hatinya menyimpan duka
yang tak mudah diceritakan.
Namun, ia tetap menghadirkan senyum
seolah hari-hari masih baik-baik saja.
Bukan karena ia berpura-pura bahagia,
atau tak pernah merasa lelah.
Ia hanya sedang belajar bertahan,
menata hati yang berantakan,
dan melanjutkan langkah
meski ada bagian dirinya
yang masih berusaha pulih.
Ada air mata yang tak perlu diketahui siapa-siapa,
yang jatuh perlahan di atas sajadah.
Ada harapan yang tak banyak ia ceritakan,
sebab ia tahu kepada siapa
segala kegelisahan sebaiknya disandarkan.
Kepada Yang Maha Mengetahui,
ia menitipkan hal-hal
yang tak sanggup ia jelaskan,
memohon kekuatan untuk melewati hari ini,
dan kesabaran untuk menerima
apa yang belum bisa ia pahami.
Ia tak tahu kapan semuanya akan membaik,
tetapi ia memilih untuk tetap percaya.
Bahwa selama masih ada doa,
selalu ada tempat untuk berharap.
Bahwa meski jalan di hadapan belum terang,
ia tak harus menjalaninya sendirian.
Sebab terkadang,
menjadi kuat bukan berarti tak pernah rapuh,
melainkan tetap kembali kepada Rabb
setiap kali hati kehilangan tempat bersandar.
Dan dengan keyakinan itu,
ia melanjutkan hari, perlahan,
sambil percaya bahwa atas izin-Nya,
yang hari ini terasa begitu berat
suatu saat akan lebih mudah dijalani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar