Rabu, 04 November 2026

Keinginan Untuk Selalu Menyenangkan Orang Lain

Kadang kita terlalu sibuk membuat orang lain nyaman,
sampai lupa bertanya
apakah diri sendiri sedang baik-baik saja.
Kita mengiyakan
meski sebenarnya ingin menolak.
Meminta maaf
meski tidak sepenuhnya bersalah.
Menahan perasaan,
mengubah sikap,
dan terus berusaha menjadi seseorang 
yang mudah diterima.

Bukan selalu karena kita ingin dipuji.
Kadang, tanpa disadari,
kita hanya sedang mencari rasa aman.
Seolah-olah dengan menyenangkan semua orang,
kita bisa mengatur bagaimana mereka 
melihat dan memperlakukan kita.

Padahal tidak semua hal bisa kita kendalikan.
Tidak semua orang akan memahami kita,
dan tidak semua hubungan akan tetap baik 
hanya karena kita terus mengalah.

Mungkin selama ini,
yang paling kita hindari
bukan kemarahan orang lain,
melainkan rasa tidak nyaman 
yang muncul ketika kita mulai berkata jujur
tentang apa yang kita rasakan.

Maka belajar berkata tidak 
bukan berarti menjadi jahat.
Menetapkan batas 
bukan berarti berhenti peduli.
Dan memilih diri sendiri sesekali 
bukan berarti kita kehilangan hati.

Barangkali kita hanya sedang belajar 
bahwa kedamaian tidak selalu datang 
dari membuat semua orang bahagia.
Kadang ia datang ketika kita berani 
duduk bersama perasaan sendiri,
mengaku bahwa kita lelah,
bahwa kita kecewa,
bahwa ada hal-hal yang tidak sanggup kita lakukan.

Tidak perlu terburu-buru mengubah semuanya.
Cukup mulai dengan menyadari,
kapan kita sedang berbuat baik karena ketulusan,
dan kapan kita sedang mengorbankan diri 
hanya agar tidak ditolak.

Sebab menjadi baik tidak harus 
membuat kita kehilangan diri sendiri.
Ada cara untuk tetap lembut kepada orang lain
tanpa bersikap keras kepada diri sendiri.

Tidak ada komentar: