Jumat tiba
dengan matahari yang
terasa lebih lunak,
seakan pagi sengaja
menaruh cahaya
hanya separuhnya saja.
Ia mengetuk waktuku
perlahan,
seperti hendak berkata
bahwa seminggu ini
tak perlu dipahami
seluruhnya
cukup diingat bagian
yang membuat kita
tetap berjalan.
Di lorong-lorong hari
orang-orang melangkah
dengan senyum yang
tidak tergesa,
seolah tahu
bahwa sore nanti
akan lebih ramah
daripada biasanya.
Jumat mengajarkan
bahwa letih dapat
larut
pada hal-hal kecil
hembusan angin,
aroma hujan jauh,
atau suara doa
yang tak sengaja
terdengar dari rumah sebelah.
Dan menjelang senja
aku mengerti,
Jumat bukan akhir
pekan,
melainkan pintu kecil
yang membuka harapan
dengan sangat
hati-hati.