sampai lupa bertanya
apakah diri sendiri sedang baik-baik saja.
Kita mengiyakan
meski sebenarnya ingin menolak.
Meminta maaf
meski tidak sepenuhnya bersalah.
Menahan perasaan,
mengubah sikap,
dan terus berusaha menjadi seseorang
yang mudah diterima.
Bukan selalu karena kita ingin dipuji.
Kadang, tanpa disadari,
kita hanya sedang mencari rasa aman.
Seolah-olah dengan menyenangkan semua orang,
kita bisa mengatur bagaimana mereka
melihat dan memperlakukan kita.
Padahal tidak semua hal bisa kita kendalikan.
Tidak semua orang akan memahami kita,
dan tidak semua hubungan akan tetap baik
hanya karena kita terus mengalah.
Mungkin selama ini,
yang paling kita hindari
bukan kemarahan orang lain,
melainkan rasa tidak nyaman
yang muncul ketika kita mulai berkata jujur
tentang apa yang kita rasakan.
Maka belajar berkata tidak
bukan berarti menjadi jahat.
Menetapkan batas
bukan berarti berhenti peduli.
Dan memilih diri sendiri sesekali
bukan berarti kita kehilangan hati.
Barangkali kita hanya sedang belajar
bahwa kedamaian tidak selalu datang
dari membuat semua orang bahagia.
Kadang ia datang ketika kita berani
duduk bersama perasaan sendiri,
mengaku bahwa kita lelah,
bahwa kita kecewa,
bahwa ada hal-hal yang tidak sanggup kita lakukan.
Tidak perlu terburu-buru mengubah semuanya.
Cukup mulai dengan menyadari,
kapan kita sedang berbuat baik karena ketulusan,
dan kapan kita sedang mengorbankan diri
hanya agar tidak ditolak.
Sebab menjadi baik tidak harus
membuat kita kehilangan diri sendiri.
Ada cara untuk tetap lembut kepada orang lain
tanpa bersikap keras kepada diri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar