Seorang motivator pernah mengatakan dalam suatu pelatihan, kalau tanpa disadari banyak orang menjalani hidup dengan pola yang sama dari waktu ke waktu. Jika kita sudah terbiasa berangkat bekerja pada pukul 6.30 setiap harinya, maka kita akan mengulanginya dengan waktu yang sama setiap harinya, dan jika kita mencoba memperhatikan sekeliling kita, tanpa kita sadari kita akan melihat kendaraan yang sama persis setiap harinya.
Dalam dunia film, khususnya film yang berbau erotis, entah kita sadari atau tidak, ternyata juga memiliki pola pemasaran yang nyaris seragam. Sesaat sebelum film mengudara di bioskop selalu saja ada cerita sensasional yang sepertinya sengaja diangkat untuk meningkatkan rating film tersebut. Tidak peduli apakah sensasi tersebut murahan atau tidak. Mulai dari tersebarnya foto atau cuplikan seronok artis yang membintangi film tersebut sampai insiden antar pemain film tersebut...
Dalam dunia perpolitikan, jika saya tidak keliru, sepertinya juga terdapat pola yang khas dengan menggunakan teroris sebagai media pengalihnya. Karena hampir setiap ada kasus yang sedang hangat, maka tidak lama kemudian pada saat kasus ini semakin panas, akan diikuti dengan adanya kelompok teroris yang terungkap. Entah kelompok teroris ini merupakan pengalih dari kasus tersebut atau bukan, akan tetapi sepertinya ini adalah pola yang seringkali berulang...
Dan mungkin benar, kalau segala sesuatu memiliki pola...
Kamis, 13 Mei 2010
Senin, 01 Februari 2010
Menjadi Orang MARS
Apakah aku ada di mars atau mereka mengundang orang mars…. – the upstairs
Itulah sepenggal lirik lagu yang populer dikalangan pemuda yang dipopulerkan oleh sebuah band indie ibukota. Menjadi orang mars, sepertinya itulah impian kami (saya dan rekan-rekan kantor) dimasa yang akan datang.
Bukan karena planet mars merupakan planet yang sampai saat ini masih misterius dan diyakini dapat dihuni manusia dimasa yang akan datang, bukan…
Dan bukan juga disebabkan lokasi kami yang di muara bungo sehingga ingin teralienasi seperti makhluk mars, ah pasti bukan…
Akan tetapi karena keadaan memang memaksa kami untuk berusaha menjadi istimewa…. Seperti orang mars…
Target yang sangat menantang memang memaksa kami harus merubah pola kerja kami agar kami bisa mencapai tujuan yang telah ditetapkan perusahaan. Untuk itu kami bertekad menjadi sosok istimewa yang membuat kompetitor kami merasa inferior ketika harus berhadapan dengan kami dalam kompetisi bisnis yang kami arungi, seperti orang mars yang sering digambarkan sebagai makhluk superior dalam banyak film.
Berkaitan dengan hal tersebut, kamipun sepakat untuk menggunakan pola MARS yang merupakan akronim dari Motivation (Motivasi), Ability (Kemampuan), Role Perception (Peranan Persepsi), dan Situational Factors (Faktor-faktor Situasional) sebagai salah satu pola kerja kami. Untuk mewujudkannya, kami akan berusaha menjaga motivasi kami tetap tinggi agar kami dapat mengatasi segala halangan dan rintangan yang menghadang kami, mengembangkan keterampilan dan kemampuan kami sesuai dengan perkembangan jaman dan tuntutan bisnis sehingga kami dapat menyelesaikan semua pekerjaan dengan hasil yang istimewa, memastikan kami semua benar-benar paham akan peran kami dalam roda bisnis perusahaan, serta bertindak sesuai dengan keadaan dan situasi yang ada.
Meskipun tidak mudah, akan tetapi kami akan selalu berusaha agar kami bisa menjalankannya dengan konsisten dan penuh komitmen, karena kami meyakini kalau hal ini dapat memberikan hasil positif. Dan Alhamdulillah kami telah berhasil melewati bulan pertama kami dari selusin bulan tahun ini dengan hasil yang menggembirakan. Dan kamipun berharap agar kami mampu melewati bulan-bulan berikutnya dengan hasil yang jauh lebih baik lagi. Mudah-mudahan kami mampu karena pertunjukan tetaplah harus berjalan.. Berdentum nada siring dada
*gambar diambil dari sini
Itulah sepenggal lirik lagu yang populer dikalangan pemuda yang dipopulerkan oleh sebuah band indie ibukota. Menjadi orang mars, sepertinya itulah impian kami (saya dan rekan-rekan kantor) dimasa yang akan datang. Bukan karena planet mars merupakan planet yang sampai saat ini masih misterius dan diyakini dapat dihuni manusia dimasa yang akan datang, bukan…
Dan bukan juga disebabkan lokasi kami yang di muara bungo sehingga ingin teralienasi seperti makhluk mars, ah pasti bukan…
Akan tetapi karena keadaan memang memaksa kami untuk berusaha menjadi istimewa…. Seperti orang mars…
Target yang sangat menantang memang memaksa kami harus merubah pola kerja kami agar kami bisa mencapai tujuan yang telah ditetapkan perusahaan. Untuk itu kami bertekad menjadi sosok istimewa yang membuat kompetitor kami merasa inferior ketika harus berhadapan dengan kami dalam kompetisi bisnis yang kami arungi, seperti orang mars yang sering digambarkan sebagai makhluk superior dalam banyak film.
Berkaitan dengan hal tersebut, kamipun sepakat untuk menggunakan pola MARS yang merupakan akronim dari Motivation (Motivasi), Ability (Kemampuan), Role Perception (Peranan Persepsi), dan Situational Factors (Faktor-faktor Situasional) sebagai salah satu pola kerja kami. Untuk mewujudkannya, kami akan berusaha menjaga motivasi kami tetap tinggi agar kami dapat mengatasi segala halangan dan rintangan yang menghadang kami, mengembangkan keterampilan dan kemampuan kami sesuai dengan perkembangan jaman dan tuntutan bisnis sehingga kami dapat menyelesaikan semua pekerjaan dengan hasil yang istimewa, memastikan kami semua benar-benar paham akan peran kami dalam roda bisnis perusahaan, serta bertindak sesuai dengan keadaan dan situasi yang ada.
Meskipun tidak mudah, akan tetapi kami akan selalu berusaha agar kami bisa menjalankannya dengan konsisten dan penuh komitmen, karena kami meyakini kalau hal ini dapat memberikan hasil positif. Dan Alhamdulillah kami telah berhasil melewati bulan pertama kami dari selusin bulan tahun ini dengan hasil yang menggembirakan. Dan kamipun berharap agar kami mampu melewati bulan-bulan berikutnya dengan hasil yang jauh lebih baik lagi. Mudah-mudahan kami mampu karena pertunjukan tetaplah harus berjalan.. Berdentum nada siring dada
*gambar diambil dari sini
Minggu, 31 Januari 2010
Flash Of Genius: Kisah Berliku Inovator Wiper
Mungkin banyak
dari kita yang tidak tahu kalau wiper yang terdapat di mobil ternyata memiliki kisah perjuangan yang menarik tentang penciptanya melawan raksasa otomotif dunia. Saya pun sebelumnya juga tidak mengetahuinya sebelum menonton Flash Of Genius yang diangkat berdasarkan kisah nyata kehidupan Robert Kearns dibintangi oleh Greg Kinnear.
Kisah ini dimulai ketika Kearns mengendarai mobilnya saat hujan bersama dengan istrinya dan anaknya, ketika itu wiper mobil masih harus digerakkan secara manual. Terinspirasi dengan insiden yang dialami sebelumnya ketika tutup botol sampanye membutakan mata sebelah kirinya. Kearns kemudian mencoba menciptakan wiper yang dapat bergerak seperti mata, dimana wiper tersebut dapat berkedip secara otomatis dan tidak perlu digerakkan secara manual.
Kemudian Kearns mulai melakukan riset digarasinya untuk mewujudkan mimpinya tentang wiper yang dapat ‘berkedip’. Setelah berhasil mewujudkan ide dan mimpinya, atas saran dan bantuan temannya, Kearns kemudian mencoba mendemontrasikan karyanya kepada Ford Motor Corporation. Tertarik dengan karya Kearns, proses negosiasi pun dilakukan dan Kearns meminjamkan prototipe wiper buatannya kepada Ford. Akan tetapi tanpa alasan yang jelas, beberapa bulan kemudian tiba-tba Ford membatalkan proses perjanjian tersebut.
Kearns yang merasa kecewa kemudian berusaha mencari tahu alasan pembatalan tersebut. Sehingga ketika Ford mengeluarkan varian Mustang terbaru, Kearns berusaha menyelinap untuk melihat peluncuran produk tersebut. Alangkah terkejutnya Kearns ketika mendapati bahwa karyanya yang ditolak Ford tanpa alasan yang jelas ternyata terdapat pada produk terbaru Mustang dan dijadikan nilai jual utama dari Ford Mustang.
Merasa idenya dirampok dan diperlakukan sewenang-wenang, Kearns kemudian tidak tinggal diam dan berniat menuntut hak atas karyanya. Ia pun bangkit bergerak dan mulai melakukan perlawanan terhadap Ford. Dimulai dengan mendaftarkan perkara tersebut ke pengadilan, kemudian Kearns pun mulai mengajukan gugatannya tanpa didampingi pengacara. Hari demi hari berlalu dan ternyata perlawanan melawan korporasi raksasa tidaklah mudah, memakan waktu yang lama dan sempat membuat Kearns dijauhi keluarganya dan bahkan bercerai dengan istrinya. Akan tetapi Kearns yang keras kepala dan sangat idealis tidak menyerah begitu saja dengan keadaan dan terus menuntut pengakuan atas ciptaannya.
Pelan tapi pasti, jalan berliku yang dilalui Kearns dalam menuntut pengakuan atas ciptaannya mulai mendapatkan support dari berbagai pihak. Dimulai dari support anak-anaknya setelah beberapa tahun perkara tersebut bergulir. Dengan didampingi anak tertuanya yang kuliah disekolah hukum, perlawanan Kearns terus berlanjut. Dan akhirnya perjuangan Kearns tidaklah sia-sia, ketika perjuangan Kearns melewati 1 dekade, Kearns pun akhirnya dinyatakan menang dan Ford Motor Corporation diharuskan membayar sejumlah uang kepada Kearns.
Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah film tersebut, mulai dari berharganya ide dan kreatifitas, kekuatan komitmen dan tekad dalam memperjuangkan hak, hingga pelajaran bahwa seringkali perjuangan dalam menuntut kebenaran dan keadilan ternyata tidaklah semudah membalik telapak tangan dan penuh dengan perjalanan yang berliku. Dalam banyak kejadian, seseorang akan langsung menyerah dalam menuntut hak ketika harus berhadapan dengan korporasi besar ataupun penguasa, karena menyadari perjuangan untuk menuntuk hak tersebut pasti akan menguras tenaga, biaya, pikiran, dan emosional. Akan tetapi Dr Kearns bukanlah orang dalam banyak kejadian tersebut, ia adalah contoh langka seseorang yang dengan gigih dan tidak kenal menyerah dalam memperjuangkan haknya. Pertanyaannya sekarang, siapkah kita menjadi manusia langka seperti Dr. Robert Kearns atau kita lebih memilih menjadi manusia kebanyakan? Anda sendirilah yang dapat menjawab pertanyaan tersebut....
dari kita yang tidak tahu kalau wiper yang terdapat di mobil ternyata memiliki kisah perjuangan yang menarik tentang penciptanya melawan raksasa otomotif dunia. Saya pun sebelumnya juga tidak mengetahuinya sebelum menonton Flash Of Genius yang diangkat berdasarkan kisah nyata kehidupan Robert Kearns dibintangi oleh Greg Kinnear.Kisah ini dimulai ketika Kearns mengendarai mobilnya saat hujan bersama dengan istrinya dan anaknya, ketika itu wiper mobil masih harus digerakkan secara manual. Terinspirasi dengan insiden yang dialami sebelumnya ketika tutup botol sampanye membutakan mata sebelah kirinya. Kearns kemudian mencoba menciptakan wiper yang dapat bergerak seperti mata, dimana wiper tersebut dapat berkedip secara otomatis dan tidak perlu digerakkan secara manual.
Kemudian Kearns mulai melakukan riset digarasinya untuk mewujudkan mimpinya tentang wiper yang dapat ‘berkedip’. Setelah berhasil mewujudkan ide dan mimpinya, atas saran dan bantuan temannya, Kearns kemudian mencoba mendemontrasikan karyanya kepada Ford Motor Corporation. Tertarik dengan karya Kearns, proses negosiasi pun dilakukan dan Kearns meminjamkan prototipe wiper buatannya kepada Ford. Akan tetapi tanpa alasan yang jelas, beberapa bulan kemudian tiba-tba Ford membatalkan proses perjanjian tersebut.
Kearns yang merasa kecewa kemudian berusaha mencari tahu alasan pembatalan tersebut. Sehingga ketika Ford mengeluarkan varian Mustang terbaru, Kearns berusaha menyelinap untuk melihat peluncuran produk tersebut. Alangkah terkejutnya Kearns ketika mendapati bahwa karyanya yang ditolak Ford tanpa alasan yang jelas ternyata terdapat pada produk terbaru Mustang dan dijadikan nilai jual utama dari Ford Mustang.
Merasa idenya dirampok dan diperlakukan sewenang-wenang, Kearns kemudian tidak tinggal diam dan berniat menuntut hak atas karyanya. Ia pun bangkit bergerak dan mulai melakukan perlawanan terhadap Ford. Dimulai dengan mendaftarkan perkara tersebut ke pengadilan, kemudian Kearns pun mulai mengajukan gugatannya tanpa didampingi pengacara. Hari demi hari berlalu dan ternyata perlawanan melawan korporasi raksasa tidaklah mudah, memakan waktu yang lama dan sempat membuat Kearns dijauhi keluarganya dan bahkan bercerai dengan istrinya. Akan tetapi Kearns yang keras kepala dan sangat idealis tidak menyerah begitu saja dengan keadaan dan terus menuntut pengakuan atas ciptaannya.
Pelan tapi pasti, jalan berliku yang dilalui Kearns dalam menuntut pengakuan atas ciptaannya mulai mendapatkan support dari berbagai pihak. Dimulai dari support anak-anaknya setelah beberapa tahun perkara tersebut bergulir. Dengan didampingi anak tertuanya yang kuliah disekolah hukum, perlawanan Kearns terus berlanjut. Dan akhirnya perjuangan Kearns tidaklah sia-sia, ketika perjuangan Kearns melewati 1 dekade, Kearns pun akhirnya dinyatakan menang dan Ford Motor Corporation diharuskan membayar sejumlah uang kepada Kearns.
Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah film tersebut, mulai dari berharganya ide dan kreatifitas, kekuatan komitmen dan tekad dalam memperjuangkan hak, hingga pelajaran bahwa seringkali perjuangan dalam menuntut kebenaran dan keadilan ternyata tidaklah semudah membalik telapak tangan dan penuh dengan perjalanan yang berliku. Dalam banyak kejadian, seseorang akan langsung menyerah dalam menuntut hak ketika harus berhadapan dengan korporasi besar ataupun penguasa, karena menyadari perjuangan untuk menuntuk hak tersebut pasti akan menguras tenaga, biaya, pikiran, dan emosional. Akan tetapi Dr Kearns bukanlah orang dalam banyak kejadian tersebut, ia adalah contoh langka seseorang yang dengan gigih dan tidak kenal menyerah dalam memperjuangkan haknya. Pertanyaannya sekarang, siapkah kita menjadi manusia langka seperti Dr. Robert Kearns atau kita lebih memilih menjadi manusia kebanyakan? Anda sendirilah yang dapat menjawab pertanyaan tersebut....
Kamis, 29 Oktober 2009
Pahlawan Biasa
...Hiduplah dengan sederhana dan bersikaplah jujur...
Pesan itu senantiasa terngiang di dalam diriku. Adalah seorang pria sederhana yang menyampaikannya kepadaku. Beliau terlahir di kota Padang 59 tahun yang lalu, akan tetapi karena satu dan lain hal, dalam catatan sipil beliau tercatat 1 tahun lebih muda dari semestinya. Sosoknya sangatlah sederhana dan seperti layaknya manusia biasa. Tidak pernah tutur kata yang kasar terucap dari bibirnya, karena beliau selalu berusaha berkata sopan dan lembut.
Dalam pekerjaan beliau bukan sosok yang menjabat suatu jabatan yang tinggi, beliau hanyalah karyawan biasa yang menjabat pekerjaan yang biasa-biasa saja. Akan tetapi dalam hal biasa-biasa tersebut beliau tetap menjelma menjadi sosok yang istimewa. Mulai dari etos kerjanya hingga sikapnya yang jujur. Sebagai karyawan beliau senantiasa berusaha untuk bersikap profesional dalam berbagai keadaan.
Pernah dalam suatu periode beliau harus bekerja di daerah pondok cabe sementara rumah beliau di daerah bekasi. Karena beliau memandang pekerjaan adalah ibadah dan amanah, maka beliau rela mengorbankan waktu dan tenaga beliau, pada periode tersebut beliau selalu berangkat pada pukul setengah lima untuk menjemput rizki dan baru kembali kerumah pada pukul 9 malam. Terlihat jelas letih pada wajah beliau, sehingga keluargapun menyarankan beliau untuk kost di pondok cabe dekat dengan kantor beliau, akan tetapi karena rasa sayangnya pada keluarga, beliau mengalah dan rela mengorbankan waktu dan tenaga semata-mata demi kebersamaan beliau bersama keluarga.
Ketika bersilaturahmi ke rumah rekannya atau bawahannya, beliau juga seringkali memberikan wejangan kepada anak-anaknya manakala anaknya bertanya mengapa rekan dan bawahannya lebih makmur dibandingkan dengan dirinya. Beliau selalu mengatakan, 'tak apalah hidup dengan sederhana asalkan kita menjalaninya dengan jujur, buat apa hidup makmur kalau digapai dengan cara yang tidak jujur...'
Dalam membina rumah tangga beliau juga layak untuk dijadikan panutan. Beliau seperti memiliki stok sabar yang tiada habis dan selalu bersikap lemah lembut kepada keluarganya. Hal ini diperkuat oleh pernyataan istrinya yang sering mengatakan kalau selama menikah beliau tidak pernah berbuat kasar kepada istrinya walau hanya sekali saja.
Dalam hidup tidak jarang beliau dizalimi, akan tetapi beliau juga seperti memiliki berton-ton maaf dan selalu berusaha membalasnya dengan kebaikan. Pernah beliau berkata kepada anaknya, 'papa tahu kalau si X pernah berbuat jahat kepadamu, tapi janganlah kamu membalas perbuatan X dengan kejahatan, karena itu membuat kamu menjadi tidak berbeda dengan X. Balaslah perbuatan X dengan kebaikan agar ia kelak sadar akan kekeliruannya.'
Sebenarnya masih banyak kebaikan yang dapat dicontoh dari beliau untuk diceritakan. Kebaikan dari manusia biasa yang hari ini tepat berusia 59 tahun. Manusia yang menjalani hidup dengan sederhana. Sosok satu-satunya dalam ranji keluarga besar yang menggunakan nama suku Tanjung di namanya. Manusia biasa yang menjadi pahlawan dalam hidupku.
Selamat Ulang Tahun Papa, semoga segala kebaikan dari Allah SWT dilimpahkan kedalam diri papa, terimakasih atas segala kebaikan yang telah papa berikan kepada keluarga, mohon maaf apabila anakmu ini masih memiliki banyak sekali kekuarangan
Senin, 12 Oktober 2009
Romansa Ide dan Kata: Ketika Konsistensi dan Komitmen Terpinggirkan

Seorang sahabat yang memiliki pemikiran dan permainan kata-kata yang cerdas pernah menanyakan perihal blog saya yang hampir tidak pernah terbaharui sekitar 1 tahun yang lalu.
Rasa malu dan tertantang menyelimuti diriku ketika membaca hal tersebut, ketika itu ingin rasanya saya menjawab pertanyaan tersebut dengan permainan kata-kata dan pergumulan ide dan pengalaman. Akan tetapi sayangnya rasa tersebut terpenjarakan oleh rasa malas, sehingga komitmen dan konsistensi terkurung didalam diri.
Tanpa terasa, sudah hampir 1 tahun, semenjak cambuk tersebut mengenai hati dan pikiranku dan ternyata blog ini belum terbaharui secara berkesinambungan. Ide dan pemikiran sering hilir mudik didalam kepala, akan tetapi mereka terkurung dengan rapat didalam pikiran karena belum adanya komitmen untuk menuangkan kedalam kata-kata. Sehingga ide dan pemikiran tersebut menjadi tidak bermakna.
Benarlah apa yang pernah dikatakan para cendekia, ide dan pemikiran menjadi tidak berarti apabila tidak dituangkan dalam kata dan dikerjakan dalam perbuatan. Sungguh bukan saya menginginkan ide dan pemikiran saya menjadi tidak berarti. Dan bukan pula saya ingin menyembunyikan ilmu karena tak pantas rasanya bagi saya yang memiliki pengetahuan tidak seberapa untuk menyembunyikan ilmu saya.
Terabaikannya blog ini sesungguhnya lebih disebabkan terpinggirkannya komitmen dan konsistensi yang saya miliki. Ternyata benar juga seperti yang dikatakan orang, mempertahankan komitmen dan konsistensi sepertinya memang membutuhkan kesungguhan. Dan patut diakui, kesungguhan saya menghadirkan karnaval kata dalam blog ini memang terabaikan dan terasingkan. Sehingga ide dan pemikiran tidak dapat memadu kasih dengan kata.
Dan dalam dalam kesempatan ini saya mencoba mengumpulkan komitmen dan menjaga konsistensi agar ide dan pemikiran saya menjadi bermakna, seperti judul dari blog ini kacamata makna. Saya tidak memiliki target yang membumbung tinggi dan hanya berkeinginan setidaknya parade kata dapat hadir dan terbaharui di blog ini setiap 1 - 2 bulan sekali. Semoga saya dapat menjaga kesungguhan saya untuk mempertahankan komitmen dan konsistensi saya... Semoga...
*Gambar diambil dari sini
Langganan:
Postingan (Atom)