kemudian melanjutkan ke Pascasarjana Jurusan Fiologi Unpad agar dapat mengkaji dan melestarikan naskah kuno warisan nusantara. Sinta juga mencoba memaknai waktu hidupnya dengan berbagi kepada sesama mengenai informasi terkait dengan lupus serta menulis puisi dan novel. Perubahan tersebut terjadi karena Sinta meyakini hanya ada satu obat yang dapat menyembuhkan Lupus dan itu harus ada dalam diri seorang odapus, yaitu semangat hidup dan kebahagiaan.